
Naina kembali ke kamar, setelah memastikan Dennis menghabiskan makan malamnya. Ia melihat sendiri bagaimana terpuruknya pria itu saat ditinggal Mbok Sumi. Itu juga yang dirasakannya saat ini. Kesedihan itu bukan hanya milik Dennis, ia juga merasakan kesedihan yang sama.
Ia pernah marah, pernah membenci, pernah kecewa, tetapi Wina dan Wira mengajarkannya untuk berdamai. Dan meninggalnya Mbok Sumi semakin membuatnya sadar, tidak ada gunanya memupuk dendam yang akan membuatnya menyesal suatu saat nanti.
Seburuk apapun masa lalu Mbok Sumi, ia belajar ikhlas untuk memaafkan. Sekejam apapun yang dilakukan Mbok Sumi pada kehidupannya, tiga tahun ini Mbok Sumi sudah membayarnya dengan cinta dan sayang yang tulus padanya dan Wina.
Netranya menatap nanar pada jam dinding yang tergantung di kamar, waktu sudah menunjukan pukul 21.10 malam. Udara malam di Bandung terasa dingin menusuk kulit, Naina memilih bersembunyi di balik selimut hangat. Mengirim doa untuk kepergian Mbok Sumi yang sudah dianggap ibunya sendiri.
Cahaya kuning lampu kamar semakin membuat matanya memanas, bulir-bulir kristal itu terjatuh lagi. Seharian sibuk, di saat sendirian ingatannya tertuju pada Wina. Rindunya menumpuk pada putri kecil yang sekarang sedang sakit di Jakarta. Dengan tega ia menitipkannya pada Wira demi mengantar Mbok Sumi ke peristirahatan terakhirnya.
Meraih ponsel dari atas nakas, Naina mengusap pelan layar benda pipih persegi itu dan mencoba menghubungi Wira.
“Mas, Wina bagaimana?” tanya Naina saat nada sambung itu berganti dengan suara maskulin Wira.
“Baik. Wina sudah tidur, Nai.”
“Apa Wina menyusahkanmu seharian ini, Mas?” tanya Naina lagi, menyelipkan ponsel putih di antara telinga dan bantal. Ia memilih berbaring menyamping sembari mendengar suara lembut Wira.
“Tidak. Ada Mama menemaniku di rumah sakit. Aku meminta Rima pulang ke kontrakan. Pasti gadis itu merasa tidak nyaman saat harus berbagi kamar denganku. Jadi aku putuskan meminta Mama saja yang menemani,” jelas Wira.
“Oh ... apa Wina mencariku, Mas?” tanya Naina lagi. Secuil rasa bersalah menghujam di ulu hati, tetapi ia tidak bisa mengabaikan Mbok Sumi begitu saja.
“Tadi siang ... sempat mencarimu, tetapi dia mulai terbiasa denganku sekarang. Sudah sering memanggil ayah setiap membutuhkan sesuatu. Ada hikmah juga dibalik sakitnya Wina.” Wira tergelak pelan. Kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata saat putri kecilnya menyerukan namanya dengan manja.
“Syukurlah, Mas. Aku senang mendengarnya.” Senyum terukir di wajah sembab Naina.
“Terima kasih sudah memberiku kesempatan menjaga Wina. Kamu tidak perlu khawatir, Nai. Wina pasti baik-baik saja.” Wira menenangkan.
“Ya, Mas.”
“Bagaimana dengan pemakaman Mbok Sumi? Apa sudah beres semua?” tanya Wira.
Tidak ada jawaban. Naina menggigit bibir saat Wira menyinggung nama perempuan renta yang sudah pergi dari kehidupannya dengan cara tragis. Ia berusaha menahan rasa sesal yang menyesaki dadanya.
__ADS_1
“Sudah beres, Mas.”
“Ingin menangis? Aku siap mendengarnya,” tawar Wira. Ia seakan paham apa yang dirasakan lawan bicaranya di ujung panggilan.
Mendengar kalimat terakhir Wira, tangis Naina pecah. Ibu muda itu terisak menumpahkan perasaannya yang tertahan.
“Aku menyesal, Mas. Seharusnya aku membiarkan Mbok Sumi menemui Wina di detik-detik terakhir usianya. Kalau tahu akan seperti ini, aku memilih untuk memaafkannya sejak dulu. Aku menyesal, Mas.”
“Nai, semua akan baik-baik saja. Mbok Sumi juga mengerti dengan keberatanmu.”
“Ya ... selama ini Mbok Sumi yang menjagaku, Mas. Menjaga Wina untukku. Dia merawat kami berdua. Saat aku berjuang melahirkan Wina, Mbok Sumi setia mendampingiku. Dia yang mengurus Wina sejak masih bayi merah, mengajarkan Wina banyak hal. Aku melupakan semuanya, aku melupakan semua jasanya dan memilih untuk tidak memaafkannya. Aku menyesal, Mas,” isak Naina.
“Sudah, jangan menangis lagi,” hibur Wira.
“Mas ... tahu ... Mbok Sumi hendak menemui Wina, membawakan makanan kesukaan Wina. Dia pergi bahkan sebelum sempat menemui cucunya.”
“Sudah, jangan menangis lagi. Kapan kamu kembali?” tanya Wira, mengalihkan pembicaraan.
“Baiklah, aku menunggumu, Nai.”
***
Pukul 10.00 pagi, mobil yang dikendarai Dennis keluar tol dan menuju ke rumah sakit tempat Wina dirawat. Naina yang lebih banyak diam, masih belum bisa membenahi perasaannya. Penyesalan itu masih terlihat jelas dari mata indahnya.
Melangkah beriringan menuju ke kamar perawatan Wina, wajah keduanya masih menyimpan kesedihan. Tampak Dennis mendorong pelan pintu panel bercat putih, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar.
Wina, gadis kecil itu sedang disuapi Wira. Berteriak histeris saat mendapati Dennis yang datang menemuinya. Kedua tangannya terulur ke depan, menggapai pria tampan itu untuk meminta digendong.
“Daddy ... Daddy ....” pekik Wina, mengabaikan Wira yang sedang berjuang menyuapinya menghabiskan sarapan yang terlewat beberapa jam.
“Daddy ... Daddy ....” Wina bergelayut manja di leher Dennis, mengabaikan tangan Wira yang menggantung dengan sendok di tangan, bahkan mengabaikan bundanya.
Kalau saat ini Wina bahagia akan pertemuannya dengan Dennis, di sudut kamar tampak wanita paruh baya yang duduk membeku. Matanya berkaca-kaca menatap Dennis. Kesadarannya nyaris hilang saat mengenali siapa yang baru masuk ke kamar dan menemui cucunya.
__ADS_1
“Maaf, Daddy baru sempat menjenguk Wina.” Dennis bersuara sembari menghadiahkan kecupan di kedua pipi gembul Wina.
“Ayah ....” Tangan mungil Wina menunjuk ke arah Wira seakan memperkenalkan ayahnya pada Dennis.
“Ya, itu ... Ayah.” Dennis tersenyum. Lagi-lagi melabuhkan kecupan di pucuk kepala Wina.
Mama Wira masih menatap tanpa berkedip. Tubuhnya gemetar hebat. Ia tidak menyangka sama sekali, putra yang dicarinya selama ini tiba-tiba muncul di hadapannya. Berjalan mendekat, Mama Wira tanpa sadar sudah berdiri di dekat Dennis.
“Dennis ... ini Dennis, kan? Putraku Dennis?” tanya Mama Wira terbata.
Sudah lama ia menunggu saat ini tiba. Ia menanti detik-detik pertemuan kembali dengan putra sulung yang ditinggalkannya. Tiga tahun, ia hidup di dalam penyesalan. Menyimpan semua beban sambil berdoa agar bisa dipertemukan dengan putranya kembali. Ada kata-kata yang belum sempat diucapkannya di pertemuan terakhir mereka.
“Dennis?” sapanya lagi. Tangan kurusnya tampak bergetar, menyentuh pundak Dennis yang masih menggendong Wina.
Dennis masih membeku, tatapannya kosong. Demikian juga pikirannya melayang, tidak di tempat. Pertemuan tiba-tiba dengan sang mama, membuat Dennis tidak sanggup menyiapkan hati.
“Dennis.” Kembali Mama Wira menyapa.
“Ya ....” sahut Dennis setelah sekian lama terdiam. Ia berusaha untuk membuang sisa sakit hati dan dendamnya. Tidak mudah untuk memaafkan mamanya, tetapi perjalanan hidup selama tiga tahun ini membuatnya banyak belajar.
Tangis Mama Wira pecah saat mendengar jawaban singkat Dennis. Wanita dengan terusan cokelat itu memberanikan diri memeluk putra sulungnya.
“Dennis, maafkan Mama. Tolong maafkan semua kesalahan Mama dan dosa-dosa Mama,” ucapnya. Air mata berlinang, jatuh berderai membasahi pipi yang mulai keriput termakan usia.
“Dennis, tolong maafkan Mama.” Mama Wira mengeratkan dekapannya.
Terdengar helaan napas berat, sebelum akhirnya Dennis menjawab, “ya.”
Singkat, jelas dan terdengar kaku. Tidak ada rasa apa-apa di dalamnya. Hanya tampak Dennis memejamkan matanya yang mulai basah oleh air mata. Tidak mudah untuk memaafkan mamanya. Butuh perjuangan untuk bisa menerima kembali perempuan yang berstatus sebagai mamanya, tetapi tega membuangnya. Bahkan di saat ia belum mengerti apa-apa.
***
TBC
__ADS_1