Takut Menjanda

Takut Menjanda
Chapter XVII (Grizelle Prameswari)


__ADS_3

Langkah kedua mencari bobroknya Sahrial dengan cara mendatangi Ammar di rumahnya. Gimana pun dia sohibnya Sahrial, kali aja dia tahu sesuatu.


Ketika gue datang, Ammar lagi push up di depan rumahnya. Dia seketika berdiri begitu melihat. 


"Ngapain lagi kamu ke sini? Masih berusaha bikin istri saya durhaka sama suaminya? Jihan lagi nggak ada di rumah. Belanja di Kang Sayur."


Gue melengkungkan senyum tipis. "Pagi-pagi udah suuzon aja. Gue ke sini justru mau ngobrol sama kamu."


Dia mengelap keringatnya dengan handuk di lehernya. Lalu duduk di kursi teras rumahnya. "Mari duduk biar enak ngobrolnya."


"Hmmm … saya masih penasaran kenapa kamu bisa mencintai saya dan tidak pernah mengungkapkan atau muncul langsung di depan saya."


"Anggap aja khilaf," ujarnya datar.


"Apa pun alasanmu, gue nggak peduli. Kedatangan gue ke sini mau nanyain Sahrial. Seberapa kenal kamu sama Sahrial? Gimana karakternya? Kalau bisa beberin semua bobroknya."


Pandangannya beralih ke gue. "Ini bagian rencana busukmu buat misi balas dendam? Kalau iya, saya nggak mau jawab. Takut dosa."


Rupanya gue salah alamat. Bego banget gue mendatangi ustaz. Jelas sedikit-sedikit dikaitkan dengan dosa.


Tiba-tiba Jihan muncul. Dia mengatakan, "Tega kamu, Mas kayak gini ke aku. Lupa janjimu semalam?"


"Jihan, ini nggak seperti kamu liat."


Jihan berlinang air mata dan lari begitu saja. Anehnya cowok di sebelah gue ini diem aja. Gue jadi gemas melihatnya. "Kejat dia, bego!"


Barulah Ammar gerak mengejar Jihan. Gue mengambil ponsel di tas tangan. Lalu mengirimkan pesan WA ke Jihan.


Ji, lu jan salah paham ke gue. Gue nyamperin Ammar buat nyari bobrok Sahrial doang.


Akhirnya gue pun pulang. Nggak mau merusak rumah tangga orang. Walau dari awal rumah tangga mereka sudah nggak benar. 


***


Kantor masih sepi. Kayaknya gue datang ke pagian. Gue langsung masuk ke ruangan. 


Ting!


Notifikasi pesan WA berdenting. Gue lirik layarnya chat dari Leci.


Bu Gisel, saya hari ini cuti dulu ya. Nggak enak badan.


Agak sedih. Berarti hari ini kerja sendirian. Nggak asyik tanpa Leci. Nggak ada teman gibah dan julid karya Dedek Gemes (Read: penulis pemula).


Kadang Dedek Gemas memang minta dijulidin. Gue sudah 10 tahun lebih di dunia literasi, menang penulis generasi sekarang beda banget dengan penulis generasi 2012-2016. Mereka menulis tanpa memikirkan kualitas. Bisa-bisanya CEO kerjanya pacaran mulu. Tajir melintir, tapi asal usul kekayaan nggak jelas. Belum lagi yang menulis mafia dan lain-lain. Mungkin karena faktor sekarang lebih mudah akses berkarya. Platform menulis online bertebaran. Untung AT Menulis masih mengutamakan kualitas dibanding kuantitas. Pembayaran penulis berdasarkan koin bab berbayar.


Mendadak mata gue tertuju ke buku kecil bersampul pink di meja Leci. Entah kenapa gue penasaran setengah mampus sama isinya. Gue celingak-celinguk dan tutup pintu ruangan dulu sebelum mengintip isi buku Leci.

__ADS_1


Di halaman pertama ada foto Leci dan Sahrial. Tertulis Love L & S. Gue membalik halaman. Mulai baca curhatan Leci.


Hari ini aku mulai magang di AT Menulis. Diminta Bu Nazneen jadi asisten Pak Sahrial, pimred AT Press. Awalnya aku takut, dia terkesan galak. Namun, ternyata baik dan lembut banget. Nggak sungkan ngajak maksi bareng. Entah kenapa aku berbicara dengannya, jantungku berdegup kencang dan mendadak sesak napas. Inikah namanya cinta?


Menarik juga isinya. Gue semakin semangat baca curhatan Leci lebih lanjut.


Arrrrrggggh. Seneng banget hari ini Pak Sahrial nembak aku. Terima nggak ya?


Halaman berikutnya.


Sayang, hubunganku dengan Pak Sahrial nggak bertahan lama. Dia ternyata malu mengakui hubungan denganku.


Membaca curhatan Leci membuat gue menyadari sesuatu. Jadi Leci pernah jadian sama Sahrial? Pantes dia dulu kayak nggak setuju gue menikah kontrak sama Sahrial. 


***


Sebagai atasan yang baik, gue ingin meluangkan jam makan siang gue buat menengok Leci. Sekalian menanyakan sejauh mana hubungan dia dengan Sahrial. Namun, sebelum berangkat ke sana, gue telepon Leci dulu.


"Halo, Bu. Maaf saya nggak bisa masuk kantor. Maaf juga izin cutinya nggak sopan hanya lewat WA."


"Iya, nggak apa. Boleh nggak saya nengokin kamu?"


"Jangan, Bu. Saya positif Corona. Ini lagi isoman."


Ah, sejak Corona menyerang Indonesia, semua jadi panik dan takut ke mana-mana. Gue nggak menyangka wabah tersebut sudah sampai di AT Family. Padahal kami sangat ketat menjalankan protokol kesehatan. Termasuk seminggu sekali melakuan rapid test dan swab PCR Antigen.


"Baik, Bu."


Klik telepon gue matikan. Di layar ponsel muncul notifikasi chat di grup AT Family. Bu Nazneen yang kirim chat.


Kita ngumpul di ruang meeting sekarang!


Firasat gue jadi nggak enak. Gue langsung beberes meja. Lalu ke ruang meeting.


Ternyata all AT Family sudah pada datang.


"Karena semua sudah pada ngumpul, langsung saja saya sampaikan sesuatu hal buruk." Bu Nazneen bernapas sejenak. "Leci terkena Corona. Maka dari itu saya memutuskan mulai hari ini, kita semua mulai menjalankan Work From Home alias kerja di rumah."


Sukma mengangkat tangan. 


"Ada apa Sukma? Kamu kebertaan WFH?"


"Bukan keberatan, Bu, tapi perangkat saya di rumah tidak memadai. Laptop saya sudah lama dijual buat biaya kuliah."


"Kalau itu, jangan khawatir. Nanti saya kirim perangkat komputer kantor ke rumahmu ya."


"Makasih banyak, Bu."

__ADS_1


Gue mendadak lemas. Terbiasa kerja di kantor, bakal kerja di rumah. Huft, pasti sangat membosankan. Tadinya gue pikir, komplenan Sukma bikin Bu Nazneen berubah pikiran. Setidaknya yang masuk kantor 30% kek. Biar gue bisa mengajukan WFO aja. Ternyata tetap nggak. Semua harus WFH.


Corona oh Corona kapan minggat dari Indonesia?


***


Mata gue melebar ketika melihat rumah masih berantakan kayak kapal pecah. "Sahriallllll, kok belum beresin rumah?" teriak gue.


Hening. Nggak ada jawaban. Jangan-jangan dia kabur lagi? Gue menuju kamarnya. Sejak dia mengajak rujuk, kami pisah kamar. Dia gue tempatin di kamar Si Mbok, ART dulu.


Begitu sampai di kamar Si Mbok. Sahrial malah molor di kasur. "Oiiii … bangun. Kerja. Rumah masih berantakan tuh. Malah gegoleran."


"Sori, aku lagi nggak enak badan."


Gue mendekat ke arah Sahrial. Gue sentuh jidatnya. "Loh, kok anget? Lu sakit apa?"


"Batuk, pilek, sakit kepala, sakit tenggorokan, diare."


"Astaga, ini tanda-tanda Corona banget. Bentar, gue telepon Pak RW dulu."


"Jangan. Nanti kita dijemput paksa. Rumah sakit lagi penuh. Katanya banyak yang mati karena ditelantarin."


"Iya sih. Setidaknya di sana lebih baik, karena ada suster dan dokter. Langsung pasang infus. Kalau di sini doang, kamu makin nggak ada yang ngurus. Terus kamu lewat gimana? Gue nggak mau ya jadi janda. Janda kere pula gegara lo belum punya warisan banyak buat gue."


Sahrial memanyunkan bibir. "Terserah kau ajalah. Atur gimana baiknya."


Gue pun akhirnya menelepon Pak RW. Sebelum mereka datang, gue mengemasi pakaian serta barang-barang dulu. 


Benar saja, 20 menit kemudian Pak RW datang bersama 3 Nakes lengkap berpakaian Hazmat. Sebelum kami dibawa ke RS, kami di swab PCR dulu. Hasilnya Sahrial positif, sedangkan gue negatif. Jadilah yang siap dibawa ke RS hanya Sahrial. Gue disuruh isoman di rumah aja.


"Pak, bisa nggak saya tetep ikut ke RS aja. Nggak apa deh saya ketularan positif, asal saya bisa ngerawat suami saya."


"Ciyeeee … so sweet banget. Udah mulai cinta dan takut kehilangan aku ya?"


Sial, di saat kayak gini masih aja Sahrial ngeledek gue. 


"Eh, denger ya. Lu masih punya utang banyak ma gue makanya gue mesti rawat lu sampe lu bisa lunasinnya," ujar gue berbisik sama dia.


"Susah sih ngomong sama cewek gengsian."


Gue hanya toyor kepala Sahrial biar dia makin pusing.


"Gimana Pak, boleh nggak saya ikut ke RS?"


"Boleh aja sih, tapi kalau ternyata RS penuh, Mbak Gisel harus pulang ya," jawab salah satu Nakes.


"Baik, siap."

__ADS_1


Kami meluncur ke rumah sakit.


__ADS_2