
Wira resah, menunggu di depan pintu lift. Berulang kali menekan tombol agar lift terbuka dan bisa segera membawanya turun ke basement. Ia hampir gila menyadari kesalahannya. Harusnya, seberapa kecewanya ia pada Naina, tidak perlu sampai meninggalkan wanita hamil itu di kantor. Andai ia tidak ceroboh, semua ini tidak akan terjadi.
Bayangan masa lalu itu kembali berputar tidak karuan. Ia takut kehilangan bayinya lagi. Ia tidak mau sampai Naina keguguran. Bukan itu tujuannya. Ia hanya sedang kecewa, kesal dan sakit hati pada Naina, bukan benar-benar menghempaskan Naina dari dalam hidupnya.
Ting!
Bunyi pintu lift terbuka, sedikit melegakan perasaan Wira. Jantungnya berdegup kencang menatap pintu yang kian melebar dan ...
Deg--
Wira membeku, kakinya bagai terpaku saat netranya tertuju pada wanita penghuni lift. Sosok yang membuatnya hampir kehilangan kewarasan sejak tadi tengah berjalan keluar dari lift dengan wajah datar.
"Kenapa terlambat?" Wira bersuara. Ia berusaha menyembunyikan panik dengan bersikap tenang. Tanpa menunggu jawaban, pria itu berjalan kembali menuju unitnya dengan tangan kanan terselip di saku celana. Kekhawatiran lenyap setelah memastikan Naina baik-baik saja. Bayangan mimpi buruk itu terhempas dengan sendirinya.
"Aku terjebak macet." Naina menjawab pelan, menatap punggung Wira yang berjalan di depannya.
"Maaf ... membuat kalian khawatir," lanjut Naina, mengekor di belakang.
"Tidak, Wina sejak tadi menangis mencarimu." Wira menjawab tanpa melihat ke lawan bicaranya.
Hanya itu saja, tidak ada lagi komunikasi selebihnya. Wira tetap melakukan aksi tutup mulut dan tidak peduli. Mengunci diri di dalam kamar setelah menyelesaikan makan malam singkat. Dan Naina, ibu hamil muda itu juga melakukan hal yang sama. Tidak banyak bicara, memilih menghabiskan malamnya bersama Wina.
Semua orang seakan paham dengan perang dingin yang terjadi antara Wira dan Naina. Tidak ada yang bertanya kenapa ... mengapa, hanya Wina yang sempat melontarkan kalimat sederhana sebelum memejamkan mata sambil memeluk erat bundanya.
"Bunda, mau bobok cama Ayah."
"Sstt ... bobok di sini sama Bunda. Ayah sedang tidak bisa diganggu. Nanti kalau Ayah sudah tidak sibuk lagi, baru kita bobok sama Ayah." Naina menjelaskan sembari menepuk bokong putrinya.
***
Hari-hari berlalu, Wira tetap diam dan tak mau bicara. Pria itu memberi jarak dan hanya mau membuka diri pada Wina. Hanya gadis kecil itu yang sanggup mencairkan hatinya yang beku. Sebelum berangkat ke kantor, Wira hanya menyapa dan berpamitan dengan putrinya. Hal itu juga berlaku setelah ia pulang kerja. Menemani Wina setelah makan malam adalah agendanya, sebelum akhirnya kembali ke kamar dan beristirahat.
Naina cukup tahu diri di mana tempatnya. Biasanya ia akan menyingkir saat Wira menghabiskan waktu bersama Wina. Ia tahu, kehadirannya tidak diharapkan. Naina lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, mengurus persiapan tokonya yang sebentar lagi akan dibuka.
Pagi itu, setelah memastikan Wira berangkat ke kantor, Naina pun bersiap. Rencananya, hari ini ia akan menemui owner salah satu brand pakaian bayi dan anak-anak. Tadinya, Naina akan menjual pakaian orang dewasa, tetapi setelah menimbang banyak hal termasuk Wina dan kehamilannya saat ini, akhirnya Naina memutuskan menjual produk pakaian bayi dan anak-anak. Ke depannya mungkin ia akan melengkapi tokonya dengan menjual pernak-pernik untuk bayi, anak-anak, ibu hamil dan menyusui.
__ADS_1
Naina yang sudah rapi terlihat berpamitan dengan Wina dan Rima. Ia harus segera berangkat, tidak mau menghabiskan waktu. Lebih cepat pergi, ia bisa segera kembali. Naina tidak mau meninggalkan Wina terlalu lama. Andaikan ini bukan untuk bertemu seseorang, Naina memilih untuk membawa Wina bersamanya.
Ibu muda itu baru saja melangkah keluar dari unit apartemennya saat William menyapanya.
"Pagi, Bu."
"William? Ada apa pagi-pagi ke sini?" tanya Naina heran.
"Mas Wira ... baru saja berangkat ke kantor," lanjut Naina lagi.
"Ya, Bu. Aku tadi sempat bertemu dengan Pak Wira." William tersenyum. "Tapi aku ditugaskan untuk mengantarkan Ibu. Kata Pak Wira, Ibu ada janji bertemu dengan seseorang pagi ini." William menjelaskan alasan kemunculannya yang tiba-tiba.
"Bagaimana bisa?" tanya Naina heran. Selama ini ia dan suaminya tidak pernah berkomunikasi, bagaimana bisa Wira mengetahui banyak hal tentangnya, termasuk apa yang dilakukannya.
"Bisa saja, Bu. Suamimu itu luar biasa. Dia sangat mencintaimu di balik sikap menyebalkannya." William mencoba mengurai suasana kaku dengan sedikit melemparkan canda.
"Ya sudah." Naina menurut, berjalan mendahului. Ia tahu, tidak mungkin bisa menolak William. Asisten itu hanya bekerja dan menuruti perintah Wira. Kalau ia tidak menuruti semuanya, William yang akan kena getahnya.
Berjalan bersama menuju lift yang akhirnya mengantar mereka ke parkiran mobil di bawah gedung, Naina terbelalak saat melihat vellfire putih dengan nomor polisi N 41 NA.
"Ya, Bu. Ada apa?" tanya William mengulum senyuman.
"Sejak kapan? Kenapa aku tidak tahu?" Naina kebingungan.
"Sudah terparkir di sini sejak beberapa hari yang lalu. Itu hadiah dari Pak Wira untuk Ibu. Di sana juga ada milik Non Wina." William menunjuk ke arah mini cooper merah keluaran terbaru dengan nomor polisi W 1 NA yang terparkir tidak terlalu jauh dari mereka.
"Mobil merah yang lama sudah dijual. Diganti yang baru. Sekarang aku ditugaskan Pak Wira untuk mencari dua orang sopir. Untuk Ibu dan Non Wina. Selain itu ... aku juga diminta mencari asisten rumah tangga dari yayasan." William menjelaskan.
"Ya Tuhan. Untuk apa Mas Wira membeli mobil sebanyak ini?" Naina menutup mulutnya yang terbuka lebar. Ia hampir tidak percaya dengan yang dilihatnya. Ia tidak mempermasalahkan mengenai sopir dan pembantu, tetapi untuk apa menambah mobil. Ia tidak keberatan harus menggunakan mobil yang ada.
"Mobil-mobil ini sudah dibeli Pak Wira sebelum menikah. Bapak memintaku menyediakan dua unit mobil untuk istri dan putrinya." William masih berdiri di pintu, menjelaskan semua pada Naina.
"Ta-tapi ... apa ini tidak berlebihan?" Naina kembali bertanya.
William tersenyum. "Pak Wira memang menyukai mobil. Bapak menghabiskan uangnya di mobil, dari supercar sampai hypercar. Biarkan saja, Bu. Masih lebih baik Bapak selingkuh dengan mobil-mobilnya dibandingkan selingkuh dengan wanita di luar sana. Ayo masuk sekarang, Bu."
__ADS_1
Menjatuhkan tubuhnya di kursi mobil, Naina masih tidak habis pikir dengan suaminya. Pria itu begitu dingin padanya. Bahkan, Wira tidak mau melihatnya. Setiap mereka bertemu tanpa sengaja, Wira akan membuang pandangan. Namun, dibalik semua itu, Wira menyiapkan banyak hal untuknya.
"Will, untuk apa membeli banyak mobil. Apalagi aku melihat mini cooper merah. Bukankah maksudnya itu untuk Wina?" tanya Naina setelah memastikan plat nomornya.
"Ya, Bu. Pak Wira memintaku mencarikan sekolah untuk Wina." William bersuara, sembari mencengkeram kemudi mobil baru yang masih mengeluarkan aroma khas pabrik.
"Hah? Wina masih kecil. Untuk apa mengirimnya ke sekolah?" Naina terbelalak akan rencana Wira yang tidak didiskusikan dengannya. Sebelumnya sempat terjadi perbincangan mengenai sekolah Wina, tetapi belum sampai kata sepakat, ia dan Wira terlanjur berperang.
"Tanyakan saja pada Pak Wira, Bu. Aku hanya menjalankan perintah. Diminta mencari sopir, aku carikan. Diminta mencari sekolah, aku kerjakan. Diminta mengantar Ibu, aku juga siap melaksakan." William tersenyum. Tampak ia mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya. Sebuah amplop putih disodorkannya pada Naina.
"Dari Pak Wira, buat modal untuk usaha Ibu." William menjelaskan.
Deg-- Naina menoleh ke samping, menatap William. Ragu-ragu, ia meraih amplop putih dari tangan sang asisten.
"Tanyakan pada Pak Wira saja, Bu. Aku tidak tahu apa-apa." William berbicara, seolah mengerti akan kebingungan Naina.
Ibu hamil dengan gaun merah muda selutut itu masih menolak percaya. Setelah beberapa hari tidak berkomunikasi dengan Wira, akhirnya Naina mencoba menghubungi suaminya untuk mencari tahu. Tepat di deringan ketiga, suara maskulin Wira menggema dari ponselnya.
"Ya, ada apa?"
Suara Wira masih sedingin biasa. Tidak ada kelembutan sama sekali.
"Mas, aku ... sudah bersama William." Naina membuka pembicaraan.
"Oh ... itu tanggung jawabku sebagai suami dan seorang ayah. Tidak perlu berpikir terlalu jauh." Wira menjelaskan tanpa diminta.
"Ya, Mas. Aku ...." Naina tidak melanjutkan kalimatnya saat mendengar suara wanita asing menyapa.
"Morning, Babe. Untuk apa mengajakku bertemu sepagi ini?"
Naina menggigit bibir. Terbayang saat ini suaminya sedang bersama dengan wanita lain. Entah apa yang sedang dikerjakan Wira dengan wanita itu sepagi ini. Mendengar cara menyapa yang tidak biasa dengan suara manja, Naina yakin wanita itu bukanlah wanita biasa. Kalau tidak ada hubungan apa-apa, tidak mungkin wanita itu menyapa dengan panggilan sayang.
"Sudah dulu. Aku masih ada urusan dengan Sheilla."Tiba-tiba Wira memutuskan panggilannya.
***
__ADS_1
Tbc