
“Tunggu!” Wira menghentikan langkah Dennis.
“Kita perlu bicara.” Wira melanjutkan kalimatnya.
Siang itu mendung bergelayut di atas cakrawala. Semilir angin bertiup sepoi-sepoi menerpa dedauan. Sejuk melanda, tetapi tidak untuk Wira. Hati pria tampan itu memanas hanya dengan melihat rupa Dennis. Kakaknya sendiri tetapi orang yang tega menghancurkan hidupnya.
“Aku tidak merasa ada yang perlu dibicarakan.” Dennis berbalik setelah menghentikan langkahnya.
“Apa yang kamu lakukan di sini? Jangan katakan kamu sengaja mendekati anak dan istriku?” ungkap Wira. Emosi membuat akal sehat Wira beterbangan.
“Hahaha ... mantan. Kalian sudah bercerai. Jangan katakan kamu amnesia mendadak, Adikku.” Dennis terbahak sembari menepuk pundak Wira.
“Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Masalah kita sudah selesai. Dan aku rasa aku tidak berhutang apa-apa lagi padamu. Aku sudah menjalankan kewajibanku menjaga anak dan mantan istrimu. Hanya saja mamamu masih berhutang banyak padaku. Ingat itu, aku harap saat dia menarik napas terakhirnya tidak mengingat dosa-dosanya padaku. Aku kasihan padanya saat di akhirat nanti.” Dennis kembali terbahak.
“Apa yang kamu lakukan selama ini? Apa hubunganmu dengan Naina dan ....” Wira teringat akan kedatangan Dennis di saat tidak ada Naina di rumah.
“Wina?” tanya Wira meminta penjelasan.
“Aku dan ibu angkatku yang menjaganya, tentu hubungan kami baik-baik saja. Apa ada yang salah?” tanya Dennis dengan senyum menyebalkannya.
“Apa maksudmu? Selama ini ... tunggu!” Wira teringat kembali tentang kakak Naina dan ibu mertua yang diceritakan Jack. Merangkai semua kisah termasuk nama Naina Joseph yang sempat muncul.
“Jadi, kamu yang dimaksud kakaknya Naina dan Mbok Sumi juga ibu mertuanya Naina ....” tebak Wira. Otaknya mulai bisa mengurai simpulan yang belum sepenuhnya terlepas.
“Hmmm.” Dennis bergumam tak jelas sambil mengangguk.
“Tanyakan semuanya pada Naina. Dia akan menceritakan padamu apa yang terjadi. Jangan melarangku dan Mbok Sumi untuk bertemu dengan Naina atau Wina. Kamu bukan siapa-siapanya. Yang berhak melarangku cuma Naina Pelangie. Aku permisi.” Dennis berpamitan. Tanpa memberi Wira kesempatan bertanya lebih jauh lagi, pria itu melangkah ke jalan raya tempat di mana Pajero sport hitamnya terparkir.
***
“Ayah ....” pekik Wina menyambut Wira saat masuk ke dalam kontrakan.
Tiga minggu berusaha mendekatkan diri pada putrinya, akhirnya Wina mulai membuka hati. Walau belum bisa seakrab hubungan ayah dan anak yang terjalin sejak lahir, setidaknya Wina sudah mau didekati, mau diajak berkomunikasi, mau menyerukan namanya. Panggilan ayah yang diajarkan Naina pada putri mereka, benar-benar membuat telinga Wira harus beradaptasi. Sampai sekarang, masih terdengar tidak biasa untuk Wira. Di keluarga mereka tidak pernah menggunakan panggilan seperti itu.
“Pria yang barusan keluar ... apa sering berkunjung?” tanya Wira, mencerca Rima di kesempatan pertama.
Deg— Rima tertegun. Perasaannya bimbang harus menjawab apa. Tidak mungkin berbohong lagi. Selama ini ia menyembunyikan tentang kunjungan Dennis dan Ibu Sumi yang hampir datang setiap hari mengunjungi Wina di saat Naina tidak ada di rumah.
__ADS_1
“Ya, Pak. Sejak Ibu bekerja, Pak Dennis dan Ibu Sumi hampir tiap hari mengunjungi Wina. Hanya saja jarang bertemu Bapak. Biasanya mereka datangnya sore, setelah Bapak pulang. Kalau tidak pagi, sebelum Bapak datang,” jelas Rima tertunduk.
“Wina sudah makan siang?” tanya Wira. Hatinya yang meletup karena ulah Dennis seketika tenang kembali saat mendengar suara Wina. Gadis kecilnya sibuk berceloteh dengan boneka barunya.
“Sudah, Pak. Tadi disuapin Pak Dennis makan siang. Ibu Sumi membuatkan Wina makanan.” Rima menjelaskan tanpa tahu duduk permasalahan yang sebenarnya.
“Itu mainan baru juga dibelikan Pak Dennis,” jelas Rima.
Mendengar nama Dennis, kembali Wira meradang dalam hati. Mengeluarkan ponsel dari saku celananya, ia pun menghubungi Naina. Sudah hampir tiga minggu tidak mendengar suara Naina, ia hampir lupa seberapa merdunya suara sang mantan istri. Wira sengaja melakukannya, tidak mau terlalu sering mendengar suara Naina yang hanya akan membuat perasaannya melemah kembali. Selama ini, ia lebih sering berkomunikasi melalui whatsApp. Itu pun seperlunya.
“Nai, bisa kita bertemu?” tanya Wira setelah terdengar suara Naina di ujung panggilan.
“Ya, Mas. Ada apa?” tanya Naina.
“Ada yang harus aku bicarakan. Aku akan menemuimu di kantor setelah jam kerjamu usai,” tegas Wira.
“Baik, Mas. Aku keluar kantor pukul lima sore. Nanti kabari saja, Mas. Aku masih ada pekerjaan sekarang,” ucap Naina memutuskan panggilannya.
Tatapan Wira seketika meredup saat melihat Wina. Masih terngiang jelas, ucapan Rima yang mengatakan kalau Wina disuapi Dennis. Ada sesak menyeruak di dadanya, ada nyeri menusuk di ulu hati saat mengetahui putrinya begitu dekat dengan pria lain. Apalagi saat mengetahui Dennis lebih banyak menghabiskan waktu dengan Wina dibanding dirinya. Jangan ditanya seberapa menyakitkan. Sakitnya tidak bisa digambarkan.
Wira bersyukur masih diberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya sebelum terlambat. Ia masih memiliki waktu untuk mendekati Wina dan merebut kembali hati putri kecilnya. Lamunan Wira terusik saat ponsel di sakunya berdering. Muncul deretan nomor asing di layar.
“Selamat siang, Pak. Saya Kristin dari rumah sakit Husada. Maaf, apa benar saya berbicara dengan Bapak Pratama Wirayudha?” tanya suara wanita di seberang telepon.
“Ya, saya sendiri.”
“Oh, begini Pak. Hasil test sudah keluar, Bapak bisa langsung mengambilnya di rumah sakit.”
“Baik, terima kasih,” ucap Wira.
Senyum pria itu mengembang. Hasil test DNA itu penting untuknya, bukan karena ia meragukan Wina, tetapi ia membutuhkannya untuk hal-hal lain. Setidaknya, ia memiliki bukti nyata kalau Wina benar putrinya secara biologis. Kehamilan Naina di tengah perceraian mereka yang berakhir dengan dikabulkannya gugatan perceraian dan akhirnya terjadi perpisahan, tentu saja akan membuat banyak pihak menebak-nebak tentang identitas Wina. Ia membutuhkan hasil tes itu untuk membungkam semua orang yang meragukan Wina adalah putrinya.
***
Kantor RD Group.
“Pak ....” Naina melirik jam yang tergantung di dinding ruang kerja Pieter. Waktu sudah menunjukan pukul 16.45. Lima belas menit lagi jam kerja selesai.
__ADS_1
“Ya. Ada apa, Angel?” tanya Pieter yang duduk di kursi kebesarannya. Mereka sedang membahas salah satu proyek apartemen di daerah Jakarta Selatan.
“Aku bisa minta izin ... pulang tepat jam lima sore. Aku ada janji dengan seseorang,” ucap Naina mencoba berterus terang.
“Jangan katakan, kamu mulai membuka hatimu dengan yang baru. Aku akan mengantri di deretan paling depan, Angel.” Pieter terbahak. Selama ini ia tidak mau mengungkit status Naina, meskipun ia tahu kalau Naina hanya berbohong pada semua orang tentang suaminya. Ia sudah lama mengetahui kalau Naina hanya seorang janda dengan satu orang putri.
“Tidak, Pak. Bukan siapa-siapa. Hanya salah satu keluarga jauhku,” ucap Naina berdusta.
Tepat pukul lima sore, Naina keluar dari kantor RD Group. Menyusul di belakangnya Pieter, berjalan tertatih-tatih dengan kruk di tangan kanannya.
“Aduh! Angel, tolong aku!” teriak Pieter sebelum menuruni tangga di depan gedung. Pria itu sengaja tidak meminta bantuan sopirnya seperti biasa. Ada misi yang harus dilakukannya sehingga meminta sang sopir menunggu di mobil.
“Tunggu Pak.” Naina berbalik, buru-buru menghampiri Pieter dan memeluk erat pinggang pria itu supaya tidak terjatuh saat menuruni anak tangga. Kaki Pieter belum sepenuhnya sembuh.
“Aku merindukan saat-saat seperti ini, Angel. Teringat kembali masa-masa indah kita selama di Austria,” bisik Pieter, mendekatkan bibirnya di telinga Naina. Tangan kirinya mendekap erat pundak Naina. Pria itu selalu memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan.
Naina tidak merespon ucapan Pieter. Baginya ini bagian dari pekerjaan, berbeda dengan Pieter yang sudah menggunakan perasaan sejak lama.
“Angel, aku selalu berharap di dalam doaku. Kamu bukan hanya menopang tubuhku, tetapi juga menopang hidupku yang pincang ini. Pria tanpa wanita di dalam hidupnya itu sama saja pincang. Aku membutuhkanmu untuk membuat hidupku sempurna, Angel,” cerocos Pieter. Ia sudah lupa berapa banyak melempar kata-kata indah untuk Naina. Namun semua berakhir sia-sia, Naina tidak menanggapinya sama sekali.
Melangkah perlahan, keduanya sampai di mobil Pieter yang terparkir di halaman gedung. Tampak sopir buru-buru membuka pintu mobil untuk majikannya.
Pieter baru akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba pria itu mencuri kecupan di pipi kanan Naina. Begitu mendadak dan tiba-tiba.
“Terima kasih, Dear. Itu ucapan terima kasihku karena sudah bersedia mengantarku sampai ke mobil,” ucap Pieter tersenyum cerah. Berbeda dengan Pieter yang begitu bahagia, Naina tertegun sembari mengusap pipinya. Tidak ada reaksi berlebih, Naina buru-buru melepas belitannya di pinggang Pieter.
“Aku permisi, Pak.” Naina salah tingkah sendiri. Bergegas mencari tahu keberadaan Wira yang berjanji akan menunggunya di parkiran kantor.
Di tengah kebingungannya, menoleh ke kiri dan kanan, ponsel di tangan Naina berdering. Pria yang dicarinya sejak tadi, menghubunginya.
“Mas, di mana?” tanya Naina begitu ponsel menempel di telinga. Masih mengedarkan pandangan ke sekeliling, Naina mencari mobil sport hitam yang biasa dikendarai Wira.
“Di depan mobil Pak Pieter-mu.” Wira menjawab dengan menahan rasa cemburunya setelah disuguhkan pemandangan yang tidak disangka-sangka. Sengaja menekan kata di ujung kalimatnya.
“Hah! Aku tidak melihat mobilmu, Mas,” ungkap Naina semakin bingung.
“Di depan mobil Pieter. Tesla hitam W 1 RA,” ujar Wira sembari menggenggam erat kemudi mobil Tesla model 3 miliknya.
__ADS_1
***
TBC