Takut Menjanda

Takut Menjanda
Chapter XX (Grizelle Prameswari)


__ADS_3

10-14 hari karantina di rumah sakit, akhirnya pulang juga. Gue kangen kantor AT Press. Kerja di rumah emang enak. Nggak perlu panik kalau kesiangan, tapi tetap saja nggak seenak di kantor. Suasanya beda.


Gue chat anak-anak AT Family dulu di grup WA. 


AT Family


Me. 10.00.


Genk, apa kabar kalian? Pada kangen kantor nggak?


Sukma, Wardah, Helen, Leci, typing mengetik.


Sukma, 10.05.


Kangen dong. Kerja di rumah nggak enak. Tiap mau buka komputer anak nangis mulu. Mbak Gisel apa kabar? Pak Sahrial udah sehat?


Me. 10.10. 


Alhamdulillah dah sehat. Makanya mau terapin aturan WFO 50% mulai besok. Gimana menurut kalian?


Bu Nazneen. 10.12.


Saya sih ayo aja. Saya serahin ke kamu, Gisel.


Leci. 10.15.


Saya ngikut aja. Gimana baiknya.


Me. 10.18.


Gimana kabarmu @leci? Udah sehat?


Leci. 10.20.


Alhamdulillah sudah bebas dari Covid lucknut. Udah sehat walafiat. Besok udah bisa kerja lagi. 


Me. 10.25.


Kalau gitu yang kena jadwal WFO saya, Leci, Sukma, Wardah. Sedangkan Helen, dua anak magang, Ranti, Siti, Lisa, tetap WFH aja ya.


***


"Iallll … ayo dong bangun!" Gue menggoyang-goyangkan tubuh Sahrial.


Sahrial menggeliat seraya mengucek mata. "Ada apa sih? Lagi enak tidur juga. Kan baru tidur lagi abis subuh tadi."


"Aku mau ke kantor dulu. Lu baik-baik di rumah. Jangan ngelakuin aneh-aneh. Berhubung lu lagi sakit, belum bener-bener sembuh, tadi gue dah panggil pembantu inpal. Jam 9 ntar dia datang."


"Iya, istriku sayang." Mendadak aku geli mendengar ucapan itu. Bukan Sahrial banget.


Sahrial duduk. Lalu bibirnya menyosor ke arah gue. Buru-buru gue ambil guling dan templokin ke bibirnya. "Eh, mau ngapain lu? Enak aja. Mana bau jigong. Nggak ada kiss-kisan."


"Dih, pelit banget sih. Selama nikah kita nggak ada ciuman loh."


"Kan kita cuma nikah kontrak. Ciuman gue mahal. Hanya gue kasih ke laki yang gue cintai."


Gue melirik ke jarum jam tangan. Menunjukkan pukul delapan kurang lima belas menit. Jam kerja AT Press sebenarnya jam sembilan sampai lima sore. Sebagai atasan yang baik, gue selalu datang lebih awal untuk mencontoh karyawan lain. Apa jadinya bos selalu datang terlambat?


 "Dah, ah. Gue mau ke kantor. Inget pesan gue. Jangan aneh-aneh."

__ADS_1


"Iya, bawel."


Gue menyambar tas tangan warna merah muda. Lalu melangkah keluar rumah. 


***


Gue kaget Leci sudah ada di meja kerjanya. "Loh, Leci pagi banget datangnya."


"Kan saya sakit lama, jadi hari ini saya datang lebih awal buat beresin pekerjaan saya yang sempat tertunda."


"Mumpung belum jam kerja, saya boleh ajak kamu ngobrol sebentar?"


"Ngobrol apa ya, Bu? Boleh sambil nyatet penulis yang acc bulan ini?"


"Boleh. Gini, kamu kok nggak bilang sih kalau kamu pernah jadian sama Sahrial?"


Leci menghentikan aktivitasnya menggerakkan kursor mouse komputer. Dia menoleh ke gue dengan ekspresi bingung. "Kok Mbak Gisel tahu soal hal itu?"


"Kamu nggak perlu tau saya tau dari mana, kamu jawab aja pertanyaan saya. Kok kamu nggak bilang pernah jadian sama Sahrial?" Gue mengulang pertanyaan tadi. "Terus kenapa putus? Selama jadian sama Sahrial, dia orangnya bagaimana?"


Leci menunduk. Raut wajahnya berubah mendung. "Maaf, Mbak. Saya bukannya sengaja menyembunyikan hal itu. Tapi saya nggak enak bilangnya. Takut nanti Mbak Gisel ngira saya adu domba atau nggak suka sama pernikahan Mbak Gisel dan Pak Sahrial."


"Terus kenapa putus? Selama jadian sama Sahrial, dia orangnya bagaimana?"


"Hmmm … gimana ya?" Leci menggaruk kepala. "Maaf banget nih, boleh nggak saya nggak jawab pertanyaan itu? Bukan apa-apa. Tapi kan saya sama Pak Sahrial hanya masa lalu. Mbak Gisel masa depan Pak Sahrial. Takut jadi drama di antara kita. Saya juga tipe malas membahas masa lalu."


Huft, lagi-lagi gue nggak mendapat jawaban yang memuaskan. Namun, mau bagaimana lagi. Toh, nggak semua orang suka membahas masa lalu.


***


Pulang kerja langsung masuk kamar. Seketika mata gue nggak berkedip memandangi dekorasi kamar yang berubah total. Lantai penuh kelopak mawar merah di sekitarnya bertaburan lilin-lilin kecil, di tempat tidur ada sepasang bebek dari kain yang ditaruh di kelopak mawar merah berbentuk love, belum lagi seluruh dinding dihiasi balon-balon serta ornamen ala-ala ulang tahun.


"Surprise. Gimana suka nggak?" Sahrial muncul di belakang gue.


"Iya, dong. Eh, dibantu si Mbak juga ding."


"Buat apa?" 


Jujurly, agak sedikit kurang suka. Bagi gue norak. Dekorasinya nggak banget. Mau romantis, tapi kok nanggung? Kesannya malah kayak ulang tahun anak kecil.


"Buat membahagiakan istri tercinta sekaligus ucapan terima kasih karena merawatku selama karantina di rumah sakit." 


Tiba-tiba Sahrial berlutut di depan gue. Lebih mengejutkan lagi dia membuka kota merah marun. Isinya cincin.


"Grizelle Prameswari, will you marry me again? Kali ini aku janji akan jadi suami yang baik buat kamu. Kamu nggak perlu lagi ngegaji aku. Justru aku yang berusaha menafkahi kamu. Apa pun kamu inginkan, pasti aku kabulkan selama aku mampu."


Lidah gue kelu. Bingung harus berkata apa. Antara mimpi dan nyata. Serius seorang Sahrial yang menyebalkan bisa mengucapkan kalimat seromantis itu? Jangan-jangan lagi ngelindur. Efek Corona nongol lagi.


Gue sentuh jidat Sahrial. "Adem kok, tapi kok lu ngaco ya?" 


Sahrial menepis tangan gue. "Apaan sih, aku nggak sakit. Eh, sakit ding. Sakit karena jatuh. Jatuh cinta sama kau. Sejak sakit kemarin dan kau merawatku dengan tulus, aku baru liat kau ternyata istri yang baik dan layak dipertahankan. Gimana, mau nggak nikah sama aku lagi? Kali ini nikah beneran. Tanpa kontrak-kontrakan."


"Hmmm … gimana ya? Boleh nggak, kasih waktu gue jawab? Soalnya ini terlalu mengejutkan. Kita jalani apa adanya kayak biasa dulu aja. Sampai aku benar-benar lu jodoh gue. Gue nggak mau sakit kedua kalinya."


Raut wajahnya berubah. Terlihat jelas kekecewaan di sinar mata Sahrial. "Oke. Berapa lama pun waktu yang kau minta pasti aku kasih."


***


Bosan di rumah terus. Jadilah gue sama Sahrial jalan-jalan. Sekadar muter-muter Kota Yogyakarta. Jalanan lenggang. Sepi kayak kuburan. Terutama daerah sekitar Malioboro. Benar-benar lockdown.

__ADS_1


"Mau makan di mana kita?"


"Terserah aja sih." Gue lihat di sekeliling, lesehan-lesehan sudah bersiap tutup karena aturan PPKM warung makan hanya boleh buka sampai jam delapan malam.


"Kayaknya udah pada mau tutup. Gimana kalau beli nasi goreng, terus bawa pulang aja?" usul gue.


"Bolehlah."


Kebetulan di depan ada Kedai Terang Bulan. Tertulis menu nasi goreng. Sahrial menghentikan mobil. 


"Kau tunggu di sini aja. Biar aku yang pesen."


Sambil menunggu Sahrial, gue teleponan sama Jihan dulu.


"Hey, Jihan. Gimana udah sehat total?"


"Alhamdulillah semakin membaik. Mbak Gisel gimana?"


"Baik juga dong. Tapi lagi galau sih."


"Galau apa lagi?"


"Sahrial tiba-tiba romantis dan ngajak nikah beneran. Gue kan bingung jawab apa."


"Menurutku terima aja sih. Siapa tau Sahrial emang jodohnya Mbak Gisel. Kalau masih galau juga, coba salat istikharah deh. Buat cari petunjuk terbaik."


Sekitar sepuluh menit, Sahrial keluar dari kedai. 


"Eh, udahan dulu ya. Sahrial udah balik nih."


"Oke. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Sahrial kembali masuk mobil.


"Kamu mau ke mana lagi?"


"Yogya sepi. Pulang aja yuk. Mending nonton drakor di rumah."


"Siap Nyonya Sahrial."


"Dih, apaan sih. Ial, ceritain dong drama percintaan ruwet lu sama Sukma, Ragiel dan Helen."


"Pasti belum baca novelku nih."


Tahun lalu gue tahu Sahrial menerbitkan novel berjudul 5 Kali Sehari Aku Menyebut Namamu. Gue belum masuk AT Press, tapi gue sudah berteman lama dengan Sahrial di Facebook dan Instagram.


"Males ah baca novel, penulisnya nggak terkenal." Gue tersenyum jail.


"Dih, ngeledek."


"Kalau percintaan sama Leci, udah ditulis di novel?"


"Jujur belum sih. Mager nulis."


"Ya udah lu cerita aja coba. Gue mau denger."


"Penting banget aku cerita hal itu?"

__ADS_1


"Iya dong. Gue mau kenal lu lebih dalam untuk menjawab pertanyaan lu tadi sore."


"Oke, aku cerita. Jadi gini …"


__ADS_2