
Tadi mamaku nelepon katanya nggak enak badan. Aku langsung pulang, takut Mama terkena Covid 19. Tentu saja seiizin Mas Ammar. Untungnya hasil negatif. Mama menyuruhku pulang saja karena harus melayani suami.
Setelah sampai rumah, betapa terkejutnya diriku melihat Mas Ammar dan Gisel berduaan di teras. Mereka terlihat sangat bahagia. Ketawa bareng. Aku sendiri tak tahu bagaimana mendeskripsikan perasaanku saat ini. Antara sedih dan marah. Walau Mas Ammar melakukan pembelaan seperti di sinetron-sinetron. "Sayang, ini nggak seperti yang ada di pikiranmu."
Aku tak peduli hal itu. Aku hanya lari sekencang mungkin menjauh dari mereka. Cukup lama aku berlari, kok dia tidak mengejarku? Apakah tandanya justru ingin segera melepaskanku demi Gisel?
"Jihan … tunggu! Hosh … hosh." Terdengar sebuah teriakan yabg sangat kukenal. Akhirnya dia peka juga. Langkahku terhenti.
Dia menghampiriku serta memelukku erat. "Please, jangan lari lagi dariku ya. Demi Allah aku sama Gisel nggak ada apa-apa. Dia tadi ke rumah cuma nanyain kebobrokan Sahrial doang."
"Boong. Buktinya kalian terlihat bahagia banget, ketawa bareng."
"Itu karena cerita masa kocak sama Sahrial udah itu aja. Tolong percaya sama aku. Kan aku sudah janji, berusaha mencintaimu. Harus dengan apa biar kamu percaya dengan janjiku itu?"
Ucapannya terdengar begitu tulus. Hatiku meleleh mendengarnya. Air mataku menetes dengan sendirinya. Ah, sial. Kenapa aku selalu luluh dengan pelukan serta janji manis pria di belakangku ini?
"Ya udah aku maafin. Janji nggak deket-deket Gisel lagi? Kalaupun ketemu dia harus sama aku?"
"Janji."
Aku dan Mas Ammar kembali ke rumah. Gisel masih ada ternyata.
"Udah liat WA gue? Jihan, sori gue ke rumah lu bikin lu sedih atau apa, terlebih nggak ngabarin dulu. Kelupaan. Gue cuma mau tanya-tanya soal Sahrial aja kok."
Aku hanya diam. Masih dengannya.
"Ya udah, gue cuma mau bilang itu aja kok. Makanya gue nungguin kalian, biar kesalahpahaman nggak berlarut." Gisel mengangkat tangan kanan. "Sepertinya gue harus pamit. Mau ke kantor dulu. Gue doain kalian sakinah mawaddah warahmah."
Gisel pergi.
"Tuh kan, apa aku bilang. Kamu sih dikit-dikit ngambek tanpa mau denger ucapan suami dulu. Capek tauk ngejar kamu." Mas Ammar mencubit pipiku.
Aku tersipu malu. Kutepis tangannya. "Ih, Mas apaan sih, main cubit-cubit pipiku aja."
"Abis gemes kayak bakpao. Weee." Giliran Mas Ammar lari ke dalam rumah. Aku pun mengejarnya. Iniloh keromantisan rumah tangga yang aku impian sejak awal menikah. Alhamdulillah, sekarang merasakannya. Tuhan memang maha membolak-balikkan hati manusia.
***
Hascimmmm!
Sedari tadi bersin terus. Badanku juga terasa remuk seperti digebukin orang sekampung. Tentunya demam serta gatal tenggorokan. Jujur, aku takut. Semua yang aku rasakan tanda-tanda Covid 19.
"Sayang, kamu sakit? Ke rumah sakit yuk." Mas Ammar bangun dari tidur, langsung menyentuh jidatku.
"Nggak usah ah. Paling demam dan flu biasa. Entar sembuh kok minum obat warung. Lagi pula rumah sakit pasti penuh karena pasien Covid Delta makin melonjak."
"Gimana kalau ternyata Covid? Kalau di rumah sakit, langsung dapat penanganan dari Nakes. Aku takut terjadi apa-apa dengan anak kita." Mas Ammar membelai perutku.
Lagi-lagi air mataku meleleh. Ah, cengengnya diriku. Terlebih mudah terharu dengan perlakukan Mas Ammar yang sangat manis serta perhatian dengan anak kami.
__ADS_1
***
Benar hasil lab menunjukkan aku positif Covid 19 dan harus opname. Mengingat takut terjadi apa-apa dengan kandunganku. Mas Ammar memilihkan kamar kelas 2. Yang isinya ada 1 pasien lain. Kelas 1 full. Betapa terkejutnya aku pasien lain tersebut ternyata Sahrial dan Gisel.
"Loh, Sahrial Gisel kok bisa ada di sini?"
"Sahrial yang positif. Gue negatif, tapi pengen nemenin dia di sini."
Aku berbalik badan. "Mas, kita pindah kamar aja yuk. VIP juga nggak apa agak mahal. Aku masih ada tabungan," ujarku berbisik. Yup, aku malas ada Gisel. Masih kesal atas tempo hari. Bisa-bisanya mau mengobrol dengan Mas Ammar tanpa kasih kabar ke aku dulu. Belum lagi nanti dia mengompori aku aneh-aneh lagi.
Gisel berdiri. "Gue tau kok lu males liat gue karena masih kesel tempo hari. Lu di sini aja. Gue bisa pulang, toh tadi dokter bilang, bisa isoman di rumah."
"Sayang, udahlah. Nggak baik tau marahan dengan sesama muslim lebih dari tiga hari. Apalagi sama tetangga dan sahabatmu sendiri, kan?" Ammar mulai keluar dalil nasihatnya.
"Tuh, dengerin. Mas Ammar malah belain kamu, tapi kamunya dari kemarin-kemarin sibuk ngomporin aku biar cerai sama Mas Ammar."
Gisel tertunduk. "Iya iya maaf, gue janji nggak bakal komporin aneh-aneh lagi."
***
Sakit kayak gini memang sangat membosankan. Apalagi kena Covid 19. Makan pun tetap kudu di kamar, harus menunggu jatah makan dari suster rumah sakit.
Mas Ammar lagi salat Dhuha. Daripada aku bosan, aku buka Youtube menonton ceramah Buya Yahya di Yutub. Aku memilih tema tentang mejaga keharmonisan keluarga.
Untuk mewujudkan keluarga sakinah harus ada ilmu yang dimiliki oleh setiap pasangan suami istri.
Sekali salah satu di antara suami atau istri menuntut, maka itu artinya, anda telah mengajari pasangan anda untuk menuntut.
Menuntut tidak ada pahala, yang ada adalah sabar, sehingga setiap pasangan suami istri harus dituntut menjaga kesabarannya.
Mudah meminta maaf.
Meminta maaf akan menyuburkan keindahan karna minta maaf adalah pengakuan dari kesalahan sekaligus ikrar untuk tidak mengulangi kesalahan.
Bersalah lalu tidak meminta maaf adalah bom waktu bagi pasangan suami istri yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi pemberontakan.
Serta dendam yang amat bertentangan dengan keindahan dan kebahagiaan.
__ADS_1
Sebab yang sifatnya batin di antaranya adalah:
Banyak memohon kepada Allah.
Tingkatkan kedekatan kepada Allah.
Jadikan pernikahan sebagai sarana tolong menolong dalam berbakti kepada orang tua dan menyambung silaturahmi dengan saudara.
Aku sengaja mengeraskan volume videonya agar Gisel bisa mendengar. Siapa tahu ceramahan ini membuatnya dapat hidayah menyadari bahwa dendam itu nggak baik dan berusaha mempertahankan rumah tangganya ke Sahrial.
"Jihan, kok kamu bisa sih maafin Ammar gitu aja? Kan kemarin masih sakit hati banget sama dia?"
Yes. Dia kepancing.
"Gimana ya, aku korban broken home. Papa Mama pisah akibat kurangnya rasa saling percaya dan susah memaafkan masa lalu. Itu sakit. Diterapi psikologi dulu baru pelan-pelan berdamai dengan masa lalu. Nah, aku nggak mau anakku merasakan apa yang aku rasakan. Lagian Mas Ammar baik kok. Belum lagi aku aslinya sudah lama suka sama Mas Ammar. Kamu sendiri kok bisa sekarang akur sama Sahrial lagi?"
"Ih, siapa bilang. Ini gue lakuin demi cuan. Dia masih ada denda 500 juta. Makanya dia ngotot rujuk karena nggak sanggup bayar. Kalau dia metong, yang ribet dan rugi ya gue juga."
Aku tersenyum simpul. Masih aja dia gengsi mengakui cinta sama Sahrial. Tadi saja aku melihat dia menyuapi Sahrial dengan tulus kok.
"Apa kamu nggak pengen beneran rujuk gitu sama Sahrial? Kayak kami. Enak loh rumah tangga yang harmonis."
Kali ini aku yang mengompori dia. Namun, mengompori ke jalan yang baik.
"Duh, kayaknya berat. Tujuan kami menikah kan duit. Jadi ya gitu."
"Kamu nggak mau berusaha mencintai dia karena Allah?"
"Entahlah. Moga aja ntar cinta hadir dengan sendirinya."
"Aamiin."
Tiba-tiba Sahrial dan Mas Ammar muncul. "Nah, gitu dong balik akur. Kan enak diliatnya."
"Hayo, pada gibahin kami ya?" goda Sahrial.
"Ih, pede. Pengen banget gitu digibahin?" sahut Gisel nggak mau kalah.
"Kan cewek-cewek biasanya gibah, kalau nggak bahas suami ya keburukan cewek lain," timpal Sahrial.
Mereka aslinya cocok. Sama-sama nggak mau kalah. Seru rumah tangga kayak gitu.
"Udah, nih kita makan dulu. Tadi aku pesen Gofood. Baru aja satpam antar depan pintu."
Aku intip plastik makanannya. Asyik, makanan favoritku. Soto daging. Hmmm … wanginya enak nih. Akhirnya kami makan sama-sama.
__ADS_1