Takut Menjanda

Takut Menjanda
Chapter II (Grizelle Prameswari)


__ADS_3

Di sinilah gue sekarang, Cafe Minamdang. Nama kafenya kayak judul Drakor ya? Emang. Gue bela-belain pulang cepet buat ke sini menemani Mama. Katanya temennya mau ketemu atau apa lah.


"Ma, kita mau nemuin siapa sih?"


"Bentar lagi dia juga datang."


Muncul sosok seorang ibu sosialita berdandan menor memasuki kafe. Dia melambaikan tangan ke arah kami. Lalu cipika-cipiki sama Mama. Eits, dia nggak sendiri bersama cowok yang gue tafsit umurnya paling 30an sama kayak gue.


"Maaf ya telat, Jeng."


"Nggak apa. Santai aja. Kami juga baru datang kok."


Si ibu itu melirik gue. "Hey, kamu Gisel kan? Ya ampun udah gede aja. Makin cantik pula. Dulu masih kecil banget."


Heran. Basa-basinya gini mulu. Bosan dengarnya.


"Oh iya, kenalin ini anak saya. Namanya Andreas. Dia baru lulus S2 Stanford loh. Sekarang jadi PNS."


Yang begini nih, sombong dengan mode basa-basi. Detik ini juga gue tahu arah pembicaraan mereka. Perjodohan. Sial. Malesin banget.


***


Huft, akhirnya selesai juga pertemuan sama ibu menyebalkan. Dia nyerocos mulu kayak bebek. Membanggakan kehidupan rumah tangganya terus.


"Kamu tadi kenapa diem aja? Mama jadi nggak enak tau."


"Terus aku mesti ngomong apa? Udah jelas juga arah pembicaraan kalian. Mama pasti mau jodohin aku sama dia kan?"


Mama menyengir memamerkan giginya yang berbehel. "Kamu tau aja. Ya abis kamu sih umur 32 belum nikah-nikah. Jangan kan nikah, ngenalin pacar aja kagak pernah."


"Kan aku dah bilang, nanti juga aku pasti kenalin pacar atau calon suami kok. Mama sabar dulu aja."


"Sabar sampai kapan? Nunggu Mama mati? Gini aja deh, kalau dalam satu bulan kamu nggak kunjung ngenalin cowok, kamu harus mau dijodohin sama Andreas. Oke?"


Kalau sudah begini, itu artinya nggak bisa diganggu gugat. Pertanyaannya cowok mana yang harus gue kenalin ke Mama sebagai calon suami?


***


Tangan kiri gue sibuk memijit pelipis. Pusing, 60% judul-judul yang diajukan ke AT Menulis nggak jauh-jauh dengan kata 'nikah kontrak' entah Nikah Kontrak with CEO. Penjanjian Nikah dengan Setan Lah. Duh, penulis kenapa sih pada halu nikah kontrak? Emangnya enak ya nikah kontrak? Timbul rasa penasaran di hati gue.


 Seketika gue geleng-geleng sambil getok-getok kepala. "Astagfirullah, gue mikir apa sih?"


Fokus kerja. Tangan kanan kembali menggerakan kursor, approval pencairan royalti untuk menulis.


Gue adalah Grizelle Prameswari. Gue seorang manager platform menulis. Salah satu tugas gue adalah meng-acc pembayaran penulis 


"Sel, lo dah tau sesuatu belum?" 


Leci, entah datang dari mana. Tiba-tiba langsung menanyakan hal itu. 


Oh iya, gue kenalin tentang Leci dulu Dia aslinya tetangga gue. Namun, karena dari zaman SMP sudah dekat banget sama dia, ketika gue dipercaya menjabat manager platform AT Menulis lalu kesibukan gue makin padat, ya gue ajakin aja dia jadi asisten pribadi gue. Zaman sekarang susah mencari orang dipercaya. Apalagi yang klop sama gue.


"Tau apa?"


"Si anu mau nikah loh."

__ADS_1


"Si Jihan, penulis setia AT Press kan? Udah tau gue. Kan gue datang ke nikahannya."


"Bukan dia."


"Terus siapa?"


"Si Nindya Maharani. Nih, undangannya."


"Tapi lo harus bawa pasangan klo ke nikahan dia. Itu syaratnya."


Dia memberika undangan ke gue. Mata gue melotot ketika membaca pesan di bawahnya. 


'Tamu undangan harus membawa pasangan beda kelamin ya.'


"Syarat macam apa ini? Gue malas datang ah."


"Kalau nggak datang ntar lo makin dinyinyirin sama mereka. Lo tau kan genk Maharani itu rese nauzubillah."


Gue berpikir sejenak. Benar juga kata Leci. "Ya udah ntar gue minta Pak Sahrial nemenin gue deh."


Sahrial, pemimpin redaksi khusus penerbitan di AT Press. Posisinya sebenarnya di bawah gue, karena gue kepercayaan Cetta Bhanumati, pemegang saham di AT Press, tapi demi menghargai dia lebih senior di kantor ini makanya gue memanggil dia sebutan ‘Pak’


Di kantor ini ada 4 orang lagi. Di antaranya:


Bu Nazneen Faiha. Dia CEO AT Press. Beliau jarang datang ke kantor. Datang kalau minta rapat atau memecat karyawan. Bawaannya deg-degan kalau ada beliau.


Wardah, chief editor AT Press. Dia galak, suka mengomel naskah penulis.


Sukma, chief marketing. Konon katanya, cewek satu ini pernah ditaksir Sahrial, tapi Sukma memilih Ragiel notabennya teman kos Sahrial.


Sayang, gue belum masuk AT Press makanya nggak bisa menyaksikan drama mereka.


Terakhir, si Ranti posisi desain cover dan layout. Dia pendiem. Jadi nggak begitu tahu tentang dirinya.


Leci geleng-geleng kepala. "Lo nggak capek tiap kondangan atau acara meeting minta temenin Pak Sahrial? Ayo dong udah saatnya lo bawa pasangan resmi."


"Pacar maksud lo?"


"Nggak harus pacar sih. Calon suami gitu. Nggak capek ngejomlo puluhan tahun?"


Sial, pakai diungkit segala. Gue bukan nggak laku atau sengaja betah menjomlo, cuma sampai umur 30 tahun ini belum ada satu pun cowok yang ngeklik di hati gue. Setiap dekat sama cowok, selalu aja ada bobroknya yang nggak bisa gue terima.


"Lah, emang kenapa kalau ngajak Pak Sahrial? Toh, dia masih jomlo. Kalau dia dah nikah, baru gue cari pacar sewaan."


"Lebih afdol kalau lo bawa pasangan sendiri. Kan keren kalau ditanya, 'sama siapa tuh?' terus lu jawabnya, 'kenalin ini suami gue.' bukan 'ini sama atasan gue.'"


"Etapi, lo kalau nikah sama Pak Sahrial oke juga. Tambah keren malah, manager dinikahi pemimpin redaksi. Jadi pas ada acara penting lo bisa dengan bangga memperkenalkan suami yang seorang pimred terus sarjana pula. Ya ampun, macam naskah yang biasa dikirim ke kita aja. Hahaha."


Gue menggumpal tisu. Lalu gue lempar ke Leci. "Ngaco lo."


"Ih, aminin kek. Siapa tau malaikat lewat."


"Malaikat maut yang lewat buat jemput lo."


Mendadak wajah Leci pucat. "Astaga, serem amat kalimat lo. Amit-amit jabang baby. Gue masih muda, belum nikah. Belum siap dijemput malaikai maut."

__ADS_1


Tiba-tiba Pak Sahrial muncul dari balik pintu. Panjang umur nih cowok. "Grizelle, ke ruangan saya sekarang!"


Gue mengelus dada. Pak Sahrial menyelamatkan gue dari obrolan absurd, pernikahan. 


"Baik, Pak."


***


Gue deg-degan ketika duduk berhadapan Pak Sahrial. Bukan cinta. Namun, takut dapat teguran atau gue abis melakukan salah apa itu.


"Ada apa ya, Pak jadi manggil saya? Saya ada salah?"


"Sebenarnya saya nggak enak sih ngomong gini, tapi saya kepepet banget."


Dahi gue mengenyit. Bingung kalimatnya. "Ada apa ya, Pak?"


"Boleh miniem uang lima juta nggak?"


Gue shock terapi mendengarnya. Pasti bingung kan, secara dia juga punya jabatan penting di perusahaan ini, kenapa dia mau minjem duit ke gue? Sebenarnya jabatan gue sama Pak Sahrial nyaris setara. Bedanya gaji gue lebih tinggi 1 juta. Dikarenakan gue bawaannya Bu Cetta, pemegang saham di AT Press. Sedangkan Pak Sahrial kesayangan Bu Nazneen.


Pak Sahrial melambaikan tangan di depan mata gue. "Halo, kok bengong?"


Gue tersadar dari lamunan. "Aduh, gimana ya Pak, lima juta tuh banyak. Apalagi yang hidup pas-pasan kayak saya."


"Iya sih. Saya juga nggak enak ngutang. Mau gimana lagi butuh banget buat cuci darah Mamak saya. Saya nggak tega beliau terus kesakitan." Raut wajah Pak Sahrial mendadak berubah jadi sedih.


Sekarang gue yang nggak tega dengan Pak Sahrial. Mendadak gue teringat ucapan Leci.


"Lebih afdol kalau lo bawa pasangan sendiri. Kan keren kalau ditanya, 'sama siapa tuh?' terus lu jawabnya, 'kenalin ini suami gue.' bukan 'ini sama atasan gue.'"


"Etapi, lo kalau nikah sama Pak Sahrial oke juga. Tambah keren malah, manager dinikahi pemimpin redaksi. Jadi pas ada acara penting lo bisa dengan bangga memperkenalkan suami yang seorang pimred terus sarjana pula. Ya ampun, macam naskah yang biasa dikirim ke kita aja. Hahaha."


Nggak tahu asalnya dari mana, muncul ide aneh di kepala gue. "Saya ada tabungan sih. Tapi saya nggak bisa minjemin gitu aja."


"Oke, saya harus kasih jaminan apa? Atau ada syarat? Apa pun saya lakukan demi Mamak saya."


"Mau nggak nemenin saya ke nikahan teman saya terus kita nikah kontrak?" ucap gue ragu-ragu.


***


Waw. Nikahn Nindya lumayan mewah. Kental dengan adat kampung halamannya, Padang. Sebelas dua belas lah dengan pernikahan aktrik Nikita Willy dan Irish Bella. Nggak heran sih, dia dari dulu anak pejabat.


Tiba giliran gue salaman sama Nindya.


"Akhirnya lo punya gandengan juga. Siapa nih? Pacar sewaan?" tanya Nindya dengan nada meledak.


"Oh nggak dong. Kenalin Sahrial Pratama, S.P. Dia calon suami gue." Gue menoleh ke belakang. "Gue ke sana dulu ya. Tuh, masih banyak yang antri mau salaman sama lo."


Gue berlalu turun dari pelaminan Nindya. Leci langsung menyeret gue ke tempat. 


"Lo serius ucapan lo tadi? Pak Sahrial calon suami lo?"


"Iya, gue mau nikah sama Pak Sahrial Ternyata Pak Sahrial memendam rasa ke gue selama 6 bulan ini. Kayaknya bener deh, lu pas ngomong kemarin ada malaikat lewat. Malaikat aminin doa lu."


Leci hanya terbengong-bengong. Mungkin dia heran, gue habis kesambet apa? Jangankan dia, gue sendiri aja heran kenapa bisa ngajakin Pak Sahrial nikah kontrak? Sialnya, Pak Sahrial langsung mau.

__ADS_1


Mungkin efek capek ditanyain kapan nikah? Lalu gue rasa Pak Sahrial memenuhi standar kriteria calon suami idaman gue. Daripada sama yang lain belum jelas asal usulnya. Selama setahun kerja di kantor AT Press, Pak Sahrial sosok pemimpin bertanggung jawab. Sialnya Pak Sahrial mau.


__ADS_2