Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 23


__ADS_3

Wira berhasil membawa Naina masuk ke dalam lift tanpa perlawanan, meninggalkan Bara dan Stella tertegun di tempat sekaligus Pieter dengan wajah kebingungan. Sampai di dalam lift, Wira buru-buru menutup pintu, bahkan sebelumnya ia sempat mengusir dua orang karyawati yang ingin menumpang di lift yang sama.


“Mas ....” Naina menatap pergelangan tangannya yang masih digenggam erat Wira.


Begitu pintu tertutup rapat, Wira melepaskan tangan Naina buru-buru. Pria itu memberi jarak dan berdiri menjauh. Mereka sudah berpisah, tentu saja ia tidak mau membuat Naina berpikiran buruk padanya.


“Apa kabarmu, Nai?” tanya Wira membuka pembicaraan. Raut wajah dingin yang ditunjukan Wira sejak tadi, tiba-tiba mencair dan melunak. Senyum ramah dan hangat tersungging di bibir.


“Baik, Mas.” Naina menjawab singkat. Ia memberanikan diri menatap Wira sekilas. Kemudian menurunkan pandangan, menatap ujung sepatu hitamnya dengan tangan saling menggengam untuk menutupi kegugupan.


“Mas, apa kabarnya?” Naina balik bertanya.


Wira tersenyum kembali. Senyuman yang sama seperti tiga tahun lalu. “Seperti yang kamu lihat, Nai. Aku baik-baik saja. Hanya semakin tua. Tiga tahun berlalu. Aku pikir dunia akan hancur, ternyata hanya ketakutanku saja.” Wira mencoba berbasa-basi.


Percakapan mereka terhenti saat pintu lift terbuka, muncul dua orang karyawan di ambang pintu. Keduanya bersiap melangkah masuk, tetapi Wira yang berdiri tepat di depan pintu lift berusaha menahan.


“Maaf, cari lift yang lain saja!” Wira menekan tombol untuk menutup pintu lift kembali. Ia bahkan tidak peduli sudah mengganggu kenyamanan orang lain. Saat ini, ia merasa perlu bicara serius dengan Naina.


“Kenapa memyembunyikan tentang Wina dariku, Nai?” Tiba-tiba Wira menodongkan pertanyaan.


“Apakah begitu besar keinginanmu bercerai sampai menyembunyikan kehamilanmu,” lanjut Wira. Di kesempatan pertama, pria itu langsung menanyakan hal yang selama ini mengisi pikirannya. Dan sampai detik ini, ia belum menemukan jawaban.


“Maafkan aku, Mas. Aku tidak tahu kalau aku hamil saat kita bercerai. Aku baru mengetahuinya beberapa minggu setelahnya,” jelas Naina.


“Kamu sedang tidak berbohong padaku, kan?” tanya Wira menegaskan.


Naina menggeleng.


“Kenapa tidak memberitahuku setelah mengetahui kehamilanmu?” todong Wira lagi.


“Kita sudah bercerai.”


“Jadi karena kita sudah bercerai, aku tidak berhak lagi terhadap putriku. Bahkan sekedar mengetahui kabarnya?” tanya Wira.


“Maaf, Mas. Aku pikir Mas sudah bahagia bersama Nola dan ....”


“Cukup!” Wira mengangkat tangannya, meminta Naina menghentikan ucapannya.

__ADS_1


“Aku tidak mau membahas hal-hal tidak penting saat ini. Aku tidak peduli apa alasanmu, Nai. Yang terpenting bagiku saat ini kalau aku memiliki seorang putri. Wina benar putriku, kan?” tanya Wira.


Naina mengangguk. “Ya, Mas,” ucapnya pelan bersamaan dengan pintu lift terbuka kembali. Mereka sudah tiba di lobi dengan beberapa karyawan menunggu di depan pintu lift bersiap untuk masuk.


“Maaf, aku sedang membutuhkan lift ini. Kalian bisa naik lift yang lain atau tangga darurat!” ucap Wira, tidak memberi kesempatan.


“Mas ....” Naina protes setelah melihat Wira menekan tombol lift supaya menutup kembali. Kali ini tujuannya adalah lantai paling atas, tempat di mana ruang rapat berada.


“Masih ada yang ingin aku bicarakan, Nai,” jelas Wira.


Naina tertunduk, tidak banyak protes. Tiga tahun berpisah dari Wira, ia menghadapi banyak hal sendirian. Menangis dan tertawa dalam waktu bersamaan. Ada banyak pelajaran yang didapatnya di dalam perjalanan hidup yang sulit dan berliku.


“Aku ingin bisa bertemu dengan Wina setiap saat tanpa harus meminta izin denganmu terlebih dulu, Nai. Aku ingin memiliki hak yang sama terhadap Wina. Aku akan membiayai semua kebutuhan Wina, jangan sungkan untuk meminta padaku. Aku tidak keberatan, Nai.” Wira menjelaskan semua yang ada di pikirannya.


Pria itu menghela napas kasar. Tatapannya begitu sayu, tertuju pada Naina. Terselip iba saat melihat Naina yang berdiri menunduk. Seperti tidak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa.


“Ya ....” Naina mengangkat pandangannya sekilas.


“Ajak Wina pindah ke rumah yang lama. Itu milikmu. Jangan tinggal di kontrakan itu lagi. Aku akan meminta orangku merapikannya. Itu sudah lama tidak ditinggali, butuh sedikit perbaikan,” pinta Wira. Tidak sanggup mengatakan terus terang kalau kontrakan yang sekarang dihuni Naina benar-benar tidak layak untuk putrinya. Namun Wira memilih menyembunyikan pendapatnya itu. Ia tidak mau Naina tersinggung. Walau bagaimanapun putrinya dibesarkan, ia harus mengucapkan terima kasih pada Naina.


“Lakukan untuk Wina. Semua ini juga untuk kebaikan Wina. Aku mohon.” Nada bicara Wira sedikit melunak.


“Em ... Mas tinggal di mana?” Naina memberanikan diri bertanya. Sengaja mengalihkan pertanyaan.


“Aku tidak tinggal di sana lagi. Aku tinggal di apartemen sekarang. Pria single sepertiku akan lebih mudah tinggal di apartemen. Ada yang mengurus semuanya, aku tidak perlu repot-repot.”


“Maaf ....”


“Kenapa meminta maaf?” Wira terkekeh untuk pertama kalinya setelah obrolan panjang mereka.


“Kita sudah lama bercerai, aku sudah mulai melupakan semuanya, Nai. Aku tidak mau mengingatnya lagi. Aku tidak mau mengungkitnya lagi. Aku sudah tidak peduli siapa yang bersalah dan harus bertanggung jawab di sini. Yang terpenting sekarang adalah Wina. Dia membutuhkan ayah dan ibunya, bersama atau terpisah.”


Naina kian menunduk. Semakin sikap Wira seperti ini, ia semakin merasa bersalah. Tadinya, ia berpikir Wira akan memarahinya, membencinya atau sudah melupakannya. Namun, ia salah. Wira mengingat semua.


“Mas, maafkan aku. Aku tahu, aku salah. Aku sudah begitu keras kepala dan tidak mau memberimu kesempatan.”


“Ya, aku juga bersalah banyak padamu, Nai. Aku sudah tidak mempermasalahkan lagi. Saat ini Wina adalah prioritasku. Aku berharap kamu bersedia mengenalkanku padanya.” Wira tersenyum.

__ADS_1


“Ya, Mas.” Naina mengangguk.


“Terima kasih, Nai.” Wira berjalan mendekat dan tiba-tiba memeluk Naina.


Pelukan singkat, bahkan Naina belum bereaksi sama sekali, tetapi Wira sudah melepaskannya. Terlalu terkejut dengan perlakuan Wira, jantung Naina berdetak kencang. Ia hampir tumbang saat bisa menghirup aroma Wira. Ia kehabisan kata-kata, setelah tiga tahun tidak merasakan kehangatan dekapan Wira, sekarang ia merasakannya lagi.


Hanya saja sentuhan itu berbeda. Dekapan dan pelukan Wira sudah tidak sama seperti biasanya. Tatapan itu sudah berubah. Naina tidak menemukan lagi tatapan penuh cinta seperti tiga tahun yang lalu untuknya di mata Wira.


Ting! Bunyi pintu lift terbuka untuk kesekian kalinya.


“Aku akan menemui Wina nanti malam di kontrakan. Ada banyak hal yang ingin aku ketahui, Nai. Semoga kamu tidak keberatan. Aku berjanji tidak akan membuatmu terganggu.” Wira berkata pelan.


Pandangannya beralih pada Pieter dan Stella yang sudah menunggu di depan pintu lift.


“Mbak Naina, terima kasih untuk penjelasannya. Senang berkenalan dengan anda.” Wira menyodorkan tangannya.


“Ya, Pak Wira.” Naina menyambut uluran tangan Wira. Kemudian buru-buru melepas dan keluar dari dalam lift.


“Mari Pak Pieter, Ste. Aku pamit dulu,” ucap Wira, setengah membungkuk. Ia memilih tetap berada di lift dan membiarkan Naina yang keluar.


“Tunggu, Mas.” Stella menahan pintu dan bergegas masuk ke dalam lift. Naina tertegun saat mendengar sapaan Stella pada Wira. Panggilan yang tidak biasa untuk pria dan wanita kalau memang hanya sebatas rekan kerja. Naina masih sempat melihat pintu lift itu tertutup bersamaan dengan senyum hangat Wira.


*“Ada hubungan apa antara Stella dan Mas Wira. Apa mereka dekat?” *batin Naina.


“Ada hubungan apa kamu dengan Pak Wira, Angel?” tanya Pieter. Sejak tadi, Pieter sudah merasakan gelagat aneh asistennya. Bahkan sejak di dalam ruang rapat, Naina tampak berbeda.


“Hah? Tidak ada, Pak.”


“Jangan katakan kamu menyukainya, Angel. Aku terancam patah hati.” Pieter terbahak.


“Hah?”


“Satu tahun kita bersama, Angel. Jangan katakan kamu jatuh cinta pada pria itu hanya dalam waktu beberapa menit saja. Ini tidak adil. Aku sudah menyerahkan semuanya padamu dan sekarang setelah kamu mendapatkan semuanya, kamu mau pergi begitu saja,” ungkap Pieter kembali tertawa.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2