
“Aku belum tahu, Mas.” Naina menjawab singkat. Tidak pernah tersirat sedikit pun di benaknya untuk mengenalkan Wira pada putrinya. Ia hanya berharap Wira bahagia dengan kehidupan barunya. Seperti ia yang juga berjuang untuk kebahagiaan Wina.
Berpisah adalah pilihannya dan ini adalah jalan yang harus dilalui tanpa boleh mengeluh. Suka duka, tangis atau tawa tentu saja ia harus menerima semua. Menjalani tanpa protes pada siapa pun termasuk Tuhan.
“Kamu tidak kasihan pada Wina?” tanya Dennis lagi.
“Mungkin nanti, Mas. Tidak sekarang.” Naina melempar jawaban pelan, nyaris tidak terdengar.
Bulir-bulir air mata itu mengalir semakin deras. Tisu di tangan Naina pun semakin basah.
“Jangan menangis lagi. Suatu saat pasti kamu harus mengenalkannya pada mantan suamimu. Aku tidak bisa memaksa. Itu keputusanmu, Nai.” Dennis berucap pelan sambil menepuk pundak Naina yang bergetar hebat.
“Aku belum siap bertemu dengannya. Aku takut aku goyah, Mas. Aku sudah memutuskan untuk tidak kembali padanya sampai kapan pun.” Naina berkata lirih.
Dennis tersenyum kecut. Hampir tiga tahun mengenal dekat Naina, ia tahu jelas seberapa kepala batunya wanita yang duduk di sisinya. Setiap Naina sudah memutuskan, tidak akan pernah ada kata tidak. Bahkan ia tahu, Naina terkadang terlalu tega pada dirinya sendiri.
“Aku hanya kasihan pada putrimu,” ucap Dennis. Pria itu sudah menyiapkan diri sewaktu-waktu Naina mengetahui kebenarannya. Ia sudah menyiapkan hati andai semua kebusukannya di masa lalu akan terbongkar.
Kehadiran Wina di dalam hidup Dennis, banyak membawa perubahan bagi pria itu. Dendam dan sakit hatinya akan masa lalu perlahan terkikis oleh pelukan gadis kecil yang tak lain korban dari dendam masa lalunya sendiri. Setiap melihat senyum gadis kecil yang tidak bersalah itu, hatinya tercubit. Dihantui rasa bersalah yang tak berkesudahan.
Andai Naina memutuskan kembali pada Wira, ia tidak keberatan. Namun Naina terlalu keras hati sampai sejauh ini. Itu yang bisa ditangkap Dennis selama mereka dekat. Dennis yakin, andai Naina tahu kebenarannya akan tetap sulit untuk wanita itu memutuskan kembali ke Wira.
“Tidak semua orang ditakdirkan hidup sesuai dengan apa yang diharapkannya. Aku ingin menikmati setiap kesulitan hidup yang digariskan Tuhan padaku.” Naina berkata dengan yakin.
“Ini adalah jalan yang aku pilih. Aku akan membahagiakan Wina dengan tanganku sendiri. Suatu saat cukup Wina tahu siapa ayahnya,” lanjut Naina masih dengan sikap keras kepalanya.
Dennis tidak bisa berkata-kata. Pria itu kembali menjalankan mobilnya, memacu dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota yang padat.
***
__ADS_1
Ruang rapat RD Group.
Wira terlihat ditemani asistennya William duduk mengelilingi meja rapat bersama pemilik RD Group, Reynaldi Pratama dan beberapa orang staff. Tampak sepupunya, Barata Wirayudha yang juga ditemani Dion menyimak apa yang disampaikan salah seorang staff.
RD Group selaku pemenang tender dari mega proyek Halim Group menggandeng perusahaan Bara dan Wira untuk ikut terlibat dalam proyek pembangunan belasan rumah sakit bertaraf internasional yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia.
Rapat yang dihadiri langsung oleh pemilik perusahaan yang sebelumnya sudah saling mengenal itu berjalan lancar tanpa kendala. Untuk perusahaan Wira, ini adalah kerjasama keduanya dengan salah satu perusahaan property developer dan real estate terkemuka di Jakarta itu. Sedangkan perusahaan sepupunya memang sejak dulu sudah sering dilibatkan dengan semua proyek RD Group. Perusahaan Bara yang memang lebih fokus pada desain interior itu sudah sejak zaman dulu berjalan bersama RD Group. Bahkan saat masih dipimpin oleh Riadi Dirgantara.
Dua jam terkurung di dalam ruang rapat membahas proyek dengan angka fantastis. Rapat itu akhirnya berakhir menjelang makan siang.
“Bulan depan kemungkinan proyek ini akan ditangani langsung oleh wakilku yang baru.” Pram berdiri sambil menyalami Wira yang duduk di dekatnya. Bergantian menyalami Bara yang duduk di seberang meja.
“Wow! Ada pergantian posisi, kah?” tanya Bara. Obrolan setelah rapat dibubarkan itu terasa lebih santai.
“Aku akan mengenalkannya nanti. Bagaimana kalau kita lanjutkan obrolan kita dengan makan siang bersama?” tawar Pram. Memandang Bara dan Wira bergantian.
“Aku ikut saja, Pak Pram.” Wira yang memang tidak terlalu dekat, masih menyapa dengan panggilan formal. Apalagi umurnya terbilang paling muda di antara yang lain.
Wira yang berjalan keluar lebih dulu dikejutkan dengan seorang bayi laki-laki yang merangkak tak tentu arah. Bayi lucu itu tiba-tiba merengkuh sepatunya. Kemudian memeluk kedua kakinya dengan erat. Berusaha berdiri dengan kaki gemetaran.
“Da ... da ... dih!” celoteh bayi itu dengan mulut basah oleh air liur. Ekspresinya lucu dan menggemaskan. Bayi blesteran itu tampak gemuk, tertawa menengadah padanya.
Dari kejauhan terlihat seorang gadis berseragam biru berlari mendekat.
“Kent!” teriaknya, mengalihkan perhatian Wira. Pram dan Bara yang masih tertinggal di ruang rapat belum menyadari kehadiran makhluk lucu, yang sanggup mencuri hati siapa saja yang melihat.
“Kent? Namamu Kent?” tanya Wira. Ia membungkuk, meraih tubuh bayi mungil yang belum bisa berjalan itu dan membawanya ke dalam gendongan. Untuk pertama kalinya, setelah sekian tahun berpisah dari Nola, ia menggendong anak kecil lagi.
“Da ... da ... dih!” Bayi mungil itu kembali berceloteh sambil menepuk pelan wajah tampan Wira.
__ADS_1
Ada haru menyapa, sedih menyerang saat memeluk bayi yang bernama Kent. Ia teringat kembali dengan Naina yang sedang hamil saat meninggalkannya. Ia melewatkan masa tumbuh kembang putrinya, yang diketahui bernama Wina. Ia melewatkan kesempatan melihat putrinya lahir ke dunia, melewatkan suara tangis putrinya setiap malam, melewatkan saat-saat mengganti popok, melewatkan saat gadis kecilnya belajar merangkak dan belajar memanggilnya papa.
Banyak hal-hal indah dilewatkannya, bahkan ia baru menyadari kehadiran putrinya kemarin. Entah harus menghujat siapa. Terkadang ia merasa Tuhan tidak adil padanya. Di saat ia masih berumah tangga dengan Naina, Tuhan seolah menutup mata akan doa-doanya yang begitu menginginkan seorang anak. Namun saat ia berpisah, takdir seakan mengoloknya. Menghadirkan seorang anak perempuan manis dan cantik namun tidak bisa disentuhnya. Hanya bisa mengecup dan memeluk foto Wina di ponselnya.
“Kent!” Pram terkejut saat melihat putranya, Kentley yang berada di gendongan Wira. Pram bisa melihat jelas liur putranya membasahi pundak Wira yang terbalut jas hitam.
“Da ... da ... dih!” Bayi Kentley berceloteh gembira saat melihat Pram.
“Maaf Pak Wira, sudah merepotkan,” ucap Pram merasa sungkan. Buru-buru mengambil alih putranya. Mata pria itu membulat, menatap tajam Kinara, pengasuh putranya yang berdiri membeku di tempat.
“Oh tidak apa-apa, Pak Pram. Anaknya lucu sekali.” Wira tersenyum, mengusap pelan rambut tebal Kentley sebelum berjalan menuju lift.
“Kamu lihat Pram. Dia menyedihkan sekali, kan?” Bara yang mengekor di belakang Pram ikut berkomentar.
“Bagaimana dengan pembicaraan kita sebelumnya. Aku tertarik menjodohkannya dengan mantan adik iparku. Sepertinya mereka cocok,” lanjut Bara.
“Stella?” tanya Pram memastikan.
“Bara mengangguk. “Bagaimana menurutmu?”
“Aku tidak ikut-ikutan. Mengurusi Kailla saja kepalaku hampir pecah. Kamu lihat sendiri, anakku sudah kelayapan sampai ke ruang rapat. Aku yakin anakku yang lain juga nasibnya tidak jauh berbeda. Jangan-jangan Bentley sudah sampai ke parkiran kantor.” Pram terkekeh.
“Padahal aku sudah menyiapkan dua pengasuh. Aku yakin Kailla sedang sibuk mencari anakku yang lainnya saat ini,” lanjut Pram.
“Bagaimana bisa?” tanya Bara heran.
“Apa yang tidak bisa dilakukan Kailla?” Pram tertawa terbahak-bahak.
***
__ADS_1
TBC
Author merevisi umur Wina jadi 2,5 tahun ya. Setelah dihitung, umur Wina harusnya 2,5 tahun sekarang. Sewaktu ditinggal Naina ke Austria, Wina berumur 1,5 tahun.