Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 13


__ADS_3

“Apa maksud semua ini?” Tiba-tiba terdengar suara feminim mengejutkan Mbok Sumi yang masih memeluk erat putra angkatnya, Dennis.


Naina yang entah sejak kapan berdiri di balik pintu, diam-diam menguping obrolan di teras rumah. Sejak tadi wanita itu menggigit bibir, menahan suara tangisnya supaya tidak terdengar keluar. Kalau Dennis dan Mbok Sumi terkejut melihat Naina, sebaliknya ibu dari Wina itu terguncang setelah mendengar sebagian kebenaran yang terungkap dari jeritan hati Dennis.


“Nai ....” Dennis dan Mbok Sumi menyapa hampir bersamaan. Bagai petir menyambar, tanpa ada hujan ataupun badai. Semuanya begitu mendadak. Wajah kedua orang yang sedang menumpahkan isi hati di teras rumah itu memucat. Dennis buru-buru menghampiri Naina, tidak mau wanita yang dicintainya berubah jadi membencinya. Tidak masalah Naina tidak mencintainya, tetapi ia tidak mau sampai Naina membencinya. Silakan Tuhan menghukumnya dengan cara apapun, tetapi tidak dengan menjauhkan Naina darinya.


“Nai, dengarkan aku. Please ....” pinta Dennis sembari meraih tangan Naina dan menggenggam erat.


“Lepas!” perintah Naina menghempas kasar tangan Dennis. Air matanya mengalir deras. Ia mendengar semua perkataan Dennis, meski belum terang benderang.


“Nai, aku mohon dengarkan penjelasanku. Apakah kita bisa bicara berdua?” pinta Dennis. Pria itu ketakutan dan panik saat melihat kemarahan bercampur kesedihan yang terlihat jelas di wajah cantik Naina.


“Lepaskan aku!” perintah Naina setengah berteriak. Mengerahkan tenaganya dan menghempaskan tangan Dennis yang sudah memeluk erat pinggangnya. Pria yang sudah dianggap kakaknya sendiri sudah menyembunyikan banyak hal di belakangnya.


“Ikut aku sekarang. Kita bicara di mobil!” tegas Dennis menyeret Naina mengikuti langkahnya. Tenaga Dennis yang jauh lebih besar, membuat Naina tidak berkutik.


“Bu, titip Wina.” Dennis masih sempat berpesan pada Mbok Sumi sebelum memaksa Naina masuk ke dalam pajero sport hitam.


***


“Maafkan aku, Nai.” Dennis melajukan mobilnya dengan kencang. Ia tidak memberi kesempatan Naina turun dari mobil. Sejak tadi tangan kirinya terus menggenggam erat tangan Naina.


“Lepaskan aku, Mas. Aku mau pulang,” Naina melunak setelah dirasa tidak akan mampu melawan Dennis. Ia memilih memberi kesempatan pria itu bicara dan ia bisa pulang ke rumah memeluk Wina.


Mata Naina basah, hidungnya memerah. Ia benar-benar dikejutkan dengan kenyataan yang baru tersingkap. Apa yang terjadi sebenarnya, hanya Dennis dan Mbok Sumi yang mengetahui dengan jelas.


“Kita harus bicara lebih dulu. Baru aku akan mengantarmu pulang, Nai.” Dennis masih memacu mobilnya sesekali melirih ke arah wanita yang duduk di sampingnya.


“Lepaskan tanganku, Mas. Aku janji akan memberimu kesempatan bicara.” Naina memohon di sela tangisan tanpa suaranya.


“Baiklah.” Dennis menurut.

__ADS_1


Kendaraan beroda empat itu melaju memecah jalan komplek. Tak lama, Dennis membelokan mobilnya ke sebuah rumah mewah tak jauh setelah mereka keluar dari komplek perumahan yang ditinggali Mbok Sumi dan Wina seminggu ini. Rumah megah tiga lantai bergaya Eropa klasik dengan nuansa putih berdiri gagah di depan mobil yang sudah berhenti sempurna.


“Ikut aku sekarang!” pinta Dennis. Ia membuka pintu mobil dan menarik tangan Naina keluar dari dalam mobil. Berbekal anak kunci yang disimpan di dalam saku celana, ia membuka pintu rumah dan mengajak Naina masuk.


“Mas, aku mau pulang. Aku tidak mau masuk ke dalam,” pinta Naina. Terselip rasa takut di dalam hatinya saat melihat rumah besar itu tak berpenghuni. Tak ada tanda-tanda manusia di dalamnya. Bergidik ngeri, Naina berusaha melepaskan diri.


“Kenapa? Kamu takut padaku, Nai?” tanya Dennis, menoleh pada wanita di sampingnya.


“Ti ... tidak!” sahut Naina terbata. Meskipun begitu, ia berusah terlihat berani, tidak ingin Dennis melihat kelemahannya.


“Apa yang ingin kamu tanyakan sekarang? Apa yang membuatmu marah? Apa yang membuatmu menangis?” tanya Dennis membuka pembicaraan.


“Aku mendengar apa yang Mas bicarakan dengan Mbok Sumi. Ada hubungan apa di antara Mas dengan Mas Wira? Kenapa Mas menyebutnya adik?” todong Naina.


“Ada lagi?” tanya Dennis.


Naina menggeleng. Ia hanya mendengar penyesalan Dennis sekaligus pernyataan cinta pria itu. Tentu saja ia tidak akan mengungkit isi hati Dennis di sini. Ia tidak peduli apa yang dirasakan pria itu padanya. Memutuskan bercerai dengan Wira, ia sudah mengubur dalam-dalam perasaan cintanya. Hidupnya hanya untuk Wina.


“Baiklah, aku akan menceritakan semuanya padamu.” Dennis mengajak Naina masuk lebih dalam. Rumah itu sepi tak terlihat seorang pun di dalamnya, tetapi masih tampak bersih dan terawat.


Baru saja kembali dari Austria, tadinya ia ingin Naina fokus dengan Wina. Membayar setahun yang terlewati tanpa pusing dengan biaya hidup dan lain-lain. Benar-benar menikmati kebersamaan dengan Wina. Namun Tuhan berkata lain, baru saja menginjak kaki kembali ke Indonesia dan semua harus terungkap.


“Selama di Jakarta aku tinggal di sini. Bersama putriku dan pengasuhnya.” Dennis menunjuk foto kanvas berukuran 60 x 80 cm yang tergantung di dinding ruang keluarga.


Deg—


Naina terkejut saat matanya tertuju pada foto Dennis bersama gadis kecil yang dikenalinya. Ya, Itu Nola Pelangie Wirayudha. Di dalam foto itu tampak Dennis duduk memangku Nola yang tersenyum lebar.


“Apa maksud semua ini, Mas?” tanya Naina bingung.


“Kamu hanya mendengar sebagian cerita, Nai. Aku akan mencoba jujur padamu. Aku tahu aku banyak berbuat salah padamu.” Jeda sejenak, Dennis mengamati raut wajah Naina.

__ADS_1


“Sebenarnya Nola putriku dan Stevi!” ungkap Dennis. Petir susulan menggelegar, kali ini sanggup membuat Naina melemas. Hal yang tidak pernah diduganya.


“Bagaimana bisa?” tanya Naina.


“Wira adikku. Kami saudara seibu berbeda ayah.” Dennis menjelaskan.


“Lalu?”


“Aku yang membuatmu bercerai dari Wira. Aku yang membuat semuanya menjadi seperti ini. Aku bersalah padamu, Nai,” ucap Dennis. Suaranya melemah, Dennis tertunduk.


“Bagaimana bisa? Kamu bercanda, kan?” Naina masih tidak percaya.


“Nola putriku dan ... aku yang mengatur semuanya, seolah-olah terlihat Nola adalah putri Wira. Aku yang membuat Wira menikahi Stevi. Aku membalaskan dendam pada mamaku melalui Wira. Aku ingin mama merasakan apa yang aku rasakan. Kehilangan seperti aku kehilangannya saat masih kecil. Aku ingin melihat mama hancur seperti aku dan papa hancur saat ditinggalkannya demi uang dan pria lain.” Dennis terduduk di lantai. Tubuhnya melemas.


“Hasil tes DNA?” tanya Naina memastikan lagi,


“Ya, semua adalah ulahku.” Dennis menjawab dengan yakin.


“Ya Tuhan, tega kamu, Mas.” Air mata Naina bercucuran. Tubuhnya merosot ke lantai, jiwanya terguncang. Setelah mendengar kebenarannya, ia dihantam rasa bersalah pada Wira. Selama ini ia tidak pernah sekali pun memberi kesempatan pada Wira. Ia tidak mau mendengar permohonan Wira sama sekali. Bahkan sampai detik terakhir, ia sangat yakin dengan keputusannya.


“Kembali ke Wira, dia tidak bersalah. Aku yang menghancurkan rumah tanggamu,” pinta Dennis.


Naina menggeleng. “Aku yang menghancurkan rumah tanggaku sendiri. Aku tidak akan kembali padanya. Ini memang takdirku ...” Naina bangkit dari duduknya, menghapus kasar air mata yang menghiasi wajahnya. Berjalan keluar dari rumah dengan tergesa-gesa. Ia tidak mau berlama-lama berada di dekat Dennis.


“Nai, kamu mau ke mana?” tanya Dennis. Pria itu buru-buru menahan tangan Naina.


“Aku mau pulang menemui Wina,” sahut Naina, menghempas kasar tangan Dennis.


“Aku akan mengantarmu, Nai.”


“Tidak! Aku pulang sendiri. Jangan pernah memperlihatkan wajahmu di hadapanku lagi, Mas,” tegas Naina mengancam.

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2