
Pukul 12.00
Yogyakarta, i'm coming. Dari bandara Kulon Progo Yogyakarta, gue dijemput sama Ragiel. Dia langsung membawa gue ke indekosnya. Pertama kali masuk ke indekos Ragiel, gue langsung mengucapkan 'Subhanallah" bukan karena terlalu besar dan mewah, melainkan gentengnya bolong-bolong, banyak ember berserakan, dan paling parah di meja makannya ada dua tikus berkeliaran.
"Aku harap kamu nggak kaget liat keadaan kos kek gini," ujar Ragiel.
"Giel, kau kok betah sih di kos kek gini modelnya?"
"Ya gimana lagi. Paling murah cuy. Tempatnya strategis pula. Dekat sama Malioboro, lapak buku, kampus, dan fotokopian." Ragiel melempar tas ranselnya ke tikar. "Kamar kamu yang paling ujung dekat dapur. Tenang aja, di kamar aman. No bocor-bocor dan tikus. Nih, kuncinya."
Ragiel menyerahkan kunci ke gue. Gue berjalan ke kamar yang ditunjuk Ragiel. Gue buka pintu kamarnya. Hmmm ... bersih. Ada satu kasur, lemari, kipas angin, dan toilet. Nggak ada genteng bolong. Lumayanlah buat tidur.
***
Hari ini adalah hari pertama gue masuk kantor AT Press.
Kantor AT didesain sangat sederhana. Dari luar nampak seperti ruko biasa dengan dua lantai. Namun, bagian dalamnya dibikin selayaknya rumah yang nyaman ditinggali. Mungkin Bu Nazneen mendesain kantor AT seperti ini agar semua karyawan AT menjadikan kantor sederhana ini sebagai rumah kedua meŕeka.
Akan gue jelaskan bagian-bagian kantor AT. Di lantai satu ada ruang tamu, terdapat sofa model sudut jati. Konon kata internet, model yang seperti ini lagi ngetrend. Selain ada sofa, terdapat pula 3 rak buku dengan isi lengkap novel-novel lokal koleksi pribadi. Tujuan agar semua karyawan saat waktu senggang, meluangkan untuk baca buku. Masa kerja di penerbitan tapi gak pernah baca buku?
Masih lantai satu, ada pula dua ruang kerja karyawan. Karyawan cowok dan karyawan cewek dipisah biar mereka fokus kerja tanpa ada tatap-tatapan mata atau saling modusin rekan kerjanya yang lain. Di sebelah ruang kerja karyawan, ruang pribadi CEO.
Lanjut lantai dua. Ada dua kamar istirahat. Kamar istirahat cewek, perabotannya ada kasur, serta meja rias yang lengkap berbagai peralatan make up. Sedangkan kamar istirahat cowok, selain kasur dan televisi, ada PS buat main game. Ada yang bilang, cowok itu butuh main game terlebih dahulu agar melahirkan ide-ide segar dalam bekerja. Sebelah kamar istirahat ada musala dan kantin mini.
Di kantin mini ini ada meja makan besar bisa untuk 6 orang bersama. Lalu, ada pula rak besar spesial menyimpan bahan makanan serta berbagai cemilan. Jadi mereka jika lapar tinggal mengambil sesuka hati. Bu Nazneen baik banget, nggak mau karyawannya kelaparan saat bekerja. Kok tak ada toilet atau kamar mandi? Setiap kamar sudah ada kamar mandi sekalian toiletnya.
Pandangan gue tertuju ke arah gadis yang berjilbab yang lagi asyik milih-milih buku di perpustakaan AT. Bentar, kok berasa familier ya? Gue coba dekati dia. Hah? Dia kan ...
Gadis berjilbab itu membalikkan badan. "Abang Rial? Kerja di sini juga?"
Nggak kalah terkejutnya gue. "Helen? Iya, gue kerja di sini. Dipinang Bu Nazneen jadi pemimpin redaksi. Kau sendiri posisi apa?"
Berhubung sudah putus, gaya bahasa gue ke Helen balik seperti zaman berkenalan dulu 'gue-kau' aneh ya kedengarannya? Itu gegara perpaduan gaya bicara Mamak dan Ayak.
"Admin sosmed AT. Serta bikin video promo."
Gue amati Helen dari ujung kaki ke ujung ke kepala. Banyak perubahan pada dirinya. Dulu dia tomboi mengenakan celana panjang serta kemeja cowok, sekarang sudah mengenakan gamis dan jilbab lebar. Aura cantiknya lebih kelihatan sekarang dibanding dulu. Benar kata orang, cewek itu akan lebih cantik setelah putus.
Ada satu pertanyaan di benak gue. Rumah tangga Helen gimana ya?
"Len, kau apa kabar?" Gue basa-basi.
"Alhamdulillah baik. Kalau sakit, nggak mungkin masuk kantor lah."
__ADS_1
"Kalau anak dan suamimu baik?"
Raut wajah Helen berubah jadi sedih. "Aku dulu nggak jadi nikah. Calon suamiku kecelakaan pas hari ijab qobul kami. Sampai sekarang masih ngejomlo. Belum menemukan yang pas."
"Alhamdulillah."
Mata Helen melotot tajam. "Kok Alhamdulillah?"
Aduh, mampus salah ngomong. Padahal itu kebahagiaan dalam hati karena Helen nggak jadi nikah. Gue nggak mungkin bilang gitu ke Helen.
"Hmmm ... anu ... tadi tuh tipo ngomong. Harusnya Innalillahi wainna ilaihi rojiun."
"Jauh banget tiponya?"
"Kan, sama-sama ada kata Lillah-nya."
"Assalamualaikum, teman-teman." Terdengar suara cempreng mirip suara Arafah Rianti. Stand up comedy, teman Raditya Dika ituloh.
Gue coba menoleh. "Waw. Gadis berhijab lebar. Sebelas dua belas lah gaya berpakaiannya sama Helen. Dia nggak cantik, tapi kelihatan manis."
Gadis itu menyenggol dan berbisik ke Helen. "Len, dia siapa?"
Walau berbisik, gue masih bisa dengar suaranya.
"Hello, Aku Sahrial." Gue mengulurkan tangan.
Gadis itu hanya menelungkupkan tanga di dada seraya tersenyum. "Hello, juga. Saya Sukma. Posisi marketing. Maaf, nggak bisa salaman. Bukan mahram."
Fix. Dia calon istri idaman gue. Aduh, galau gue. Gue berada di persimpangan antara balik badan berjuang balikan sama Helen atau belok kiri untuk mengejar Sukma?
***
Bu Nazneen mengumpulkan seluruh karyawan AT Press di ruang rapat. Pertama-tama beliau memperkenalkan karyawan-karyawan AT berserta karakter mereka.
Berhubung masih baru, hanya ada enam karyawan.
Pertama, di posisi pemimpin redaksi bernama Sahrial Pratama. Pria bertinggi badan dan berat 55 kilo ini bela-belain jauh-jauh dari Medan ke Yogyakarta demi bekerja di kantor AT.
Kedua, di posisi editor ditempati oleh Wardah. Wanita satu ini katakternya lumayan unik. Sudah berusia kepala tiga, tetapi selalu mengaku ke orang-orang 'masih TK'. Dia inginnya dipanggil 'Dedek'. Memiliki slogan 'teken boleh digoda.'
Ketiga, Sukmawati. Posisinya sebagai marketing. Cewek satu ini memang rada telmi. Namun, kemampuannya dalam menjual buku sudah tidak diragukan lagi. Dia pernah menjadi reseler di puluhan penerbit ternama.
Keempat, Helen Amelia. Dia menjabat di posisi admin sosmed. Walau demikian, dia juga jago bagian video.
__ADS_1
Kelima, ada Ranti. Cewek satu ini penyayang kucing. Makanya sering dipanggil 'Mama Koecheng'. Dia di posisi desain cover dan layouter.
Terakhir, Siti Markonah. Dia jadi pembantu umum. Tugasnya adalah cuci piring, mengepel, sampai disuruh-suruh print/fotocopi berkas.
Selanjutnya Bu Nazneen membahas konsep AT.
"Ada beberapa poin yang ingin saya sampaikan ke kalian semua," ujar bu Nazneen membuka pembahasan rapat.
"Poin pertama, jalur penerimaan naskah ada dua sistem. Sistem semi mayor dan indie. Semi mayor khusus naskah berbobot atau penulis yang sudah punya followers di platform si orange. Jika penjualan di preorder pertama mencapai 1000 eks, maka kita kontrak ekslusive 10 tahun. Bukunya beredar di toko buku seluruh Indonesia. Memakai jual putus. Poin kedua, tentang editor. Saya mau AT itu unik. Maka dari itu buka lowongan enam editor. Nanti akan ada level pedas dari level satu sampai dua. Penulis bisa memilih editor sesuai dengan mentalnya. Karena saya tahu tidak semua penulis mentalnya tahan dipedesin. Poin ketiga, soal marketing. Susuk tolong buka lowongan marketer dari sabang sampai merauke. Keuntungan buat mereka 10-15 ribu. Kalian ada ide lain untuk menunjang penjualan buku AT?"
Wardah mengangkat tangan. "Iya, Wardah ada apa?"
"Saya punya usul, gimana kalau bikin toko buku online instagram dengan nama BenLaris?"
Giliran gue yang angkat tangan. "Kenapa namanya harus BenLaris tanpa embel-embel AT?"
"Biar namanya unik dan di balik nama itu terselip doa biar terbitan kita laris manis," jawab Wardah.
"Saya sih setuju ide Wardah. Gimana dengan yang lain?"
"Setuju."
Lima karyawan menjawab serentak. Bu Nazneen melirik ke arah Ranti dan Helen. "Helen Ranti, kalian dari tadi diam saja, apakah ada yang mau ditanyakan atau memberi usul?"
"Sementara belum ada. Saya mengikut saja." Ranti menjawab sekenanya.
"Sama sama seperti Ranti," timpal Helen.
"Baiklah. Kalau begitu Ranti tolong banner buat lowongan editor atau marketer ya. Untuk tulisan di banner minta ke Wardah dan Sukma."
"Siap."
"Saya ingin memberi tugas tambahan ke Sahrial. Berhubung kita belum punya HRD, jadi tugas interview calon karyawan, saya limpahkan ke kamu saja ya."
"No problem. Dengan senang hati saya menerima tugas tambahan."
"Oke. Sampai sini ada pertanyaan atau sanggahan?"
Hening. Tanda mereka setuju dengan apa yang aku sampaikan. "Poin terakhir, lusa kita akan peresmian kantor dulu. Saya harap kalian bersedia jadi panitianya. Untuk rangkaian acara dan tugas kalian, ada di kertas depan kalian itu," kata Bu Nazneen lagi.
Gue meraih kertasnya. Gue baca dari awal sampai akhir. "Jadi pendamping CEO menggunting pita? Waw, keren juga. Seluruh wartawan akan menyorot gue. Mamak, Ayak dan Sahrani bisa nonton di tivi. Mereka pasti heboh."
"Sampai sini ada pertanyaan?" Bu Nazneen bertanya lagi.
__ADS_1
Hening. "Baiklah, saya rasa cukup sampai di sini rapat hari ini. Terima kasih atas perhatiannya. Saya mohon kalian bisa saling kerjasama. Kesuksesan AT ke depan di tangan kalian." Bu Nazneen menutup rapat dengan membaca hamdalah.