
Di tengah obrolan Kailla dan Pieter, tiba-tiba muncul seorang perempuan cantik. Melihat penampilan dan penampakannya, bisa diperkirakan usianya tidak muda lagi. Tubuhnya tinggi dan sedikit berisi. Dalam bahasa para casanova, perempuan ini termasuk kategori bahenol. Atas dan bawah sama-sama menggoda.
“Jennie, kamu sudah datang?” tanya Pram langsung mengenali. Berjalan mendekat dan menyalami perempuan yang memiliki lirikan dan tatapan menggoda. Mengiris sampai ke lubuk hati yang paling dalam. Suaranya lembut mendayu sangat berbeda dengan Kailla yang terkesan apa adanya. Belum lagi bahasa tubuhnya sangat berkelas. Melihat semua itu, Kailla yakin ia memiliki posisi yang disegani di RD Group.
“Ya, Pram.”
Deg—
Kailla menelan saliva saat ada yang berani memanggil nama suaminya tanpa embel-embel bapak. Pram pemimpin tertinggi, tidak akan ada yang lebih tinggi dan berani bersikap tidak sopan selama di acara perusahaan.
“Kenalkan ini Pieter. Ia belum lama menduduki posisi wakil direktur di kantor pusat.” Pram memperkenalkan.
“Pieter ... kenalkan. Ini Jennie. Pemimpin anak perusahaan RD Group di Bandung.”
Kailla meneliti perempuan bernama Jennie itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tidak ada satu pun yang terlewati. Entahlah, sebagai perempuan dan seorang istri, naluri Kailla mengatakan kalau Jennie adalah ancaman.
“Jennie, ini Naina Pelangie, asisten pribadi Pieter.” Pram berkat sembari mengarahkan tangannya pada Naina.
Jennie mengulurkan tangannya, menyalami Pieter dan Naina sambil memperkenalkan diri.
“Jennifer Persada. Panggil aku Jennie.” Tatapan perempuan itu beralih pada Kailla.
“Ini istriku, Kailla Riadi Dirgantara Pratama.” Pram tersenyum saat memperkenalkan Kailla sambil mengusap lembut punggung istrinya.
“Kailla ....”
“Jennie.”
Kailla mengerutkan dahi sembari mengingat kembali nama Jennie atau Jennifer yang tidak asing di pendengarannya. Ia masih berusaha mengenang pertemuan terakhirnya dengan para petinggi perusahaan di Bandung. Dan jelas-jelas tidak ada Jennie di sana.
“Dia baru menduduki kursi direktur beberapa minggu terakhir, menggantikan direktur yang lama.”Pram berbisik seakan mengerti dengan apa yang dipikirkan istrinya.
***
__ADS_1
Kegiatan siang dari family gathering banyak diisi oleh acara keluarga yang bertujuan untuk mempererat tali silaturami sesama petinggi RD Group dan karyawan. Gathering ini juga sebagai bentuk apresiasi perusahaan kepada mereka-mereka yang sudah mendukung kemajuan perusahan.
Setelah beristirahat sejenak di kamar hotel, malam harinya diadakan acara dinner bersama keluarga besar RD Group. Acara makan malam ini juga diisi oleh artis ibu kota yang khusus diundang perusahaan. Selain makan malam, di acara puncak gathering ini, perusahaan akan memberikan beberapa award dalam bentuk mobil dan rumah tinggal untuk karyawan yang berprestasi dan sudah mendukung RD Group sampai sebesar sekarang. Selain itu, ada pembagian doorprize dan voucher belanja.
Pieter yang duduk semeja dengan Naina dan Wina, memanfaatkan kesempatan ini untuk lebih mengenal gadis kecil yang mulai terbiasa dengan kehadirannya. Duduk bersebelahan, Pieter memiliki kesempatan lebih banyak untuk mengobrol. Bahkan, ia tidak segan-segan menyuapi Wina. Segelas puding cokelat menjadi alasan Pieter untuk mendekatkan diri pada putri kecil asistennya itu.
“Wina suka?” tanya Pieter menyodorkan suapan terakhir ke dalam mulut Wina.
Wina mengangguk sembari membuka mulut kembali.
Masih mau? Punya Om?” tawar Pieter mengangkat gelas puding miliknya yang belum tersentuh.
Lagi-lagi gadis kecil itu mengangguk. Kemudian menunduk malu-malu.
“Baiklah. Om suapi, tetapi duduk di pangkuan Om dulu, ya.” Pieter mulai merayu. Bukan hanya pintar merayu wanita, Pieter juga berbakat merayu anak kecil.
Diangkatnya tubuh mungil Wina dan dijatuhkannya perlahan di atas pangkuan.
“Pak, tidak perlu repot-repot,” cegah Naina. Ia khawatir, Wina akan menumpahkan makanan dan membuatnya berantakan.
"Wina, ayo turun ...." pinta Naina, merasa tidak enak.
"Ssttt, sudah. Aku tidak keberatan. Bukankah begitu, Win? Kamu tidak keberatan harus berbagi puding dengan Om?" tanya Pieter tersenyum puas.
Naina hanya bisa menerima tanpa banyak protes setelah melihat putrinya duduk nyaman menikmati segelas puding. Gadis kecil itu bahkan tidak peduli dengan suara berisik di ballroom yang ditata untuk kepentingan acara. Wina terlihat menikmati perjalanan mereka ke Bandung sekaligus perkenalannya dengan Pieter.
Bahkan di saat mengantuk pun, Wina masih enggan kembali ke kamar hotel. Lebih memilih tidur di tempat acara makan malam.
"Pak, biarkan aku yang menggendongnya," pinta Naina saat melihat Wina terlelap di pangkuan atasannya.
"Biarkan saja, Angel. Nanti setelah acara selesai ... kamu bisa mengambilnya kembali. Kakiku masih belum sembuh sempurna. Aku belum sanggup menggendong putri kecil kita." Pieter mulai mengirin signal kembali.
Naina nyaris tersedak saat kalimat terakhir Pieter tertangkap indra pendengarannya. Ia tertunduk dengan kedua tangan meremas di pangkuan saat sorot tajam Pieter mengulitinya. Pria itu sengaja menunggu respon Naina, untuk mencari tahu bagaimana perasaan asistennya itu terhadapnya.
__ADS_1
***
Sehari berlalu, acara perusahaan pun usai sudah. Setelah makan siang di restoran hotel, mereka pun harus kembali ke Jakarta. Seperti biasa, Pieter menghabiskan waktunya bersama Naina dan Wina. Pram yang sudah paham dengan sahabatnya itu, memilih untuk tidak mengganggu.
Bunyi denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring keramik membuat detak jantung Pieter bergemuruh. Sejak awal, ia berusaha mencari kesempatan yang tepat untuk berbicara serius dengan Naina.
"Angel, aku mau bicara serius." Pieter merapikan sendok dan garpu di piringnya yang kosong. Ia baru saja menghabiskan makan siangnya.
"Ya, Pak." Naina menjawab sambil menyuapi Wina. Ia bahkan tidak menoleh ke arah atasannya itu.
"Rima ... bisa tolong pesankan jus untuk kami?" pinta Pieter, mengusir pengasuh Wina dari meja setelah melihat gadis muda itu baru saja menyelesaikan makan siangnya.
"Baik, Pak." Rima menurut setelah melihat lirikan mata Pieter yang memberi kode padanya. Ia cukup tahu diri, bergegas meninggalkan meja.
"Ehm ...." Pieter berdeham pelan sebelum bicara. Jantungnya berdetak kencang, semua kata-kata yang disiapkannya semalam berantakan sudah. Ia melupakan semua kalimat yang disusunnya saat pandangannya beradu dengan Naina.
Perlahan, Pieter mengeluarkan dua kotak perhiasan dari saku celananya dan meletakannya di atas meja.
"Angel ...."
Terdengar Pieter menarik napas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. Ia gugup saat melihat wajah polos Naina. Pengalaman pertamanya melamar seorang wanita di usia 45 tahun. Ternyata ini lebih sulit saat harus mengumbar kata cinta.
"Menikahlah denganku." Dua kotak perhiasan itu disodorkannya ke hadapan Naina. Melewati piring-piring kosong.
"Aku memintamu untuk menjadi istriku ... dan ... aku mau melamar Wina untuk menjadi putriku," ucap sang mantan casanova.
Naina tersentak. Pandangannya beralih menatap Pieter. Berusaha mencari keseriusan di dalam bola mata pria yang menatap sendu padanya. Wajah Pieter terlihat memohon dan memelas.
Naina beralih Wina, matanya berkaca-kaca.
"Maaf ... aku ...."
***
__ADS_1
Tbc