Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 3


__ADS_3

Kantor KRD, salah satu anak perusahaan RD Group di Austria. Pukul setengah sembilan pagi waktu Wina, gedung lima lantai milik KRD itu mulai disesaki karyawan yang sebagian besar didominasi oleh pria dan wanita bermata biru dan rambut kecokelatan.


Naina baru saja menurunkan kursi roda dari bagasi mobil, dibantu salah seorang security yang berjaga di pintu masuk. Tak lama, sopir yang memang dipekerjakan khusus untuk melayani Pieter dan Naina tampak membopong Pieter turun dari dalam mobil dan mendudukannya di atas kursi roda yang sudah disiapkan.


Seperti biasa, pria berbadan tegap itu akan membantu Naina membawa Pieter sampai ke ruangan direktur yang saat ini sudah dipegang David.


“Angel, kamu menunggu di luar saja,” pinta Pieter sesaat sebelum masuk ke ruangan direktur.


“Ada hal penting yang harus aku bahas dengan Dave,” jelasnya menyusul.


“Baik, Pak.” Naina mengangguk. Memutar tubuhnya, menunggu di depan meja sekretaris. Selama sebelas bulan tinggal di Austria, Naina belum bisa menguasai bahasanya. Ia lebih banyak berinteraksi dengan Pieter dan beberapa pekerja yang berasal dari Indonesia, membuat kemampuannya berbahasa lokal tidak ada kemajuan sama sekali.


***


“Dave ....” sapa Pieter tersenyum sumringah pagi itu. Menatap pria yang serius membaca tumpukan kertas di hadapannya.


“Pieter, kamu datang? Aku pikir kamu bolos lagi rapat kali ini,” sahut Dave, sontak melepas pena dari tangannya. Berdiri untuk menyambut rekannya.


“Bagaimana kondisimu sekarang?” tanya Dave, menepuk pelan lengan Pieter yang masih duduk di kursi roda. Kemudian, pria tampan dan gagah itu terlihat berdiri menempelkan bokongnya di meja kerja dengan kedua tangan terlipat di dada.


“Seperti yang kamu lihat ....” Pieter terlihat menurunkan kedua kakinya di lantai. Setelah itu, tampak Pieter meremas pegangan kursi roda dengan kencang. Tangannya gemetar berusaha menahan berat tubuhnya. Tak lama, pria itu berhasil berdiri dengan kedua kakinya.


Dave sampai ternganga, tidak percaya apa yang disaksikannya. Menutup mulut dengan kedua tangan.


“Serius?” tanya David, meskipun bukti sudah di depan mata.


Pieter mengangguk.


“Thanks God! Aku bisa kembali ke Indonesia secepatnya. Aku merindukan Stella, Bro,” ungkap David. Kebahagian terpancar jelas dari manik matanya yang sehitam jelaga.


“Ssstt, Angel tidak tahu apa-apa.” Pieter berbisik pelan, meminta David menurunkan volume suaranya.


“Ya Tuhan. Apa yang kamu rencanakan, Pieter?” David terbelalak, tidak mengerti ada drama apa lagi di balik dusta yang sedang dimainkan sahabat sekaligus rekan kerjanya.

__ADS_1


“Aku tidak mau Angel kembali ke Indonesia, Dave. Aku serius dengannya.” Pieter menjelaskan.


Terlalu lama berdiri, Pieter menjatuhkan perlahan tubuhnya ke atas kursi roda. Sebulan belakangan, ia berusaha keras untuk sembuh. Bukan apa-apa, ia tidak mau berpisah dengan Naina. Kalau sampai tidak bisa menahan wanita itu di Austria, ia berencana menyusul.


“Lalu?” Dave bertanya. Kedua bahunya terangkat menandakan kebingungan.


“Aku akan menyusul ke Indonesia. Bukankah setelah aku sembuh, salah satu di antara kita harus kembali ke Indonesia,” sahut Pieter, mengingat permintaan Pram yang sudah diungkapkan jauh-jauh hari.


“Oh tentu saja. Kalau diminta kembali artinya yang dimaksudkan Pram itu aku, Bro. Rumahku di Indonesia, tentu saja arahnya kesana. Itu aku, bukan kamu, Bro,” potong David.


“Apa lagi kamu sudah keluar dari Indonesia belasan tahun. Waktu Monas masih setinggi dengkul, sekarang bayangkan saja Monas sudah setinggi ratusan meter. Tentu yang diminta Pram itu aku,” celetuk David, kembali terbahak.


“Apalagi jiwamu itu sudah setengah Austria. Untuk apa lagi kamu balik ke Indonesia. Kami sebagai rakyat Indonesia, menolak tegas kembalinya pria jomblo akut, yang hanya bisa meresahkan para ibu-ibu yang memiliki anak perawan,” lanjut David. Ia sudah merindukan Stella, tidak bisa menyiakan kesempatan ini.


“Kurang aja!” omel Pieter.


“Tidak, aku serius. Kedatanganmu hanya akan membuat was-was masyarakat Indonesia, tentunya para emak-emak setanah air. Aku bukannya tidak tahu bagaimana sepak terjangmu, Bro. Bahkan rayuan mautmu mengalahkan rayuan pulau kelapa. Tidak ... tidak, aku akan mengajukan petisi pada Pram kalau sampai memilihmu,” ungkap David.


“Bukankah kamu sudah memiliki anak dan istri di sini. Tolong mengalah pada yang masih single,” sahut Pieter, pura-pura memelas.


Pieter yang ganti terkejut. Menatap David tidak percaya. “Anakmu? Kamu mau meninggalkan anakmu di sini? Dengan Mitha?” tanya Pieter, menggeleng.


“Mungkin di antara kita bertiga, aku yang tidak sanggup melewati ujian dari Mitha. Kamu tahu sendiri alasan kami menikah.” David tertunduk, menyesali perbuatannya. Hanya orang bodoh, terjebak di usia yang sudah tidak muda lagi. Apalagi ia harus mengorbankan hubungannya dengan Stella.


Meskipun selama ini hubungan mereka belum ada kejelasan, tetapi David serius dengan sekretaris presiden direktur RD Group itu.


“Sudah! Nanti baru membahasnya lagi, kita fokus ke pekerjaan saja,” lanjut David.


***


Mobil sport merah tampak masuk ke dalam pekarangan rumah dua lantai yang bernuansa putih. William, si pemegang kemudi, buru-buru keluar mobil mengekor sang majikan yang sudah turun lebih dulu.


Semburat mentari sore memancarkan cahaya kemerahan di ufuk barat. Begitu indah, bagai lukisan di lembayung senja. Mengiringi langkah gagah Wira yang terlihat tampan dengan raut lelahnya. Gurat-gurat kesedihan masih tersisa di wajahnya, meski tiga tahun terlewati.

__ADS_1


“Will, kamu ikut masuk,” pinta Wira. Pria dengan setelan jas lengkap itu masuk ke dalam rumah yang pintu utamanya tidak terkunci. Seperti memang sudah siap menyambut kedatangannya.


Entah sudah berapa lama ia tidak menginjakan kaki ke rumah mamanya lagi. Terlalu bosan dengan rengekan kedua orang tuanya, tepatnya sang mama yang meminta untuk ia menikah lagi.


“Wir, kamu datang, Sayang.” Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, sang mama sudah menyambutnya dengan senyuman cerah.


“Kemari! Mama buatkan masakan kesukaanmu.” Menggandeng tangan Wira, mengajak ke ruang makan.


“Ma, jangan begini. Aku masih ke ....” Lidah Wira kelu saat mendapati seorang gadis manis dengan celemek, menata meja makan di rumahnya.


Entah gadis yang ke berapa, yang dibawa pulang mamanya ke rumah untuk dikenalkan padanya. Wanita paruh baya berambut pendek itu tidak kenal lelah sama sekali. Satu per satu gadis dibawa ke hadapannya. Dari yang tamat SMA sampai seorang wanita karir. Dari seorang rumahan sampai yang pintar dandan.


“Apa mama tidak lelah?” tanya Wira, menggelengkan kepala.


“Mama lelah saat melihat umurmu semakin hari semakin bertambah. Mama lelah kalau melihatmu hidup sendiri. Mama tahu, semua juga berawal dari kesalahan mama, tetapi hidup itu terus berjalan, harus berjalan, Wir,” ungkap sang mama.


“Terserah mama. Aku lelah!” Wira menghempaskan tangan mamanya, meninggalkan meja makan. Merebahkan diri di tempat tidur empuknya jauh lebih baik dibanding harus berpura-pura ramah dan tersenyum meladeni wanita antah berantah yang akan dikenalkan padanya.


“Wir!”


“Wir!”


“Wir! Tunggu mama.”


Mama Wira menyusul langkah kaki putranya, menapaki anak tangga yang mengantar ke lantai dua rumah. Tempat di mana kamar Wira berada.


“Wir, mau sampai kapan kamu menunggu Naina?” tanya Mama Wir, menutup pintu kamar. Sorot kesal terlihat nyata dari tatapannya.


“Sampai menutup mata!” sahut Wira asal, melepas jas yang membungkus tubuhnya dan melempar asal.


“Wir! Mama serius!”


“Aku juga serius, Ma. Naina pergi membawa anakku. Bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku sebelum memastikan mereka baik-baik saja.”

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2