
"Ya, Mas."
Naina menurunkan Wina dari pangkuan dan menuntun gadis kecil itu ikut bersamanya untuk menuruti permintaan Wira. Tak ada protes, tidak juga penolakan, ibu hamil itu menurut semua permintaan suaminya.
Wira tersenyum, memandang pergerakan sang istri dengan perut buncit yang tercetak di gaun hamil. Pemandangan yang meneduhkan mata, selama ini Wira mengabaikan semuanya. Bahkan, pria itu seakan tidak peduli dengan kehamilan Naina.
"Wina, duduk di sini dulu, ya. Bunda siapkan pakaian Ayah." Naina menaikan putrinya ke atas ranjang dan meminta gadis kecil itu menunggu. Bergegas menuju lemari besar di ruangan berbeda, tempat Wira menyimpan pakaian dan perlengkapannya.
"Ayah, mau bobok cini. Boyeh?" tanya Wina saat melihat Wira melintas, hendak menyusul bundanya yang tengah memilih pakaian di walk in closet.
"Ya, Sayang. Duduk manis di sana. Ayah mau menemui Bunda sebentar."
Naina tertegun menatap deretan lemari, rasanya sudah lama sekali tidak menginjakan kaki di kamar ini. Berbulan-bulan tak bertegur sapa dengan Wira, rasa asing memeluk ibu hamil itu saat masuk kembali ke kamar tidur suaminya.
Wanita hamil itu mengulang kembali kenangan-kenangannya dulu. Wira adalah tempatnya bergantung, satu-satu yang ia miliki di dunia ini. Namun, takdir tidak sejalan dengan doa dan harapan, ia harus memilih jalan berpisah dan melangkah sendirian. Tidak berharap pada siapa pun, menampung tangis dengan kedua tangannya, berdiri di atas kakinya sendiri dan saat terjatuh, harus bangkit seorang diri.
Tadinya, ia pikir setelah menikah lagi, perlahan semuanya akan kembali. Ia hanya perlu sedikit berjuang untuk mengembalikan apa yang pernah hilang, tetapi lagi-lagi garis hidup itu tidak dilukis dengan tangan sendiri. Tuhan merangkai kisah lain untuknya.
Menghela napas berat, Naina menguatkan dirinya. Ia tidak boleh cengeng, tidak boleh pergi lagi. Ia berharap bisa kuat sampai saat Wira mengusirnya nanti.
"Apa yang kamu pikirkan?"
Naina tersentak, ia terlalu larut sampai tidak menyadari kedatangan Wira. Suaminya sudah berdiri di belakang dan menguncinya dengan posesif.
"Mas, kamu mengejutkanku."
"Apa yang kamu lamunkan, Nai? Sampai tidak menyadari kedatanganku?" tanya Wira, menjatuhkan dagu di pundak Naina.
"Tidak ada." Naina menggeleng.
"Aku merindukanmu, Nai. Apa aku bisa mendengarnya sekarang. Jatah untuk malam." Wira berkata pelan.
Naina diam, menikmati pelukan Wira yang hangat, menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Nai, kita dulu sering melakukan ini. Kamu masih mengingatnya?" tanya Wira dengan suara pelan.
Naina mengangguk kemudian tertunduk. Tangannya buru-buru meraih pintu lemari dan membukanya. Ia sedang berusaha mengurai kecanggungan yang tiba-tiba menyelimuti.
"Mas, pakaian yang mana?" tanya Naina, mengalihkan pembicaraan.
"Yang mana saja. Aku akan mengenakan apa pun pilihanmu." Wira mengecup pundak Naina pelan sebelum melepas dekapannya.
"Yang ini saja." Naina berbalik dan menyerahkan kaus putih pada Wira. "Aku akan membuatkan nasi goreng untukmu, Mas." Naina menyunggingkan senyuman sebelum melangkah pergi. Mata beningnya bisa menangkap rona kesedihan di wajah Wira.
"Mas ...." Naina berhenti sejenak.
"Ya ...." Wira mengalihkan pandangannya, berusaha bersikap biasa.
"Aku mencintaimu." Naina berucap dengan lancar. "Titip Wina, ya. Aku akan memanggil kalian kalau nasi gorengnya sudah siap," lanjut Naina.
Wira hanya bisa menatap punggung Naina yang menjauh dan menghilang, tak lama ia bisa mendengar suara pintu dibuka kemudian tertutup.
__ADS_1
"Aku benar-benar sudah tidak ada lagi di hatimu, Nai." Wira berkata lirih sembari mendekap pakaian yang disiapkan untuknya.
Wira menarik napas dan mengembuskannya, berusaha menenangkan hati dan menguatkan dirinya. Kalau drama ini tidak mudah untuk Naina, bukan berarti mudah untuknya.
Bersandar di lemari, Wira menggigit bibir saat air matanya lolos. Ia laki-laki, tetapi tidak sekuat Naina. Kalau istrinya bisa tegar dan berpura-pura baik-baik saja, tidak untuknya.
Pernah berumah tangga, tentu ia sangat tahu seberapa hebatnya Naina berpura-pura Seberapa kuatnya dan keras kepalanya sang istri. Bahkan saat mencintai pun, Naina akan melakukan hal yang sama.
"Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, Nai? Aku mengemis pun akan percuma kalau hatimu sudah menyimpan pria lain. Aku kenal istriku bukan sehari dua hari. Aku mengenal Naina Pelangie dengan sangat baik. Aku mungkin sanggup memiliki ragamu, tetapi sangat kecil kemungkinan hatimu akan kembali lagi padaku." Wira mengepalkan tangannya. Ia putus asa.
***
Aroma nasi goreng menyebar di area ruang makan yang menyatu dengan dapur bersih. Wina dengan mata mengantuk, duduk di sisi Wira menemani pria itu menikmati makan malam. Naina duduk di sisi lainnya, hanya menatap suaminya melahap nasi goreng seperti orang kelaparan.
"Kamu tidak mau, Nai?" tanya Wira, memasukan sesendok penuh nasi kecokelatan ke dalam mulut.
Naina menggeleng. "Aku tidak berminat, Mas."
"Lalu, kamu mau makan apa? Mau aku belikan?" tanya Wira, menyodorkan sendok yang berisi nasi ke mulut Naina.
"Makan sedikit saja. Apa mau aku suapi?" tawar Wira.
Naina membuka mulut dan menerima suapan Wira.
"Lagi?" tawar Wira bersiap menyuapkan nasi goreng pada istrinya.
Naina menggeleng. "Aku tidak mau, Mas. Nanti beli mi goreng gerobak di depan apartemen saja."
"Hah?" Wira terkejut. "Yang mana lagi, Sayang?" Pria itu masih bingung.
"Ya sudah, setelah menghabiskan nasi goreng, aku akan membelikannya untukmu dan adek bayi," putus Wira menyunggingkan senyuman. Ia teringat ucapan security apartemen, sebisa mungkin Wira akan memenuhi keinginan istri dan calon anaknya. Tidak mau William atau asisten rumah yang melakukannya. Ia sudah terlalu banyak melewatkan hal-hal berharga selama kehamilan Naina. Memanfaatkan sisa tiga bulan ini, ia akan mengabulkan semua permintaaan Naina dan bayinya.
Naina mengangguk.
"Anak Ayah sabar, ya." Wira melepaskan sendok dari tangannya dan mengusap perut besar Naina di bawah meja.
"Mas, aku menidurkan Wina dulu, ya. Kasihan ... sepertinya mengantuk sekali."
Wira menoleh ke sisi lain, putrinya hampir tertidur di meja makan. Sepiring nasi goreng tidak terjamah sama sekali.
"Ya. Temani Wina tidur di kamarku, Nai."
"Ya, Mas."
"Nanti kalau aku sudah membelikan mi goreng, aku akan memberitahumu, Nai."
"Ya, Mas." Naina segera menghampiri Wina. Gadis kecil memejamkan mata dengan kepala terkulai ke depan.
"Sayang, ayo gosok gigi, kita bobok sekarang."
Wina bergumam di dalam tidurnya. "Mau bobok cama Ayah, Bunda." Gadis kecil itu membuka mata dan tertidur lagi.
__ADS_1
"Ya, kita bobok sama Ayah malam ini."
***
"Ini aku, Wira." Berdiri di depan jendela besar di ruang kerja, Wira bicara di ponselnya dengan seseorang.
Ia baru saja kembali dari membelikan mi goreng untuk istrinya. Sambil menunggu Naina menikmati makanannya, Wira memutuskan menghubungi seseorang.
Sudah beberapa hari ini Wira berpikir keras mengenai hubungannya dan Naina. Mencari jalan keluar terbaik untuknya, Naina, Wina dan bayi mereka yang masih meringkuk di perut Naina.
"Ya, ada apa? Apa terjadi sesuatu pada Mama?" Suara maskulin terdengar dari seberang panggilan. Tidak biasanya Wira menghubungi, Dennis yakin pasti ada hal penting yang ingin dibicarakan adiknya.
"Aku sudah tahu semuanya." Wira berterus terang.
Deg--
Dennis yang belum paham sepenuhnya maksud ucapan Wira, masih mencari tahu.
"Apa maksudmu?"
Wira tersenyum kecut. "Tidak perlu berpura-pura, aku yakin kamu tahu maksudku." Wira menegaskan.
"Istriku mencintaimu. Tidak perlu menutupinya. Bahkan, Naina sudah mengakuinya di depanku," tegas Wira.
Terdengar helaan napas dari seberang.
"Lalu, masalahnya? Dia istrimu, apa pun itu ... bukan urusanku." Dennis bersuara. Pria itu berusaha bersikap tenang, tidak mau Wira membaca perasaannya saat ini.
"Ya, dia istriku, tentu menjadi urusanku. Aku pikir, aku akan menghabisinya. Suami mana yang bisa terima keadaan seperti ini."
"Dia istrimu, silakan saja. Aku tidak ikut campur. Tapi, aku sarankan coba saja bicarakan baik-baik. Dia serius ingin kembali padamu, Wir."
"Hatinya tidak akan pernah kembali padaku lagi." Suara Wira terdengar bergetar. "Aku mengenal Naina dan aku yakin ... kamu juga mengenalnya. Dia mengusirmu bukan untuk kembali mencintaiku, tetapi agar aku tidak melihat pengkhianatannya selama menjadi istriku. Kalau kamu masih di sekitarnya, suatu saat aku akan mengetahuinya. Dan Naina tidak mau itu terjadi," ungkap Wira.
"Wir, jangan berpikir seperti itu. Bisa saja ...."
"Aku mengenal Naina dengan baik. Aku tahu seberapa pintarnya dia berpura-pura."
"Lalu ... apa yang kamu inginkan dariku? Aku yakin, kamu menghubungiku bukan untuk curhat." Dennis tergelak, menutupi perasaan terluka. Tentu saja ia tahu bagaimana Naina melewati pernikahan keduanya. Ia tahu Naina tidak bahagia, tetapi ia tidak bisa berbuat banyak.
"Aku ingin kamu menyakiti Naina," pinta Wira dengan penuh keyakinan.
Deg-- Dennis tersentak.
"Maksudmu?"
"Naina tidak akan bisa melupakanmu dan akan tetap mencintaimu sampai kamu menyakitinya. Naina tidak akan bisa kembali padaku sampai ia berhenti mencintaimu. Aku ingin dia membencimu. Aku ingin dia terluka karenamu. Aku ingin kamu menyakitinya, sama seperti rasa sakit yang aku berikan padanya dulu."
Lagi-lagi Dennis tersentak. "Apa maumu?"
-
__ADS_1
-
-