Takut Menjanda

Takut Menjanda
Chapter XXVI (Grizelle Prameswari)


__ADS_3

Gue berjemur di tepi kolam renang sambil menikmati pemandangan gunung yang sangat indah. Gue tarik napas perlahan, lalu embuskan perlahan. Huft. Nikmat banget. Andai tiap hari gue melakukan ini, betapa bahagianya gue.


Mbak-mbak waiters lewat. Mereka membawakan minuman buat tamu di sebelah sana. Hmmm … sepertinya minum cappucino enak nih.


"Mbak," panggil gue.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?"


"Saya pesen cappucino bisa?"


"Bisa, Bu. Mohon tunggu sebentar ya."


Gue lanjut leyeh-leyeh manja. Gue ambil ponsel lalu memutar lagu favorit di Sportify. Lagu pertama yang kumainkan adalah Sang Dewi versi Lydora.


Walaupun jiwaku pernah terluka.


Hingga nyaris bunuh diri


Gue bersenandung kecil. Mendadak gue merasakan tangan dicolek. Pasti Mbak-mbak waiters. "Mbak, taruh aja minumannya di meja sebelah saya ini ya."


Seseorang itu tetap mencolekku. "Ini aku." Terdengar suara bass Sahrial. 


"Eh, lu ngapain ke sini? Ganggu gue leyeh-leyeh manjah aja."


"Orang tuaku mau ngomong sama kau."


Aku melepas kacamata. "Whats? Lu ngadu ke mereka tentang kacaunya hubungan kita ya? Ember banget sih jadi cowok. Ortu gue aja nggak tau kalau kita udah cerai."


"Aku kasih tau mereka sejak di Bali. Kan tadinya minta Ayak jual tanah buat bayar denda ke kamu, tapi beliau nggak mau ngasih. Katanya aku harus bertanggung jawab. Mereka mau ngomong sama kau. Mau nggak?"


"Ya udah deh boleh."


Sahrial memencet ponselnya. Gue merapikan pakaian serta rambut terlebih dahulu.


"Assalamualaikum, Mamak, Ayak. Ini Gisel bersedia bicara dengan kalian."


"Halo, Mamak dan Ayak. Apa kabar?"


"Alhamdulillah, baik Nak Gisel. Kami senang kali waktu Rial bilang mau rujuk sama Nak Gisel. Kami paham Nak Gisel pasti sakit hati perbuatan Sahrial, tapi percaya Rial dari dulu bukan tipe pria ingkar janji," tutur ayak Sahrial. Bahasanya sopan banget. Beda sama anaknya yang ngegas mulu. 


"Iya, Nak Gisel. Bagaimana pun, kalian masih pengantin baru. Nggak baik buru-buru cerai. Oh iya, Mamak senang kali Nak Gisel jadi mantu Mamak. Sudah cantik, wanita karier dan cerdas pula. Mamak pamerin ke tetangga bahkan di perkumpulan marga Harahap." Mamaknya Sahrial antusian sekali bicaranya.


"Ayak, Mamak, kalian tenang aja. Gisel sedang mempertimbangkan permintaan rujuknya Sahrial. Cuma butuh waktu untuk menata kembali hati yang sudah hancur berkeping-keping."

__ADS_1


"Iya, kami paham. Kabari aja kapan Nak Gisel siap menerima Sahrial kembali. Kalau perlu kami berangkat ke Yogya dan kami bikin pesta nikahan adat Batak besar-besaran abis pandemi nanti."


Ting!


Ponsel Sahrial berbunyi. Mataku tertuju ke baterai sisa 20%


"Mak, Ayak, udahan dulu ya. Baterai HP Rial udah mau abis nih. Assalamualaikum."


***


Malam harinya, Sahrial kembali memberikan gue sebuah kejutan. Gue dibawa ke atap hotel yang didesain super romantis lengkap ada pemain bandnya.


"Nah, ini baru candleligth dinner yang bener dan romantis. Nggak kayak kemarin, norak. Apaan coba balon dan hiasan ulang tahun anak SD. Mana lilinnya lilin warung lagi. Itu mah cocoknya buat ngepet."


Sahrial menggaruk kepala botaknya. "Maaf, aku nggak tau. Itu hasil nanya ke Mbah Google. Seumur hidup nggak pernah romantis sama cewek."


"Masa? Terus sekarang idenya siapa bawa gue ke hotel ini dan kasih surprise candlelight dinner?"


"Siapa lagi kalau bukan Ammar dan Jihan."


"Boleh juga selera mereka."


"Gimana? Suka?"


Raut wajah Sahrial tegang. Mungkin takut gue tolak ke sekian kalinya. 


Waiters datang membawakan steak dan anggur merah. 


"Tapi gue dah laper. Makan sekarang aja yuk."


"Yuk."


Sahrial bertepuk tangan. Pemain bandnya memulai aksinya menyanyikan lagu Badai Romantic - Melamarmu. Duh, cewek mana yang nggak meleleh diperlakukan seperti ini? Namun, tetap saja hati gue ini masih sulit menerima ajakan Sahrial untuk rujuk. Nggak tau kenapa. Apa emang ada yang salah dengan hati gue?


***


Gue mampir ke rumah Jihan dulu sebelum berangkat kerja. Jihan lagi senam yoga. Seketika raut mukanya tegang melihat kedatangan gue.


"Eh, Mbak Gisel."


"Santai aja kali nggak usah tegang gitu. Gue ke sini mau bilang makasih karena kalian rekomendasi hotel keren ke Sahrial sekalian mau curhat sih. Nggak mau ngehasut kalian cerai lagi."


"Oalah. Kirain ada apa."

__ADS_1


"Masuk yuk!"


Gue mengekor Jihan masuk ke rumahnya. Lalu dipersilakan duduk.


"Mbak Gisel mau minum apa?"


"Nggak usah. Bentar aja kok."


"Mbak Gisel mau curhat apa?"


Gue pun mulai cerita tentang permintaan orang tuanya dan kebimbangan gue yang sulit banget menerima rujuk sama Sahrial.


"Maaf nih jika pertanyaan saya menyinggung dan agak pribadi. Apa yang buat Mbak Gisel sulit rujuk dengan Sahrial?"


"Gue dulu pernah hubungan serius sama cowok dia janjiin nikah kan, eh nggak direstui. Ketika cowok itu duda, dia ngajak balikan dan janjiin nikah lagi. Nyatanya hasilnya sama aja. Sejak saat itu gue bersumpah nggak akan menikah. Ternyata cewek itu butuh nikah ya. Makanya gue ajak Sahrial nikah kontrak aja. Eh, sama aja. Dia kampret, malah jatuhin talak. Nah, gue takutnya masa lalu terulang lagi. Sakit hati kedua kalinya oleh orang yang sama." Gue cerita secara panjang kali tinggi kali lebar ke Jihan. Rasanya plong banget hati ini.


"Hmmm … jadi itu masalah utamanya. Bener sih Mbak Gisel jangan rujuk sama Sahrial."


"Nah, kan. Gue emang nggak usah rujuk sama tuh cowok," sela gue berapi-api.


"Maaf saya belum selesai bicara. Maksud saya Mbak Gisel jangan rujuk sama Sahrial karena Mbak Gisel harus memperbaiki diri menyumbuhkan trauma dan luka batin terlebih dahulu. Bentar." Gisel beranjak dari tempat duduk dan melangkah masuk ke kamarnya.


Nggak lama kemudian dia kembali. Membawa kartu nama. "Mbak Gisel butuh ahlinya. Ini psikolog langganan saya, Dedy Susanto. Dulu pas Papa ninggalin saya, Mama bawa saya ke psikolog ini."


"Mbak, luka itu kalau nggak diobati bakal melebar ke mana-mana. Sebelum luka Mbak, melebar yuk obati dengan ke psikolog. Siapa tau nanti Mbak jadi mudah menerima Sahrial lagi."


Jihan memberikan kartu nama yang dipegangnya. Gue menerima dengan tangan terbuka.


***


Gue sama sekali nggak pokus kerja. Otak gue terus memikirkan perkataan Jihan. Bukannya membuka dashbord aplikasi AT Menulis, gue malah buka Google.


Gue ketik "Trauma dan Luka Batin" di kata pencariannya. Banyak artikel muncul. Gue pilih artikel dari blog Ariny NH.


Luka batin adalah luka yang terjadi pada lapisan batin yang terdalam akibat suatu tekanan yang terjadi secara luar biasa berat atau terjadi secara terus menerus. Batin yang terluka akan menimbulkan kesedihan yang mendalam, perasaan tidak menentu, kemarahan, emosi tidak terkendali, kejengkelan, hidup tidak terarah, sesekali timbul keinginan mengakhiri hidup yang terasa pahit. Bagi seseorang yang terluka batinnya semua hal menjadi kelam kelabu, tidak ada warna warni dalam kehidupannya. hal itu akan meimbulkan trauma atau luka batin.


Luka akibat tertusuk pecahan kaca mungkin sembuh dalam waktu singkat, tetapi luka batin? Luka batin akibat perlakuan orang terdekat sering lebih menghancurkan, apabila itu terjadi berulang. Luka batin mencerabut jangkar psikologis atau akar terdalam dari rasa aman manusia. Bagaimana orang merespons luka batinnya? Tergantung karakteristik kepribadian, sosialisasi yang diterima, dan keseluruhan konteks hidupnya. rasa marah mungkin terbawa hingga dewasa. sikap menghukum dari orangtua diadopsi dalam bentuk mudahnya individu marah dan menghukum pasangan hidup atau anak. atau rasa tidak aman yang kuat menyebabkan kita membentengi diri akibat takut dilukai.


Jika terjadi luka pada tubuh fisik akan segera terlihat jelas gejalanya seperti darah mengucur, bengkak, rasa sakit sehingga kita dapat segera melakukan tindakan pengobatan dengan memberikan obat luka,antibiotik dsb. Akan tetapi, jika terjadi luka di dalam batin yang tidak terlihat kemudian diabaikan akan terjadi mekanisme pertahanan diri dari batin bawah sadar dengan menutup rapat memoori trauma tersebut. Hal itu memang berguna sebagai pertahanan diri sesaat, sehingga rasa sakit batin akibat trauma tidak berlanjut.


Yang menjadi masalah adalah apabila kejadian trauma yang sudah terpendam rapat pada batin bawah sadar secara tidak sengaja terpicu muncul kembali, dan akan direspon oleh batin sadar sehingga timbul berbagai penyakit akibat trauma masa lalu. trauma yang muncul kembali ini bisa berupa penyakit mental seperti perasaan marah tanpa sebab, depresi, trauma, phobia, bipolar dsb. atau muncul sebagai penyakit fisik seperti hipertensi, kanker, maag, alergi, insomnia dsb.


Dari artikel ini gue menyadari bahwa yang tadinya gue pikir sudah move on dari mantan gue yang kampret itu, ternyata lukanya mengendap di bawah alam bawah sadar. Apakah itu artinya gue butuh ahli seorang psikolog?

__ADS_1


Setelah bergulat batin, gue memberanikan diri menelepon Dedy Susanto.


__ADS_2