Takut Menjanda

Takut Menjanda
Chapter XVI (Grizelle Prameswari)


__ADS_3

Langkah gue balas dendam ke Sahrial adalah mengulik bobroknya biar ada alasan kuat di persidangan dan dia bayar denda. Well, yang pertama gue lakuin, sebelum ke kantor gue menyempatkan diri mampir ke rumah Sukma dan Ragiel dulu. Kebetulan jarak kantor AT Press dan rumah mereka nggak terlalu jauh. Sekitar 10 menitan jaraknya.


"Assalamualaikum," sapa gue begitu sampai depan rumah mereka.


Sukma yang dari tadi sibuk jemur bayinya, kaget melihat kedatangan gue.


"Mbak Gisel. Tumben ke sini? Ada apa?"


"Mau nengokin bayi lu aja sih. Kan sejak lu lahir samsek nggak pernah negokin lu."


Sukma mendekati gue. Seketika melihat bayinya yang lucu menggemaskan. "Ya ampun, lucu banget bayi lu. Boleh gue bawa pulang nggak?" tanya gue basa basi.


"Makasih Budhe."


Gue celingak-celiguk mencari Ragiel. Nggak kunjung kelihatan batang hidungnya. "Suk, laki lu mana?"


"Ada di dalam. Lagi mandi kayaknya. Mau aku panggilin?"


"Boleh. Ada yang mau gue tanyain soalnya."


Sukma masuk ke rumahnya. Sambil menunggu Sukma kembali, gue buka tas tangan dan mengambil iphone 13. Gue baca-baca chat Whatsapp dulu.


Lima menit kemudian Sukma muncul bersama Ragiel.


"Ya ampun, Mbak Gisel beneran datang ke sini nengokin bayi kita."


"Iya nih. Sekalian nanya sesuatu."


"Nanya apa ya?" tanya Ragiel dan Sukma penasaran.


"Kalian kan sudah lama kenal Sahrial. Nah, di mata kalian, kekurangan Sahrial itu apa ya? Soalnya kami mau rujuk. Aku mau tau kekurangan dia, buat dilengkapi dengan kelebihanku," ucapku berbohong. Nggak mungkin kan, gue jujur nanyain demikian buat balas dendam? Yang ada mereka nggak mau bocorkan ke gue.


"Apa ya?" Ragiel terlihat serius berpikir. Dia menopang tangan di atas dagu. "Sebenarnya kami nggak terlalu kenal sama Sahrial. Dia datang ke Yogya, terus ada konflik berantem, jadi total aku temen sekos Sahrial hanya hitungan 4-5 bulan."


"Yang kalian tahu aja deh."


"Ngegasan, pemarah, nggak sabaran, cerewet, pelit dan kalau belanja ke pasar kayak emak-emak nawarnya."


Mendengar dua kata terakhir, mata gue berbinar. Soalnya itu bisa digunakan buat gugat cerai di pengadilan agama.


Berhubung tujuan gue sudah tercapai, gue pamit pulang dulu. Gue menangkat tangan kiri. "Wah, nggak kerasa udah mau jam sembilan aja. Gue pamit ke kantor dulu ya. Suk, mau ikut ke kantor nggak?"


"Aku nyusul aja deh. Mau mandiin Dedek Bayi dulu."


"Gue ke kantor ya. Assalamualaikum."


***


Saat gue tiba di kantor, gue berpapasan sama Helen.


 "Pagi, Bu," sapanya.


"Pqgi juga. Eh, Len saya boleh nanya sesuatu nggak?"


Dahi Helen berkerut. "Nanya apa ya, Bu?"

__ADS_1


"Soal pribadi sih."


Wajahnya berubah. "Selama saya bisa jawab, akan saya jawab."


"Kamu kan mantannya Sahrial, selama kamu jadian sama dia gimana karakternya?"


"Apa ya? Seperti kita semua tahu, Pak Sahrial itu ngegasan, kalau ngomong nada tinggi berasa ngajak berantem terus, galak, ngasih deadline laknat, mau serba cepat, walau demikian dia baik dan sayang banget sama keluarga terutama ibunya. Oh iya, dia juga agamanya bagus. Nggak pernah telat salat lima waktu serta rajin puasa Senin Kamis."


"Bobroknya yang lain nggak ada gitu?"


"Rasanya sih nggak ya. Selama pacaran kami jarang ketemu. Dia itu mahasiswa akhir sibuk skripsi, sedangkan sama masih MA (Madrasah Aliyah). Nah, komunikasi hanya via HP. Kalaupun ada bobroknya, saya nggak berhak membuka aibnya."


Gue agak kecewa emang dengan jawaban Helen. Dia malah membeberkan nilai plus Sahrial.


"Oh gitu. Makasih udah berkenan jawab."


"Ada apa ya, Bu nanyain soal Pak Sahrial?"


"Nggak apa. Saya lagi nulis novel tokohnya Sahrial. Buat pendalaman karakter aja. Makanya saya nanya kamu sebagai orang yang pernah sangat dekat dengan Sahrial," ujar gue beralasan.


***


Budiman, tukang jual koran keliling sudah stand by di teras kantor AT Press. Jujur gue salut sama dia. Di tengah maraknya berita online, dia masih setia jualan koran. 


"Mbak, Femina edisi terbaru sudah terbit loh. Mau?"


"Boleh deh."


Dulu gue hobi banget beli majalah. Buat baca berita selebriti, tips wanita, cerpen, cerbung, sampai zodiac. Namun, sejak zaman makin canggih bisa akses internet mudah, nggak kebeli lagi. Baru setelah Budiman nongol langganan majalah lagi. Suka nggak tega kalau nggak beli di dia.


"Berapa?"


Gue mengeluarkan uang seratus ribuan. Lalu menyerahkan ke Budiman.


"Duh, Mbak. Nggak ada kembaliannya. Uang pas aja ya."


"Yah, saya belum mecah dulu nih. Ya udah kembaliannya buat kamu aja."


"Nggak enak menerima pemberian orang saya," tolaknya halus.


"Ya udah, saya ambil di meja kerja dulu ya."


Gue masuk ke kantor AT Press untuk mengambil uang recehan di laci meja gue. Nggak nyampe lima menit balik lagi menemuinya. Gue serahkan uang dua puluh ribuan.


"Nah, kalau ini baru saya mau nerima. Makasih ya."


Tiba-tiba Sahrial muncul.


"Grizelle. Apaan sih. Kamu masih istriku tau."


Pucuk dicinta ulampun tiba. Dia datang dengan sendirinya saat gue sama Budiman. Ini waktu tepat membuatnya merasa direndahkan.


"Eh, kau mau jadi merebut bini saya?"


"Nggak, Bang. Saya cuma nawari majalah aja kok. Kalau gitu saya pamit dulu."

__ADS_1


Kehadiran Sahrial bikin geger kantor AT Press. Sampai Bu Nazneen keluar. Mereka mempertanyaan ada apa?


Gue yang merasa nggak enak. Langsung membungkukkan badan. "Maaf. Nggak ada apa-apa kok. "Sahrial, ikut gue sekarang juga!"


Gue bawa Sahrial ke warung bubur ayam dekat kantor.


"Lu apa-apaan sih pagi-pagi udah bikin rusuh di kantor AT Press. Mau apa lagi lu? Kan udah resign."


"Mau nemuin kau. Mau ngajak rujuk."


Bibir gue tersenyum sini. Ini yang gue tunggu sejak kemarin. Namun, gue mau jual mahal dulu. "Mau ngajak rujuk? Nggak salah denger? Enak banget, abis ceraikan gue seenak udel, sekarang gampang ngajak rujuk? Cuih, males banget."


"Ayolah please. Kita rujuk aja. Seperti aku mulai cinta dengan kau. Terbukti beberapa hari nggak ada kau berasa ada yang kurang dalam hidupku."


"Cinta? Apa itu? Nggak butuh tuh."


"Ayolah. Harus dengan apalagi agar kau mau kembali rujuk denganku?"


 Sahrial tiba-tiba berlutut depan gue. Duh, gue jadi malu dilihatin orang. "Apaan sih, mau diliatin orang."


"Aku nggak akan berdiri sampai kamu mau rujuk denganku. Atau gini deh, aku ikhlas jadi babu atau ngapain aja kalau kamu mau rujuk sama aku," lanjutnya lagi.


Tawarannya menggiurkan sekali. "Yang bener? Buktinya apa? Ntar lu tahu-tahu kabur ke diskotek dan minta cerai lagi."


"Sumpah, kali ini nggak gitu lagi. Kalau aku ngelakuin hal itu lagi, aku siap dipenjarain."


"Bener ya? Gue pegang kata-kata lu."


"Jadi mau rujuk nggak nih?"


"Bolehlah. Dengan satu syarat lu jadi abdi gue seumur hidup."


***


Gue kembali pulang ke rumah bersama Sahrial. Seketika raut wajah Sahrial memucat.


"Astaga, ini rumah atau kapal pecah? Berantakan banget."


Gue menyengit kuda. "Abis gimana, ART gue kena Omicron. Lagi isoman di lantai atas. Kan tau sendiri gue tipe cewek males beberes rumah. Nah, sekarang lu buktiin ucapan lu yang rela jadi babu gue seumur hidup. Sana beresin semua."


"Dih, males banget aku ngerjain kerjaan rumah," gerutu Sahrial pelan.


Gue melotot. "Apa lu bilang?"


Sahrial menyengir kuda. "Eh, nggak. Tadi aku bilang, iya aku beresin."


Dia pun mulai mengambil baju-baju kotor terus membawanya ke belakang. Abis itu dia memunguti sampah makanan dan menyapu.


Gue senyum-senyum sendiri melihat ekspresi Sahrial manyun mengerjakan pekerjaan rumah. Gue tahu banget dia terpaksa melakukannya. Gue kerjain ah. Biar dia makin kesal.


Saat dia mengepel, gue mondar-mandir bikin becek hasil pel dia.


"Kau ngapain mondar-mandir? Kotor lagi kan? Kerjaanku nggak beres-beres ini."


"Oh, mulai protes. Ya udah kita balik cerai aja."

__ADS_1


"Eh, jangan dong. Iya … iya, kamu mondar mandir sampai 100 kali juga nggak masalah kok. Tetep aku bersihin lagi," celetuk Sahrial dongkol. Namun, dia nggak ada pilihan lagi.


Yes. Betapa bahagianya hatiku jika Sahrial seperti ini setiap saat. Nggak jadi janda seminggu eh dapat bonus babu gratis. Hahaha.


__ADS_2