Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 43


__ADS_3

Wira terlihat mondar-mandir di ruang tamu apartemennya. Resah dan gelisah menyerang pikirannya. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, tetapi Naina masih belum menunjukan batang hidungnya. Terlewat lima jam dari terakhir kali ia melihat Naina menunggu di depan kantor RD Group.


Berdiri di depan jendela, Wira menatap langit Jakarta yang masih diselimuti awan hitam. Kilat dan petir menyambar berulang kali. Begitu terang, membelah cakrawala malam. Hujan belum berhenti sejak sore, semakin malam titik-titik air itu bagai disiram dengan gayung raksasa.


Wira yang baru saja pulang dan membersihkan diri, setelah sebelumnya tertahan di rumah Stella tampak semakin gusar saat halilintar menyambar gedung-gedung pencakar langit dengan suara menyeramkan dan menggelegar.


“Rim!”


“Rim!” Wira mengetuk kamar pengasuh putrinya dengan perasaan tidak tenang.


Tak lama, muncul Rima dengan wajah mengantuk di balik pintu. Wira bisa melihat Wina putrinya sedang tertidur pulas.


“Apa Ibu menghubungimu lagi?” tanya Wira.


Rima menggeleng. “Terakhir pukul delapan malam. Ibu cuma berpesan kalau pulang terlambat. Taksinya terjebak banjir dan harus menunggu air surut. Ditambah macet juga.” Rima menjelaskan.


“Baiklah. Tolong temani Wina, petirnya kencang sekali. Jangan sampai dia terbangun dan kaget,” ucap Wira berpesan.


Berjalan menuju ke kamar, Wira mencari ponselnya. Ia harus menghubungi Naina dan mencari tahu apa yang terjadi. Jantung Wira berdetak kencang saat sambungan telepon terhubung dengan kotak suara.


“Ponselnya tidak aktif!” ucap Wira setengah frustrasi.


“Kamu di mana, Nai? Apa baik-baik saja,” ucap Wira pelan. Khawatir tampak nyata di mata bening pria itu. Teringat Naina yang menunggu sendirian di tengah hujan, lima jam yang lalu.


Kembali tangannya mengusap layar gawai hitam keluaran terbaru yang tadi dilemparnya di atas tempat tidur. Bermaksud mengirim pesan, bola mata Wira terbelalak saat mendapati sebuah pesan teks dari Naina yang belum sempat dibacanya. Dikirim pada pukul 19.55.


Mas, aku terjebak macet dan banjir. Tidak tahu jam berapa baru sampai ke apartemen. Bisa tolong pulang lebih cepat? Aku titip Wina.


Wira menjatuhkan tubuh kekarnya yang terbalut bathrobe ke atas tempat tidur empuknya. Rasa sesal menyerang, saat bayangan Naina yang berdiri sendirian itu kembali hadir di pelupuk matanya.


“Harusnya aku menawarinya pulang bersamaku,” ucap Wira lirih.


“Brengsek kamu, Wir!” Wira melempar bantal bulu angsanya ke lantai. Memejamkan mata, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Terselip doa di dalam hati, semoga Naina baik-baik saja.


***


Mencoba memejamkan mata ditemani suara rintik hujan, Wira hampir menggila saat terbangun dan menatap jam di nakas sudah menunjukan pukul 01.20 dini hari. Sudah lewat tengah malam.


“Apa dia sudah pulang?” Wira yang sempat tertidur, buru-buru keluar dan mencari keberadaan Naina. Kembali menghubungi Naina, tetapi hasilnya tetap sama. Ponsel Naina masih belum aktif.

__ADS_1


Kalau tadi ia bisa sedikit tenang, sekarang panik itu sudah tidak tertahankan. Menggedor kamar pengasuh Wina, Wira hampir putus asa saat mendapati Naina belum kunjung pulang.


“Apa Ibu menghubungimu, Rim?” tanya Wira, berjalan menuju ke kamar tidur Naina. Netranya tertuju pada tempat tidur yang masih licin dengan bantal tersusun rapi.


“Belum, Pak.” Rima menggeleng.


“Ya sudah. Aku titip Wina. Aku akan mencari Naina.”


Wira berlari ke kamar, mengganti pakaiannya. Tak lama, ia sudah keluar dengan kaos dan celana jeans hitam. Jaket kulit menyempurnakan penampilan pria yang sedang menyambar kunci mobil di atas lemari di samping pintu.


Begitu pintu apartemen terbuka, wajah tenang Wira berubah santai. Dari arah lift ia melihat Naina, basah kuyup dengan tubuh menggigil kedinginan berjalan ke arahnya. Bibir perempuan dengan rambut basah itu membiru, wajahnya pucat. Berjalan pelan tanpa alas kaki, dengan kedua tangan terlipat di dada.


“Mas ... maaf aku pulang terlambat. Ponselku kehabisan baterai, tidak bisa mengabarimu lagi,” ucap Naina dengan suara gemetaran. Mata sayunya menatap sosok membeku di tengah pintu.


Hening sesaat, Wira terpaku di tempat. Butuh beberapa menit untuknya sebelum tersadar. Kedua sudut bibir Wira melengkung ke atas saat melihat kehadiran Naina yang nyata di depan matanya. Bukan hanya sekedar fatamorgana.


“Aku mengkhawatirkanmu, Nai,” ucap Wira, menghambur memeluk Naina. Didekapnya erat tubuh basah kuyup dengan tetesan air mengumpul di dekat mata kaki.


“Apa yang terjadi? Kenapa sampai basah begini?” tanya Wira, mengeratkan pelukannya pada tubuh ringkih mantan istrinya. Dikecupnya pelan rambut basah Naina, membuang cemas yang menguasainya beberapa jam terakhir.


“Maafkan aku, Mas.” Naina berbisik pelan di sela pelukan hangat Wira.


***


“Belum, nanti aku memasak mi instan saja,” sahut Naina, sibuk mengeluarkan isi tasnya. Ada dompet, sisir, ponsel dan beberapa peralatan wanita lainnya.


“Apa yang terjadi, Nai?” tanya Wira, sibuk mengeringkan rambut basah Naina dengan handuk putih.


“Banjir, taksinya mencari jalan dan berkeliling. Bukannya tambah dekat, malah semakin menjauh dari rumah, Mas.” Naina bercerita sembari mengusap ponselnya dengan tisu.


“Ujung-ujungnya ... tetap saja tidak bisa lewat. Aku harus menunggu sampai banjirnya surut. Ditambah lagi macet. Akhirnya aku putuskan jalan kaki, menembus banjir,” lanjut Naina.


“Ya Tuhan, aku takut terjadi sesuatu padamu.” Wira tiba-tiba memeluk Naina dari belakang. Didekapnya tubuh basah itu dengan penuh perasaan.


“Maafkan aku, Mas. Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir,” ucap Naina merasa bersalah.


“Mandi air hangat sekarang!. Aku akan memasak mi instan untukmu,” titah Wira.


“Hah!” Naina terkejut. Ia bisa merasakan pelukan Wira semakin erat.

__ADS_1


“Mandi sekarang, nanti sakit.” Wira menjatuhkan dagunya di atas pucuk kepala Naina.


“Ya, Mas.” Naina menurut tanpa banyak protes. Bergegas ke kamarnya, mengikuti semua perintah Wira.


Kelegaan terlihat nyata di wajah Wira. Netranya menatap punggung Naina yang berjalan menjauh dan menghilang di balik pintu kamar.


“Aku tahu ... perjuanganku tidak akan mudah seperti pertama mendekatimu, tetapi aku akan tetap berjuang untukmu dan Wina. Sampai kamu sendiri yang mengusirku dari dalam hidupmu.” Wira tersenyum licik. Pandangannya beralih pada tumpukan isi tas Naina yang basah.


“Dompetnya masih sama,” ucap Wira pelan, meraih tempat penyimpanan uang Naina yang berwarna cokelat muda. Ia ingat membeli benda persegi panjang itu saat bulan madu ke Paris.


Pria muda itu tertegun saat melihat isi dompet Naina yang biasanya penuh dengan kartu dan tumpukan uang merah itu sekarang tipis. Hanya sebuah kartu atm dan selembar uang kertas pecahan lima puluh ribu rupiah dan beberapa lembar ribuan yang ikut basah.


“Ya Tuhan ... bagaimana ia melewati hidupnya selama ini dan membawa seorang anak.” Wira menggeleng. Ia tidak sanggup membayangkan, seberapa sulitnya hari-hari yang dilewati Naina dan putrinya.


“Terlalu egois kalau aku mengatakan kalau aku adalah korban dari perceraian ini. Hidupku bergelimang harta, aku bisa mendapatkan semuanya dengan sekali kedipan mata. Aku masih mendapatkan dukungan dari kedua orang tuaku. Pekerjaanku sukses, dengan kehidupan mewah. Aku bisa menunjuk wanita mana pun yang aku mau. Lalu bagaimana dengannya?” Wira tertegun sejenak sebelum akhirnya mengeluarkan dompet mahalnya dan memenuhi dompet Naina dengan tumpukan uang merah.


***


Semangkuk mi instan itu masih mengepulkan asap saat Wira menyajikannya di atas meja makan. Ia sedang menunggu Naina keluar dari kamar dan menyantap mi instan pertama yang dibuatnya sejak menjadi duda. Ia sudah tidak pernah masuk ke area dapur. Semua pekerjaan rumah diurus asisten. Wira lebih banyak makan di restoran atau pesan makanan dari aplikasi online.


“Nai, makananmu sudah siap,” ucap Wira saat melihat Naina keluar dengan piyama tidur. Rambut panjang itu masih basah, disisir seadanya.


“Mas, apa Wina rewel?” tanya Naina sembari menjatuhkan bokong di atas kursi makan.


“Tidak. Anak itu tidur dengan tenang.”


“Mas tidak makan?” tanya Naina, menggulung mie dengan garpu dan memasukannya ke dalam mulut.


“Aku sudah kenyang. Tadi makan di rumah Stella. Hujannya lebat, Mama Stella menawariku makan malam bersama mereka.” Wira bercerita, sengaja memancing reaksi Naina.


“Apa ada masalah dengan Stella?” tanya Naina, kembali memasukan mi ke dalam mulutnya.


“Papanya masuk rumah sakit, tetapi kondisinya sudah membaik.”


“Oh, Mas serius tidak mau?” tawar Naina lagi sambil mengunyah. Ia mendongak, menatap Wira yang berdiri di sampingnya.


“Biarkan aku mencobanya sedikit,” ucap Wira tersenyum. Pria itu membungkuk dan tiba-tiba mencium bibir merah delima Naina. Menyapu belahan bibir tipis itu perlahan, sembari menikmati rasa kuah mi yang tersisa.


Naina tertegun. Tangannya yang menggenggam garpu melemas, alat makan stainless itu terlepas dari tangannya, menimbulkan dentingan kencang saat beradu dengan mangkuk keramik. Canggung itu nyata, rasanya sudah berbeda, tetapi ciuman itu sanggup membuat otaknya menggali kembali semua kenangan manisnya dengan Wira. Kenangan yang dikuburnya dalam-dalam pasca perceraian.

__ADS_1


***


Tbc


__ADS_2