
Beberapa jam sebelumnya.
Raut wajah Jihan memucat ketika kuberitahu bahwa teman chat Tinder gue ternyata suaminya. Dia chat gue di belakang Jihan. Apa lagi coba kalau bukan selingkuh?
Duh, gue kira Sahrial doang yang brengsek. Nyatanya Ammar super religius, guru MTs -Madrasah Tsanawiyah- juga tergoda sama perselingkuhan.
"Kita nggak bisa nih diem aja. Keenakan mereka sesukanya ngehancurin hati kita. Emang dikiranya hati kita apa coba?"
"Terus kita mesti ngapain?" tanya Jihan nggak semangat.
"Balas dendam."
"Nggak ah dosa."
"Nggak dong. Mereka duluan yang nyatikin kita. Jadi kita mesti ngasih sedikit pelajaran." Gue masih mengompori Jihan.
"Balas dendamnya make cara apa?"
Ya, sip. Jihan mulai terpancing. Gue buka laptop. Tanya Mbak Google. Gue ketik keyword 'cara balas dendam yang epic.' Banyak artikel yang muncul. Gue memilih di web www.arinynurulhaq.com
"Ada tiga cara balas dendam. Pertama, balas dengan kesuksesan. Kedua, balas dengan bongkar aibnya di sosial media. Ketiga, dendam terbaik santet bertindak." Gue membaca isi artikelnya. "Lu nggak mungkin mau kan cara terakhir? Itu artinya, kita make cara nomor 1 dan 2 sekaligus. Gimana?"
Ada keraguan di wajah Jihan. "Aku pikirin dulu deh. Aku takut terjadi apa-apa dengan Bamer dan Mas Ammar. Mas Ammar kemarin juga ingetin aku jangan bongkar aib rumah tangga ke siapa pun."
Gue gatel pengen nyubit ginjalnya Jihan. Saking gemesnya gue sama makhluk di depan gue. "Ya ampun, lu jadi cewek lugu dan baik bener sih.."
"Ya, gimana pun Mas Ammar masih suamiku. Siapa tahu cuma salah paham."
Gue makin geleng-geleng kepala lihat kepolosan Jihan. "Whatever. Terserah lu. Pokoknya, kabari gue kalau siap jalanin misi balas dendam ini."
...***...
Tok … tok
Gue cepat membukakan kamar hotel. Ternyata Jihan. Dia menangis kejer dan penampilannya berantakan. Langsung gue peluk erat. Terus tangan kanan gue mengelus punggungnya. Ini yang dia lakuin tempo hari ke gue. Sekarang gue bales budi ke dia.
"Jihan, lo kenapa? Ammar KDRT sama lu?"
Jihan menggeleng. Dia menangis lagi.
__ADS_1
"Ya udah, sini masuk ke kamar gue dulu. Biar enak ngobrol."
Kami pun mengobrol di kasur.
"Nah, sekarang lu cerita pelan-pelan. Lu diapain sama Ammar?" tanya gue berapi-api.
"Dia beneran selingkuh. Katanya dari setahun lalu dia emang cinta sama kamu. Selalu stalk. Bahkan dia juga nikah sama aku biar bisa deket sama kamu. Begitu tau, Sahrial campakkin kamu, dia ada niat ceraikan aku setelah bayi ini lahir. Hiks." Jihan menangis lagi.
Gue bangkit dari tempat tidur untuk mengambil tisu. Dia mengusap air matanya sendiri.
"Kurang ajar. Makanya lu harus balas dendam sama dia. Biar dia nggak bisa seenaknya sama lu." Aku balik mengompori Jihan dengan ide yang kemarin.
"Oke. Aku setuju. Terus apa yang mesti aku lakuin?"
"Tau Layangan Putus kan? Nah, lu bikin cerbung di grup *** (Komunitas Bisa Menulis, grup literasi milik penulis ternama; Asma Nadia. Nama tokohnya gue sama Sahrial. Tulis aja kisah nyata biar viral. Sebagai gantinya, gue beberin aib Ammar di Tiktok gue biar dia dihujat seluruh cewek di Indonesia. Gimana?
"Aku nurut aja deh. Ntar malam aku tulis cerbungnya."
Yes berhasil. Nggak sabar melihat mereka berdua dihujat netijen. Hahaha. Siapa suruh macam-macam sama cewek.
...***...
Sebelum tidur, gue Tektokan dulu. Gue klik buat video. Lalu mulailah cuap-cuap beberin aibnya Ammar.
"Hai, Gaes. Kalian tau kan Jihan Orianthi yang penulis femes berbagai platform? Nah, dia itu ternyata dinikahi Ammar biar dia bisa deket sama gue. Dia dari setahun lalu suka sama gue dan selalu stalk akun gue. Kurang ajar banget kan? Boleh nggak gue minta tolong sama kalian, buat ngehujat makhluk namanya Ammar. Kalau perlu hujat sekolahannya."
Gue berapi-api mengucapkan kalimat gue. Setelah puas mengoceh, gue menekan tombok posting. Dalam sekejap terposting di beranda. Duh, gue nggak sabar video itu masuk FYP dan di repost orang-orang. Gue puas banget membayangkan hal itu terjadi.
Ting!
Muncul notifikasi chat WA dari Jihan.
Mbak Gisel, aku dah liat video Tiktok Mbak. Tapi apa nggak keterlaluan ya bilang gitu? Aku takut dia dipecat. Terus kalau bapaknya tau dan sakit jantung gimana? Gimana pun dia masih suamiku.
Gue heran sama makhluk bernama Jihan. Sudah disakiti laki Dajjal. Masih aja belain tuh laki.
Gue bales pesan WA-nya dengan emosi berapi-api.
__ADS_1
Udah tenang aja. Itu masih kalem dan permulaan. Percaya deh, nggak bakal terjadi apa-apa sama mertua lu. Soal dipecat ya bagus, biar dia sadar rezekinya dia tuh tergantung di kebahagiaan bini.
Dia balas chat gue lagi.
Oh gitu? Jadi aman nih?
Iya, aman. Tenang aja. Kalau ada apa-apa sama mertua lu, gue tanggung jawab deh.
...***...
Acara honeymoon di Bali gagal total. Jadilah dua hari doang. Terus pulang. Hari ini gue sudah masuk kantor. Tahu apa yang terjadi? Semua AT Family berkumpul di ruang tamu kantor. Mereka menyambut gue dengan tatapan heran.
Bu Nazneen maju dan memeluk gue erat. "Grizelle, kamu yang sabar ya. Kami udah tahu huru-hara rumah tanggamu dengan Sahrial."
Gue bengong. Itu artinya?
"Jadi cerbung Jihan di platform hijau udah viral ya?"
Mereka mengernyitkan dahi. "Hah? Platform hijau? Jihan? Kenapa lari ke Jihan?" celetuk Wardah, editor AT Press.
Gue jadi tambah bengong. "Jadi kalian tahu hal ini bukan dari platform hijau?"
"Ya bukanlah. Kami tahu tadi sejam lalu, Sahrial datang. Dia bawa surat resign. Dan cerita udah cerai sama kamu," sahut Helen. Admin AT Press. Sekaligus mantan Sahrial. Gue nggak yakin setelah ini nisa tetap baik sama Helen. Walau nggak ada hubungannya dengan huru hara rumah tangga gue, tapi tetap saja dia ada kaitannya sama mantan suami yang laknat.
"Kalian santai aja. Gue nggak apa kok. Yuk, kita kerja lagi."
Bu Nazneen tersenyum. "Suka aku sama semangatmu. Wanita tanggung." Dia menepuk-nepuk pundak gue.
Gue balik ke meja kerja dan menyalakan komputer. Hal pertama gue lakuin adalah buka grup platform hijau. Memang benar ada judulnya postingan cerbung Jihan. Judulnya Dua Janda. Namun, yang menyukai hanya 10 orang. Komennya pun hanya 'next. Lanjut'
Gue beralih ke Tektok. Postingan gue yang menekan love hanya 5 orang. Sama sekali nggak ada yang berkomentar. Kok kayak gini? Benar-benar di luar ekspetasi gue.
Gue menarik napas dalam. Lalu embuskan lewat mulut. Ini cara gue menenangkan diri. "Tenang, Zel. Cara satu emang gatot. Tapi pasti akan ada cara lain buat balas dendam kedua makhluk laknat itu," gumam gue dalam hati.
__ADS_1