
Ketika gue membuka mata, meraba tempat tidur, kosong. Gue kaget. Loh, Sahrial ke mana?
"Ialll!" teriak gue. Hening. Nggak ada sahutan dari Sahrial. Apa dia ketiduran di kamar mandi? Gue bangkit lalu menengok ke kamar mandi. Nihil. Makin bingung gue. Gue langsung ambil HP untuk menelepon Sahrial.
Tersambung. Namun, nggak diangkat. Gue jadi gelisah. Dia ke mana sih? Tanpa pikir panjang, gue keluar kamar. Lalu mengetuk pintu kamar sebelah. Kamarnya Jihan.
Tok … tok …
Ammar yang buka pintu.
"Kebetulan ada lu, lu lagi sama Sahrial ya?"
Ammar mengernyitkan dahi. "Nggak tuh. Daritadi nonton Netflix sama Jihan. Kenapa emangnya?"
"Pas gue bangun Sahrial nggak ada di kamar. Gue telepon aktif, tapi nggak diangkat."
"Ya elah, cari makan kali. Tuh anak kan sukanya makan."
Drrrt…
HP di tangan bergetar. Layarnya tertera nomor asing menelepon. Buru-buru gue terima.
"Halo, siapa?"
"Halo juga. Apa Anda mengenal Sahrial?"
"Iya, saya istrinya. Ada apa dengan suami saya?"
"Suami Ibu mabok berat, dia pingsan di Club Fortune."
Gue kaget. "Hah? Serius? Oke, saya segera ke sana."
Ammar yang sedari tadi memperhatikan gue, ikut penasaran. "Ada apa dengan Sahrial?"
"Dia mabok berat, dia pingsan di Club Fortune."
"Oke, aku temenin kamu ke sana."
"Aku ikut!" sahut Jihan yang tiba-tiba muncul di pintu.
"Nggak usah. Kamu lagi hamil. Nanti kamu ada apa-apa lagi di sana."
“Mohon maaf aku lancang, kalau kalian pergi berdua di mobil bukannya itu nggak boleh ya? Namanya berkhalwat kan? Walau ilmu agamaku cetek, tapi tau istilah itu dari novel Kang Abik,” sahut Jihan. Padahal gue tahu, dia pasti cemburu.
“Benar juga sih. Aku nggak mikir ke sana.”
Drrrt … Drrrrt
Ponsel gue pegang bergetar. Di layarnya tertulis Bu Nazneen memanggil. Duh, Bu Nazneen ngapain nelepon saat riweuh gini sih? Dengan terpaksa menerima panggilannya.
“Halo, Gisel. Maaf banget nih saya ganggu waktu honeymoon kamu.”
“Nggak kok, Bu.” Gue berbohong. “Ada apa ya, Bu nelepon jam segini?” Gue mengangkat tangan. Jarum jam menunjukkan pukul 22.00 WITA.
__ADS_1
“Kamu bisa nggak sekarang ke Hotel daerah Kuta Bali untuk wakilin saya tanda tangan kerjasama lomba menulis dengan penerbit ternama di Bali. Besok pagi, CEO-nya udah berangkat ke Singapura.”
Emang nggak bisa lewat pos aja gitu tandatangannya atau tanda tangan digital? Duh, bikin repot aja! Gerutu gue dalam hati. Namun, gue nggak mungkin bilang seperti itu ke Bu Nazneen. Yang biayai honeymoon ini aja beliau. Dengan terpaksa gue mengatakan. “Baik, Bu. Saya siap ke sana. Tolong sharelock tempatnya.”
Telepon terputus.
“Duh, sori banget nih mendadak dapat tugas dari Big Bos. Kalau Ammar aja yang nyamperin Sahrial gimana? Nanti pulangnya gue jemput.”
“Nah, ini lebih aman.”
Ammar masuk ke kamarnya. Selang lima menit dia kelar dengan menggunakan celana panjang dan jaket kulit warna hitam. Terus di tanganya membawa kunci motor rentalan dan HP. Kami pun pergi ke tempat Sahrial.
***
Fyur. Akhirnya kelar juga drama Sahrial. Dia nggak cuma mabok, tapi juga berantem sama orang di club itu. Alhasil, pihak club minta ganti rugi atas perbuatan Sahrial. Awalnya mereka minta lumayan tinggi. Gue sempat ngotot-ngototan dulu. Namun, akhirnya berhasil diselesaikan Ammar. Entah Ammar ngomong apa sama manager club itu.
Kini Sahrial molor di belakang mobil. Ammar kemudian melajukan mobil rentalan.
"Hmmm … daripada sepi, aku boleh ajak kamu ngobrol nggak? Atau mau makan dulu?"
Ya ampun, cowok di sebelah gue sopan banget. Mau mengajak ngobrol aja pakai minta izin segala.
"Aku penasaran deh kamu kenal Sahrial di mana sih? Setahuku makhluk di belakang kita ini paling males namanya komitmen. Hatinya mati rasa sejak diputusin putus sama mantannya dan ditolak sama cewek yang dia suka."
"Aku satu kantor dengan Sahrial. Posisiku manager platformnya, sedangkan dia pimred di AT Press penerbitan cetaknya. Kamu sendiri udah lama kenal sama Sahrial?"
"Lumayan. Sekitar tiga tahunan lah. Dikenalin Ragiel. Waktu itu dia baru datang ke Yogyakarta. Aku juga sempet ngekos di tempat yang sama dengan Ragiel dan Sahrial."
"Kamu kenapa mau nikah sama Sahrial?"
"Takdir dan udah jodoh kali. Hahaha." Gue tertawa. Entah menertawakan takdir yang harus menikah kontrak dengan Sahrial atau apa.
Dia ikut tertawa. "Dih, kamu lucu. Yang namanya nikah pasti udah jodoh. Ya pasti ada dong hal yang bikin kamu mau nikah sama Sahrial."
Lama-lama cowok di sebelah gue ini menyebalkan ya keponya. Nggak mungkin kan gue jujur sama dia bahwa gue dan Sahrial hanya nikah kontrak?
Tiba-tiba gue lihat Alfamart. "Mar, boleh nggak gue minta mampir ke Alfa dulu. Mau beli pembalut," ujar gue beralasan. Padahal aslinya mau mengalihkan pembicaraan biar dia nggak kepo lagi sama pernikahan gue sama Sahrial.
***
Gue duduk di meja rias. Di pantulan cermin, gue melihat Sahrial baru bangun. Dia menggeliat, lalu mengucek mata.
"Hah? Aku di mana?"
"Di hotel."
"Kok bisa ada di sini? Seingetku tadi malam …" Sahrial terlihat linglung. Mencoba mengingat kejadian tadi malam.
"Tadi malam lu mabok berat terus berantem di club. Alhasil, gue ganti rugi. Untung ada Ammar yang beresin semuanya. Lu ngapain sih pake mabok segala? Bikin repot aja."
"Ya elah, bawel amat kau. Udah terjadi juga kan?"
"Lupa perjanjian kontrak kita? Perbuatan lu ini bisa merusak nama baik gue. Nggak mikir ke sana lu?"
__ADS_1
Sahrial mengacak rambut. "Ah, aku pusing diatur-atur mulu sama kau."
"Sejak lu tanda tangan kontrak nikah, itu berarti lu milik gue."
"Aku bukan barang ya. Aku juga butuh privasi. Melakukan apa yang aku suka. Udahlah kita batalin aja perjanjian nikah kontraknya."
"Oh, tidak semudah itu Ojan. Inget kan ada dendanya? Siao bayar 500 juta ke gue?"
"Gampang lah. Di kampung bapakku juragan tanah. Nanti aku jual hasilnya 1 miliar kok. Tenang aja. So, mulai sekarang kita cerai!"
Gue melongo. Jadi sebenarnya Sahrial kaya raya? Terus ngapain kemarin sampai berhutang lima juta dan mau nikah kontrak sama gue?
Sahrial mengemasi barangnya ke koper hitam. Selang sepuluh menit dia pergi menyeret koper itu. Kok dia serius sih? Gue panik sendiri. Gue susul dia. Nggak bisa biarin dia pergi gitu aja. Berdampak statusku janda seminggu.
"Ial, lu nggak bisa ceraikan gue gitu aja! Gue nggak terima diginiin!" teriak gue depan pintu.
Sialnya Sahrial tetap berlalu. Gue terduduk lemas sambil nangis-nangis. Bertepatan Jihan dan Ammar keluar dari kamar.
Jihan mendekati dan menyentuh pundak. "Mbak, kita sarapan di bawah dulu yuk biar Mbak Gisel tenang."
***
"Mbak mau makan apa?" tawar Jihan.
"Nggak nafsu gue."
"Ya udah minum aja biar tenang. Mau minum apa?"
"Kopi item panas," celetuk gue asal.
Seketika gue ingat bahwa gue punya penyakit magh. Namun, gue bodo amat akan hal itu.
Ammar melambaikan tangan. Seketika pelayan datang.
"Pak, Bu, mau pesan apa?"
"Bubur ayam dua. Terus teh panas dua dan satu kopi pahit."
"Baik, tunggu sebentar ya."
Usai pelayan itu pergi. Gue kembali menangis. Gue nggak menangisi Sahrial pergi. Namun, gue menangisi belum siap jadi janda usia seminggu. Duh, apa kata orang coba? Bisa diketawain Nindya.
"Mbak bisa bisa cerita ke kita apa yang terjadi biar Mbak sedikit lega. Siapa tau kami bisa bantu."
Cerita nggak ya? Mendadak ragu. Toh, mereka belum tentu bisa bantu masalah gue sama Sahrial. Namun, jika nggak cerita, rasa sesak bersarang di dada.
Gue pun mulai cerita bahwa kami berantem akibat perbuatan Sahrial tadi malam. Tentu saja gue nggak cerita soal pernikahan kontrak sama mereka.
"Gue nggak tau jadinya kayak gini. Mana Sahrial udah jatuhin talak pula, hiks." Gue menangis lagi.
Jihan memeluk serta mengelus pundakku. "Yang sabar ya, Mbak. Moga masalahnya cepat selesai."
"Nanti aku bantu ngomong sama Sahrial deh. Siapa tau dia berubah pikiran dan mau ijab qobul lagi."
__ADS_1