Takut Menjanda

Takut Menjanda
Chapter XXVII (Grizelle Prameswari)


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal konsultasi sama Dedy Susanto. Jam abis pulang kerja 17.00 wib. Untungnya konsultasinya bisa lewat telepon WA. 


"Hallo."


"Iya, Hallo Om." 


"Enaknya saya panggil siapa ya? Ibu, Mbak atau siapa?"


"Terserah aja. Mbak juga nggak apa."


"Oke Mbak aja. Mbak ada keluhan apa?"


Gue mulai cerita tentang dari awal putus, balikan, putus lagi sama mantan sampai nikah kontrak sama Sahrial. Gue juga cerita kebimbangan dan ketakutan gue apabila rujuk sama Sahrial.


"Saya paham. Ini tandanya Mbak memang belum berdamai sama luka itu. Lukanya terpendam di gudang jiwa. Saya terapi ya. Mbak tarik napas dulu. Lalu embuskan perlahan. Ikuti perkataan saya.


Wahai diriku sendiri. Terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Kamu keren loh kuat menghadapi luka berberapa kali. Aku sayang banget sama diriku sendiri. Aku sekarang sudah nikah. Aku harus menyayangi suamiku sepenuh hati. Yuk, maafin semua luka yang sudah ditorehkan oleh mantanku. Dia ada karena bentuk ujian Allah menguatkan hatiku sebelum dipertemukan sama jodoh yang layak. Jodohku yang sekarang ini.


Aku nggak layak terus-terusan benci sama dia. Terus-terusan dibayangin sakit hati sama dia. Aku harus tinggalkan semua itu demi bahagiaku di masa depan. Sekarang tarik napas lagi, embuskan perlahan."


Gue ikutin semua perkataan Dedy. Tanpa gue sadari air mata gue mengalir deras. Habis satu kotak tisu. Jujur, ada sebuah perasaan berbeda. Perasaan yang plong seperti membuang sampah-sampah.


Tak terasa sudah dua jam gue konsultasi serta terapi psikologis sama Dedy Susanto. Gue merasa sudah nggak ada uneg-uneg lagi. Semua dikeluarkan. Akhirnya gue berterima kasih dan menutup telepon dengannya.


"Abis teleponan dengan siapa kau?" Sahrial muncul di belakang gue. Entah sejak kapan dia berdiri di sana.


"Om Dedy Susanto, psikolog."


Tatapan Sahrial ke gue aneh. "Jadi kau …" Ucapannya menggantung. Mungkin mau meneruskan kalimatnya, takut gue marah.


"Jadi gue sakit jiwa alias gila maksud lu?" Gue yang justru melanjutkan kalimatnya.


"Nggak gitu."


"Gue tau kok. Orang awam begitu dengar psikolog, bawaannya overthinking sakit jiwa atau gila. Padahal orang yang sehat pun butuh psikolog karena dalam batinnya nggak baik-baik aja. Gue ke psikolog karena baru menyadari bahwa ternyata luka yang ditorehkan mantan belum sepenuhnya sembuh. Membekas serta di gudang jiwa. Makanya susah banget rujuk sama lu. Takut kejadian sakit hati itu terulang lagi." 


Gue memijit kening. Pusing jelasin sama orang yang nggak melek psikologis. Percuma, nggak akan mengerti. "Please, kasih waktu buat gue menyembuhin luka dan mental."


"Berapa pun waktu yang kau minta, aku siap nunggu."


"Makasih ya." Aku memaksakan tersenyum.


***


Gue sibuk menggerakkan kursor. Ada 110 naskah baru masuk ke AT Menulis, tapi begitu mengintip bab 1 langsung memijit kepala. Pusing. Khas Dedek Gemes (read: penulis pemula) menulis ya menulis aja. Tanpa memperhatikan teknik menulis yang baik dan benar. Alhasil, dari 110 hanya 2 yang membuatku tertarik. Walau temanya b aja, nggak jauh-jauh dari perjodohan, tapi setidaknya teknik menulis rapi EyD. Gue mengklik approve di dua naskah tersebut.


Pintu gue terbuka. Menyembul Helen. "Mbak, ini paket."


"Oh, taruh aja di meja ya. Saya lagi sibuk approve naskah soalnya. Makasih ya."


Usai mengantar paket, Helen keluar dari ruangan gue. Gue penasaran paket siapa? Gue beranjak dari tempat duduk untuk mengambil paketnya. Kurobek bungkusannya yang dari kertas cokelat. Teryata buku 'Yang Belum Usai' dari PijarPsikologi terbitan Elex Media. 


Sejak konsultasi ke Dedy Susanto, efeknya memang luar biasa. Gue seperti terlahir kembali, lebih ceria serta lebih enteng menjalani hidup. Alhasil, gue semakin penasaran belajar ilmu psikologis lebih dalam. Mulai baca-baca artikel, postingan akun psikolog di Instagram, sampai beli buku. 


Dari yang sudah gue pelajari, ada 7 hal yang harus dilakukan untuk menyembuhkan luka batin secara mandiri.

__ADS_1


Menerima diri sendiri. Selama ini, mungkin kita tidak bisa menerima diri sendiri apa adanya, dan ingin menjadi orang lain. ...


Jangan menyerah pada mimpi. ...


Memaafkan diri sendiri. ...


Buat daftar what-to-do. ...


Lakukan hal yang positif. ...


Rutin olahraga. ...


Cukup tidur.


Ting!


Ada notifikasi WA dari Sahrial. Gue tersenyum, cowok satu ini walau sudah gue maki-maki, kata-katain, jelek-jelekin, tapi tetap aja berjuang mengajak gue rujuk. Mungkin sudah saatnya gue memberikan kesempatan kedua sama dia.


Sahrial


Sibuk nggak makan siang bareng yuk! Kalau nggak mau, nggak apa. Lain kali aja. Nunggu kamu sembuh luka batin dulu juga nggak apa.


Grizel


Gue mau kok. Tapi gue yang nentuin tempatnya!


Gue mengirimkan foto kafe favorit gue ke Sahrial. Gue chat Sahrial lagi.


Grizel


Kita makan di sini aja ya. Gue pengen lihat yang seger-seger dan kangen makan di sini. Tempat makan favorit gue di Jogja.


Sahrial


Grizel 


Nggak usah. Kita berangkat masing-masing aja. 


Soalnya gue tau, AT Family isinya itu julid nauzubillah. Yang ada gue bakal diledek abis-abisan jalan bareng sama Sahrial lagi. Sekalian jaga hati Leci juga. Gue tahu Leci pun juga lagi di tahap menyembuhkan luka batin. Merasa di-php Sahrial. Walau kata Sahrial, nggak pernah memberi harapan sedikit pun. Hanya sebatas chat asyik sama teman aja. Namanya perempuan gue paham, pasti baper ketika melihat si lelaki merespons si perempuan. Berhubungan sama perasaan memang seribet ini.


***


Tempat yang gue pilih adalah Kafe Waroeng Pohon. Sengaja memilih di sini karena estetic. Konsep Waroeng Pohon memang dibuat menyatu dengan alam, jadi tampak sangat alami dan asri. Bangunannya didirikan memakai bebatuan alam yang disusun dengan rapi membentuk rumah-rumah.


Jika dilihat, kafe ini sangat menggambarkan suasana pedesaan zaman kerajaan pada masa lalu yang alami dengan banyak pohon besar.


Begitu sampai kita harus pesan makanan atau minuman terlebih dahulu. Menu makanannya disesuaikan dengan konsep bangunannya yang terkesan tradisional, pengunjung bisa memesan berbagai jenis pecel, trancam, lalapan, hingga wedang-wedangan.


Gue memilih tempat duduk tengah. Belum lima menit, pelayannya datang bawakan es jeruk pesanan kami.


"Tumben kau mau aku ajak makan siang. Biasanya lihat aku aja bawaannya mau ngajal berantem," ucap Sahrial. Sahrial menyeruput es jeruknya.


"Hmmm … setelah gue pikir-pikir mungkin luka batin gue belum sepenuhnya sembuh, tapi sudah jauh lebih baik dari kemarin. Gue rasa nggak ada salahnya gue ngasih kesempatan kedua buat rujuk sama lu."


"Uhuk… uhuk." Sahrial tersedak.

__ADS_1


Gue bergegas menghampirinya. Gue tepuk-tepuk. "Makanya minumnya hati-hati dong."


"Serius kau mau rujuk denganku?"


Gue mengangguk mantap. "Iya."


Sahrial langsung memeluk gue erat. "Makasih ya Allah, kau telah mengabulkan doaku."


"Ih, apaan sih. Lebay tau. Biasa aja kali. Malu diliatin orang."


***


Gue sama Sahrial sudah diskusi dengan Pak Kiayi. Kata beliau kami nggak perlu ijab qobul lagi. Karena pas jatuhkan talak hanya emosi sesaat. Gue bernapas lega, berkat ini keluarga gue nggak perlu tahu.


Jadilah sekarang gue di Medan. Pihak orang tua Sahrial merayakan resepsi besar-besaran pesta adat Batak. Ada empat ritual yang dijalankan. 




Mangaririt.


Persiapan pernikahan dalam tahap ini adalah tahap memilih gadis yang akan dijadikan istri yang sesuai dengan kriteria laki-laki atau keluarganya. Biasanya ritual ini dilakukan kalau calon mempelai laki-laki adalah seseorang yang sering merantau, sehingga calon laki-laki nggak sempat untuk mencari pasangannya sendiri.




Mangalehon Tanda.




Mangalehon tanda maknanya memberi tanda apabila laki-laki telah menemukan perempuan sebagai calon istrinya, kemudian keduanya saling memberikan tanda. Laki-laki biasanya memberikan uang kepada perempuan sedangkan perempuan menyerahkan kain sarung kepada laki-laki, setelah itu maka laki-laki dan perempuan tersebut telah terikat satu sama lain. Laki-laki lalu memberitahukan hal tersebut kepada orangtuanya, lalu orangtua laki-laki akan menyuruh perantara atau domu-domu yang telah mengikat janji dengan putrinya.



Marhusip



Marhusip dapat diartikan sebagai berbisik, artinya adalah sebuah pembicaraan yang bersifat rahasia atau disebut juga sebagai perundingan antara utusan calon pengantin laki-laki dengan wakil dari calon pengantin perempuan. Biasanya didiskusikan tentang mas kawin yang tidak boleh diketahui secara umum karena dikhawatirkan akan terjadi kegagalan dari acara ini.



Sungkeman.


Doa.



Sebenarnya ada 10 ritual lainnya, tapi kata Mamak Sahrial cukup 4 itu saja yang penting.


Ketika proses sungkeman di mamak Sahrial, air mata gue menetes. 

__ADS_1


"Mak, makasih ya sudah bersedia menerima Gisel jadi mantu dan dirayain resepsi besar-besaran pesta adat Batak pula."


"Justru Mamak yang harusnya bilang makasih ke kau. Mamak sudah lama ingin punya mantu, tapi Rial selalu nolak dijodohin dengan wanita mana pun. Ternyata jodohnya wanita karier yang cantik, cerdas dan baik. Wanita itu Grizelle Prameswari."


__ADS_2