Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 21


__ADS_3

Mobil sedan hitam itu membelah jalanan ibu kota. Wira yang duduk di kursi penumpang dan William menggengam erat kemudi saling diam. Dengan wajah yang selalu berhias gurat kesedihan, Wira memejamkan mata sembari bersandar. Ada penat, ada lelah dan banyak rasa yang dipikulnya selama tiga tahun belakangan. Semuanya melebur, membuat Wira memilih pekerjaan sebagai pelarian.


William yang melirik sang tuan memejamkan mata seolah paham. Tanpa diminta, ia segera memutar lagu favorit Wira dari DVD mobil. Lagu yang menemani Wira setiap di perjalanan. Sedetik kemudian, suara George Benson mengalun lembut, memecah keheningan. Seketika Wira tersenyum sembari menyenandungkannya perlahan, bersamaan dengan suara sang penyanyi.


Nothing’s gonna change my love for you


You ought to know by now how much I love you


One thing you can be sure of


I’ll never ask for more than your love


Nothing’s gonna change my love for you


You ought to know by now how much I love you


The world may change my whole life through


But nothing’s gonna change my love for you


Setengah jam mobil melaju lancar dengan kecepatan sedang, Wira membuka mata saat merasa mobil yang ditumpanginya perlahan melambat.


“Ada apa, Will?” tanya Wira menegakan duduk. Netranya menyapu ke sekeliling untuk mencari tau apa yang terjadi.


“Kita sudah sampai, Bos.” William menjelaskan.


“Hah? Putriku tinggal di sini?” tanya Wira memastikan. Menatap deretan kios dan toko-toko kecil di kiri kanan jalan.


“Bukan di sini, Bos. Di dalam sana.” William menunjuk ke arah jalan setapak yang dicor semen yang hanya bisa dilewati motor.


“Jauh dari sini?” tanya Wira membuka koper hitam bu sengaja diletakan di samping duduknya. Dikeluarkannya sebuah shopping bag berwarna kecoklatan. Tersimpan di dalamnya satu set boneka barbie yang dibelinya di salah satu mall di Hong Kong.


“Kurang lebih seratus meter, Bos.” William jalan mendahului untuk memberitahu rumah yang dimaksud.


Jantung Wira berdetak kencang, perasaannya campur aduk. Kegugupannya saat ini mengalahkan saat menyatakan cinta pada Naina untuk pertama kali. Namun kali ini, kegugupannya bukan pada seorang wanita tetapi pada buah hatinya.


Langkah kaki Wira mengikuti pergerakan William. Ia semakin tak karuan saat asistennya mengetuk pintu sebuah rumah petak kecil bercat cream kecokelatan.


Deg— r


Jantungnya bergemuruh, saat seorang gadis muda muncul dari balik pintu dengan wajah mengantuk. Tampilannya sederhana dengan kaos putih dan celana selutut.


“Maaf, saya ... Wira tidak sanggup melanjutkan kalimatnya saat melihat gadis kecil memeluk boneka lusuh. Boneka yang sama seperti yang ada di foto. Pria itu hampir menangis. Tiba-tiba ia berjongkok untuk menyejajarkan posisi berdirinya. William yang tadinya berdiri di depan, segera menyingkir untuk memberi ruang pada ayah dan anak yang terpisah dan baru bisa bertemu untuk pertama kali setelah tiga tahun lamanya.

__ADS_1


“Hai ... ini Wina?” tanya Wira tersenyum menyambut gadis kecil yang ketakutan. Terlihat dari Wina yang bersembunyi di balik kedua kaki Rima, pengasuhnya.


“Maaf, Bapak-bapak ini siapa? tanya Rima. Buru-buru menggendong Wina. Gadis kecil itu hampir menangis.


“Perkenalkan saya Pratama Wirayudha, mantan suami Ibu Naina Pelangie.” Wira segera berdiri, memperkenal diri.


“Oh, Ibu sedang bekerja.”


“Ya, saya tahu. Saya hanya ingin bertemu dengan putriku, Wina.” Pandangan Wira tertuju pada gadis kecil yang membenamkan wajahnya di ceruk leher si gadis muda.


Rima tertegun mencerna kata-kata Wira. Selama ini, ia tidak tahu menahu mengenai kehidupan pribadi majikannya. Yang ia tahu, kalau daddy Wina itu adalah Dennis. Bagaimana hubungan sebenarnya Dennis dan Naina, ia juga tidak mencari tahu. Sebagai seorang pengasuh, tugasnya hanya menjaga Wina. Ia tidak perlu mencari tahu banyak hal, yang terpenting gajinya dibayar tepat waktu.


"Maaf Pak. Bukannya melarang atau mau ikut campur, sebaiknya Bapak menghubungi Ibu Naina saja dulu. Saya tidak tahu apa-apa."


Wira mengangguk pertanda mengerti. "Baiklah, mungkin sebaiknya saya menghubungi Mamanya Wina dulu," ucapnya sambil menyodorkan shopping bag kepada Rima. Ditepuknya pelan pucuk kepala Wina.


"Nanti papi kembali lagi." Wira mengecup pucuk kepala Wina sebelum berpamitan.


Rima mengangguk dan masuk ke dalam rumah. Buru-buru mengunci pintu. Ia tidak mengenal dua pria asing yang bertamu, tentu saja harus waspada dengan semua orang asing yang bisa saja bertujuan buruk. Penampilan tidak bisa menjamin.


Wira masih berdiri kaku di depan kontrakan itu meskipun pintunya sudah tertutup rapat.


"Dia benar-benar putriku, Will. Entahlah, aku yakin sekali dia putriku," ucap Wira dengan pandangan menerawang.


Asisten itu mengerutkan dahi saat melihat nama Kevin muncul di layar.


"Kevin? Ada apa lagi ...." William menempelkan gawai hitam itu di telinga.


Baru saja menyapa, terdengar rekannya itu sudah berteriak lebih dulu.


"Will, Bos sudah di Indo?"


"Sudah. Ada apa?" tanya William.


"Aku ada masalah di proyek. Bisa menggantikanku rapat bersama Pak Bara?" tanya Kevin.


"Baiklah. Kirimkan alamatnya, aku akan melaporkan pada Pak Wira." William menyudahi percakapannya.


William sudah menyimpan kembali ponselnya saat Wira bersuara.


“Ada apa, Will?” tanya Wira.


"Kevin minta digantikan."

__ADS_1


"Ya sudah. Ayo kita jalan." Wira berbalik, berjalan menuju ke mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.


***


Naina terlihat merapikan berkas-berkas di ruang kerja Pieter. Sebentar lagi ia harus menemani atasannya itu untuk rapat. Ini rapat pertamanya di RD Group, ia harus memastikan semuanya berjalan lancar.


"Bagaimana Angel?" tanya Pieter. Pria itu sudah berdiri dengan kruk di tangan kanannya.


"Sudah siap, Pak," sahut Naina mengangguk dan tersenyum.


"Ayo ke ruang rapat sekarang."


"Baik Pak." Naina berjalan mengekor di belakang Pieter sambil mendekap berkas di dadanya.


Sampai di depan ruang rapat, Naina buru-buru membantu membuka pintu. "Silakan, Pak." Selain membantu pekerjaan Pieter, tugasnya juga membantu keseharian Pieter selama di kantor.


"Thanks, Dear." Pieter tersenyum sembari mengedipkan sebelah mata. Kebiasaan lama yang sampai sekarang tidak pernah hilang. Naina sudah sangat hafal dan menganggapnya angin lalu.


Pieter masuk terlebih dulu, menyapa beberapa rekan dan staff yang sudah menunggu di dalam ruang rapat. Naina yang menyusul di belakang, tiba-tiba menghentikan langkahnya saat mendapati seseorang yang dikenalnya duduk di salah satu kursi yang mengellilingi meja oval.


Deg --


"Mas ... Bara ...." ucap Naina terbata. Ia memang jarang bertemu dengan sepupu mantan suaminya itu, tetapi wajah itu tidak bisa dilupakannya. Itu jelas-jelas Barata Wirayudha, sepupu Wira.


"Naina Pelangie? Itu kamu?" tanya Bara yang tidak kalah terkejutnya bisa bertemu mantan istri adik sepupunya di RD Group.


"Ya, ini aku Naina, Mas." Wanita itu menjawab dengan suara datar. Berkas di tangannya terjatuh berantakan tanpa sadar. Lembaran-lembaran kertas itu berhamburan memenuhi lantai di depan pintu ruangan.


“Kamu baik-baik saja, Angel?” tanya Pieter.


"Maaf ...." Naina buru-buru berlutut, mengumpulkan kembali kertas-kertas itu dengan panik. Baru saja bernapas lega saat semua kertas-kertas yang berserakan itu terkumpul, kembali Naina dikejutkan dengan kemunculan sepasang sepatu kets putih merk ternama di ambang pintu. Dari posisinya berjongkok, ia hanya bisa melihat sepatu itu berhenti di dekatnya.


“Maaf, aku sedikit terlambat.” Suara maskulin yang begitu familiar di telinga Naina.


Deg—


Naina menengadah. Buru-buru memandang ke arah pemilik sepatu kets. Pria dengan kacamata hitam dan tampilan casual itu sangat dikenalnya.


Jantung Naina berhenti berdetak saat itu juga. Pikirannya kosong ketika mengetahui siapa yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Kalau Bara hanya mengejutkannya, si pemilik sepatu kets bahkan membuatnya berhenti bernapas. Rasanya, detik itu juga Naina ingin menghilang saja dari dunia.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2