Takut Menjanda

Takut Menjanda
Chapter I (Jihan Orianthie)


__ADS_3

"Jika memang takdirku berpisah darinya, mudahkan hati memaafkan kesalahannya." Aku menangis di sajadah panjang pada sepertiga malam.


Awalnya aku kira menikah dengan Amar, pria yang usianya jauh lebih muda dariku sebuah keputusan yang tepat. Mama sangat menyukai pria itu. Kata Mama, agama dan nasab keluarganya bagus. Sayang disia-siakan. Aku percaya rida orang tua adalah rida Allah.


Menikah dengannya hanya indah di awal. Setahun setelahnya, mulai makan hati. Usia tak bohong. Dia seperti bocah yang haus bermain. Semakin lama, semakin membikin jengkel. Aku tak kuat menghadapinya. Hingga aku berada di persimpangan jadi janda muda atau lanjut berumah tangga dengan risiko menambah luka batin?


Kisahku dengannya dimulai dari halaman berikutnya.


...***...


Mama memandangiku dari ujung kaki ke ujung kepala begitu aku keluar dari kamar. Seketika melotot. "Kan Mama udah bilang, kamu dandan yang cantik."


"Ini aku dah dandan, Ma."


"Dandan apanya? Nggak ada bedanya dari biasanya."


"Dandan make bedak sama lipstik tipis aja. Hehehe." Aku cengengesan. 


"Udah dibilang dandan maksimal. Kebaya yang Mama kasih kok nggak dipake?" 


"Mama kenapa sih nyuruh aku dandan dan make kebaya segala?" 


"Bentar lagi ada tamu penting."


"Siapa?"


"Calon jodohmu." 


Sekarang giliran aku yang melotot. "Mama apa-apaan sih. Jodoh-jodohin aku tanpa pengetahuanku dulu. Sudah dibilang berkali-kali aku nggak mau dijodoh-jodohin."


"Kalau nggak dijodohin, kamu mau nikah sampe umur berapa? Inget, umurmu udah 27 tahun. Mama tuh capek ditanyain terus kapan punya mantu? Kamunya ngumpet di kamar mulu, kapan nemu jodoh coba?" 


Alasan aku ngumpet di kamar itu karena aku kerja freelance. Menulis novel di platform. Dari platform lokal sampai luar negeri aku jajaki. Penghasilanku lumayan. 5-10 juta. 


"Tapi nggak gini juga…"


Di tengah aku ribut sama Mama, tiba-tiba terdengar ketukan pintu. 


"Assalamualaikum." 


"Nah, tuh jodohmu datang. Buruan ganti baju make kebaya yang Mama taruh di kamarmu."


Aku menurut. Lalu masuk kamar dan ganti baju dengan kebaya. Lima belas menit kemudian, aku keluar lagi. Betapa terkejutnya tatkala melihat calon jodohku ternyata Ammar. 


Ammar adalah tetangga di sebelah rumah. Kedatangannya di kampung ini baru enam bulan. Aku akui suka dengannya. Secara dia tampan. Rambut pendek, alis tebal, bibir kemerah-merahan dan kulit putih. Konon kata para tetangga, dia baru lulus dari Kairo Mesir. 


"Kehadiran kami ke sini untuk melamar Nak Jihan Orianthi untuk anak saya bernama Ammar Arfiandy. Gimana Nak Jihan, bersediakah kau menikah dengan anak saya?" 


Mimpi apa aku kemarin? Sejak 2007 aku memang memimpikan dapat jodoh bak Fahri di novel atau film Ayat-ayat Cinta. Namun, aku tak menyangka mimpi itu terwujud sekarang di sosok depan mataku. 

__ADS_1


Lidahku mendadak kelu. Tak tahu harus berkata apa. Secara repleks hanya bisa mengangguk. Walau aku belum begitu mengenalnya, aku percaya emang jodoh terbaikku. Pilihan Mama. Pasti pilihan Allah juga. 


Aku menarik Mama ke belakang dulu. "Mama kok nggak bilang sih jodohin aku sama Ammar?" 


"Ya kalau bilang, nggak kejutan dong namanya. Tadi aja sok-sokan nolak perjodohan. Pas orangnya ada di depan mata, nggak berkutik nolak lamarannya."


"Kali ini pilihan Mama, pas. Tau aja sih seleraku."


Aku dan Mama kembali ke ruang tamu. “Maaf menunggu lama,” ucap Mama ramah.


Aku duduk di sebelah Mama. “Maaf nih Pak Kiayi, alasan Pak Kiayi melamar saya untuk Mas Ammar kenapa ya? Saya merasa nashab keluarga saya dan keluarga Pak Kiayi bagai langit dan bumi. Sangat berbeda jauh. Takutnya nanti Pak Kiayi nyesel punya menantu kayak saya. Saya saja belum berhijab,” tuturku sopan. Ya, aku sok merendah dan menolak dulu.


 “Apalah artinya perbedaan. Kita di mata Allah sama. Yang membedakan iman dan taqwa.” Pak Kiayi menggeser posisi duduknya. “Dulu saya dan mamamu satu pesantren waktu MA. Nah, mamamu yang menyemangati saya untuk terus belajar biar jadi ustaz bahkan kiayi. Kami bertekad menjodohkan anak-anak kami agar pertemanan ini nggak putus.”


Hmmm … ternyata bau-bau cinta lama belum kelar. Pantes saja. Kalau nggak gitu, nggak mungkin seorang kiayi melamar gadis yang salat lima waktu aja masih bolong-bolong. Terima nggak ya?


“Udah terima aja. Kesempatan nggak datang dua kali loh.” Mama seolah tahu kebimbangan hatiku.


Aku mendesah napas berat. “Bismillah, saya siap menikah dengan Mas Ammar.”


“Alhamdulillah,” ucap Mama dan Pak Kiayi bersamaan.


Aku berharap ini keputusan terbaik.


...***...


Hari pernikahan tiba. Berhubung pandemi Covid 19, pernikahan digelar secara sederhana. Tamu yang hadir hanya keluarga inti dan teman terdekat. 


"Ya ampun Jihan dari tiga tahun lalu lu halu nikah sama cowok cakep lulusan Kairo akhirnya terwujud juga."


"Iya, alhamdulillah. Aku aja nggak nyangka."


"Mulai sekarang gue akan lanjutin kehaluan gue nikah sama tuan muda/CEO. Siapa tau kehaluan gue terwujud juga kayak lo."


"Selamat berhalu-halu ria."


Sembari menunggu tamu lain datang, aku megang HP dulu. "Selfie yuk buat post di FB, IG dan WA!" 


"Apa sih, dari tadi kita udah foto-foto."


"Ini versi gaya bebas tanpa arahan fotografer. Ayolah. Please."


Dia mengangguk. Sigap dia tersenyum lebar memandang kamera HP. Klik. Foto tersimpan. Aku langsung terposting ke semua sosial media. 


Captionnya 'Alhamdulillah, aku sudah sudah sah. Aku sendiri nggak nyangka bisa menemukan jodoh yang karakternya seperti Fahri dan tokoh-tokoh novel yang biasa aku tulis. Kalian jangan berhenti halu. Siapa tahu halumu itu akan terwujud di tahun-tahun mendatang.' 


Dalam sekejap akun sosial mediaku dipenuhi like dan komentar. Rata-rata mereka mengucapkan selamat. Ada satu komentar yang menggelitik. 


 

__ADS_1


Myafa16


Ah, aku jadi pengen rajin menghalu ah. Siapa tahu sosok Bryan akan hadir ke dunia nyata. 


 


Aku cuma senyum-senyum sendiri baca komentar. Tak lama setelahnya tamu-tamu lainnya berdatangan. Salah satunya Grizelle Prameswari, temanku dari SMA. Tunggu dia bawa gandengan pria. Siapakah pria itu?


Grizelle mendekat. Lalu salaman serta cium pipi kanan dan pipi kiri. "Ya ampun, lama nggak ada kabar, tau-tau nikah aja lu."


"Alhamdulillah, jodohku sudah datang. Nggak ngumpet lagi. Eh, kamu siapa siapa nih? Bentar lagi nyusul aku dong."


"Aamiin. Doain aja secepatnya gue nyusul lu ke pelaminan."


...***...


Malam pertama dengan Ammar. 


Aku dan dia duduk di ranjang sambil senderan bantal. "Mas, ini malam pertama kita loh," ujarku seraya mengedip-ngedipkan mata. 


Oh iya, aku lupa bilang. Ammar memang usianya lebih muda lima tahun dariku. Berhubung dia sudah sah jadi suamiku, aku memanggilnya sebutan 'Mas' untuk menghormatinya. 


 


"Ya terus kenapa?" 


Pandangannya terus tertuju ke layar HP. Aku lirik HPnya, ternyata main Mobile Legend. 


"Nggak mau lakuin sunah Rasul gitu?" 


Dia menghentikan aktivitas main game. Dia lalu menatapku tajam seraya mendekatkan wajah ke arahku. Jantungku berdegup kencang. Ini sama seperti adegan yang biasa aku tulis saat tokohnya hendak mencium pasangannya. 


"Jangan ngarep. Aku nikah sama kamu demi bahagiain Bapak. Jadi jangan pernah nuntut macam-macam dariku. Ngerti?" 


Ambyar semua imajinasiku tentang keromantisan malam pertama dengan orang yang kucintai. Hmmm… Sepertinya pernikahan ini akan berat. Namun, aku suka tantangan. Aku yakin bisa mendapatkan hatinya. 


...***...


Aku terbangun karena mendengar azan subuh. Ketika aku meraba kasur, kaget tak ada Ammar. Ternyata dia sudah bangun duluan dan berpakaian rapi; baju koki, sarung serta peci serba putih. 


"Mau ke masjid, Mas?" 


"Kamu subuhannya di rumah aja ya. Inget, kalau mamamu usil kepo nanya malper kita, nggak usah dikasih tau," ujarnya dengan nada ketus. 


Aku manyun. "Iya. Iya. Aku juga nggak mau mamaku kecewa."


Dia keluar kamar. Aku bangkit dari tempat tidur untuk ambil air wudhu. Ternyata bertepatan Mama keluar dari kamarnya. 


"Ciyeee… pengantin baru. Seger amat bangunnya. Gimana MP? Suamimu kuat berapa ronde?" 

__ADS_1


 


"Ih, apaan sih Mama nanya gituan. Malu tau." Aku memalingkan wajah. Takut Mama curiga. "Udah ah, aku mau wudhu dulu. Ntar waktu subuhnya abis."


__ADS_2