
"Kamu sudah datang, Wir." Papa Wira menyapa begitu Wira dan Naina menginjakan kaki masuk ke dalam rumah.
"Ya, Pa." Wira yang menggendong Wina, disusul Naina berjalan di belakang. Keduanya menghampiri Papa Wira. Pria tua itu sedang menikmati secangkir kopi panas dan pisang goreng kipas di ruang tamu.
"Sapa Opa dulu." Wira mengajari Wina.
"O ... pa ...." Wina menurut, memanggil dengan ragu-ragu.
Menyusul di belakang, Naina meraih tangan pria paruh baya itu dan mencium punggung tangan seperti dulu. Kebiasaan Naina yang tak lekang di makan waktu.
"Ratih di mana?" tanya Wira, memalingkan wajahnya ke arah dalam rumah.
"Masih memasak untuk kalian." Papa Wira menjawab santai.
"Mamamu bagaimana?" tanya pria itu sembari menyesap kopi panasnya. “Papa belum sempat ke sana lagi. Dennis masih di Indonesia, kan?”
Wira menggeleng. "Masih sama. Dennis yang menjaganya. Belakangan aku banyak pekerjaan."
Papa Wira tersenyum. "Baik-baik dengan kakakmu. Papa banyak bersalah padanya. Kalau dulu Papa tidak menolak permintaan mamamu untuk membawanya, mungkin semua ini tidak terjadi." Ada sesal di dalam untaian kalimat yang keluar dari bibir Papa Wira. Pria itu menatap sedih dan bersalah pada Naina.
"Maafkan Papa, kalian yang harus menebus semuanya." Papa Wira berkata pelan.
Dari dalam rumah, muncul wanita muda dengan celemek merah. Wajahnya ayu dengan rambut sebahu tergerai indah. Kulitnya sawo matang, kecantikan khas perempuan Indonesia.
"Tih, tidak perlu repot-repot." Wira menyapa lebih dulu saat melihat sang ibu tiri yang usianya jauh di bawahnya. Ratih seumuran Naina, bahkan lebih muda beberapa bulan.
Naina membeku di tempat, merangkai potongan cerita yang tertangkap matanya. Tadinya, ia sudah akan mencium tangan sang ibu tiri, tetapi diurungkannya saat melihat wanita yang dimaksud ternyata masih sangat muda.
"Kenalkan, ini istriku ... Naina Pelangie." Wira mengenalkan. Pandangannya beralih pada Naina.
"Nai, ini Ratih. Ibunya Nonik," lanjut Wira.
Perkenalan singkat yang masih dihiasi suasana canggung itu hanya diisi jabat tangan sambil menyebut nama. Naina dan Ratih saling melemparkan senyuman setelahnya. Tidak ada percakapan lebih lanjut.
"Mau makan sekarang? Aku sudah menyiapkan makanan kesukaan Pak Wira." Ratih mempersilakan.
"Aku masih kenyang. Baru saja sarapan di rumah." Wira menolak sembari menurunkan Wina duduk di sofa.
"Makan sedikit saja. Ratih memasak udang asam manis kesukaanmu." Papa Wira bangkit dari duduknya, mengajak Wira dan Naina menuju ke ruang makan.
***
Meja makan sederhana itu sudah dipenuhi sajian beraneka ragam. Dari udang, sayuran, ayam goreng sampai sup tertata rapi di atas meja. Melihat pemandangan yang menggoda selera, Naina yakin kalau Papa dan Ibu tiri Wira memang sedang menyambut kedatangan mereka.
"Mas, mau makan?" tanya Naina saat melihat Wira membalikan piring keramik di depannya. Terlihat Wina duduk di samping Wira dengan tenang. Sejak tiba di kediaman Papa Wira, gadis kecil itu tidak banyak bicara. Hanya diam, dan tidak mau turun dari gendongan ayah bundanya.
"Tidak. Aku hanya akan makan udangnya saja." Wira mengisi piringnya dengan beberapa potong udang bersaus kemerahan.
__ADS_1
Belum sempat memasukan ke dalam mulutnya, lambung Wira protes. Aroma yang biasanya sanggup membuatnya menelan saliva, entah kenapa saat ini membuat Wira mual.
"Aku permisi!" Wira menghempaskan kain lap putih di pangkuannya dan berlari menuju kamar mandi.
"Mas ...." Naina berlari menyusul saat melihat kondisi Wira.
"Bundaaaa ...." Wina yang terkejut melihat kedua orang tuanya pergi meninggalkannya sendirian di meja makan hanya bisa menjerit dan menangis.
"Sudah-sudah, Wina sama Opa dulu, ya. Bundanya pasti ke sini lagi. Atau mau main sama Nonik dulu." Papa Wira menggendong gadis kecil itu dan membawanya pada Nonik yang sedang sibuk dengan boneka kesayangan.
***
"Mas, kenapa?" tanya Naina. Ia terpaksa menyusul saat melihat Wira yang berlari sambil menutup mulut.
Tidak ada jawaban, Wira sibuk menumpahkan isi perutnya ke dalam wastafel.
"Mas baik-baik saja?" tanya Naina lagi, mencoba mendekat dan memijat tengkuk pria yang sedang membungkuk di hadapannya.
"Aku baik-baik saja. Mungkin masuk angin. Buatkan aku teh hangat." Wira berjalan lemas. Ia memilih duduk di sofa ruang tamu, menyandarkan tubuh tak bertenaganya. Napasnya naik turun, terbawa arus makanan yang mendesak keluar dari lambungnya. Nafsu makannya hilang, ia sudah tidak menginginkan lagi udang asam manis kesukaannya.
Tak lama, Naina muncul dari dapur dengan secangkir teh hangat. Ia terpaksa meminta izin pemilik rumah demi membuatkan Wira minuman hangat dan membiarkan Wina bersama Papa Wira.
"Mas, ini tehnya." Naina meletakannya di atas meja.
"Mas, kenapa? Di mana tidak enaknya?" tanya Naina lagi.
"Di mana Wina?" tanya Wira menegakan duduknya.
"Bersama Papa." Sorot mata kekhawatiran tampak jelas di netra Naina. Tidak biasanya Wira mendadak sakit seperti ini.
"Aku sudah baik-baik saja." Wira tersenyum dan meraih tangan Naina agar duduk di sampingnya.
"Ada yang ingin kamu tanyakan, Nai. Aku bisa melihat banyak pertanyaan di wajahmu." Wira tergelak.
Bola mata Naina membulat. Ia menoleh ke samping, memandang Wira sekilas.
"Mama tahu?" Pertanyaan pertama lolos dari bibir Naina. Sejak tadi ia menyimpan penasarannya.
"Tahu ...." Ujung telunjuk pria itu memainkan anak rambut yang berontak keluar dari ikatan rambut Naina. Ia bahagia saat ini, Naina mulai membuka diri dengannya. Sudah tidak menjauh lagi dan mau berbagi banyak hal dengannya. Jarak yang sebelumnya tercipta, dengan sendirinya hancur begitu Naina datang ke kantornya kemarin sore dan menyampaikan kesediaannya kembali bersama.
"Hah! Mama tidak marah?" tanya Naina semakin penasaran.
"Apa ada istri yang mau diduakan?" Wira balik bertanya.
Naina menggeleng. " Sudah berapa lama? Apa Nonik juga putrinya Papa?" Naina melempar pertanyaan lagi. Ia penasaran, tiga tahun bersembunyi dari keluarga Wirayudha, ternyata banyak kisah yang dilewatkannya.
"Sekitar dua tahun. Ratih mantan asisten di rumah Mama. Janda dengan seorang anak. Dia seumuran denganmu. Bisa jadi lebih muda." Wira meraih pundak Naina, membawa Naina mendekat dan bersandar di tubuhnya.
__ADS_1
"Ya Tuhan." Naina menutup mulut, hampir tidak percaya. "Bagaimana dengan Mama?" tanya Naina lagi.
"Setelah perceraian kita, Dennis membongkar semuanya. Sejak saat itu Mama dan Papa sering bertengkar, cekcok, saling menyalahkan dan saling menyudutkan. Semua tragedi ini bermula dari mereka. Dan kita kena imbasnya." Wira bercerita.
"Mama menyalahkan Papa dan Papa juga menyudutkan Mama. Seperti itu setiap hari. Sampai akhirnya, Papa lelah dan mungkin main hati di belakang Mama." Wira berbisik, tidak mau obrolannya didengar papanya dan Ratih.
"Mama bagaimana?"
"Setelah mengetahui perselingkuhan Papa, hubungan mereka makin tidak sehat. Imbasnya Papa memilih keluar dari rumah dan tinggal bersama Ratih, di sini." Wira menjelaskan.
"Mama tahu? Tidak menuntut cerai?"
"Tahu semuanya. Mama bisa apa. Mereka sudah terlalu tua untuk bertempur di pengadilan, membahas masa depan pernikahan. Mama merelakan Papa menikah lagi, memilih menyudahi pertengkaran. Malu dengan anak cucu, itu yang Mama katakan padaku. Hanya saja, Mama meminta Papa untuk tidak ikut campur masalahku. Makanya selama ini, Papa lebih banyak diam dan tidak bicara."
"Sampai sekarang Papa tetap suami sah Mama. Ratih tidak dinikahi secara resmi," lanjut Wira.
"Hah!" Lagi-lagi Naina terkejut. "Ratih mau menerimanya?" tanya Naina heran. Tatapannya tertuju pada perempuan ayu yang sedang menemani Wina dan Nonik di teras depan rumah.
"Aku bertanggung jawab untuk biaya hidup Papa dan Ratih, termasuk Nonik. Dan selama ini juga, aku yang membiayai kehidupan Mama. Papa sudah tidak memiliki apa-apa. Mungkin itu juga yang membuat Mama tidak terlalu meributkan Papa menikah lagi. Semuanya sudah diberikan Papa padaku, termasuk perusahaan dan aset-aset lainnya."
Naina mengangguk mulai paham.
"Aku bukan anak kandung Papa. Papa tidak bisa memiliki keturunan." Wira mengucapkan satu rahasia yang membuat Naina terkejut.
"Itu mungkin hukuman yang harus ditanggung Papa. Sampai sekarang, ia menyimpan sesalnya ... kenapa dulu menolak Dennis."
"Ya Tuhan, Mas." Naina menutup mulutnya, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Sejak kapan Mas mengetahuinya?" tanya Naina masih menolak untuk memercayai.
Wira tersenyum. "Baru tiga tahun belakangan, semuanya terbongkar."
Ada rona kesedihan yang tiba-tiba menyelimuti wajah Naina.
"Hei, I'm fine. Hidupku jauh lebih baik darimu, Nai. Tidak perlu prihatin seperti itu. Aku memiliki Mama dan Papa yang menyayangiku. Dan sekarang aku memiliki Ibu tiri dan adik tiri yang tidak kalah baiknya." Wira tersenyum, mengusap pelan rambut Naina.
"Belajar ikhlas untuk semua skenario yang Tuhan berikan pada kita itu terkadang lebih meringankan beban hidup kita. Aku sempat kecewa, tetapi ketika aku memberanikan diri menerima ... Tuhan memberiku lebih. Demikian juga hubunganku dan Dennis. Berhari-hari, kami menghabiskan waktu di rumah sakit menjaga Mama. Aku menemukan sosok Kakak yang dulunya tidak pernah ada di dalam hidupku. Dia mungkin pernah bersalah padaku, tetapi dunia juga tidak adil padanya."
Naina tertunduk.
"Sekarang Stevi bersamanya. Dia merawat Stevi." Wira tertunduk. Ada kilat penyesalan di wajahnya. "Aku belum berani bertemu dengan Stevi sampai detik ini,” lanjut Wira.
"Apa Mbak Stevi baik-baik saja, Mas?" tanya Naina
Wira menggeleng. "Dia hanya mengingat namaku dan Nola."
"Kalau ada penyesalan di dalam hidupku ... aku menyesal karena telah menelantarkan Stevi, setelah menceraikannya. Di pertemuan terakhir kami, bahkan dia memohon padaku dan aku mengabaikannya."
***
__ADS_1
Tbc