Takut Menjanda

Takut Menjanda
Chapter XXIII (Grizelle Prameswari)


__ADS_3

Jihan 


Calling.


Aku heran, baru pulang kok Jihan nelepon lagi? Menjawab rasa penasaranku, aku terima panggilannya.


"Halo, Ji. Ada barang ketinggalan ya jadi nelepon lagi?"


"Aku tadi lupa bilang, besok jangan lupa ke rumahku ya."


"Emang ada apaan?"


"Kan besok 4 bulanan kehamilanku. Tapi khusus cewek aja. Loh, emang kamu belum baca WA-ku? Padahal udah kamu bales."


Aku menepuk jidat ini pasti kerjaan Sahrial yang berani buka ponsel tanpa sepengetahuanku.


"Oh iya, maaf aku lupa," elakku.


"Aku cuma mau bilang itu aja sih. Ya udah, sampai besok ya. Assalamualaikum."


Telepon terputus. Aku langsung bergegas ke dapur menghampiri Sahrial.


"Iallllll!" teriakku.


"Apa sih teriak-teriak? Aku nggak budek kali."


"Apa maksud lu buka-buka HP gue? Make sidik jari gue pas tidur pasti!"


"Ya gue penasaran aja. Siapa yang WA. Siapa tau penting."


"Itu namanya melanggar privasi, Ial."


"Kan di perjanjian kontrak, kita nggak boleh main rahasia-rahasian. Lupa, awal-awal nikah kamu juga baca DM-DM Instagramku?"


Aku terdiam. Benar juga sih. Kenapa aku marah jika dia melakukan hal serupa?


"Pokoknya aku nggak suka kamu buka-buka HP-ku. Titik. Sebagai hukumannya, kamu harus anterin aku ke empat bulanannya Jihan!"


***


Aku telat gara-gara Sahrial susah banget dibangunin. Alhasil, sampai rumah Jihan acara sudah dimulai. Sekarang masuk sesi ceramah agama. Aku duduk paling belakang aja.

__ADS_1


"Alhamdulillah, hadirin sekalian, kita bisa berkumpul di acara empat bulanan Ibu Jihan Orianthie. Dalam hal empat bulanan ini, sudah tertulis dalil Al-Qur’an Surat Al-Mu’minun (23) ayat 12-14."


 Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati berasal dari (tanah). Kemudian Kami jadikan sari pati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik."


Merujuk pada hadits sahih, empat bulan sebagai masa sakral ditiupkannya ruh pada janin merupakan tafsir para Ulama, Bunda. Di antaranya ada dalam hadits berikut:


Sesungguhnya setiap orang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari (berupa ******), kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu empat puluh hari pula. Kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu empat puluh hari juga. Kemudian diutuslah seorang malaikat meniupkan ruh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menuliskan empat hal; rejekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah dia menjadi orang yang celaka atau bahagia.” (Muslim bin Hajjaj An-Naisaburi, Shahîh Muslim, Kairo: Darul Ghad Al-Jadid, 2008, jil. VIII, juz 16, hal. 165).


Berdasar hadits di atas, para ulama menerjemahkan masa empat bulan kehamilan merupakan akumulasi dari empat puluh hari setiap tahapan proses perkembangan janin dalam rahim Bunda.


Dengan kata lain, empat puluh hari pertama adalah ****** membentuk embrio, empat puluh hari kedua menjadi darah, empat puluh hari ketiga menjadi segumpal daging lalu ditiupkan ruh atas Janin tersebut, Bunda. Tiga kali empat puluh hari menjadi 120 hari atau empat bulan, Bunda.


Maka itulah, tidak mengherankan bila usia kehamilan empat bulan diperingati dengan tasyakuran ataupun selamatan sebagai simbol kebahagiaan dan syukur tidak terukur atas genapnya penciptaan janin oleh Allah SWT dalam rahim Bunda.


Pada masa inilah dianjurkan memperbanyak doa untuk Si Kecil agar ia lahir dengan selamat dan tumbuh menjadi anak yang salih dan salihah.


"Sampai di sini adakah yang ingin bertanya?"


Jihan mengangkat tangannya. "Empat bulanan gini hukumya wajib atau gimana ya?"


"Soal acaranya tidak tertulis di Alquran maupun hadis. Namun, sudah menjadi tradisi di lingkungan kita sebagai rasa syukur dan berbagi kebahagiaan dengan orang sekitar. Akan jadi haram, jika niatnya untuk pamer atau meledek bahkan sengaja memanas-manasi ibu yang susah hamil."


Aku manggut-manggut mendengarkan isi ceramah.


***


Jihan lewat depanku. "Mbak Gisel nyari Abang Sahrial ya?"


"Iya, dia ke mana ya?"


"Ada tuh di taman belakang, mereka lagi asyik mengobrol sama Mas Ammar dan Abi. Ya udah, saya tunjukin taman belakangnya."


Aku mengekor Jihan. Benar saja mereka asyik mengobrol sambil main catur. Sahrial melawan mertuanya Jihan.


"Wah, asyik banget nih mainnya."


"Eh, acaranya udah selesai mau pulang sekarang?" tanya Sahrial.


"Lanjutin aja dulu mainnya sampai ada yang menang." Aku duduk di sebelah Sahrial. "Oh iya Pak Kiayi, saya boleh nanya soal agama nggak?"


"Tentu saja boleh, mau nanya apa?"

__ADS_1


"Allah kan membenci perceraian, tapi kenapa DIA juga memperbolehkan perceraian?"


"Jadi begini, Nak Gisel."


Aku siapin kuping mendengar ceramahan beliau.


 Rasulullah bersabda, 'Sesuatu yang halal tetapi paling dibenci Allah adalah perceraian'. Ini menunjukkan di satu sisi bahwa terkadang perceraian itu tidak bisa dihindari sehingga jika ada satu pasangan yang memang tidak ada kecocokan masih dipaksakan untuk terus, itu akan merugikan semua pihak. Maka dibolehkan perceraian, perlu diingatkan bahwa perceraian itu halal, tapi paling dibenci Allah.


Karena itu, kalau masih bisa hidup bersama tanpa perceraian, maka pertahankan perkawinan itu. Bahkan ada yang berkata seperti berikut , 'Singgasana raja itu kita ketahui betapa kokohnya. Terlebih singgasana Allah, kokohnya tidak dapat terbayangkan. Jika terjadi perceraian maka singgasana Allah yang demikian hebat kokohnya itu bergetar.'


Hal itu dapat diilustrasikan bahwa Allah sangat membenci perceraian dan menahan amarahnya sehingga bergetarlah singgasananya. Bukankah orang yang menahan amarahnya, tubuhnya gemetar dan singgasana tempat bersemayamnya bergetar?” 


Nah, perceraian itu menyebabkan bergetar Singgasana Allah (Istazza asrurRahman) karena Allah sangat membencinya. Tetapi kalau ada kebutuhan yang mendesak yang tidak dapat terelakkan karena sifat-sifat dan kekurangan manusia yang banyak mudharat atau saling menyakiti maka diperbolehkan perceraian.


"Gimana kalau suami nih mabok-mabokan, centil DM-DM cewek lain, sedangkan istri berushaa mengingatkan eh suami malah marah dan bilang cerai. Apakah itu sudah masuk talak?"


Ini sengaja menyindir Sahrial. Biar dia peka. Capek dibujukin rujuk mulu. Padahal sumber salahnya ada padanya.


"Ada talak 1, talak 2, nanti ketika talak 3, sudah putus boleh kembali tapi -ada pelajaran yang begitu keras bahwa- isterimu harus kawin dulu dengan orang lain, kemudian jika dia bercerai, kamu dapat rujuk. Itu juga sebabnya Allah melalui RasulNya menetapkan bahwa ada perceraian yang tidak bisa dinilai jatuh kalau dalam keadaan-keadaan khusus. Perceraian itu dua kali. Talak Pertama jatuh cerai, lalu diberi kesempatan kepada suami dan isteri untuk berpikir. Itu indah bukan?


Begitu sulit persyaratan untuk jatuhnya perceraian ini, tapi begitu mudah setelah talak 1 untuk kembali. Saya beri contoh, ada di Surat Ath-Thalaq, dan kita anut pula dalam Undang-undang Perkawinan, bahwa perceraian itu dapat dinilai jatuh kalau di dalam pengadilan atau ada saksi.


Jadi kalau suami begitu marah sehingga berkata cerai, namun kalau tidak ada saksinya masih tidak jatuh cerai. Begitu sulitnya syarat terjadinya perceraian. Dalam agama juga berkata demikian, ada orang yang tidak bisa kuasai dirinya, mata gelap sehingga berkata cerai, itu dianggap tidak jatuh perceraian.


Untuk kembali lagi itu mudah sekali selama masih dalam iddah. Karena Allah berkehendak demikian. Misal seseorang sudah menceraikan isterinya, lantas orang itu melihat, tersenyum kepada isterinya dan dipegang tangan isterinya, itu sudah dianggap rujuk. Mudah bukan? Karena Allah tidak mau ada cerai.


Sekali lagi, talak 2, itupun sulit syaratnya. Namun sangat mudah untuk rujuk tetapi sangat sulit untuk cerai. Allah beri tenggang waktu. “Boleh jadi sekarang kamu benci, boleh jadi besok kebencian kamu hilang”. Sehingga Allah menciptakan sesuatu yang baru di dalam hatinya. Oo, menyesal kenapa dulu begini? Karena Allah sangat benci perceraian.


Itu juga sebabnya. Hitunglah masa iddah itu. Kebiasaan di masyarakat kita, iddah tidak sering dihitung. Suaminya meninggal, isterinya tidak mau beriddah, Hitung iddah. Telitilah dalam perhitungan iddahnya."


"Lalu jika suami menyesali perbuatan salahnya ke istri dan mohon-mohon untuk rujuk, tapi istrinya jual mahal terus gimana tuh Pak Kiayi."


"Manusia nggak luput dari kesalahan. Awal-awal rumah tangga wajar kaget-kagetan belum begitu kenal pasangannya. Ada baiknya istri berusaha memaafkan sang suami."


"Skak!" teriak Sahrial.


"Yah, kalah lagi." Pak Kiayi mengelus jenggotnya yang memutih.


Setelah puas mendengar ceramah Pak Kiayi, kebetulan permainan caturnya juga selesai, kami izin pulang.


"Pak Kiyai, Ammar, terima kasih undangannya. Wah, kami pulang disuguhi oleh-oleh ilmu yang daging banget. Terima kasih banyak atas penjelasannya."

__ADS_1


"Sama-sama. Jangan kapok main ke sini ya."


Pak Kiayi, Ammar dan Jihan mengantar kami sampai depan rumahnya.


__ADS_2