Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S3. Tas 30


__ADS_3

"Ya, Mas." Naina mengusap air matanya dengan ujung telunjuk sembari menempelkan ponsel Rima di telinganya.


"Aku permisi, Bu." Rima berpamitan setelah memastikan Naina menerima panggilan. Ia tidak mau disemprot Wira, pria itu mungkin bisa lembut pada Naina dan Wina, tetapi tidak padanya atau pekerja lain andai melakukan kesalahan.


Pengasuh itu sempat mengernyit heran melihat air mata yang menghiasi wajah majikannya. Sudah lama sekali tidak melihat rinai kesedihan di paras cantik sang nyonya.


"Kamu di mana, Nai? Kenapa tidak menerima panggilanku?" Pertanyaan beruntun itu meluncur tanpa jeda. Suara Wira menyiratkan kekhawatiran dari seberang.


"Aku ketiduran, Mas. Seharian ini ... aku mengantuk sekali." Naina berusaha menyembunyikan suara seraknya karena terlalu banyak menangis sejak tadi.


"Nai, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Wira merasa tidak enak hati. Pria 31 tahun itu menangkap sesuatu yang berbeda.


"Ya, Mas." Naina menggigit bibir. Ia tidak mau Wira mengetahui perasaan terlukanya.


"Adik bayi baik-baik saja, kan?" Wira memastikan lagi.


"Ya, Mas."


"Baiklah. Aku akan meminta William membuat janji dengan dokter kandunganmu." Wira memutuskan.


"Tidak perlu, Mas. Aku baik-baik saja."


"Kamu yakin, Nai?" Kekhawatiran Wira masih belum pergi, apalagi menyangkut Naina dan kandungannya.


"Ya, Mas. Aku baik-baik saja."


"Ok. Aku matikan dulu, Nai. Jangan terlalu lelah, minta Rima mengurus Wina."

__ADS_1


"Ya, Mas."


"Aku sudah meminta William mencarikan babysitter untuk membantumu mengurus bayi kita, nanti setelah kamu melahirkan" ungkap Wira lagi sebelum benar-benar memutuskan panggilan.


***


Sepanjang hari Naina mengurung diri di kamar putrinya. Ada banyak hal yang dipikirkannya. Hingga malam tiba, Naina tetap bersembunyi di dalam kesendirian. Ibu hamil itu sedang mengenang kembali perjalanan rumah tangganya dulu sebelum dihantam gelombang pasang yang disebut perceraian, mengingat hari-hari bahagia yang dilaluinya bersama Wira.


Air mata kembali jatuh tidak tertahan, Naina merasakan sakit di tempat yang sama. Wira melukainya di saat ia membuka hati dan mulai merasakan cinta itu kembali. Binar-binar bahagia yang baru direngkuhnya sesaat kini hilang lagi. Artis FTV itu membawa petaka di dalam rumah tangga keduanya dengan sosok pria yang sama.


Perasaan yang dikuburnya dalam-dalam, sakit yang dihempasnya di dasar jurang kini hadir lagi. Naina berharap keputusannya benar, kembali dan merajut asa bersama Wira, Wina dan buah hati mereka yang masih di kandungannya. Namun,Tuhan menghukumnya dengan cara yang sama. Hadir lagi wanita lain, mencuri kebahagiaan yang baru saja tumbuh bahkan kuncup itu belum sempat merekah indah.


"Mas, kenapa kamu lakukan lagi padaku? Aku berusaha melupakan rasa sakit ini. Kenapa kamu hadirkan lagi? Aku tidak sanggup. Benar-benar tidak sanggup, Mas." Naina berkata lirih, air mata ibu hamil itu berderai.


Berbaring menyamping di tengah keremangan malam, Naina tidak menyadari kedatangan Wira. Ia meratapi kesedihannya terlalu lama dan berlarut-larut, sampai tidak sadar waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 malam.


"Nai, kamu sakit?" Tiba-tiba Wira sudah berdiri di belakang Naina, menatap punggung ibu hamil yang berguncang pelan.


Naina bungkam. Buru-buru menghapus jejak air mata di pipi. Ia tidak mau Wira melihat air matanya, tidak ingin Wira mengetahui kalau lukanya sedang menganga lagi.


"Mas, kamu sudah pulang?" Suara Naina terdengar serak, ia berbalik dan menyunggingkan senyumannya di tengah pedar jingga lampu meja di atas nakas.


"Kenapa gelap-gelapan di sini? Apa yang kamu rasakan, Nai?" tanya Wira. Diraihnya tubuh sang istri dan didekapnya erat.


"Aku hanya pusing, Mas. Jadi beristirahat di sini. Gelap membuatku cepat tidur," sahut Naina berdusta.


"Apa ada masalah? Kenapa tiba-tiba sakit? Adik bayi tidak apa-apa, kan?" tanya Wira memastikan. Setelah mengurai pelukannya, tangan kanan Wira mengusap lembut perut besar Naina.

__ADS_1


Naina menggeleng lemah.


"Serius, Nai? Kita ke dokter, ya," tawar Wira.


"Aku baik-baik saja, Mas." Naina menolak.


"Serius? Lalu maunya apa?" tanya Wira lagi, berusaha mengajak bicara.


Lagi-lagi Naina menggeleng.


"Kamu sudah makan, Nai?" tanya Wira lagi.


"Sudah, Mas."


"Makannya banyak? Kamu harus makan untuk jagoanku juga," ucap Wira menyunggingkan senyuman hangat sembari merangkum wajah Naina.


"Sudah, Mas."


"Ya sudah. Mau aku peluk?" tanya Wira lagi.


Kedua tangan pria itu sudah merengkuh tubuh Naina dan membawanya ke dalam dekapan. Tanpa menunggu jawaban istrinya, Wira memeluk tubuh dengan perut buncit itu dengan posesif.


"Aku mencintaimu, Nai. Sangat mencintaimu," bisik Wira pelan di telinga Naina sebelum menjatuhkan kepala, bersandar di pucuk kepala istrinya.


Naina terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya ibu hamil itu bersuara. "Aku juga mencintaimu, Mas, bisik Naina pelan, hampir tidak terdengar.


***

__ADS_1


Maaf, pendek. Aku sedang ada kesibukan di RL. Untuk tanya jadwal up bisa masuk ke grup chat atau follow ig-ku casanova_wetyhartanto.


Terima kasih.


__ADS_2