Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 5


__ADS_3

“Stevi?”


Wira hampir tidak percaya memandang wanita yang sedang berjongkok membersihkan pasta dan jus buah yang berceceran di lantai.


Suara pelan keluar begitu saja dari bibir Wira, sontak mengalihkan perhatian wanita yang masih sibuk dengan aktivitasnya.


“Wir, ini kamu?” tanya Stevi, mendongakan kepala. Meneliti pria tampan dengan tampilan mahal, berdiri gagah di depannya.


“Di sana memang tempatmu!” ejek Wira, berjalan melangkahi tumpahan makanan dan minuman yang sedang dibersihkan.


“Wir, tunggu. Kamu harus menolongku.” Stevi segera melepaskan semua, membiarkan tetap berantakan. Wanita itu memilih menyusul Wira.


Secercah harap membuncah di dadanya begitu mendapati Wira adalah pria yang baru menabraknya. Selama ini, ia sudah berjuang ke sana kemari untuk mencari tahu keberadaan Dennis dan Nola, putrinya. Sampai puluhan purnama terlewati begitu saja, semua usahanya sia-sia. Jangankan keberadaan Dennis, bahkan bayangannya pun tak terlihat. Pria itu bersembunyi begitu rapat, sampai tidak terlacak olehnya yang tidak punya apa-apa.


“Wir, kamu harus menolongku. Hanya kamu yang bisa membantuku saat ini.”


Setengah berlari, Stevi mendatangi Wira yang baru saja menjatuhkan bokongnya di kursi empuk. Memupuk kembali asanya yang sempat sirna selama ini.


“Wir, tolong aku. Kamu pasti bisa. Aku merindukan Nola,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Berdiri dengan kepala tertunduk, mengabaikan kekacauan yang masih berjejak di lantai. Jus tumpah bercampur pasta itu mengotori lantai restoran.


Wira terkekeh. Ingin bersorak-sorai saat Stevi menikmati kesedihan yang sama dengannya. Ingin mengucapkan selamat atas kesengsaraan dan nestapa yang juga dialami wanita ular yang sudah ikut ambil bagian dalam menghancurkan hidupnya.


“Aku tidak ikut campur urusanmu, Stev. Silakan nikmati apa yang kamu tanam sekarang.” Wira mengibaskan tangannya, mengusir Stevi.


“Wir, aku mohon. Tolong bantu aku mencari Nola,” pinta Stevi, berurai air mata. Kedua tangannya menangkup di dada, memohon dengan wajah memelas.


Selama tiga tahun ini hidupnya hancur berantakan. Ditolak bekerja di beberapa perusahaan besar. Luntang lantung tidak memiliki pegangan. Ijazah dan identitasnya masih tertahan di kediaman Wira. Bahkan, ia keluar dari rumah hanya membawa pakaian yang melekat di tubuhnya. Kehilangan putri semata wayang yang di awal tidak begitu dirasakannya, tetapi semakin ke sini ia benar-benar merasakan kesedihan mendalam. Nola hilang dalam dekapannya.


Bagaimanapun, Nola putri kandungnya. Ia yang mengandung selama sembilan bulan dan berjuang melahirkannya. Selama setahun lebih, mereka menghabiskan waktu bersama. Kelucuan demi kelucuan. Celotehan-celotehan Nola berputar kembali di pikirannya, semakin membuatnya hancur berkeping-keping.


“Tolong aku, Wir. Aku merindukan Nola. Apa kamu tidak memiliki belas kasih sedikit pun padaku, Wir.” Stevi masih memohon.


“Lalu aku harus meminta bantuan siapa? Meminta belas kasihan siapa? Aku juga kehilangan Naina dan anakku. Kamu bisa membantuku?” todong Wira, menatap tajam pada Stevi, membuat wanita itu bergidik ngeri.

__ADS_1


“Kalau kamu bisa membantuku menemukan Naina dan anakku, aku mungkin akan sedikit berbaik hati membantumu.” Wira berkata sinis.


“Pergi dariku! Jangan menampakan wajah memuakanmu itu di depanku. Aku jijik melihatmu!” ungkap Wira, semakin kesal.


Stevi pergi tanpa banyak protes seperti biasanya. Kondisinya jauh berbeda dan sangat mengenaskan dibanding dulu sebelum menikah dengan Wira. Kalau dulu ia masih tinggal di apartemen, sekarang hanya mampu mengontrak di rumah petak sederhana dan makan seadanya. Pernah mencoba meminta bantuan mama dan papa Wira, tetapi ia diusir layaknya seorang pengemis. Pintu rumah mantan mertuanya tertutup rapat, tidak mau menerima kedatangannya.


“Siang Bos!” tiba-tiba seseorang menyapa Wira.


Pria yang sedang tenggelam dalam lamunannya itu tersentak. Seketika kembali di dunia nyata. Kehadiran Stevi kembali membuka luka lama yang berusaha ditutupi. Bagai disiram cuka, perih kembali.


“Bagaimana Jack?” tanya Wira menegakan duduknya. Bersiap menyimak informasi yang akan disampaikan orangnya.


“Sepertinya bukan orang yang sama. Naina yang ini sudah menikah, Bos. Namanya juga berbeda.” Jack memulai informasinya.


“Kamu sudah bertemu dengannya?” tanya Wira.


“Belum. Naina Joseph sedang tidak di Indonesia. Bekerja di luar negri. Putrinya diasuh ibu mertuanya, dibantu seorang pengasuh.” Jack menambahkan.


“Hah? Suaminya?” tanya Wira masih menyimpan penasarannya.


“Suaminya juga tidak tinggal di sana. Mereka sama-sama bekerja di luar kota Bandung. Identitas suaminya ini masih simpang siur. Warga sekitar tidak begitu mengenal keluarga ini. Mereka baru tiga tahun menetap di sana. Dan sangat tertutup.”


“Kamu tidak mendapatkan fotonya?” tanya Wira.


“Tidak Bos. Hanya sempat mengambil foto putri dan pengasuhnya,” ucap Jack, menyodorkan foto seorang wanita muda yang sedang menggendong gadis kecil.


Wira menggeleng, tidak bisa mengenali sama sekali.


“Siapa nama putrinya?” tanya Wira, masih menyimpan penasaran.


“Wina,” sahut Jack.


Deg—

__ADS_1


Nama Wina begitu familiar di pendengaran Wira. Seperti ada sesuatu yang ingin di sampaikan dari nama singkat dan sederhana itu.


“Hanya Wina saja?” tanya Wira lagi.


Jack menggeleng.


“Itu yang bisa orangku gali. Keluarga ini tertutup sekali, bahkan orangku saja sulit mendekat ke sana. Sepertinya ada orang lain yang ikut mengawasi pergerakan keluarga ini. Atau jangan-jangan mereka bukan dari keluarga sembarangan.”


“Berikan aku alamatnya. Kalau aku sempat, aku akan mendatanginya sendiri. Aku ragu tetapi aku tertarik dengan nama Naina. Apalagi putrinya ini ....” Wira menghela napas kasar.


“Kalau anakku benar-benar lahir ke dunia, seumuran gadis kecil ini. Kirimkan padaku foto gadis kecil itu.”


Jack secepat kilat mengirim foto Wina. “Bos, apa masih mau diteruskan penyelidikan pada keluarga ini?” tanya Jack lagi.


“Aku tidak tahu. Melihat statusnya, aku tidak yakin itu Naina, mantan istriku. Sepengetahuanku selama ini, Naina tidak akan semudah itu jatuh cinta dan menikah.”


“Hanya saja, gadis kecil itu membuatku tertarik. Tidak adakah foto ibu mertuanya?” tanya Wira.


Jack menggeleng lagi. "Bahkan warga kampung saja tidak pernah melihat ibu ini secara terang-terangan. Dia jarang keluar rumah, paling sampai teras rumah. Mereka sangat tertutup sekali. Tidak pernah bergaul atau sekedar mengobrol dengan warga kampung."


"Beberapa warga sempat melihat Naina dan suaminya ini ketika melahirkan di klinik bersalin yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Setelah itu keduanya menghilang begitu saja.”


“Info dari warga ... yang sering keluar rumah hanya Wina dan pengasuhnya. Terkadang membeli sayur atau kebutuhan rumah di warung.” Jack menimpali.


“Sejauh ini aku paham.” Wira mengangguk.


“Hanya saja kalau melihat suami Naina Joseph, sepertinya dia dari keluarga kaya. Terlihat dari mobil yang bergonta-ganti setiap datang berkunjung. Isu warga sekitar, Naina ini istri simpanan, hanya saja tidak ada yang tahu jelas. Karena suaminya benar-benar menutupi semua informasi. Bahkan aku tidak bisa mendapat informasi apa pun dari orang kelurahan maupun RT RW tempat mereka tinggal.”


***


TBC


Love you all.

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2