
Sepanjang perjalanan pulang ke apartemen, ucapan William berputar-putar di benak Wira. Pria itu menyetir sembari mengingat kembali perjalanan rumah tangga yang dibinanya bersama Naina beberapa bulan belakangan. Apa memang benar, ia terlalu berlebihan dan cengeng sampai tidak bisa menerima kenyataan wanita yang dicintainya mencintai laki-laki lain.
Entahlah, kalau ini disebut kekanak-kanakan, ia menerimanya dengan lapang dada. Tidak mudah menelan kecewa dan melupakan semua kenyataan dengan berpura-pura kalau ia baik-baik saja. Namun, kalimat William cukup menamparnya. Sederhana dan sanggup membuatnya pikirannya sedikit terbuka.
Hari sudah menjelang malam saat mobilnya masuk ke dalam parkiran. Ia sengaja berlama-lama di kantor supaya tidak terlalu lama bersua dengan Naina di apartemen. Hanya menghabiskan waktu sebentar dengan Wina kemudian masuk kamar dan tidur. Demikianlah aktivitasnya setiap hari selama ini.
Rumah tangga yang melelahkan? Tentu saja, Wira mengakuinya. Ia tidak tahu sampai kapan sanggup menjalani hidup yang seperti ini. Ia juga tidak bahagia.
***
Candra jingga membulat sempurna di langit malam, Wira masih tidak sanggup memejamkan mata. Malam ini sedikit berbeda, ada yang mengganjal dan membuat tubuh lelahnya menolak beristirahat.
Suara detak jam di dinding bagai simfoni yang menenangkan, Wira berdiri di depan kaca besar di dinding kamarnya yang terletak di lantai tertinggi apartemen. Tatapannya tertuju pada lampu-lampu mobil yang masih memenuhi jalan, berkolaborasi dengan kerlip penerangan jalan. Begitu indah, lukisan malam yang menggambarkan kalau ia sekarang sedang berdiri di salah satu sudut ibu kota.
Lelah menunggu kantuk, Wira memutuskan keluar kamar untuk menikmati anggur merah di mini bar, tempat favoritnya selain kamar tidur. Berharap cairan berwarna itu sanggup memaksa matanya agar segera merapat.
"Naina ...."
Wira terkejut. Saat melangkah keluar dari kamar, ia melihat bayangan istrinya yang sedang menyelinap keluar dari unit apartemen.
"Apa aku salah lihat?" Wira bingung. Tanpa sadar, kakinya berjalan menuju kamar Wina. Tempat di mana istrinya menumpang tidur selama ini.
Deg--
Begitu pintu kamar itu perlahan terbuka, Wira tidak menemukan Naina di dalamnya.
"Berarti tadi ... benar-benar Naina. Apa dia ...." Pikiran buruk tiba-tiba melintas di benaknya.
"Untuk apa Naina keluar tengah malam seperti ini?" Wira menatap jam di dinding, waktu hampir menunjukan pukul 24.00.
Wira tertegun. "Apa jangan-jangan dia mau menemui Dennis lagi." Binar cemburu tampak jelas di mata Wira. Walau ia tengah berjuang untuk ikhlas kalau suatu saat melepaskan Naina, tetapi hatinya masih tidak rela.
"Andai itu benar ... aku akan membunuh keduanya di tempat!" ucap Wira dengan tangan terkepal. Iri hati dan cemburu menyesatkan akal sehat Wira, sesaat pikirannya jadi pendek dan tidak bisa melihat dari kacamata positif.
Masuk ke dalam kamar dan menyambar jaket kulitnya, Wira buru-buru turun dan menyusul Naina.
***
__ADS_1
"Pak, apa tadi melihat istriku? Wanita hamil, tingginya sedikit di bawahku." Wira bertanya pada petugas yang berjaga di depan pintu lobi utama malam itu.
"Ibu Naina?" tanya security, memastikan.
Wira mengangguk.
"Baru saja keluar ke depan ...."
Belum sempat petugas jaga itu menyelesaikan kalimatnya, Wira sudah berlari keluar ke arah jalan raya. Suasana jalan masih lumayan ramai, penjual jajanan dan makanan masih memenuhi kiri dan kanan jalan. Rumah makan sederhana, gerobak yang menjual cemilan sampai makanan berat tampak masih ramai pengunjung.
Wira mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tak tampak Naina, istrinya menghilang di telan bumi. Pria dengan setelan jaket dan celana pendek itu menghela napas. Perasaannya mulai risau, menyusuri trotoar untuk mencari keberadaan sang istri.
Hampir dua puluh menit, menjelajah di sekitar apartemen, pandangan Wira tertuju pada gerobak penjaja sate Padang yang tengah dikelilingi pembeli. Dan Wira melihat Naina di sana, bergabung dengan pembeli lain yang tengah menonton penjual memainkan kipas dan membalikan daging yang ditusuk lidi.
Penampilan ibu hamil yang terbalut piyama tidur ditutupi jaket itu tidak bisa bohong. Perut besar Naina begitu mencolok dibanding yang lainnya. Wanita itu berdiri dengan tangan terlipat di dada menahan dingin.
"Apa yang dilakukan Naina di sana?" Wira berkata pelan. Tatapannya tak beralih, mengunci istrinya sejak tadi.
Dua puluh menit, Naina akhirnya berjalan kembali dengan menenteng kantong berisi sate Padang yang membuatnya tidak bisa tidur dengan tenang.
Menatap punggung Naina menghilang di balik pintu lift, Wira mencoba berbincang sejenak dengan security berseragam hitam yang berjaga di pintu masuk.
"Pak, Ibu hamil itu sering keluar malam?" tanya Wira mencari tahu.
Petugas keamanan itu mengerutkan dahi. Pertanyaan Wira terdengar aneh. Ia jelas-jelas mendengar kalau Wira mengakui kalau wanita hamil itu adalah istri pria tampan di depannya, tetapi bagaimana bisa sampai tidak tahu istrinya keluar malam untuk membeli sesuatu di pinggir jalan.
"Setahuku ... tidak terlalu sering, Pak. Aku sempat melihat beberapa kali. Tapi, tidak tahu dengan rekanku yang lain. Biasanya tugas malam itu bergantian."
Wira mengangguk.
"Biasa, Pak. Terkadang wanita hamil suka menginginkan sesuatu tidak kenal waktu. Dulu saja, saat istriku hamil dan mengidam es dawet tengah malam." Security itu tersenyum.
Wira tercengang. Ia tidak terlalu paham. Ini pengalaman pertamanya, walau kehamilan Naina kali ini adalah anak kedua mereka.
"Ya, namamya istri hamil memang begitu, Pak. Kadang suka marah-marah. Mood-nya naik turun. Belum lagi kalau awal-awal, suka muntah mual terkadang hilang nafsu makan. Kalau kehamilannya sudah besar, seluruh badan sakit semua. Kaki kesemutan, sakit pinggang, napas saja sulit. Cuma itu 'kan memang harus dilewati semua wanita hamil dan akan jadi kenangan yang tidak terlupakan. Mudah-mudahan lahirannya lancar, anaknya sehat, Pak."
"Baiklah. Terima kasih." Wira menepuk pundak penjaga keamanan itu sembari memamerkan senyuman. Informasi yang disampaikan penjaga keamanan itu membuatnya bingung. Selama Naina hamil, ia tidak tahu banyak apa yang dirasakan istrinya.
__ADS_1
Berjalan kembali ke unit apartemennya, Wira berusaha mencerna kata-kata yang baru saja disampaikan security padanya.
***
Naina tengah menikmati sate Padang di ruang tamu apartemen saat Wira melangkah masuk. Ia terlalu menikmati sampai tidak menyadari kedatangan Wira yang menyusul di belakangnya.
Memangku kertas makanan berisi beberapa tusuk sate dan lontong yang disiram kuah kekuningan, Naina terkejut saat Wira tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya. Sontak berdiri dan makanan yang baru dibelinya tertumpah mengenai pakaian dan sofa.
"Ya Tuhan, maaf, Mas. Kamu mengagetkanku." Naina buru-buru berjongkok dan membersihkan makanannya yang kini terjatuh di sofa dan lantai, tak bersisa. Padahal, ia baru saja menggigit sepotong daging dan lontong.
Ibu hamil itu menatap sedih pada tumpahan makanan yang baru saja dibelinya. Ingin menangis melihat cairan kuning yang memenuhi otaknya sejak tadi dan membuatnya tak bisa tidur semalaman.
Wira diam, membeku di tempatnya berdiri. Ia bisa melihat istrinya mengecap sambil membersihkan tumpahan makanan itu dengan kain lap.
"Maafkan aku, Nai. Aku tidak bermaksud membuatmu kaget." Terdengar nada penyesalan di dalam suara Wira.
"Ya, Mas. Aku tidak apa-apa," ucap Naina, menyimpan kecewanya.
***
Naina baru saja akan merebahkan tubuhnya di samping Wina setelah mengganti piyama tidurnya yang kotor. Namun, bunyi ketukan di pintu kamar memaksanya untuk bangkit kembali.
Waktu sudah menunjukan pukul 01.15 dini hari, wanita hamil itu mulai terserang kantuk.
"Nai, ini aku." Terdengar suara Wira memanggil di depan pintu kamar.
"Ya, Mas. Ada apa?" Naina berdiri di depan pintu, heran menatap Wira yang masih belum tidur.
"Aku sudah membelikan makanan baru untukmu. Makanlah, aku sudah siapkan di meja makan." Tanpa menunggu jawaban, Wira berbalik dan berjalan menuju ke kamarnya.
Naina membeku di tempat. Hampir lima menit mematung, baru ia tersadar dan mengulas senyumam di bibirnya. "Aku kira ... aku mimpi, Mas. Terima kasih."
-
-
-
__ADS_1