
Pagi-pagi sekali, pesawat yang ditumpangi Dennis sudah mendarat di bandara Soekarno Hatta. Pria dengan wajah berhias panik itu berlari keluar untuk mencari taksi sembari menghubungi Mbok Sumi.
“Bu, Wina sakit. Sekarang di rumah sakit. Aku batal terbang ke Amerika. Sekarang sudah di Jakarta.” Dennis berkata di ponselnya dengan napas tersengal.
“Hah! Di mana? Cucuku sakit apa?” tanya Mbok Sumi, tidak kalah panik. Tangannya yang sedang memotong sayuran ikut gemetar. Beberapa hari tidak mendapat kabar dari Wina, ia dikejutkan dengan berita duka ini. Air mata menetes dari mata cekungnya dan membasahi pipi yang keriput.
“Aku belum tahu, Bu.”
“Kirimkan alamatnya. Ibu akan menjenguk Wina dan membawakan makanan kesukaannya. Anak itu akan mengalami kesulitan makan setiap sakit,” ucap Mbok Sumi, terisak. Pikirannya menerawang jauh. Dua tahun lebih mengurus Wina, ia sudah menamatkan banyak hal. Ia tahu jelas kesukaan dan kebiasaan Wina, bahkan gadis kecil itu tidur bersamanya sejak bayi.
“Ya, Bu. Nanti aku akan menghubungi ibu lagi.”
***
Rumah sakit.
Sang surya menerobos masuk dari celah tirai jendela kamar perawatan. Hening menyelimuti pagi bersama aroma susu bercampur nasi goreng yang tertata rapi di atas nakas. Para penghuni kamar 28B masih terbuai di alam mimpi. Tampak Wira dan Naina berbagi tempat di atas sofa bed. Wira berbaring telentang di sisi kiri dan Naina setengah telungkup mengisi ruang kosong di sisi kanan. Tampak tangan Naina menimpa perut rata Wira tanpa sadar.
Waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi, tetapi sepasang anak manusia yang pernah terikat pernikahan itu masih enggan membuka mata. Terlalu lelah, setelah semalaman mengurus buah hati mereka yang rewel dan menangis.
Brak. Suara pintu kamar dibuka kasar, sontak mengejutkan cucu Adam dan Hawa yang masih mengarungi mimpi paginya.
Wira terusik, begitu juga Naina. Keduanya sempat terkejut saat mendapati kalau sedang berbagi tempat bersama. Butuh beberapa menit untuk menyadari keadaan sambil mengumpulkan serpihan ingatan yang sempat beterbangan.
Keduanya menatap ke arah titik yang sama. Pada pintu kamar yang terbuka, menyambut pria tinggi bermata biru dan berkulit putih yang melangkah gagah. Berjalan mendekat sambil tersenyum menyapa.
“Maaf ... mengganggu tidur kalian. Aku permisi menjenguk Wina,” ucap Dennis berusaha mengontrol perasaannya sendiri. Cemburu mencubit hatinya saat mendapati Naina berbagi tempat, berdua dengan Wira.
Cinta itu nyata, tentu saja kesakitan itu akan datang menghantam hatinya di saat ini. Namun, sebagai manusia biasa, ia bisa apa. Sama seperti saat ia memupuk dendam dan melampiaskan, kemudian menyesal. Seperti itu juga perasaannya. Menghancurkan rumah tangga adiknya, kemudian menggunakan kesempatan itu untuk menjaga apa yang sudah dirusaknya dan akhirnya ia jatuh cinta.
Kalau bisa menolak tentu Dennis ingin menolak, tetapi hati itu tidak sejalan logika. Bisa diatur dan ditata sedemikian rupa. Masalah hati itu misteri yang sampai sekarang belum terpecahkan. Hati bisa membolak-balikan keadaan dalam hitungan detik. Hati bisa membuat benci dan cinta hanya berjarak selembar kertas tipis.
“Mas ....” Naina menyapa setelah ingatannya kembali sempurna.
__ADS_1
Wira, pria itu masih merapikan perasaannya saat melihat Dennis berjalan mendekat ke arah brankar. Ia melihat bagaimana Dennis menarik kursi dan menggengam tangan mungil gadis kecilnya
“Wina, cepat sembuh. Daddy datang menemuimu,” bisik Dennis mengecup tangan mungil yang tak lain cinta keduanya setelah Nola, yang sekarang berganti identitas menjadi Pelangie Wijaya.
Puas menatap wajah terlelap di atas brankar, Dennis beralih pada Wira dan Naina yang sudah membersihkan wajah dan duduk tertegun di sofa. Keduanya diam seribu bahasa, menciptakan kecanggungan yang terasa semakin nyata.
“Maaf ....” Dennis berjalan mendekat, membawa kursi dan duduk di seberang keduanya.
Menatap ke arah Wira, ada banyak sesal yang ingin dibaginya pada sang adik laki-laki.
"Aku sudah melupakannya. Aku tidak bisa melangkah sambil membawa beban masa lalu." Wira berkata pelan. Kalimat itu meluncur dengan lancar dari bibir, tetapi hatinya tercabik-cabik. Memaafkan dengan hati memang tidak semudah saat mengucapkannya. Walau berkata ikhlas, tetap saja dendam dan benci itu masih tersisa di sudut hati.
"Maafkan aku, Wir. Dendam membawaku pada semua ini. Dan aku berusaha untuk menebusnya sebisa mungkin." Dennis kembali bersuara.
"Terima kasih sudah merawat dan mencintai Wina untukku." Wira mengangkat pandangannya, ucapannya terdengar tulus kali ini.
Disodorkan perlahan tangannya, saat melihat penyesalan di mata biru lawan bicaranya.
"Kamu benar-benar menghancurkan semuanya sampai tak bersisa!" Wira bersuara setelah pelukan dua saudara itu terurai. Tersenyum sinis kemudian membuang pandangannya.
"Aku ingin bisa membenci dan mendendam sepertimu. Hanya saja aku takut menyesal suatu saat nanti." Wira melanjutkan.
"Silakan, aku tidak keberatan. Kamu boleh memukulku. Boleh membunuhku juga kalau itu bisa membuatmu merasa tenang dan menang," ucap Dennis tersenyum sembari membentangkan kedua tangannya.
"Tidak ... aku tidak ingin hidup dalam penyesalan sepertimu sekarang." Wira menjelaskan.
"Aku berjuang kembali setelah kamu membuatku terhempas dari dunia. Terjatuh di titik paling rendah. Rumah tanggaku berantakan ... aku terpisah dari putriku sekian lama. Bahkan saat ini, hati putriku lebih memilih ayah yang lain. Aku bisa apa?" lanjut Wira, menatap ke arah Naina yang tertunduk sejak tadi.
"Bukankah kamu masih bisa memperbaikinya sekarang," ungkap Dennis.
"Ketika cangkir pecah dan hancur berantakan, tidak akan pernah bisa utuh kembali. Akan ada serpihan kecil yang tertinggal, meskipun aku berusaha merekatkannya kembali. Sama dengan apa yang kami alami. Aku, Naina dan Wina. Tiga tahun berlalu, semua berubah seiring waktu."
Dennis tertunduk. "Maafkan aku, Wir. Aku benar-benar menyesal. Kalau bisa mengulang kembali, mungkin aku akan memilih jalan yang lain."
__ADS_1
Wira menghela napas kasar, kembali menatap Naina.
"Aku memilih berdamai denganmu. Mungkin sakit, tetapi demi Wina, aku rela berbagi denganmu. Seperti saat kamu memberi Nola padaku demi dendam, pasti itu tidak mudah untukmu sebagai seorang ayah."
"Lupakan saja. Bagaimana pun aku membencimu, kamu tetap kakakku. Sebesar apapun kemarahanku, hati Wina sudah terikat padamu. Aku harus apa? Berteriak dan mengamuk? Apa semuanya akan mengembalikan keadaan seperti semula? Tidak, kan?" Wira berkata pelan, sembari merengkuh pundak Dennis, dan memeluk pria itu dengan erat.
"Aku memaafkanmu demi Wina." Wira berbisik tepat di telinga Dennis.
"Terima kasih," ucap Dennis di sela pelukan. Dua bulir air mata kelegaan turun di pipi pria itu. Ada beban berat yang terangkat dari dalam hatinya seiring kata maaf yang terucap dari bibir Wira.
Kakak adik itu baru saja mengurai pelukannya saat ponsel di saku Dennis berdering. Dahi pria dengan setelan kaos hitam dan jeans biru tua itu berkerut saat melihat deretan angka tanpa nama muncul di layar gawainya.
"Ya, selamat pagi," sapa Dennis.
Tampak ia menyimak informasi yang dibagi oleh si penelepon. Matanya membulat, tubuhnya bergetar hebat. Bahkan ponsel pintar keluaran terbaru yang belum lama dibelinya itu terlepas dari genggaman. Jatuh membentur lantai dan hancur berantakan.
"Mas, ada apa?" tanya Naina terkejut.
Butuh waktu untuk Dennis menjawab. Ia masih terguncang dengan berita duka yang diterimanya.
"Ibu ... ibu ... meninggal. Aku belum tahu pasti, tetapi informasi yang aku dapatkan seperti itu." Dennis berkata sambil menangis seperti seorang anak kecil.
"Bagaimana bisa?" tanya Naina. Matanya pun mulai berkaca-kaca.
"Aku tidak tahu, Nai. Kata tetangga sebelah rumah, Ibu kecelakaan. Terakhir, Ibu meminta alamat rumah sakit dan bermaksud menjenguk Wina sambil membawakan makanan kesukaan cucu kesayangannya."
“Lalu?”
Dennis menggeleng. “Aku titip Wina, aku harus mengurus Ibu sekarang.”
***
TBC
__ADS_1