
Terbangun di pagi hari, Wira masih bisa merasakan Naina yang lelap di pelukannya. Tidak ada yang berubah, semuanya sama seperti hari kemarin. Wira yang sejak semalam tidak bisa tidur nyenyak, menyunggingkan senyum saat mendapati wajah cantik Naina begitu dekat.
Begitu polos, begitu sederhana, begitu cantik. Semua keindahan ini menjadi miliknya sejak lima tahun lalu dan sekarang dia harus menyiapkan hati untuk merelakan Naina pergi.
Jemari itu perlahan menggelitik bibir tipis yang begitu menggoda sejak membuka mata. Entah hasrat dari mana yang mendorongnya untuk mengecupnya pelan. Memang tidak menjadi masalah, biasanya dia juga melakukannya. Namun, sekarang ceritanya berbeda. Ya, sejak semalam ada rasa sungkan setiap memeluk Naina secara terang-terangan.
Kecupan tipis itu sanggup mengusik lelap, Naina menggeliat kecil dan mengerjap perlahan. Kelopak mata itu bergerak pelan sampai akhirnya terbuka sempurna.
"Mas ...." Naina menyapa dengan suara khas bangun tidur, mengusap pelan mata beningnya. Mengumpulkan kesadaran yang kocar-kacir.
"Sudah bangun, Nai?" tanya Wira, menunggu reaksi Naina. Jarak keduanya yang begitu dekat, membuat Wira was-was. Khawatir Naina akan memarahinya, karena dianggap tidak tahu diri. Masih berani bersikap begitu hangat di saat rumah tangganya di ambang perceraian.
"Ya, Nai mau bangun dan menyiapkan sarapan untukmu, Mas." Naina berusaha melepaskan dirinya. Sama seperti Wira, rasa canggung itu menyelimutinya saat teringat kata cerai yang sempat dilontarkannya semalam.
Pagi itu, keduanya lebih memilih diam. Suasana di meja makan tidak sehangat biasanya. Tidak ada obrolan ringan atau suara manja Naina. Semuanya bungkan. Menghabiskan sarapan dengan tenang. Hanya Mbok Sumi yang terlihat mondar-mandir, seakan tidak terjadi apa-apa.
"Nai, Mas berangkat ke kantor sekarang," pamit Wira setelah mengosongkan piring dan gelas tanpa bicara. Sarapan buatan Naina yang biasanya menggoyang lidah, tidak bisa dinikmatinya.
"Ya Mas," sahut Naina, segera bangkit dan menyambut tangan suaminya. Mencium punggung tangan itu seperti biasa. Dan sama seperti hari-hari sebelumnya, kecupan mendarat di kening dan puncak kepala Naina. Semuanya masih sama, tidak ada yang berbeda.
"Love you." Wira berbisik pelan.
Naina tidak menjawab seperti biasanya. Hampir semenit Wira menunggu, tetapi balasan pernyataan cintanya hanya dibalas senyuman. Saat itu Wira sadar, Naina sudah yakin dengan keputusannya.
Ya, memang inilah Naina, dia sudah mengenal istrinya itu luar dalam. Dan sudah tahu hari ini akan datang cepat atau lambat. Dia sudah tahu, hari ini akan datang tepat setelah Stevi mengatakan hamil anaknya. Pernikahan sirinya dengan Stevi hanya mampu mengulur perceraiannya selama dua tahun.
Getir, itulah yang dirasakan Wira. Hanya bisa menggigit bibir, menyembunyikan sakitnya yang tidak berdarah.
***
"Aku membutuhkan bantuanmu, Pak Johan. Istriku menggugat cerai," ucap Wira, ketika duduk di depan pengacaranya. Pemilik PW Group itu terpaksa menemui pengacaranya secara pribadi untuk meminta bantuan.
Sebuah coffee shop yang tidak terlalu ramai menjadi pilihan keduanya untuk membicarakan masalah ini. Sejak pagi Wira kebingungan harus melakukan apa. Johan, pengacara pribadinya ini diharapkannya bisa membantu.
"Dan ... aku tidak mau bercerai," lanjut Wira pelan. Menatap sepiring roti bakar keju dan secangkir kopi susu, yang dipesannya untuk makan siang.
Johan, sang pengacara tampak menyimak apa yang sedang disampaikan. Dengan menyeruput secangkir kopi hitam, terlihat dia mengangguk pertanda paham akan apa yang diinginkan Wira.
"Surat gugatannya ... apa sudah diserahkan ke pengadilan?" tanya lelaki dengan tubuh gempal yang diperkirakan berusia setengah abad. Rambut bergelombang dengan kacamata menghiasi netra hitam pekatnya.
"Belum, Pak." Wira menggeleng, tak bersemangat.
Pengacara itu tersenyum. "Harusnya Pak Wira masih bisa membujuk istrinya sebelum masuk ke pengadilan."
Wira menggeleng.
__ADS_1
"Istriku keras kepala. Kalau sudah memutuskan, dia akan sulit sekali dibujuk. Bahkan bisa dibilang, dia tidak akan mengubah keputusannya apa pun yang terjadi.” Wira menjelaskan, mengangkat secangkir kopi susu dan menyeruputnya pelan.
"Harusnya sebelum masuk ke persidangan, semuanya akan jauh lebih mudah, Pak Wira."
“Istriku ....” Wira tidak melanjutkan kalimatnya, sebaliknya dia menggelengkan kepala.
"Saya akan coba membantu sebisanya, Pak."
"Terimakasih, Pak Johan.”
Pertemuan singkat ditemani secangkir kopi hangat siang itu berakhir dengan jabat tangan perpisahan. Wira memilih kembali ke kantor setelah jam makan siangnya usai.
***
Sore itu, setelah dari kantornya Wira memutuskan menemui Stevi. Ada yang harus dibicarakannya dengan sang sekretaris. Dan itu tidak bisa dilakukan di kantor. Dia tidak ingin membahas masalah pribadinya di perusahaan.
Melangkah masuk ke dalam mobil, Wira mencoba mengabari Naina seperti biasa melalui ponselnya. Terlanjur terbiasa, terkadang Wira masih sering lupa kalau hubungan mereka akan segera selesai.
"Nai, Mas pulang terlambat hari ini." Wira berkata, setelah terdengar sapaan Naina dari seberang.
"Ya, Mas."
Hening --
Naina tidak bertanya lebih seperti biasanya. Kalau dulu, istrinya itu akan protes tak berkesudahan, tetapi sekarang berbeda. Naina hanya menjawab singkat, bahkan Naina tidak bertanya lebih lanjut. Padahal semuanya baru terjadi, tetapi sikap Naina sudah berubah jauh padanya.
Kembali hening, Naina tidak merespon. Memilih menyimpan tanya dalam hati meskipun bibirnya sudah ingin bersuara, menyimpan rasa penasarannya seorang diri.
"Baiklah, Mas tidak akan lama, Nai," ucap Wira.
Masih bergeming, sampai Wira hendak mematikan ponselnya tiba-tiba terdengar pelan suara Naina dari seberang.
"Mas ... apa ... Mas mau menemui Nola?" tanya Naina terbata dan ragu-ragu.
Wira memejamkan mata. "Ya, Nai." Wira menjawab jujur.
"Ya sudah, Naina matikan sekarang teleponnya. Mas hati-hati di jalan." Suara feminim itu terdengar bergetar, menahan tangis.
Mendadak hatinya terasa sakit saat mendengar Wira yang jujur akan menemui Stevi di rumah. Meskipun Naina sadar, Wira berhak menemui Stevi dan Nola. Bagaimana pun mereka juga anak dan istri Wira. Mereka berdua juga berhak untuk mendapatkan perhatian Wira.
Namun, mengikhlaskan itu tidak semudah berbicara. Bibir berkata ikhlas, tetapi hati ini sulit untuk merelakan semuanya.
***
Menempuh setengah jam perjalanan, Wira akhirnya tiba di rumah Stevi. Sengaja memilih pulang sendiri-sendiri meskipun tujuannya sama, Wira tidak ingin terlibat lebih jauh lagi dengan Stevi. Naina sudah mengetahui semuanya dan dia tidak punya alasan lagi untuk mempertahankan pernikahannya dengan Stevi.
__ADS_1
Turun dari mobil, Wira tersenyum saat melihat sebuah taksi berhenti di tepi jalan. Tak lama, Stevi keluar menenteng tas tangan. Sekretaris sekaligus istri sirinya itu tersenyum sumringah menyambut kedatangannya.
“Mas, kenapa tidak mengatakan padaku kalau akan mengunjungi Nola?” tanya Stevi.
“Aku ingin bicara serius denganmu, Stev.” Wira menjelaskan.
“Oh! Kalau begitu, ayo masuk ke dalam.”
Memasukan anak kunci ke dalam lubangnya, Stevi tersenyum bahagia. Sudah lama Wira tidak mengunjunginya dan Nola. Melihat sikap Wira yang melunak, Stevi yakin kalau Wira sedang dalam keadaan baik. Tidak biasanya, Wira bicara padanya tanpa membentak dan ketus.
Sudah lama sekali rasanya Wira tidak bersikap seperti ini. Sikap seperti dulu saat mereka masih berteman baik.
“Masuk, Mas.” Stevi mempersilakan.
Wanita itu segera melangkah menuju kamar Nola, putrinya. “Sayang, Papi datang.”
“Stev, aku butuh bicara denganmu dulu. Ini penting, Stev.” Wira menahan tangan Stevi yang hendak melangkah ke kamar putri mereka.
“Ada apa, Mas?” tanya Stevi, berbalik.
“Aku ingin kita berpisah. Mulai detik ini aku menceraikanmu, Stev.” Wira mengucapkan dengan lantang dan tegas. Tidak ada kebimbangan dan ragu-ragu sama sekali.
Tiada hujan ataupun badai, tiba-tiba ada petir menggelegar. Ucapan Wira bagai halilintar menyambar, membuatnya terpaku beberapa detik. Hampir tidak percaya.
“Mas, apa kamu tidak salah? Apa kamu yakin?” tanya Stevi. Berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
Stevi masih tidak menyangka kalau Wira berani menceraikannya. Beberapa bulan ini, dia memilih berdamai. Tidak merecoki kehidupan Wira dan Naina, bahkan dia tidak mencari tahu sama sekali apa yang terjadi. Dia hanya fokus pada Nola dan pekerjaannya.
“Mas tidak bisa menceraikanku begitu saja,” tolak Stevi.
“Bagaimana dengan Nola?” lanjutnya lagi dengan kalimat datar. Kejutan yang tidak pernah disangkanya sama sekali. Mimpi pun dia tidak menduga kalau Wira berani menceraikannya.
“Aku akan tetap membiayai Nola,” tegas Wira. Laki-laki itu terlihat tenang, tidak ada raut ketakutan dan tertekan seperti biasanya.
“Tidak! Mas tidak bisa menceraikanku begitu saja!”
“Terserah kamu saja, Stev. Kita hanya menikah siri, tidak perlu ke pengadilan untuk menceraikanmu. Aku anggap ini saja sudah cukup untuk perpisahan kita. Mulai sekarang kamu bukan istriku dan aku bukan suamimu.” Wira menegaskan lagi.
Stevi masih tidak terima. “Aku akan menceritakan keberadaanku dan Nola pada Naina. Aku akan menceritakan semuanya. Pernikahan kita, tentang siapa ayah Nola yang sebenarnya. Semuanya akan aku ceritakan pada istrimu, Mas!” ancam Stevi.
“Silakan saja! Aku sudah tidak bisa ditekan lagi, Stev.” Wira berjalan menuju kamar Nola. Baru saja membuka pintu, Nola yang sedang digendong pengasuhnya langsung menyodorkan tangan padanya.
“Papi!” jerit Nola, dengan raut bahagianya menyambut kedatangan Wira.
***
__ADS_1
TBC