Takut Menjanda

Takut Menjanda
Chapter XI (Jihan Orianthie)


__ADS_3

1 Hari sebelum aku dan Mbak Gisel menjalankan misi balas dengam.


Aku kembali ke kamar. Untunglah Mas Ammar sudah pulang. Dia menatapku heran.


"Loh, kamu dari mana? Kok berantakan? Abis nangis ya? Siapa yang nyakitin kamu?" tanyanya bertubi-tubi.


"Tanya ke dirimu sendiri."


Ammar menaikkan alis tebalnya sebelah kiri. "Maksudnya?"


“Kamu kenapa sih nggak bilang dari awal kalau kamu mencintai Mbak Gisel? Perbuatanmu nggak hanya menyakiti hatiku, tapi juga merusak pertemananku dengan Mbak Gisel. Nyakiti orang tua kita dan menjadikan anak kita broken home!”


Butiran bening mengalir begitu saja dari pelupuk mataku. Marah, benci, sakit, melebur jadi satu. Aku bisa menerima kenyataan bahwa dia tidak mencintaiku, cuek, lebih utamain hobinya. Namun, aku nggak bisa terima jika ada perempuan lain yang mengisi relung hatinya. Perempuan itu Mbak Gisel. Terlebih dia menikahiku demi dekat dengan Mbak Gisel.


"Maafin aku, nggak jujur dari awal. Begitu anak kita lahir, aku akan ceraikan kamu biar kamu nggak makin lama sakit hati hidup bersamaku." Ammar tertunduk.


"S**t. Bisa-bisanya kamu mau ceraikan aku setelah apa yang kamu lakukan ke aku sangat menyakiti hati!" Amarahku naik ke ubun-ubun.


"Terus mau kamu apa? Aku siap nerima apa pun darimu. Tolong, jangan bilang ke Bapak dan Mama dulu."


Aku menggeleng. Nggak tahu harus melakukan apa. Aku lari dari kamar. Lalu ke kamar Mbak Gisel. Sepertinya memang aku harus terima tawaran misi balas dendam.


...***...


Ammar sudah tidur. Walau kami akan bercerai, untuk saat ini kami masih belum pisah ranjang. Aku mendirikan bantal di kepala tempat tidur. Sedari tadi nggak bisa tidur. Pikiran penuh. Mungkin ini waktu yang tepat jalankan misi balas dendam, aku melakukan tugas posting cerbung ke platform hijau. Sialnya, nggak kunjung menemukan ide.


Akhirnya aku tanya ke Mbak Gisel via WA.


 


Aku : Mbak, plot cerbungnya gimana ya? Dari tadi nggak kunjung nemu ide nih.


Mbak Gisel : Tulis aja cewek sama cowok satu kantor. Si cewek atasan cowok. Cowok menikahi bosnya demi harta. Si cewek setuju demi keuntungan pribadi. Mereka nikah kontrak. Eh, ternyata si cowok brengsek nggak bisa pegang komitmen pernikahan. Sisa dan judulnya terserah lu.


Aku : Mau romance full atau ada campuran genre lain?


Mbak Gisel : Kayaknya romance full aja deh


Aku : Setting tempat, karakter tokohnya gimana?

__ADS_1


Mbak Gisel : Yogyakarta. Karakternya ya terserah lu sih, asal nggak terlalu jauh dari gue dan Sahrial.


 


Apa pernikahan Mbak Gisel dan Sahrial seperti itu? Ingin aku bertanya langsung, tapi nggak enak. Jadilah, langsung aku tulis naskahnya aja. Bab 1.


30 menit selesai menulis 1030 kata. Aku publikasikan ke grup platform hijau. Aku kasih judul Dua Janda. Nggak lupa masukin embel-embel 'kisah nyata' Tinggal menunggu konfirmasi adminnya. Bisa viral seperti Layangan Putus nggak ya?


...***...


Honeymoon ke Bali gagal total. Jadilah sekarang sudah pulang ke rumah baru. Orang tua sempat kaget karena pulang cepat, aku beralasan sakit perut jadi harus pulang.


Sekarang aku disuruh bedrest sama Mama. Biar nggak bosen aku main gadget. Aku buka grup *** dan Tiktok Mbak Gisel. View dan yang menyukai postingan kami bisa dihitung memakai jari. Terus nggak sampai 10 pula. Harus sedih atau bahagia?


Tok … Tok … Tok


Terdengar ketukan pintu.


"Buka aja. Nggak dikunci kok."


Pintu terbuka. Ammar pulang dari sekolah. Raut wajahnya marah. Pasti di sekolah sudah heboh video yang diposting oleh Mbak Gisel.


"Ini ulah kamu?" Dia menyodorkan HP yang berisi video Tiktok Mbak Gisel.


Wajahnya memerah. "Untungnya semua di sekolahku pada nggak punya Tiktok. Mereka nggak tau video ini. Maumu apa sih? Kamu mau aku kehilangan kerjaan? Ngapain sih make buka aib rumah tangga di sosmed gini. Norak tau. Inget, buka aib tuh sama seperti makan bangkai saudara sendiri. Apalagi aib suami. Ada hadisnya.”


“Suami kayak gimana dulu yang aibnya dijaga rapat-rapat oleh istri? Suami yang menikahi istri demi warisan? Suami yang mencintai wanita lain dan yang menjandakan istri demi janda sahabatnya? Nabi Muhammad SAW sangat memuliakan istri. Kamu sebagai ustaz, harusnya lebih tahu daripada aku!” ujarku dengan nada tinggi juga.


“Kamu boleh marah dan benci sama aku, tapi kamu harus inget aku masih suamimu dan ayah anakmu. Kalau aku kehilangan pekerjaan gimana aku nafkahin anak kita? Pikir ke sana dong!"


"Gimana kalau orang tua kita liat video ini? Kamu siap liat mereka menangis karena merasa gagal? Belum lagi video itu akan jadi jejak digital abadi yang akan ditonton anak kita. Parahnya jika video ini nyebar, Bapak dan pesantren bakal kena bully netijen. Kamu nggak hanya menghancurkan karierku, tapi juga karier pesantren yang telah dibangun Bapak puluhan tahun!"


Dia ceramah panjang x tinggi x lebar. Aku hanya tertunduk. Merasa bersalah. S**t. Kenapa nggak kepikiran ke sana? Apa karena sudah terhasut amarah jadi mikir pendek? Aku harusnya menemui Mbak Gisel lagi. Aku ingin menyudahi misi balas dendam ini.


Aku WA Mbak Gisel.


 


Mbak Gisel, jam makan siang kita ketemu di Lesehan Serba Enak dekat kantor AT Press ya. Ada yang mau aku bicarakan. Penting!

__ADS_1


? Tiba-tiba perutku sakit luar biasa. “Aw.”


Mas Ammar mendelik ke arahku. “Kamu kenapa? Mau bawa ke rumah sakit?”


Aku membuka tangan. “Nggak usah. Kayaknya aku hanya perlu nginep di rumah Mama dulu. Kita mesti saling intropeksi diri dulu. Kalau aku di sini terus dalam kondisi kita sama-sama emosi, yang ada aku bisa keguguran.”


“Kalau Mama curiga tentang masalah kita gimana?”


“Kamu tenang aja. Aku nggak akan cerita masalah rumah tangga kita ke Mama.” 


 


...***...


Lesehan Serba Enak itu terkenal di Yogyakarta. Menjual berbagai masakan khas Jawa. Selain enak, harga pas di kantong. Mbak Gisel lebih dulu datang ternyata.


"Mau pesen apa?"


"Apa aja deh. Asal jangan yang pedes."


"Mbak, pecel urap dua ya. Minumnya es teh dua."


"Siap, Neng."


Sembari makanan belum datang. Aku pun mengutarakan apa yang ada dalam pikiranku.


"Mbak, aku mau mundur dari misi balas dendam ini."


Mbak Gisel melotot. "Loh, kenapa coba? Nggak bisa gitu dong. Kita udah memulai, jadi harus dituntaskan dengan baik. Jangan setengah-setengah gini."


Sudah aku duga. Dia bakal mengomel. Karakter Mbak Gisel emang suka mengomel. Terlebih yang nggak sesuai dengan kehendaknya.


"Aku kemarin diomelin habis-habisan sama Ammar. Aku juga ngerasa bersalah udah bongkar aibnya ke sosial media. Gimana pun dia masih suamiku dan ayahnya anakku. Kalau dia dipecat nggak bisa ngasih nafkah anakku."


Mbak Gisel tepok jidat. "Ya ampun, kamu polos banget sih. Itu mah trik Ammar doang. Biar nama baiknya nggak hancur. Jangan karena hal itu, kamu melupakan sakit hati akibat perbuatannya. Ayo dong, jadi cewek jangan lemah rapuh payah dan pasrah aja disakitin cowok."


Dia mulai mengompor lagi. Sialnya, aku terhasut lagi. "Terus gimana dong?"


"Hmmm … ntar aku pikirin cara lain deh. Cara yang lebih kalem. Biar semua aman terkendali. Gimana?"

__ADS_1


"Ya udah Mbak atur aja."


Lagi-lagi aku nggak bisa nolak Mbak Gisel. Sepertinya sisi jahatku berontak dan masih ingin memberikan pelajaran ke Ammar. Aku sendiri nggak tau kenapa bisa begini.


__ADS_2