Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 53


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu cepat, Dennis menghilang setelah berpamitan. Tidak ada kabar lagi dari pria tampan itu. Apa sudah terbang ke negeri Paman Sam atau masih di Indonesia, tidak ada yang tahu. Dennis lenyap di telan bumi.


Naina memilih untuk kembali fokus pada Wina dan menata hatinya kembali. Bagaimana pun, ia masih harus membenahi perasaannya pada Wira. Pria itu masih menunggu jawabannya. Kalau bisa egois, ia lebih memilih hidup sendiri. Tidak menerima Pieter ataupun Dennis. Dan tentunya tidak kembali lagi pada Wira. Ia hanya ingin menghabiskan sisa usianya bersama Wina.


Namun, hidup memaksanya mempertimbangkan Wira. Ada Wina di antara mereka. Ada jejak masa lalu dan perasaan bersalahnya pada Wira, yang membuatnya harus lebih memprioritaskan Wira dibanding pria lainnya. Dan ada banyak alasan lain yang membuatnya mulai membuka diri perlahan pada sang mantan.


Sudah hampir seminggu ini, Naina menempati rumah lamanya bersama Wina dan Rima. Jangan ditanya bagaimana rasanya saat kenangan-kenangan itu berputar kembali di depan mata, menggeliat dari persembunyiannya. Kembali di rumah yang pernah menjadi sumber kebahagiaannya. Menginjakan kaki di tempat yang pernah menjadi alasannya tersenyum dan menangis.


Wira, pria itu masih tetap sama. Selalu menghabiskan waktunya sepulang kantor dengan menemani Wina. Ia baru akan pulang saat memastikan putrinya benar-benar terlelap. Bagaimana dengan Mama dan Papa Wira? Tentu saja Opa dan Oma Wina juga melakukan hal yang sama. Hampir setiap siang mengunjungi cucunya. Membawakan Wina makanan kesukaan, membelikan mainan dan ada banyak lagi kemanjaan yang dilimpahkan pada gadis kecil itu.


***


Waktu melesat begitu cepat nyaris tak terkejar. Setelah melewati hari-hari sibuk di RD Group, akhirnya puncak acara itu hadir di depan mata. Perayaan ulang tahun Riadi Dirgantara Group yang diselenggarakan di salah satu hotel berbintang itu pun tiba.


Wira mencengkeram kuat kemudi mobil sportnya dengan sejuta kesal mengumpul. Ia terpaksa menghentikan laju tunggangan mewahnya tepat di belakang Range Rover hitam milik Pieter. Lembayung senja terhampar indah di sisi Barat, memerah begitu indah. Namun, keindahan sore itu tidak sejalan dengan perasaan dan kekecewaan di dalam hati Wira.


“Pieter, kamu mencurangiku! Kamu mengatakan bersaing secara sehat, tetapi kamu mencuri start.” Wira berbicara dengan Wakil Direktur RD Group itu melalui handsfree yang terselip di telinga kanannya.


“Aku tidak mencurangimu, Bro. Aku sudah berjanji dengan asistenku jauh-jauh hari,” sahut Pieter tergelak saat berbalik dari posisi duduknya dan melihat mobil Wira sudah terparkir di belakang mobilnya.


“Ini juga bagian dari pekerjaan kami. Mengingat aku dan Naina adalah tuan rumah acara selain Pram, jadi wajar saja kalau kami berangkat ke tempat acara bersama-sama.” Pieter lagi-lagi tergelak.


“Kurang ajar. Persaingan menjadi tidak fair, saat kamu membawa nama RD Group.” Wira menahan kesal. Ia sudah berencana ke tempat acara bersama Naina dan Pieter mengacaukan segalanya. Ia kalah selangkah lagi.


“Lagipula, gaun Naina itu sepasang dengan setelanku, jadi sebaiknya kami berangkat bersama. Kamu bisa mengantarnya pulang nanti. Aku tidak keberatan,” tutur Pieter memberi ide.


“Memang siapa kamu? Mengatur semuanya. Aku ayah dari putrinya,” gerutu Wira, mengulum senyuman. Belakangan, ia mulai dekat dengan Pieter. Hubungan mereka tidak hanya di dalam pekerjaan, tetapi juga di luar pekerjaan.


“Aku atasannya. Ini masih bagian dari pekerjaan, Bro. Sudah, jangan berdebat denganku. Kita bertemu di pesta.” Pieter menyudahi obrolannya setelah melihat Naina keluar dari gerbang rumahnya dengan gaun panjang hitam hadiah darinya. Rambutnya disanggul sederhana dengan beberapa anak rambut terurai keluar dari cepolannya. Riasan sederhana dengan tas tangan mungil menyempurnakan kecantikannya sore ini.

__ADS_1


Pieter membuka pintu mobilnya dari dalam dan mempersilakan Naina masuk ke dalam. Ia sengaja tidak keluar dan menunggu di mobil seperti permintaan Naina. Seperti biasa, kakinya menjadi alasan untuknya. Ia tidak leluasa ke sana kemari dengan kruk di tangan.


“Sudah siap, Angel?” tanya Pieter, tersenyum. Diam-diam mengagumi kecantikan sang asisten.


“Sudah, Pak.”


“Kita berangkat sekarang.” Pieter memerintah pada sopirnya.


***


Ballroom hotel bintang lima di Selatan Jakarta menjadi pilihan untuk tempat perayaan hari jadi RD Group. Begitu masuk ke dalam ballroom para tamu undangan sudah dimanjakan dengan dekorasi ruangan yang begitu indah. Puluhan meja bundar dengan kursi-kursi mengitarinya, memenuhi sebagian ruangan pesta.


Alunan lagu dengan suara merdu sang biduanita menemani para tamu undangan menyantap sajian yang disiapkan. Selain memilih duduk, tampak beberapa tamu undangan berkumpul di beberapa titik sambil mengobrol santai. Di sisi kiri dan kanan ruangan, tampak pondok-pondok mungil menyajikan makanan khas nusantara dan Western. Dari Selat Solo sampai Salmon en Croute, dari soto Betawi sampai Zuppa Soup tersedia semua.


Bahkan di salah satu meja prasmanan, bisa temukan jajanan pasar yang berdampingan dengan dessert mungil khas negara empat musim. Setelah cukup lama menemani Pieter, Naina memilih mengobrol dengan Stella di salah satu sudut pesta.


Ia bisa melihat wajah-wajah familiar yang dikenalinya. Ada Bara yang menggandeng istrinya, ditemani putri tertuanya. Ia juga sempat bertatapan dengan Wira, yang malam ini terlihat tampan dengan tuksedo hitam dan dasi kupu-kupunya. Pria itu datang sendirian, tidak ditemani asistennya. Dan yang paling utama adalah pemilik acara, Pram dan Kailla. Sepasang suami istri itu sibuk menjamu tamu, meninggalkan si kembar bersama para pengasuh dan asisten.


“Sedikit, Nai.” Stella tersenyum.


“Kakiku sudah hampir mati rasa. Terlalu lama tidak mengenakan heel setinggi ini. Rasanya ingin dilepas saja.” Naina mengeluh sambil menarik gaun panjangnya untuk melihat jari-jari kakinya yang memerah.


“Setengah jam lagi acara selesai. Nyonya Kailla saja sudah cemberut sejak tadi, sepertinya Nyonya nakal itu sudah meminta pulang.” Stella tergelak. Ujung telunjuknya mengarah pada Kailla yang sedang memangku salah satu putranya.


Di tengah obrolan keduanya, tiba-tiba Pieter datang menyela. “Angel, kamu di sini? Aku mencarimu sejak tadi.” Pieter berjalan dengan kruk di tangan kanan. Tangan kirinya menggengam jus jeruk kesukaan Naina.


“Ini untukmu,” ucapnya pelan, menyerahkan jus jeruk yang masih utuh di dalam gelas kaca itu pada Naina.


“Ste, kamu dicari Pram,” lanjut Pieter lagi.

__ADS_1


“Hah! Di saat seperti ini ... dia masih tidak mau melepaskanku. Pak Pram memang luar biasa,” keluh Stella sembari menggeleng.


“Nai, aku tinggal, ya.” Stella berpamitan sembari menepuk lengan Naina.


“Bagaimana, Angel?” tanya Pieter. “Kamu menyukai pestanya?” lanjut pria, tersenyum.


“Aku khawatir Wina mencariku.” Terlihat mendung bergelayut di wajah cantik Naina. Menghela napas, ia menyesap habis jus jeruk di dalam gelasnya.


“Sebentar lagi. Kamu pulang dengan siapa, Angel?” tanya Pieter. “Mau menungguku atau minta sopirku mengantarmu pulang?” tawar Pieter lagi.


“Aku bisa naik taksi. Apa tidak masalah kalau aku pulang lebih dulu, Pak?” tanya Naina ragu.


Pieter melirik jam di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukan pukul 21.05 malam. “Baiklah, tidak masalah. Serius tidak mau diantar sopir, Angel?” tawar Pieter lagi.


“Tidak, Pak.”


“Baiklah. Salam untuk Wina.” Pieter tersenyum menatap punggung Naina yang berjalan menjauh darinya, menghilang di tengah keramaian.


***


Naina baru saja keluar dari bilik toilet. Kedua kakinya sudah mati rasa. Berkali-kali menguap, kepalanya terasa berat. Berdiri di depan wastafel, merapikan tatanan rambut dan gaunnya. Tiba-tiba pandangannya berkunang-kunang.


“Kenapa dengan kepalaku. Perasaan tadi baik-baik saja,” ucap Naina, menatap seorang gadis muda yang baru masuk ke dalam toilet.


Terlihat ia memijat pelipisnya, mengusir pusing yang tiba-tiba datang mendera. Entah apa yang terjadi selanjutnya, Naina tidak tahu lagi. Ia kehilangan kesadaran beberapa detik kemudian. Tubuh bergaun hitam itu luruh jatuh ke lantai tepat di depan wastafel.


Brukk!


***

__ADS_1


Tbc


__ADS_2