Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S1. Bab 45


__ADS_3

Seminggu berlalu, banyak rasa yang dipikul Naina dalam tujuh hari ini. Apalagi, kondisi fisiknya yang makin menjadi. Tidak ada sehari pun, ia tidak muntah di pagi hari. Jujur, Naina sendiri menaruh curiga dengan keadaan yang dialaminya. Hanya saja fokusnya saat ini tidak sedang di sana. Ia harus menuntaskan semua, secepatnya. Tak ingin masalah ini berlarut-larut.


Siang itu, matahari baru saja melewati ubun-ubun. Naina yang baru selesai mengantarkan makan siang di kantor Wira, mengarahkan mobilnya ke rumah sang mertua. Setelah melawan gejolak rasa selama beberapa hari, baru hari ini wanita dengan senyum manis itu sanggup menyelesaikan semuanya. Memiliki keberanian untuk membuka perlahan tabir yang selama ini ditutupi semua orang.


“Ma ....” Naina melangkah masuk ke dalam rumah dua lantai, setelah sebelumnya bertemu sang papa mertua di teras rumah.


“Nai, kamu datang, Sayang.” Mama Wira menyambut menantunya dengan senyum sumringah. Sudah hampir seminggu mereka tidak bertemu, terselip rindu untuk menantu kesayangannya.


“Ya, Ma. Apa kabar?” Seperti biasa, Naina mencium punggung tangan mama Wira untuk menjaga sopannya. Wanita dengan gaun rumah motif bunga itu sedang menikmati semilir angin di teras belakang.


“Mama baik, Nai.”


Seakan menemukan teman berbincang, Mama Wira begitu bahagia dengan kunjungan Naina. Duduk di sebuah bangku taman ditemani secangkir teh hangat dan sepotong red velvet, Mama Wira menarik menantunya duduk di sebelahnya.


“Ma, ada yang mau Nai bicarakan ....” ucap Naina pelan, berusaha tenang. Menetralkan jantungnya yang berdegup kencang.


“Ada apa, Nai?” Mama Wira menoleh. Menangkap ada yang tidak biasa dari nada bicara Naina. Bahkan Mama Wira bisa menangkap kejanggalan dari bahasa tubuh Naina.


Perlahan, Naina mengeluarkan dua buah amplop putih dengan kop rumah sakit yang berbeda. Menyodorkannya perlahan ke tengah meja, bergabung dengan secangkir teh dan red velvet yang disaji di atas piring keramik.


“Ini apa, Nai?” Mama Wira mengerutkan dahi, bingung sendiri sambil mengamati dua amplop berukuran sedang. Tergeletak mengganggu formasi teh dan cemilan.


“Buka saja, Ma,” pinta Naina.


Ragi-ragu, tetapi akhirnya mama Wira menurut. Membuka perlahan, sedetik kemudian kebingungan sendiri. “Ini ... ini apa maksudnya, Nai?” tanya wanita berusia lima puluhan itu, mengamati isi amplop yang masih digenggam.


Berusaha bersikap tenang, Naina melawan perasaannya sendiri. Raut itu tanpa ekspresi. Saat ini, Naina sedang bertarung melawan kesakitannya sendiri demi mengungkapkan kebenaran.


“Ma, Naina sudah mengetahui semuanya,” ucap Naina membuka pembicaraan.


“Termasuk ... tentang pernikahan Mas Wira dengan Stevi. Dan itu hasil tes DNA ....” Naina terdiam, bibir itu mengatup pelan.


Penuh perjuangan untuk bisa duduk tenang di sini seolah tidak terjadi apa-apa. Naina berakting seakan dia wanita perkasa. Membuka kisah perih ini pada mertuanya tanpa menangis meraung-raung. Tanpa meratapi nasib tragisnya yang dimadu diam-diam. Tanpa berteriak penuh amarah untuk meluapkan emosinya.

__ADS_1


Terkejut. Itu respon pertama Mama Wira sebelum akhirnya menatap lekat Naina dengan pandangan kasihan bercampur rasa berdosa.


“Maafkan mama, Nai.” Tangis Mama Wira pecah saat menyadari semua ini.


Dia sangat menyayangi Naina, sudah dianggap putrinya sendiri. Apalagi guncangan ini bukan guncangan kecil. Semua bisa hancur dalam sekejap mata.


Sebelum mama Wira memberi jawabannya, terlihat ia berpamitan masuk ke dalam rumah. Namun, tak lama, ia sudah kembali dengan beberapa amplop beraneka ukuran dan meletakannya di atas meja.


“Maafkan Mama, Nai. Bukan Mama tidak bersyukur memiliki menantu sepertimu, tetapi ini masalahnya Nola.” Tertunduk, wanita itu saling meremas jari di atas pangkuannya, menutupi ketakutannya akan ledakan yang bisa saja memghancurkan keluarganya.


Naina meraih amplop yang disodorkan mertuanya dan meletakannya di atas pangkuan. Ia harus mencari tahu banyak hal saat ini, supaya tidak menyesali keputusannya nanti. Mata Naina terbelalak, nyaris tak percaya. Bukan hanya satu atau dua rumah sakit. Ada beberapa rumah sakit yang namanya tertera di bagian depan amplop.


“Jauh-jauh hari sebelum mama memaksa Wira menikahi Stevi, mama sudah melakukan serangkaian tes, bahkan saat Nola lahir kami masih melanjutkan,” cerita Mama Wira.


“Kami juga tidak mau gegabah dan sembarangan. Mengakui seorang bayi yang masih di dalam kandungan, yang jelas-jelas kami tidak yakin adalah keturuanan kami,” jelas Mama Wira.


“Bahkan ... Mama yakin Wira melakukan hal yang sama,” lanjut sang mama dengan tatapan menerawang. Ada dua cairan bening luruh, menetes di pipi. Mengingat bagaimana perjuangan Wira untuk membuktikan kalau Nola bukan putrinya.


“Wira sampai putus asa dan menyerah, berulang kali melakukan tes dengan hasil yang sama.”


“Maafkan kami, Nai, kami juga tidak bisa berbuat apa-apa saat itu. Ada bayi tak berdosa yang harus kami selamatkan.”


Getir, sakit, nyeri dan menyesakan. Dua kali melakukan tes saja, Naina hampir hancur. Tidak terbayang sakitnya setiap membaca hasil tes, saat isinya tidak sesuai dengan doa dan harapan.


“Ma, tolong ceritakan pada Nai ... apa yang terjadi sebenarnya? Naina ingin tahu bagaimana kejadiannya.” Naina berucap pelan, tertunduk.


“Mama juga tidak paham bagaimana semua ini bisa terjadi. Tanyakan pada Wira, Nai.” Diam sejenak, mengatur napasnya sebelum melanjutka kisah.


Naina masih menyimak, tidak mau melewatkan satu kisah pun. Kepingan ini harus disempurnakan. Ia ingin semua jadi terang benderang, meskipun menyesakan.


“Stevi datang saat itu pada Mama dan Papa, membawa hasil tes. Menceritakan kalau dia sedang hamil anak Wira. Terpukul, Papa sampai opname, tidak sanggup menerima kenyataan ini. Nai, mungkin masih ingat sewaktu Papa masuk rumah sakit.” Mama Wira mengingatkan.


Naina mengangguk.

__ADS_1


“Pukulan telak untuk keluarga Wirayudha. Hal yang sama seperti yang Nai rasakan saat ini.” Mama Wira bercerita.


Terdengar helaan napas kasar, sebelum kisah ini berlanjut.


“Wira menolak tegas dan tidak mau mengakui itu anaknya. Wira tidak mau menikahi Stevi,” cerita sang mama.


“Putraku tidak bisa mengkhianatimu, Nai,” lanjut Mama Wira. Kembali air matanya menetes, mengucur deras tanpa bisa ditahan. Sebaliknya, Naina sejak tadi terlihat tegar. Tidak menangis sama sekali, meskipun binar matanya tidak berbohong. Sorot mata itu terluka, tampak jelas.


“Sampai detik ini, Mama tahu kalau dalam hati kecil Wira masih tarik ulur. Bahkan sudah beberapa bulan ini dia tidak mengunjungi Nola dan Stevi,” lanjut Mama Wira.


Naina tersenyum kecut, ia mengenal suaminya dengan baik. Tanpa laki-laki itu berkisah pun, Naina sudah tahu jelas.


“Tolong maafkan, Wira. Ini bukan kesalahannya. Kalau mau menyalahkan, Nai bisa melempar semuanya pada Mama. Mama yang memaksa Wira untuk menikah. Mama terpaksa melakukannya karena Nola. Itu pun bukan karena Mama sangat menginginkan cucu. Bukan, Nai tetapi atas dasar kemanusian. Nola tidak bersalah, dia tidak layak harus menanggung kesalahan orang tuanya.” Tiba-tiba wanita tua itu berlutut di depan menantunya, memohon pada Naina dengan setulus hati.


“Ya, Naina mengerti, Ma. Andai Naina di posisi Mama juga akan melakukan hal yang sama.”


Mama Wira tampak mengusap pelan air matanya. Berusaha meredam gejolak yang menyesak di dadanya.


“Mama mohon jangan tinggalkan Wira, Nai. Dia tidak bersalah. Mama berani bersumpah, Wira tidak menyentuh Stevi sama sekali selama dua tahun pernikahannya. Bahkan Wira tidak pernah menginjak rumah Stevi lebih dari satu jam. Setiap kali berkunjung sering kali bersama mama. Sangat jarang, Wira pergi sendiri. Dan di sana, Wira hanya menjenguk Nola, tidak untuk yang lain,” jelas sang Mama, menangis dan bersimpuh memohon.


“Ma, jangan begini.” Naina segera ikut berlutut. Tidak tega melihat mama mertuanya memohon.


“Mama mohon, jangan tinggalkan Wira. Bahkan dia tidak bisa menangis untuk semua beban yang ditanggungnya selama dua tahun ini. Beban karena bersalah padamu, beban karena bersalah pada Nola. Sakit itu bukan hanya milikmu, Wira juga menanggung sakit yang sama.”


“Nai, tahu semuanya Ma. Nai mengenal Mas Wira dengan baik.”


“Wira menikah siri dengan Stevi. Itu pun terpaksa karena Stevi dan Mama mengancam akan menceritakan semuanya padamu, Nai,” lanjut sang mama.


“Wira terpaksa setuju, demi untuk tidak bercerai denganmu


“Ma, Nai mengenal Mas Wira. Tanpa Mama cerita pun, Nai sudah tahu seperti apa Mas Wira. Nai sangat memercayai Mas Wira. Sampai detik ini pun masih percaya pada Mas Wira, meskipun Mas Wira memilih menutupinya selama dua tahun ini. Nai paham alasannya. Mungkin, kalau di posisi Mas Wira, Nai juga akan melakukan hal yang sama.”


***

__ADS_1


Tbc


__ADS_2