
Hari ini aku main futsal sama Ammar. Sedari tadi otakku nggak fokus. Pikiran selalu tertuju ke Gisel.
Pusing aku harus bagaimana lagi menghadapi cewek satu itu. Serba salah aku di matanya. Entah yang benar jadi seperti apa.
"Sahrial, tendang buruan!" teriak Ammar.
Barulah aku sadar. Ketika ingin menendang bola, sudah keburu direbut lawan. Alhasil, aku terjatuh.
"Aw," jeritku seraya memegangi kaki.
Ammar berlari menghampiriku. "Sahrial, kamu nggak apa?"
"Kakiku sakit banget. Kayaknya terkilir deh."
Ammar buru-buru membopongku ke kursi cadangan.
"Kamu kenapa? Jadi nggak fokus. Tumben. Biasanya selalu semangat kalau main futsal."
"Otakku hanya tertuju sama Gisel. Harus cara apa lagi agar dia mau rujuk denganku?"
"Mungkin dia butuh waktu lama untuk meyakinkan dirinya sendiri. Biasalah cewek."
"Katanya dia mau lihat perjuanganku dulu. Tapi udah berbagai cara kulakukan, dia tetep aja jutek."
"Udah coba ajak ke suatu tempat cakep? Di mana kek, siapa tau dia luluh."
Wajahku segar kembali. "Iya juga ya. Itung-itung menebus kecauan pas di Bali kemarin. Tapi masalahnya ini kam pandemi, apalagi muncul varian baru Omicron. Emang ada tempat wisata yang buka?"
"Sebenarnya nggak perlu tempat wisata sih, sewa aja hotel atau villa yang mewah dan view bagus. Biar Gisel ngerasa honeymoon."
"Kok aku nggak kepikiran ya. Makasih Mar usulnya."
***
Aku buka pintu rumah. Sepi. Gelap pula. Gisel ke mana?
Drtttt… drrrrttt
Ponsel celanaku bergetar. Notifikasi WA dari Gisel.
Aku ke rumah Mama Papa dulu. Aku butuh waktu sendiri untuk memikirkan semuanya. Sori baru bilang. Kalau mau makan, ada di bawah tudung saji ya.
Yah, sepi deh. Mungkin benar dia butuh waktu sendiri dulu. Begitu pula diriku. Ini saat yang pas mencari tahu hotel cakep di Yogyakarta. Aku duduk di sofa panjang sambil buka Google. Kuketik "Hotel Mewah dan view bagus di Yogyakarta."
Ada yang banyak pilihan. Dari harga mahal sampai paling murah. Namun, aku tertarik dengan dua hotel: Innside Yogyakarta dan Hyatt Regency Yogyakarta.
Aku baca artikel atau review satu per satu hotelnya dulu.
-Innside Yogyakarta.
Deskripsi akomodasi
__ADS_1
Terletak di Yogyakarta, 7 km dari Tugu Yogyakarta, Innside by Melia Yogyakarta memiliki kolam renang tanpa batas di puncak gedung dengan pemandangan gunung. Tempat parkir pribadi dan akses Wi-Fi gratis tersedia di lokasinya.
Kamar-kamarnya menyediakan AC, TV satelit layar datar, dan brankas pribadi. Setiap kamar memiliki kamar mandi pribadi dengan sandal dan pengering rambut untuk kenyamanan ekstra.
Staf di meja depan beroperasi selama 24 jam dan selalu siap untuk membantu Anda. Untuk pilihan bersantap, Anda dapat memesan layanan kamar atau menikmati hidangan lokal dan internasional di Syndeo Cafe.
Hotel ini juga menawarkan layanan penyewaan mobil, antar-jemput bandara, dan antar-jemput ke daerah sekitarnya dengan dikenakan biaya tambahan. Innside by Melia Yogyakarta berjarak 8 km dari Jalan Malioboro dan Malioboro Mall. Bandara terdekat adalah Bandara Adisucipto, 2 km dari hotel.
Hyatt Regency Yogyakarta.
Terletak di taman tropis yang indah seluas 22 hektar, Hyatt Regency Yogyakarta menawarkan berbagai fasilitas termasuk lapangan golf, kolam renang bertingkat, serta pusat spa dan kesehatan. Layanan antar-jemput ke pusat kota tersedia secara gratis. Properti ini juga menyediakan akses Wi-Fi gratis.
Sore yang cerah dapat dinikmati di tepi kolam renang laguna berukuran besar yang menampilkan air terjun, seluncuran air setinggi 70 meter, serta whirpool. Anda juga dapat berolahraga di gym dan lapangan tenis.
Menyuguhkan pemandangan taman dari jendela berukuran besar, kamar-kamarnya yang luas memiliki TV kabel, fasilitas untuk membuat teh/kopi, dan kursi berlengan. Kamar mandi marmernya memiliki bathtub dan jubah mandi.
Kemangi Bistro menyajikan hidangan Asia dan Barat sementara Paseban Lounge luar ruangan menyajikan koktail dan teh sore dengan pemandangan Gunung Merapi yang indah.
Yogyakarta Hyatt Regency berjarak 10 menit berkendara dari pusat kota. Dibutuhkan waktu 15 menit berkendara dari Bandara Yogyakarta dan Jogja Convention Centre untuk menuju hotel.
Berhubung aku bingung milih yang mana, aku kirim foto dua hotel itu beserta link deskripsi hotelnya ke Ammar. Lima menit kemudian aku telepon Ammar.
"Mar, udah liat WA-ku?"
"Udah dong. Cakep banget sumpah. Jihan sampe mupeng, pengen honeymoon lagi."
"Dua-duanya bagus sih. Kalau dari harga dan keunggulan fasilitas kayaknya Hyatt Regency deh."
"Kalau aku jadi Mbak Gisel, aku juga bakal suka Hyatt Regency. Mewah banget. Abang Sahrial, kami nggak diajak lagi?" sahut Jihan.
"Yeee … enak aja. Ini kan dalam misi bikin Gisel rujuk. Kalau kami udah rujuk, terus Jihan udah lahiran, nanti kalian kuajak ke hotel Hyat Regency juga."
"Ya deh. Goodluck ya."
***
"Ial, lu bawa gue ke mana sih? Pake penutup mata segala." Gisel mulai protes.
"Bentar lagi sampai."
Aku terus menuntut dia berjalan. Sampai akhirnya depan jendela kamar hotel, aku buka penutup matanya.
"Dalam hitungan ketiga, kamu buka mata ya."
"1… 2 … 3."
Dia pelan-pelan membuka mata. Dia langsung takjub dan bengong seraya menutup mulutnya. "Gila cakep banget."
__ADS_1
"Gimana suka?"
"Banget. Gue yang lama di Yogya aja baru kali ini ke hotel ini." Gisel berputar-putar menyusuri kamar hotel. Akhirnya menghampiriku.
"Ini pasti ada maunya ya? Hayo, ngaku. Atau mau desak aku rujuk lagi? Duh, Ial. Kan gue dah bilang gue butuh waktu buat meyakinkan diri, lihat perjuangan dan kesungguhan lu bahwa lu nggak akan nyakitin gue lagi," cerocosnya.
"Gimana gue bisa percaya lu, di kantor AT aja ada tiga mantan lu. Helen, Sukma, dan Leci," lanjutnya lagi.
"Ini adalah wujud kesungguhanmu dalam membahagiakanmu. Aku janji kalau kamu mau rujuk, tiap bulan bahkan minggu, aku bakal bawa kamu ke hotel atau tempat mana pun yang kamu suka. Dan satu lagi, mantanku cuma Helen ya. Sukma cuma orang yang sempet aku taksir. Sedangkan Leci cuma orang yang dijodohin Mamak, tapi aku nolak. Malah bersedianya nikah sama kamu." Aku berusaha meyakinkan Gisel sekaligus membantah tuduhannya bahwa aku punya tiga mantan di kantor AT Press.
Sekampret-kampretnya aku, aku nggak pernah mainin cewek. Paling banter chat sama banyak cewek di Instagram. Itupun chatnya masih tahap normal. Sebatas teman literasi dan bahas naskah. Soal Leci, dari awal aku nggak ada kasih harapan apa-apa ke dia. Kalau dia baper terus salahku gitu?
"Nggak cukup. Aku butuh jaminan bahwa kamu nggak akan nyakitin aku lagi."
"Aku siap memberikan jaminan, kalau aku nyakitin kamu lagi, seluruh harta warisan Ayak di Medan yang buatku, akan kukasih semuanya buat kamu."
Gisel terdiam. "Lihat nanti deh. Yang jelas aku butuh waktu menjawab. Please, sabar. Nikmatin liburan kali aja gimana?"
***
Ayak
Panggilan video.
Aku melompat dari kasur. Ada apa Ayak video call? Buru-buru aku terima video call.
"Assalamualaikum, Rial. Apa kabar?"
"Alhamdulillah, baik. Ayak, Mamak dan Rani apa kabar?"
"Baik. Kami rindu sekali. Lama kali kau tak mengkabari kami."
"Maaf, Mak, Yak, Rial baru sembuh Covid terus ini lagi sibuk berjuang biar Gisel mau rujuk denganku."
Wajah Ayak berbinar cerah. "Wah, bagus itu kalau kau mau rujuk dengan Nak Gisel."
"Tapi masalahnya Gisel tuh keras kepala menerima aku kembali." Aku juga menceritakan bahwa Gisel minta jaminan besar kalau aku nggak akan menyakitinya.
"Makanya Ayak sama Mamak mau nggak bantu Rial."
Mamak mendesah napas berat. "Apa yang harus kami lakukan demi keutuhan rumah tanggamu?"
"Mamak sama Ayak cukup yakinkan Gisel bahwa aku serius mau rujuk dan bahagiakan dia. Kalian juga bilang, jika aku ingkar janji, warisan bagianku serahin ke Gisel aja."
Mamak dan Ayak saling berpadangan. "Kau yakin dengan keputusan kau itu?"
"Sangat yakin, Mak. Mau bantu Rial kan?"
"Baiklah, kami akan coba bicara dengan Nak Gisel. Mana dia?"
"Dia lagi berenang. Sepuluh menit lagi, aku telepon kalian lagi ya?"
__ADS_1
"Oke."
Klik. Aku mematikan telepon video call. Buru-buru memakai baju dan melangkah menuju kolam renang.