
Bibir melengkung itu seketika datar seiring pintu lift yang tertutup rapat. Senyum cerah Wira yang tadinya ditujukan pada Naina lenyap, berganti dengan wajah datar dan tidak bersahabat.
Wira bersandar di dinding dan Stella memilih berdiri di pojok. Keduanya diam tanpa bicara seolah tidak saling mengenal. Waktu serasa lama bergerak, Stella benar-benar merasa sungkan. Bahkan ia tidak berani menghela napas, merutuki diri karena sudah dengan lancang menumpang di lift yang sama.
"Mulai detik ini, aku harus menghindari pria ini Begitu dingin dan mengerikan. Jauh sekali dari yang Mas Bara gambarkan. Pantas saja ditinggal istrinya." batin Stella. Ia bisa bernapas lega saat pintu lift terbuka. Kotak pengangkut ajaib itu sudah tiba di lantai tempatnya bertugas.
"Maaf Mas, aku duluan," pamit Stella, buru-buru melangkah keluar. Ia bisa bernapas lega saat melihat pintu lift tertutup.
"Hufh ... aku selamat. Aku tidak bisa membayangkan kalau harus berada di dalam lift lebih lama lagi. Pasti aku mati kekurangan oksigen karena tidak berani bernapas." Stella mengurut dada. Terbayang pertemuan mereka yang terakhir. Kurang lebih berakhir sama. Sepeninggalan Bara, Wira memilih diam sampai acara makan siang itu berakhir, tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibir pria itu. Satu kata yang bisa Stella ungkapkan saat itu tentang Wira. Pria itu menakutkan.
***
Siang berjalan begitu cepat. Petang pun menjemput bersiap menghadirkan malam gelap. Mengendarai sedan Mercedes e-class hitamnya sendiri, senja itu Wira menuju ke rumah Naina. Sesuai dengan ucapan tadi siang, ia ingin menemui Wina.
Waktu sudah menunjukan hampir pukul enam petang saat mobilnya berhenti sempurna di tepi jalan, tepat di depan salah satu kios spare part mobil. Mendengus kesal, saat ia dihampiri seorang tukang parkir dadakan yang meminta bayaran berlebih.
"Ini! Aku tidak akan lama. Titip mobil!" ungkap Wira mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah.
"Siap Bos. Lama juga tidak apa-apa. Dijamin aman!" sang pemuda dengan tampilan lusuhnya berkata dengan senyum merekah. Diciumnya uang merah merona pemberian Wira sebelum dimasukan ke dalam kantong celana jeans bututnya.
Setengah berlari, Wira dengan tampilan casual yang selalu terlihat tampan dan menawan di setiap kesempatan itu tiba di depan pintu rumah kontrakan. Tidak sabar, ia mengetuk pintu dengan buru-buru.
Tepat di ketukan ke lima, Rima muncul membuka pintu.
"Aku ingin bertemu Wina." Wira menerobos masuk tanpa permisi. Pertemuannya dengan Naina tadi siang, sedikit membuat pria itu merasa di atas angin.
"Maaf Pak ... maaf sekali. Ibu Naina belum pulang kerja. Aku tidak bisa mengizinkan orang asing masuk ke dalam rumah." Rima menjelaskan. Ia masih berdiri di ambang pintu. Pandangannya tertuju pada tamu asing yang berdiri kaku menatap gadis kecil yang diasuhnya. Ya, Wira sedang tertegun menatap Wina. Putri kecilnya itu sedang duduk di atas lantai beralas karpet di depan televisi. Wina begitu bahagia bermain dengan boneka barbie pemberiannya tadi siang.
"Wina suka bonekanya?" tanya Wira berjongkok. Pria dengan kaos hitam dan celana jeans putih itu ikut bergabung, masuk ke dalam dunia khayalan Wina.
"Suka ...." sahut Wina tanpa mengalihkan pandangannya. Masih sibuk dengan bonekanya.
"Ini namanya siapa?" tanya Wira, menunjuk boneka barbie pemberiannya.
"Bunda ...."
"Ini siapa namanya?" tanya Wira lagi sembari menunjuk boneka lusuh yang disandarkan di dinding rumah.
"Ini Wina ...." Gadis kecil itu menjawab dengan fasih.
"Masih mau dibelikan lagi? Wina mau boneka apa lagi?" tanya Wira berusaha mengalihkan perhatian putrinya.
"Mau Daddy ... Nenek ... em Mba Lima." Wina menyampaikan keinginannya, menyebut satu per satu orang-orang terdekatnya.
__ADS_1
"Wina mau Daddy?" tanya Wira, ia sudah tersenyum bahagia. Bagaimana tidak, Wina mengenal kata Daddy yang artinya ayah. Tentu saja Wira mengira itu dirinya. Terlalu bahagia, pria itu sudah tidak bisa berpikir menggunakan logika. Mana mungkin Wina mengenalnya. Pertemuan mereka saja baru terjadi tadi siang.
"Mau ...."
"Ini Daddy-nya Wina ...." Wira menepuk dada, berusaha mengenalkan dirinya. Senyum Wira begitu hangat. Terlalu bahagia saat mendengar putrinya menyebut kata daddy, tanpa tahu panggilan daddy itu ditujukan pada siapa.
"Ukan ...." Wina menggeleng dengan wajah menggemaskan.
“Bukan?" tanya Wira.
"Ukan Daddy." Kembali gadis kecil itu menggeleng. Wina sudah mulai mau menangis saat menatap Wira dengan jelas. Sejak tadi, ia serius dengan mainan barunya sehingga tidak menyadari kehadiran Wira.
Berlari kencang, Wina menyembunyikan dirinya di balik punggung Rima. Menangis sambil memeluk kedua kaki pengasuhnya.
"Sudah Win, tidak apa-apa. Sebentar lagi Bunda pulang kerja. Bunda pasti membelikan Wina permen lolipop lagi."
"Maaf Pak, sebaiknya Bapak menunggu di luar. Aku tidak mengenal Bapak. Aku takut dimarahi Ibu Naina." Rima bergegas keluar dari kontrakannya. Sejak tadi jantungnya berdetak kencang. Was-was pada tamu asing yang masuk tanpa permisi. Ia tidak mengenal Wira, bisa saja pria itu bermaksud buruk pada Wina.
"Kenapa Naina pulang malam sekali?" tanya Wira sesaat setelah keluar dari rumah kontrakan. Ia memilih berdiri di teras rumah supaya tidak jadi bahan gosip tetangga lain.
"Ibu Naina biasa pulang jam tujuh. Suka macet di jalan. Terkadang jam delapan, Pak," sahut Rima.
Deg--
"Bukannya keluar kantor jam lima sore?" Wira bermonolog. Seingatnya perusahaan RD Group aktif dari jam delapan pagi sampai jam lima sore.
"Kalian sudah makan?"
Rima menggeleng.
"Mau dipesankan makanan apa? Atau menunggu Naina, kita makan di luar?" tanya Wira mengeluarkan ponselnya.
"Bisa berikan aku nomor ponsel bundanya Wina. Atau kalau kamu tidak percaya, bisa tolong hubungi dia?" tanya Wira. Wira tersadar, ia lupa meminta nomor ponsel Naina.
"Maaf Pak. Aku tidak berani ...."
"Kalau begitu, tolong hubungi dia," pinta Wira.
Rima terlihat ragu.
"Aku akan meminta asistenku untuk mengisi pulsa untukmu," ujar Wira. Setidaknya ia jadi memiliki nomor ponsel pengasuh putrinya.
"Baiklah." Dengan ragu-ragu, akhirnya Rima menurut dan menghubungi Naina.
__ADS_1
Puluhan panggilan berikut pesan tak ada satu pun yang tersambung dan terbaca. Semua panggilan telepon dari Rima berakhir dengan gadis penunggu kotak suara.
Wina yang mulai menangis kelaparan, akhir membuat Rima memutuskan untuk masuk ke dalam dan menyuapi gadis kecil itu. Membiarkan Wira menunggu di teras kontrakan dalam keadaan pintu tertutup rapat.
Sejam berlalu, Wira hampir putus. Jangankan Naina, bayangan wanita itu pun tak muncul. Berkali-kali melirik jam mahal di pergelangan tangannya. Waktu terasa lama sekali berjalan.
Pria itu baru saja memutuskan untuk menyudahi penantian panjangnya. Wira berencana kembali lagi besok pagi. Sudah terlalu malam kalau memaksa tetap berkunjung. Apalagi status Naina, membuatnya tidak leluasa bertemu. Tidak enak dengan warga sekitar, yang bisa saja berpikiran buruk pada ibu dari anaknya.
Wira baru saja membuka pintu mobil saat melihat Naina yang berjalan masuk ke dalam gang sambil menenteng plastik belanjaan.
"Kamu dari mana saja, Nai? Kenapa pulangnya malam?" tanya Wira tiba-tiba mengejutkan. Pria itu sudah mengekor di belakang Naina.
"Mas, kamu mengejutkanku," ucap Naina tersentak. Di tengah kegelapan malam yang hanya bercahayakan temaram lampu jalan, tiba-tiba ada suara menyerukan namanya.
"Baru pulang? Aku menunggumu sejak tadi." Wira menjelaskan.
"Ya, tadi macet di jalan. Aku juga mampir ke supermaket membeli popok dan susu Wina. Ada apa mencariku, Mas?" tanya Naina. Rasa sungkannya pada Wira perlahan mencair.
"Ada yang ingin aku bicarakan. Tadinya aku ingin mengajak Wina keluar makan malam, tetapi bundanya belum pulang. Aku tidak mungkin membawanya tanpamu," jelas Wira.
"Lain kali saja, Mas."
"Oh ya, tolong sampaikan ke pengasuhnya Wina. Dia belum mengenalku, jadi masih ketakutan aku akan berniat buruk pada Wina," jelas Wira.
"Ya, nanti aku akan menyampaikannya. Mas mau bicara sekarang? Di rumahku?" tanya Naina.
"Kita bicara di luar saja. Aku tidak enak dengan tetanggamu. Nanti mereka berpikiran yang bukan-bukan lagi. Aku menunggumu di mobil, Nai." Wira menunjuk ke arah mobilnya yang terparkir.
***
Lima belas menit menunggu, Wira hampir tertidur saat Naina mengetuk kaca jendela mobil.
“Masuk, Nai.” Membuka pintu mobil di sampingnya, Wira mempersilakan Naina masuk.
“Maaf, aku tidak bisa lama-lama, Mas. Wina sudah mengantuk. Dia mau tidur denganku,” jelas Naina.
“Baiklah. Bagaimana tawaranku tadi siang, Nai?” tanya Wira setelah Naina duduk dengan nyaman. Pria itu menggenggam erat kemudi. Meskipun terlihat biasa, tetapi jantungnya berdetak kencang.
“Aku belum tahu, Mas.”
“Aku akan meminta orangku merenovasinya. Mobilmu ada di tempat mama. Ajak Wina pulang ke sana. Semua itu milikmu. Aku akan membiayai semua kebutuhan Wina termasuk pengasuhnya. Jangan khawatir, Nai.”
“Yang berlalu, aku sudah mencoba melupakannya. Sekarang aku hanya fokus pada Wina. Jangan khawatir, Nai. Aku tidak akan mengganggu kehidupan pribadimu.” Wira mencoba menguatkan hati. Menghadapi Naina yang keras kepala, bukanlah hal mudah. Mantan istrinya itu tidak akan semudah itu menerima bantuannya, kecuali keadaan memaksa.
__ADS_1
***
TBC