Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 63


__ADS_3

Dennis menyimak rentetan cerita yang lolos dari bibir Rima. Otaknya sedang merangkai potongan-potongan kisah, dari awal sampai pada akhirnya tangan pria itu mengepal. Buku-buku di ruas jarinya terlihat memutih. Wajah datar seketika berubah, garis rahang mengeras dengan urat-urat biru menonjol di pelipis putihnya. Bahkan mata Dennis memerah, berusaha menahan amarah saat Rima menceritakan malam di mana ia melihat Naina terlelap dalam keadaan polos dan memastikan ada seorang pria sedang bermain air di dalam kamar mandi.


Kemeja Wira yang teronggok di lantai dan mobil mewah terparkir di halaman rumah seakan menguatkan semuanya. Wira adalah pelaku yang sudah membuat Naina sampai hamil tujuh minggu.


"Berapa kali kamu melihatnya?" Terdengar suara berat Dennis.


"Hanya sekali saja, Pak. Ta-tapi aku sempat melihat mobil Pak Wira keluar tengah malam sebelumnya. Sekitar jam satu atau jam dua dini hari. Kebetulan Pak Wira memegang kunci rumah, jadi leluasa keluar masuk tanpa mengetuk." Rima menjelaskan.


"Kamu ingat kejadiannya kapan, Rim?" tanya Dennis lagi.


"Pastinya sudah lupa, Pak. Yang jelas sebulan yang lalu," sahut Rima ragu-ragu.


"Kurang ajar!" Tangan terkepal dengan garis wajah mengerikan itu sontak membuat Rima menciut. Ia belum pernah melihat sisi menakutkan Dennis.


"Ma-maaf, Pak. Bisa saja aku salah ...." Rima berusaha untuk tidak terlibat. Ia rasanya meralat dan menutup mulut saja kalau tahu reaksi Dennis akan seperti ini. Rima merutuki dirinya sendiri.


"Berapa nomor ponsel Wira, berikan padaku! Aku harus bicara dengannya. Kalau memang dia pelakunya aku akan ...." Dennis tidak melanjutkan kalimatnya, menatap Rima dengan sorot mata mengerikan.


"Maafkan aku, Pak. Bisa saja aku salah lihat, mungkin aku mengantuk dan ....”


"Cukup! Tidak perlu berputar-putar. Berikan padaku! Aku janji tidak akan melibatkanmu." Dennis menyodorkan tangannya, menunggu Rima mengeluarkan ponsel.


Ragu-ragu, tetapi akhirnya Rima menyodorkan benda pipih itu pada Dennis. Tak butuh waktu lama untuk mengacak-acak ponsel sederhana milik Rima, Dennis sudah berhasil mendapatkan nomor kontak Wira.


Nada sambung itu terasa lama sekali berkumandang di telinga Dennis, terdengar ia mengumpat saat panggilannya berakhir tanpa dijawab Wira. Mengulang kembali, ia menyeringai saat mendengar suara Wira dari seberang.


"Ya, siapa ini?" tanya Wira tenang.


"Dennis. Kamu di mana? Kita perlu bicara!" tegas Dennis berusaha tenang. Menghela napas berulang kali agar suaranya terdengar biasa, Dennis mengepalkan tangannya. Pria itu berusaha menahan amarahnya yang sudah di ubun-ubun.

__ADS_1


"Ada apa? Aku di tempat Mama." Wira menjawab santai, belum menangkap tujuan Dennis menghubunginya.


"Aku ke sana!" putus Dennis, buru-buru mematikan sambungan telepon.


Tanpa basa-basi, Dennis keluar rumah dengan emosi memuncak. Bahkan, ia tidak berpamitan dengan Naina. Langkah kaki lebar-lebar, tampang yang biasanya terlihat tampan jadi menyeramkan. Tak lama, Rima bisa mendengar suara deru mobil yang dilajukan dengan kencang. Bahkan menyerempet pot plastik di halaman rumah.


Rima hanya bisa tertegun, menatap kepergian Dennis. Butuh waktu untuknya menyadari lonceng bahaya sedang berdenting nyaring. Tersentak, Rima berlari menuju ke kamar Naina. Pengasuh itu menggedor keras pintu kamar majikannya. Ia lupa dengan Wina yang sedang bersamanya. Gadis kecil itu menangis terkejut.


"Bu ... Bu ....!" teriak Rima, menggerui pintu kamar tidur Naina tak beraturan.


"Bu, buka pintunya. Ada masalah besar," teriak Rima. Jantungnya bergemuruh, dadanya terasa sesak. Ia baru menyadari bisa saja ucapannya akan membuat Dennis mengamuk pada Wira. Ia tidak mau terlibat kalau sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


"BU! BUKA PINTUNYA!" teriak Rima. Ia sudah hilang akal, bahkan mengabaikan tangis dan jeritan Wina.


"Ada apa, Rim?" Naina menyembulkan wajah sembab dari balik pintu. Terlihat lesu, Naina hanya bisa meratapi nasibnya dan menangis sampai puas.


"Bu, Pak Dennis ... Pak Dennis." Rima panik.


"Gawat, Bu. Pak Dennis ... sepertinya akan bertengkar dengan Pak Wira. Wajah Pak Dennis saat keluar dari sini begitu mengerikan." Rima menjelaskan.


"Hah! Apa yang terjadi?" tanya Naina bingung.


"Begini, Bu ...." Rima mulai bercerita apa yang diketahuinya. Dari pertanyaan Dennis, sampai apa yang disampaikannya. Kejadian malam itu, dan bebeberapa kali memergoki mobil keluar dari kediaman mereka saat tengah. Semuanya tidak terlewatkan.


Tubuh Naina melemas di ambang pintu saat Rima menceritakan apa yang dilihatnya. Bagaimana ia tertidur pulas tanpa pakaian, Rima yang melihat kemeja Wira di lantai kamar. Semua berputar kembali, otak Naina sedang melakukan reka ulang adegan malam itu, membayangkan seperti yang diungkapkan Rima.


"Mas ...." Tubuh ibu hamil itu luruh, jatuh ke lantai. Kedua kakinya melemas, tidak sanggup menopang berat tubuhnya. Teringat beberapa kali ia bertemu dengan Wira dan berakhir ketiduran sampai keesokan pagi. Ia juga mengingat cairan yang sering keluar dari inti tubuhnya. Tentu saja ia kecewa, sedikit pun tidak menyangka kalau semua karena ulah Wira, mantan suaminya sendiri.


Tertegun, Naina duduk di lantai membayangkan semua perbuatan Wira. Kalau sebelumnya, ia bingung dengan nasibnya, sekarang ia kecewa dengan Wira. Pria yang sangat dipercayanya, tetapi tega melakukan perbuatan itu pada janda miskin sepertinya.

__ADS_1


"Bu ... Bu ...." Rima yang panik mengguncang pundak Naina. Terlihat pengasuh itu menggendong Wina.


"Bagaimana ini? Pak Dennis ... dan Pak Wira." Rima mengingatkan. Terselip iba di dalam hati saat melihat air mata yang mengucur deras di wajah cantik Naina.


Deg --


Kesadaran Naina kembali, terbayang pertumpahan darah yang sebentar lagi akan terjadi. Dennis ketika marah bisa lupa dengan semua hal, bahkan akal sehat pria itu ikut lenyap bersama emosi.


"Rim, titip Wina. Aku harus menemui mereka. Perasaanku tidak enak." Naina bergidik, terbayang beberapa tahun silam, Dennis pernah hampir menghabisi seorang pria yang mencoba mendekatinya dengan cara tidak sopan.


***


"Mas, angkat teleponnya," ucap Naina, berdiri di tepi jalan menunggu taksi. Ia panik membayangkan perkelahian yang mungkin terjadi antara Dennis dan Wira.


Saat itu, hari menjelang sore. Naina tak hentinya menghubungi Dennis. “Aduh, di mana kamu, Mas?" bisik Naina pelan dengan mata terpejam. Sudah belasan kali, tetapi panggilannya berakhir dengan kotak suara. Dennis tidak mau menerima panggilannya sama sekali.


"Apa aku hubungi Mas Wira saja," ucap Naina, meremas ujung gaun sederhananya. Tangannya dingin dan gemetar, jantung berdetak kencang.


Ada senyum kelegaan terukir di bibir Naina saat mendengar suara Wira. Di saat genting seperti ini, ia melupakan semua perasaan kecewanya pada pria itu.


"Mas, kamu di mana?" tanya Naina, mengatur napasnya.


"Di tempat Mama. Ada a ...." Ucapan Wira terhenti, tiba-tiba terdengar suara berisik yang tertangkap oleh pendengaran Naina.


"Nai, sudah dulu, ya. Aku akan menghubungimu nanti. Sepertinya Dennis datang mencariku." Wira memutuskan panggilan tanpa menunggu jawaban Naina.


"Mas, tunggu ... jangan dimatikan dulu," ucap Naina setengah berteriak.


***

__ADS_1


Tbc


__ADS_2