
Wira tersenyum saat Naina membahas salah satu kenalan wanitanya. Pertanyaan istrinya itu seakan menunjukan kecemburuan. Tentu saja kalau itu adalah kebenaran, Wira akan bahagia sekali.
Memeluk erat istrinya, Wira membisikan sesuatu di telinga Naina untuk menenangkan.
"Aku tidak tahu, Nai. Dia bisa saja ikut kalau ada salah satu kenalanku membawanya. Bisa saja absen kalau jadwal kerjanya sedang padat. Satu hal yang bisa aku pastikan ... aku tidak terlalu dekat dengannya. Tapi, dia cukup dikenal di klab. Rata-rata ... teman-temanku mengenalnya dan sering diajak bergabung setiap ada event.
Naina hanya bisa meredam cemburu yang bergejolak di hatinya dalam diam. Sebagai istri, tentu saja rasa itu muncul dengan sendirinya. Apalagi ia melihat sendiri bagaimana gadis itu menempel pada sang suami.
"Jangan pulang malam, Mas."
"Ya, aku akan pulang secepatnya begitu acara selesai. Jaga diri baik-baik. Kalau merasa sesuatu yang tidak biasa, segera hubungi Papa atau Kevin. Aku sudah berpesan pada keduanya." Wira berpesan.
Naina mengangguk sembari membenamkan wajah bantalnya di dada Wira.
"Kalau bukan karena Panji, aku pastikan tidak menghadirinya. Aku benar-benar tidak bisa menolak. Dia datang sendiri bersama calon istrinya mengantar undangan pernikahan." Wira menjelaskan.
"Ya, Mas. Aku mengerti."
"Ya, sudah. Aku berangkat dulu. Wina masih tidur?" tanya Wira.
"Masih, Mas. Semalaman anak itu tidurnya tidak lelap. Sebentar-sebentar terbangun." Naina menjawab sambil mengikuti langkah suaminya.
"Nanti malam biarkan Wina tidur bersama kita," putus Wira.
Berjalan menuju ke kamar putrinya, Wira masih saja menggenggam tangan Naina. Ia baru melepaskan istrinya setelah berdiri di samping tempat tidur. Tampak Wina terlelap memeluk guling kecilnya.
"Jangan sampai terbangun, Mas. Kasihan dia pasti mengantuk." Naina mengingatkan saat melihat Wira membungkuk dan mengecup pipi putrinya.
"Ya, Sayang. Aku berangkat dulu." Wira menjawab setelah selesai dengan Wina.
Naina mengangguk.
"Kamu tidak memberiku kecupan?" bisik Wira tersenyum menggoda. Pria itu baru saja sampai di pintu tetapi ia berbalik memandang Naina.
Ragu-ragu, Naina berjalan mendekat. Wajah ibu hamil itu bersemu merah saat menempelkan bibirnya pada bibir Wira.
"Cepat pulang. Aku menunggumu. Jangan dekat-dekat dengan gadis itu. Aku tidak menyukainya." Naina berbisik pelan. Ia malu-malu, berbalik dan menyembunyikan rona di pipinya.
__ADS_1
***
Sepanjang hari Naina uring-uringan. Mood ibu hamil itu berubah-ubah. Ponsel tidak pernah lepas dari genggamannya. Sudah tidak terhitung berapa kali ia menghubungi Wira sejak pagi.
Hari menjelang sore saat Naina meluruskan kakinya di sofa, melewati detik-detik yang terasa berjalan lambat dengan menonton televisi. Wina seharian ini menghabiskan waktu bersama Nonik. Memiliki teman bermain, gadis kecil itu tidak mencari Naina sama sekali.
Ratih, istri muda Papa Wira itu tampak sibuk di dapur membuat kue bolu kesukaan Naina dibantu asisten rumah. Perempuan yang usianya masih terbilang muda itu tidak mengizinkan Naina membantu.
Kembali menempelkan gawainya di telinga, Naina menghubungi Wira untuk ke sekian kalinya. Baru setengah jam yang lalu komunikasi terakhir mereka, saat Wira bersiap kembali ke Jakarta.
Nada sambung terdengar mengalun jelas, Naina sudah tidak sabar. Entahlah, perasaannya tidak enak. Bahkan sejak awal Wira berpamitan, ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.
"Ya, Nai." Wira tergelak menerima panggilan Naina.
"Mas, di mana sekarang? Sudah dalam perjalanan pulang?" tanya Naina.
"Belum, Nai. Tadi, aku dan William sudah berpamitan, tetapi Panji belum mengizinkan. Maaf, Nai ... mungkin aku sedikit terlambat. Tidak apa-apa, kan?" ungkap Wira.
Naina menghela napas, mengalihkan pandangannya pada penunjuk waktu yang tergantung di dinding. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 17.55. Matahari sore sudah turun di ufuk barat, jingga kemerahan memancar indah di langit senja.
"Ya, sudah. Jadi, Mas belum tahu kapan akan pulang?" Nada suara Naina terdengar sedih.
"Mas hati-hati di jalan." Naina berucap sedih.
"Ya, Nai. Ratih sudah pulang?" tanya Wira.
"Belum, Mas."
"Apa mau diminta menginap di rumah? Jadi ada yang menemanimu dan Wina."
"Tidak perlu, Mas. Kasihan juga. Ratih sudah seharian di sini, pasti dia lelah. Papa dalam perjalanan ke sini untuk menjemputnya." Naina menjelaskan.
"Ya sudah ... kalau begitu. Aku tutup dulu teleponnya, Nai. Aku akan menghubungimu nanti. Kepalaku benar-benar sakit dan berdenyut."
***
Malam kian larut, Naina berusaha menghempaskan resahnya. Berulang kali menatap jam di dinding, kekhawatirannya makin menjadi saat benda bulat itu berdenting sebanyak sepuluh kali.
__ADS_1
"Masih belum pulang juga." Naina menguap lebar. Ibu hamil itu bangkit dan meraih ponsel di atas nakas. Ia sempat tertidur sejenak saat menemani putrinya.
Kembali menghubungi Wira, jantung Naina bergemuruh saat panggilan pertamanya berakhir tanpa jawaban. Berbagai pikiran buruk berdatangan, menguatkan perasaan yang sudah muncul sejak pagi. Bahkan resah itu sudah ada saat Wira berpamitan pergi.
"Mas, kamu di mana?" ucap Naina lirih. Panggilan kedua bernasib sama. Resah itu kian merajalela.
Naina terpaksa bangkit, memilih menunggu di ruang tamu. Ia tidak ingin mengganggu putrinya yang telah tertidur.
Kembali melakukan panggilan ketiga, kali ini Naina hampir gila saat panggilan terputus dan berakhir dengan gadis penunggu kotak suara.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi pada Mas Wira." Naina menutup mulutnya. Pikiran buruk yang tadinya hanya melintas di otak, kini membentuk bayangan dan terangkai jelas.
"Tidak terjadi kecelakaan, kan. Ya Tuhan, apa yang aku pikirkan." Naina mengusap perut besarnya. Ia hampir menangis membayangkan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi pada suaminya.
Bayangan sang bintang sinetron ikut memenuhi imajinasinya. "Aduh, jangan sampai terulang lagi." Naina kembali mengusap perutnya yang ikutan tegang.
Ia tidak bisa membayangkan andaikan kejadian Wira dan Stevi terulang lagi. Cukup sekali, ia berharap tidak ada drama penjebakan lagi di dalam hidupnya. Tidak ada cerita suaminya tidur dengan wanita lain meminta pertanggungjawaban. Ia sudah tidak sanggup lagi kalau harus mengulang sakit yang sama.
Berjalan mondar-mandir di depan televisi sembari menggigit kuku-kuku tangannya, ingatan Naina tertuju pada William.
"Ah, kenapa aku sampai lupa." Naina mencari nomor kontak asisten suaminya dan segera menghubungi. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak bisa tenang sampai semuanya jelas.
Mengggigit bibir sambil menikmati nada sambung, telapak tangan Naina basah, berkeringat. Ia panik dengan pikiran buruknya sendiri. Ibu hamil itu baru bisa bernapas lega saat mendengar suara William dari seberang.
"Ya, Bu. Ada apa?" William menyapa.
"Will, kalian di mana? Kenapa sampai sekarang masih belum sampai rumah?" cerocos Naina.
"Maaf, Bu. Belum sempat mengabari. Aku panik. Aku dan Bapak di rumah sakit." William memberitahu.
"Hah!" Naina terkejut. Bola matanya hampir melompat keluar. Kantuk yang ditahannya sejak tadi menguap seketika.
"Apa yang terjadi?" tanya Naina tidak sabar.
"Bapak mengeluh sakit kepala sejak siang. Saat mobil keluar dari tol, malah sakitnya bertambah parah. Bapak muntah-muntah. Jadi aku putuskan untuk membawa ke rumah sakit, Bu. Ini sedang menunggu hasil pemeriksaan.
"Oh, syukurlah," ungkap Naina merasa lega. Kenyataan tidak seseram yang dibayangkan.
__ADS_1
William tersentak. Di saat ia sedang resah menunggu kabar dari dokter mengenai penyakit yang diderita atasannya, sebaliknya Naina mengucapkan syukur atas kondisi Wira.
***