Takut Menjanda

Takut Menjanda
Chapter XIV (Jihan Orianthie)


__ADS_3

Aku menelan ludah melihat masakan yang baru selesai dimasak Mama. 


"Hah? Ini masakan apa, Ma?" 


"Sayur Bening Bayam Brokoli."


"Tapi kan Mama tau aku dari bayi nggak suka sayuran. Apalagi Bayam."


"Nah, mulai sekarang biasain makan sayuran ya. Demi Dedek bayi kamu. Bayam dan Brokoli mengandung asam folat, bagus loh buat kecerdasan si kecil. Meminimalkan risiko autis pada bayi sebanyak 40 per sen."


Ish, tadinya aku pikir menginap di rumah Mama, akan membawa ketenangan. Ternyata malah tambah tertekan. Dipaksa makan sayuran yang nggak aku suka.


Duh, jadi ingin pulang. Namun, gengsi minta jemput Mas Ammar. Seketika aku melirik ponsel pintar yang sedari tadi tergeletak di meja makan.


"Napa liatin HP mulu? Kangen sama laki? Mau pulang gegara males makan sayuran?"


Aku memanyunkan bibir. Sial. Pikiranku terbaca oleh Mama. "Nggak dong. Aku mau nelepon temanku. Mau ajak makan di luar."


Baru aku meraih ponsel itu, sudah bergetar. Pucuk dicinta ulam tiba. Mas Ammar duluan yang nelepon.


"Sayang, kamu pulang dong. Kangen nih. Nggak ada kamu rumah sepi."


Bisa aja ini cowok akting. Sekalian aja aku ikutan. "Sama sih aku juga kangen. Kamu kapan jemput aku?"


"Ya udah ntar sore aku jemput ya."


"Oke. Ditunggu."


Klik. Telepon dimatikan.


"Nah, Ma aku ntar sore pulang ya. Makasih loh udah diizinin nginep."


Buru-buru aku ke kamar buat mengemasi pakaian.


***


Sebagai Ibu Rumah Tangga baru, jam delapan pagi wajib melakukan ritual nongkrong di lapak tukang sayur. Selain harga murah, fresh, juga mempererat kedekatan dengan tetangga. Kebetulan aku belum terlalu banyak mengenal ibu-ibu di komplek Green Hills ini.


Berhubung hari ini aku ingin masak sop ayam, jadilah aku memilih daun sop yang segar dan terbaik.


"Eh, Bu Ibu, kalian tahu kan Mbak Gisel atau siapa itu namanya yang kebaratan-baratan, udah jadi janda kembang loh. Baru seminggu nikah udah dicerai." Ibu yang gendut dan make up menor bersuara. Aku sendiri nggak tau namanya.


"Ah, masa sih? Jeng tau dari mana?" timpal Ibu yang berdaster cokelat. Badannya agak kurus dan kulit cokelat tua. Aku tafsir usianya seumuran mamaku.


"Ada deh. Pokoknya informan tepercaya."


"Wah, sayang banget ya. Baru seminggu udah jadi janda. Pasti ada yang nggak beres sama dia jadi lakinya jatuhin talak."


"Keliatan sih. Dia kan wanita karier, pasti dominan. Makanya nggak ada laki yang betah sama dia."

__ADS_1


Dua ibu-ibu di depanku asyik menggibah Mbak Gisel. 


"Bu, Ibu, nggak boleh gitu. Siapa tau mereka cerai karena kesalahan suaminya," belaku. Sebagai temannya Mbak Gisel, aku nggak terima dia dijulitin ibu-ibu.


"Jeng Jihan ini temennya Jeng Gisel kan? Saya kemarin liat kamu ngobrol asyik banget di teras sama Gisel." Ibu gendut kembali menyahuti perkataanku.


"Temennya toh, pantes belain Jeng Gisel," cibir ibu yang kurus.


Aku kembali meletakkan daun sop yang tadi kupegang. Mood belanjaku ambyar gara-gara gibahan mereka.


"Mang, saya nggak jadi belanja ya. Maaf."


"Loh, Jeng Jihan kok nggak jadi belanja?" tanya si Ibu gendut.


"Saya lupa, mau ditemenin suami belanja ke supermarket. Lebih adem tanpa dengar gibahan tetangga," ucapku sambil ngeloyor pergi.


***


"Loh, katanya belanja, kok pulang-pulang manyun? Mana belanjaannya?" tanya Ammar heran ketika melihatku pulang tanpa bawa belanjaan.


"Udah nggak mood belanja. Ibu-ibu di sana pada asyik gibah Mbak Gisel yang jadi janda seminggu. Nggak tau kenapa aku sensian dengernya. Karena bentar lagi aku juga jadi janda," cerocosku. Pandangku beralih ke Ammar yang lagi sibuk menyeruput kopi. 


"Mas, kamu serius mau ceraikan aku pascar lahiran? Kamu tega menjandakan istri demi janda sahabat? Aku nggak ingin perceraian ini karena di lubuk hatiku terdalam merindukan sosok cinta pertama yang nggak pernah aku dapat dari ayahku. Aku berharap kamu yang jadi cinta pertams sekaligus cinta terakhir." Mataku berkaca-kaca. Berharap menarik perhatian Mas Ammar.


Ammar bangkit dari tempat duduk. Lalu memelukku erat. "Pasrahin ke Allah ya. Kalau emang DIA masih menjodohkan kita, ya kita akan terus bersama selamanya. Siapa tahu dalam 9 bulan ke depan, aku bisa mencintaimu."


Desiran aneh menjalar masuk ke relung hati. Adem banget dengar kalimat Mas Ammar barusan. Muncul secercah harapan menjalin rumah tangga sakinah mawaddah warahmah seperti yang aku impikan.


"Nggak apa. Ya udah kita sarapan di luar aja yuk. Pulangnya aku anterin ke supermarket buat belanja."


"Serius? Makasih, Mas. Aku ganti baju dulu ya."


***


Mbak Gisel datang ke rumah. Pasti mau mengomporin aku buat ikut jalankan misi balas dendamnya. Aku mau usir dia, nggam enak. Jadilah aku dengarkan saja.


"Jadi mau gibah apa?"


"Jihan, gue dah nemu misi balas dendam dengan lebih kalem."


"Oh, ya? Gimana tuh?" Aku pura-pura antusias.


"Lewat mencari kelemahan mantan-mantan suami kita, kita harus mencari cowok yang jauh lebih bobrok dari mantan-mantan suami kita. Katanya, penghinaan cowok itu kalau mantannya dapat pengganti lebih bobrok atau lewat menyakiti keluarganya."


Duh, idenya Mbak Gisel makin aneh-aneh.


"Duh, maaf seribu maaf nih. Saya nggak bisa lagi ikut menjalankan misi balas dendamnya Mbak Gisel. Nggak tega saya melakukan itu. Selain itu, saya nggak segaul Mbak Gisel. Saya aja nggak punya mantan. Jadi boro-boro nyari pengganti Mas Ammar. Oh iya, Mbak tenang aja, cerbung Mbak Gisel di *** tetap akan saya lanjut sampai ending. Anggap aja kado pernikahan Mbak Gisel."


“Loh, kok lu berubah pikiran sih? Kemarin aja lu masih sakit hati banget sama Ammar.”

__ADS_1


“Gini, Mbak. Kemarin saya belanja, terus ibu-ibu komplex lagi julidin janda muda. Kesannya jadi janda muda tuh negatif banget di mata masyarakat. Gimana nanti kalau aku jadi janda juga? Apakah akan dibuli juga?” Ucapanku terhenti sejenak untuk mengatur napas terlebih dahulu.


“Kalau soal janda bener sih. Masyarakat kita terutama Emak-emak julid nauzubillah sama janda. Takut banget suaminya direbut janda. Padahal yang bikin kita jadi janda ya para laki. Kemarin gue juga dijulidin anak-anak di kantor gegara terlalu cepat jadi janda.”


“Terus aku juga denger ceramah tentang hukum perceraian yang dibenci Allah. Jujur, lubuk hati terdalam tak ingin perceraian. Aku merindukan sosok cinta pertama; Ayah. Aku tak ingin anakku seperti aku. Lagi pula Mas Ammar janji akan belajar mencintaiku dan membatalkan perceraian,” lanjutku lagi.


“Lu percaya gitu aja sama janji cowok sekelas Ammar?”


“Percaya nggak percaya. Nggak ada salahnya kan mencoba percaya ke suami? Bukankah dasar pernikahan harus saling percaya?”


"Yah." Terlihat jelas raut kekecewaan di wajahnya. Namun, mau gimana lagi?


"Nggak seru, ah. Masa kamu nyerah di tengah jalan? Nggak mau menuntaskan rasa sakit hatimu ke Ammar?" Dia masih berusaha mengomporiku. Sori, kali ini nggak mempan.


"Kemarin aku baca postingan di IG @istikamahhijrah, bahwasanya terus-terusan menyimpan dendam itu nggak baik. Dendam bisa menghancurkan semua perbuatan baik kita."


Duh, ngomong apa aku barusan? Sok-sokan ceramah. Apa efek jadi bini ustaz?


"Iya deh, yang sekarang jadi bini ustaz. Etapi, kalau mau berubah pikiran masih bisa loh. Hubungi aku aja."


Harus aku akui, Mbak Gisel ini orangnya gigih mendapatkan apa yang dia mau. Sayang banget, Sahrial menyia-nyiakan wanita seperti Mbak Gisel.


"Okelah, Mbak aku pertimbangkan. Mungkin kalau Mas Ammar makin ngeselin aku baru berubah pikiran dan lanjutin rencananya Mbak Gisel."


Tiba-tiba Mas Ammar pulang.


"Nah, berhubung suamimu dah pulang. Aku pamit pulang dulu. Nggak enak ganggu kalian. Assalamualaikum."


Selepas kepergian Mbak Gisel. Mas Ammar menatapku curiga. "Ngapain Gisel ke sini? Ngomporin kamu lagi buat buka aib suami?" tebak Mas Ammar dengan nada menyindir dan ketus.


Pertanyaannya nggak sepenuhnya salah. "Ih, suuzon. Tapi nggak sepenuhnya salah sih. Dia minta aku jalankan misi balas dendamnya dengan cara lebih halus."


"Gimana idenya?"


 Aku jelaskan rinci perkataan Mbak Gisel tadi ke Ammar.


"Dih, licik banget dia. Untung, aku nggak jadi nikah sama dia. Terus kamu mau sama idenya itu?"


"Ya nggaklah. Mana berani aku ngelakuin itu. Aku kan udah sayang sama Bapak. Andaipun kita cerai, aku mau cerai secara baik-baik tanpa."


"Nah, bagus. Ini baru istriku. Setelah dipikir-pikir, begitu tau aslinya Gisel lama-lama aku ilfeel dengannya. Untungnya jodohku kamu. Tuhan memang nggak salah mengirimkan jodoh tepat untuk umatnya. Aku janji mulai hari ini, aku akan berusaha mencintai kamu."


Refleks aku memeluk Mas Ammar. Butiran bening kembali keluar dari pelupuk mataku. Ini air mata bahagia. Setelah sekian lama, akhirnya Mas Ammar mengucapkan kalimat itu. "Makasih, Mas udah berusaha mencintaiku."


"Asal kamu janji jadi istri yang sabar, baik serta selalu menjaga aib rumah tangga kita."


Aku melepas pelukan. "Oke. Janji."


"Oh iya, Mas udah ketemu Sahrial? Kasian aku sama Mbak Gisel. Siapa tau kalau Sahrial nggak jadi ceraikan Mbak Gisel, dia bisa lebih baik."

__ADS_1


Mas Ammar angkat bahu. "Aku sendiri nggak tau keberadaan Sahrial. Dia bak hilang ditelan bumi. Apa dia balik ke Medan ya? Kita doakan terbaik aja buat mereka."


"Aamiin."


__ADS_2