
Wira tergelak saat mendengar pernyataan cinta Naina yang dinantikan setelah sekian lama. Suara Naina memang terdengar pelan, tetapi indra pendengaran Wira masih sanggup menangkap rangkaian kata indah yang sanggup merobohkan pertahanan dirinya.
Rindu melebur bersama lelahnya penantian, akhirnya ia sampai di hari ini. Naina menyatakan perasaannya tanpa paksaan.
"Nai ...." Wira merangkum wajah sembab istrinya. "Kenapa menangis? Apa ada yang salah?" tanya Wira.
Naina menggeleng. "Tidak, Mas."
"Lalu kenapa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Wira kembali melayangkan pertanyaan. Ia ragu, apa Naina sudah melihat semuanya dan memilih bungkam lagi.
"Tidak ada, Mas. Aku hanya lelah dan mengantuk."
"Apa semua baik-baik saja?" Wira memastikan. Tidak biasanya Naina bersembunyi di balik keremangan lampu kamar.
"Ya, Mas."
"Mau ke dokter?" tawar Wira lagi.
"Aku tidak mau, Mas. Aku mau istirahat saja." Naina melepaskan diri dari depakan Wira dan merebahkan tubuhnya kembali. Kepalanya berdenyut karena terlalu banyak menangis.
Wira menghela napas pelan. Ia tidak bisa memaksa Naina bicara andaikan memang istrinya itu tidak mau bicara.
"Mau aku peluk sampai tertidur?" tawar Wira lagi sembari merebahkan diri di samping Naina. Tanpa menunggu jawaban, pria yang masih mengenakan kemeja kerjanya itu sudah memeluk erat Naina. Kedua tangan Wira mengunci di perut buncit dengan pusar menyembul tercetak jelas dari gaun tidur.
"Mas."
"Hmm ...." Wira memejamkan mata dan membenamkan wajahnya di rambut panjang tergerai sang istri. Ia bisa menikmati aroma Naina yang memabukan.
"Mas, aku tidak apa-apa sendiri. Mas baru pulang kerja. Belum mandi, belum makan malam juga. Pasti belum menyapa Wina juga." Naina berbicara dengan lancar. Suaranya masih terdengar serak dengan hidung tersumbat.
"Nanti saja. Aku akan menunggumu tidur dulu, Nai," putus Wira. Pria itu kembali berbisik tepat di telinga Naina. "Kalau ingin membaginya denganku, aku siap mendengarkan, Nai. Jangan memendam masalahmu sendiri. Ceritakan padaku ... apa yang terjadi? Apa yang membuatmu menangis," bujuk Wira.
"Tidak ada, Mas."
"Yakin?" Wira mengeratkan pelukannya.
"Hmm." Naina bergumam sembari memejamkan mata. "Aku titip Wina, Mas. Aku mau tidur sebentar, kepalaku sakit sekali."
__ADS_1
Wira dengan sigap memijat pelan pelipis Naina tanpa diminta. Beberapa bulan terakhir, ia melihat sendiri bagaimana Naina dengan perut buncitnya berjuang mencari kenyamanan di dalam tidur dan keseharian.
"Tidurlah, Nai. Aku akan menemanimu," bisik Wira.
Pria tampan itu mengusap punggung Naina dengan lembut. Ia berharap sentuhan tangannya bisa membuat Naina nyaman. Ayah muda itu bisa tersenyum saat mendengar deru napas teratur istrinya yang menandakan kalau ibu hamil di dalam dekapannya itu sudah terlelap.
Perlahan mengurai pelukannya, Wira turun dari tempat tidur dan menyalakan lampu. Seketika, kamar Cinderella milik putrinya jadi terang benderang. Pria muda itu bisa melihat jelas wajah sembab dan mata bengkak dengan hidung memerah.
"Selalu begitu. Setiap ada masalah, tidak mau bicara. Sejak dulu sampai sekarang ... tetap tidak berubah," bisik Wira.
Berjongkok di depan Naina, Wira mengecup kening istrinya dan segera keluar dari kamar. Andai ia tidak bisa mengoreknya dari Naina, ia berharap bisa mendapatkan kepastian cerita sebenarnya dari Rima. Pengasuh Wina harusnya tahu apa yang terjadi di rumah selama ia bekerja.
"Rim, apa yang terjadi dengan Ibu?" tanya Wira, mendatangi pengasuh Wina yang tengah membereskan mainan di ruang keluarga.
Rima menggeleng pelan. "Sepertinya Ibu tidak enak badan. Sejak siang mengurung diri di kamar. Makan malam juga diantar ke kamar dan dimakan sedikit, Pak." Rima bercerita.
"Ibu tidak cerita apa-apa?"
"Tidak ada, Pak. Hanya menitipkan Wina padaku. Ibu tidak enak badan dan butuh istirahat," adu Rima.
Di mana Wina?" tanya Wira lagi saat tidak melihat keberadaan putrinya.
"Biarkan Wina tidur bersamaku malam ini, Rim. Ibu tidur di kamar Wina."
"Ya, Pak." Rima menurut.
***
Hari-hari selanjutnya, Naina terlihat biasa. Tidak ada lagi tangisan menghiasi wajah ibu hamil itu. Seolah lupa dengan apa yang dilihatnya. Apalagi ketika jemari lentiknya mengusap layar ponsel dan mencari berita suaminya di media online, sudah tidak tampak lagi kisah Wira dan Sheilla, sang artis FTV. Semuanya lenyap ditelan bumi.
Pagi itu, Naina bangun lebih pagi dari biasanya. Kebetulan, ia bermalam di kamar Wira bersama putrinya. Menuju ke dapur, ibu hamil delapan bulan itu menyiapkan sarapan pagi. Nasi goreng spesial buatan tangannya yang selalu menjadi kesukaan sang suami. Ia sengaja meminta asisten rumah untuk tidak menyiapkan makanan, Naina ingin memasak sendiri sarapan paginya hari ini.
Hampir setengah jam bertempur di dapur, Naina terkejut saat dua tangan memeluk perutnya dari belakang.
"Kamu turun tangan sendiri hari ini?" Wira bersuara sembari membenamkan wajah mengantuknya di tengkuk Naina yang terekspos sempurna. Naina sengaja menguncir rambut panjangnya dan tidak membiarkan surai hitamnya berantakan, mengganggu aktivitas pagi.
"Ya, Mas. Kenapa bangun?" tanya Naina. Kedua tangannya sibuk mengiris bawang merah dan cabai.
__ADS_1
"Aku terbangun dan istriku menghilang. Bagaimana aku bisa melanjutkan tidurku lagi." Wira tergelak sembari menjatuhkan dagunya di pundak Naina.
"Tidur saja, Mas. Nanti aku akan membangunkanmu."
"Tidak mau. Aku mau memelukmu seperti ini, Nai," bisik Wira. Ia sengaja memgembuskan napas di telinga Naina, memberi sensasi menggelitik dan membuat istrinya meremang.
"Mas, jangan begini. Masakanku bisa berantakan. Kalau tidak mau tidur ... bersiaplah. Saat nasi goreng ini selesai, kamu tinggal menikmati."
Wira menggeleng.
"Mas ...."
"Cium aku dulu. Baru aku akan melepaskanmu," ujar Wira dengan manjanya.
Berbalik, Naina mengecup bibir Wira sekilas. "Sudah. Pergi dan temani Wina. Nanti anak itu menangis saat terbangun dan tidak menemukan siapa-siapa." Naina tersenyum sambil menggenggam sodet di tangan kanannya.
"Baik, Nyonya Pratama Wirayudha."
***
"Rim, ini gajimu untuk bulan ini. Aku tetap membayar penuh walau hanya lima belas hari dan ...." Naina tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Menatap Rima dengan mata berkaca-kaca, ibu muda bergaun hamil hijau daun pisang itu sudah tampak rapi.
Rima sudah menyimpan herannya sejak di meja makan. Tidak biasanya sang majikan berdandan cantik sepagi ini, bahkan Wina pun sudah wangi dengan gaun berwarna merah muda.
"Aku dan Wina akan pulang kampung hari ini. Aku memutuskan melahirkan di tanah kelahiranku," ungkap Naina, terbata.
Setelah mempertimbangkan banyak hal, Naina memutuskan untuk pergi. Terlalu banyak yang dilewatinya di sini. Dari duka, luka, tangis dan air mata, di sisa hari-harinya menunggu persalinan tiba, Naina memutuskan untuk menghempaskan semua beban yang mengganjal di hatinya.
"Wina ... bagaimana dengan Wina? Ibu akan membawa Wina juga?" tanya Rima, bingung.
"Ya."
"Siapa yang akan membantu Ibu menjaga Wina nanti? Ibu naik apa? Sudah hamil besar seperti ini ...."
Naina tertunduk. "Aku belum tahu, tetapi di kampung pasti ada keluarga yang membantuku," sahut Naina, berdusta. Ia berbohong. Di Yogyakarta tidak ada siapa-siapa lagi. Orang tuanya sudah lama tiada, bibinya pun sudah menyusul pergi beberapa tahun silam.
"Ibu ke Yogya? Dengan apa?" tanya Rima lagi. Pengasuh itu belum puas.
__ADS_1
"Kereta. Aku sudah membeli tiket kereta."