Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S1. Bab 41


__ADS_3

Memeluk luka dengan berurai air mata, untuk saat ini Naina hanya bisa berdamai dengan semuanya.


"Kamu harus tenang, Nai. Tidak boleh menangis." Kalimat ini berulang kali diucapkan untuk menguatkan dirinya sendiri.


"Kamu kuat, Nai. Kamu punya Tuhan yang akan mendekapmu."


"Sakit ini hanya butuh waktu untuk mengobatinya, Nai. Nanti saat sembuh, kesakitan ini tidak akan ada apa-apanya," ucapnya lagi, tersenyum dengan berurai air mata.


Mengulang lagi kisah demi kisah yang dilakoninya dengan Wira, dadanya kian sesak. Cairan bening mengkristal di pelupuk mata, siap luruh menghiasi pipinya lagi. Berulang kali menyeka, tetapi tetap saja basah kembali.


"Kenapa harus kita, Mas? Kenapa harus kamu, Mas. Sekian banyak laki-laki di dunia ini, kenapa harus kamu, Mas," lirih Naina, suaranya hampir hilang. Mengingat perjalanan cinta mereka yang akhirnya mendapat giliran diterjang gelombang di tahun ke lima pernikahan.


Naina tahu, setiap rumah tangga pasti ada ujian, ada kerikil-kerikil kecil yang menganggu. Selama ini, dia berusaha meyakini, hanya batu sandungan kecil, tidak akan sanggup memporak-porandakan keluarga kecilnya yang setiap hari dipupuk dengan pondasi cinta.


Ya, setiap saat menanamkan cinta dan kepercayaan untuk suaminya, Naina berharap mereka akan menua bersama, berbagi cerita bersama sampai malaikat maut menjemput. Di tiap doa malamnya, Naina berharap bukan hanya berbagi ranjang selagi masih bernapas, tetapi berharap bisa berbagi pusara saat napas berkhianat dari raga.


Puas menangisi dan menertawakan dirinya sekaligus, Naina mengumpulkan kembali semua hal tentang Stevi yang selama ini diceritakan Wira padanya.


Dari masa lalu Stevi yang bukan termasuk perempuan baik-baik, bagaimana kisah pernikahan kedua Wira itu bermula, bagaimana sorot datar suaminya saat melihat Stevi dan putrinya, Nola. Bagaimana Wira yang kecewa dengan hasil tes DNA. Semuanya, tak ada sedikit pun yang terlewatkan.


Manik mata indah itu berair, menerawang jauh. Mengenang kembali, bagaimana selama ini Wira bahkan tak pernah menyembunyikan sosok Nola dan Stevi di dalam hidupnya. Bagaimana Wira yang selalu jujur dan berpamitan setiap pergi dengan Stevi.


Deg—


Bayangan kedua mertuanya ikut melintas, kembali teringat sorot mata kedua orang tua Wira saat melihat Nola.


“Apa mama dan papa juga mengetahui semua ini?”


Tangis Naina semakin menjadi, saat mengingat betapa tidak peka dirinya. Semua itu terlihat nyata, mereka tidak menyembunyikannya sama sekali. Mereka begitu terang-terangan dan tak berpura-pura selama ini. Cinta mereka pada Nola itu tampak jelas, hanya saja Naina yang menutup mata dan menyimpan percaya berlebih.


“Aku yang bodoh atau mereka yang terlalu pintar?” isaknya.

__ADS_1


“Cinta dan kepercayaanku terlalu besar sampai aku menutup mata untuk semua fakta yang jelas-jelas nyata di depanku.” Naina berucap sendiri.


Air mata itu mengalir, sampai dia kesulitan bernapas. Dadanya nyeri, pandangannya mengabur. Kepalanya berdenyut untuk semua kenyataan yang begitu tiba-tiba. Dia mengenal Wira dengan jelas, tanpa bertanya pun, dia yakin. Suaminya lah, yang menikah dengan Stevi. Suaminya lah, ayah dari Nola Pelangie Wirayudha.


“Bahkan dia memberi namaku di nama putrinya. Aku tidak tahu harus bahagia atau terluka. Kenapa Tuhan begitu tega mengujiku. Apa Tuhan tidak tahu, kalau aku tidak sanggup melewatinya,” isak Naina lagi.


“Aku memilikinya di dunia ini. Kenapa milikku satu-satunya pun harus diambil orang. Dosa apa yang aku lakukan sebelumnya, sampai aku harus membayarnya dengan semua pengkhianatan ini,” ratap Naina.


Ucapan-ucapan Wira, ketidaksukaan Wira pada sikap Stevi berputar ulang. Naina berusaha berpikir jernih, setidaknya dia harus mengumpulkan bukti. Kalau memang Wira dijebak, bukankah harusnya dia juga membantu menendang Stevi melakukan kecurangannya, mengungkap kebenarannya. Bukankah ini jadi tidak adil untuk Wira.


“Kamu harus tenang, Nai. Setidaknya kamu masih bisa melihat jelas, sorot mata Mas Wira itu tidak berbohong. Cintanya memang untukmu, Stevi memang menjebaknya.” Naina meyakinkan dirinya sendiri, di tengah hatinya yang tercabik-cabik.


“Kamu masih melihat kejujuran di mata Wira. Sorot mata itu masih sama seperti awal pertama bertemu. Cinta itu masih terlihat jelas untukmu, Nai.” Naina berbicara sendiri.


“Ya, cintamu itu masih jelas untukku. Setidaknya itu tidak terlalu menyakitkan, Mas. Harusnya sejak dulu, kamu berterus terang padaku, meski sakit aku pasti akan mendampingimu kalau memang semua ini hanya permainan Stevi.”


Wanita tegar dan kuat itu menghapus air matanya. Pantang menangis di saat seperti ini. Dia harus kuat, karena dia tahu cinta Wira masih untuknya.


"Kalau ternyata dia putrimu, setidaknya aku tidak pergi dengan membawa sesal di kemudian hari. Karena aku tahu kebenarannya."


***


Menguatkan diri, menegarkan hati di tengah pikiran kacaunya, Naina memacu mini coopernya menuju ke sebuah rumah sakit. Dia harus mencari tahu, bagaimana memastikan hubungan biologis antara seorang ayah dan anak. Kalau harus melakukan tes DNA, dia harus memastikan prosedurnya.


“Aku tidak boleh menyerah. Rumah tanggaku tidak mungkin semudah ini hancur. Kalau memang Stevi benar-benar menjebak Mas Wira, sama saja aku menyerah kalah. Bukankah dia akan tersenyum, saat melihat aku pergi.” Naina mengepalkan tangannya, menahan amarah mengingat bagaimana Stevi menggunakan cara liciknya untuk menghancurkan rumah tangganya.


“Tes DNA!” Kalimat ini sejak tadi menari-nari di pikiran. Begitu keluar dari ruang dokter, penjelasan akan prosedur tes DNA yang ingin dilakukannya membuat Naina harus memutar otak. Bagaimana mengambil sampel darah dari gadis kecil itu dan suaminya. Sebisa mungkin, dia ingin melakukan tes DNA ini diam-diam, tanpa diketahui siapa pun, termasuk Wira.


Paling tidak, dia masih terbantu dengan saran dokter saat bisa menggunakan rambut, air liur atau pun kuku. Setidaknya masih ada jalan lain.


Ketukan sepatu hitam hak 3 cm menggema sepanjang koridor rumah sakit. Terdengar tenang dan teratur, jauh berbeda dengan perasaan Naina saat ini. Wajah sembab yang berusaha ditutupinya dengan make up tipis, tidak bisa menutupi perasaannya saat ini. Sakit dan kehancuran itu terlihat jelas.

__ADS_1


Tangannya sudah merogoh gawai putih dari dalam tasnya. Menghubungi suaminya, tentu saja. Siapa lagi yang dimilikinya di dunia ini selain Wira, tempat mengadu, berkeluh kesah, berbagi suka sekaligus duka.


Diurungkannya. “Sebaiknya langsung ke sana. Siapa tahu Nai bisa menemukan jejak-jejak dusta Mas Wira,” ucap Naina pelan. Menarik napas dalam, menahan rasa sakit yang tak kunjung pergi sejak tadi.


***


Tiba di kantor Wira, Naina segera naik ke lantai tempat di mana ruangan suaminya berada. Dari kejauhan, terlihat Stevi sedang berbincang dengan seseorang.


“Stev, suamiku ada?” tanya Naina pelan, memotong pembicaraan Stevi dengan lelaki tampan yang berdiri di seberang meja. Naina tidak pernah melihat laki-lami ini sebelumnya.


“Baiklah, Stev, aku pamit dulu. Nanti kalau Pak Pram sudah oke, aku akan segera menghubungimu.” Laki-laki itu masih sempat mengedipkan matanya pada sang sekretaris.


“Maaf Nyonya, Pak Wira ada di dalam.” Stevi menjawab sambil menatap punggung tamunya berjalan menjauh.


“Siapa Stev?” tanya Naina, ikut menatap ke arah yang sama.


“Pak David, asistennya Pak Pram, rekan kerja Pak Wira.” Stevi menjelaskan.


Naina mengangguk. Sejak mengetahui kebenarannya, Naina jadi tertarik dengan semua hal yang berkaitan dengan Stevi. Meskipun belum ada pernyataan dari bibir Wira, Naina yakin dugaannya tidak akan salah. Dia sangat mengenal suaminya.


“Aku menemui suamiku dulu, Stev. Tolong jangan menganggu kami ... aku ingin bermanja-manja dengan suamiku dulu.” Naina tersenyum malu-malu. Bersusah payah menyembunyikan amarahnya dan melempar bola panas pada sang sekretaris.


Mendorong pelan pintu kayu di depannya, Naina berusaha mengontrol emosinya saat melihat Wira. Suaminya sedang serius dengan setumpuk berkas di depannya. Bahkan laki-laki tak menoleh sedikit pun, saat mendengar pintu terbuka.


“Apa kamu tidak punya telinga. Sejak tadi aku katakan, kalau aku muak melihatmu. Bisakah jangan masuk ke ruanganku kalau aku tidak memanggilmu!” ucap Wira tiba-tiba, tanpa mengalihkan pandangannya.


“Mas, ini Nai ....”


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2