Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 18


__ADS_3

Hotel Peninsula, Salisbury Rd, Tsim Sha Tsui, Hong Kong.


Di sebuah kamar hotel, terlihat seorang pria terusik dari tidurnya. Ya, dia adalah Wira. Selama di Hong Kong, Wira memilih tinggal di hotel yang terkenal dengan armada limusin rolls royce hijau itu. Tentunya dengan berbagai alasan. Selain karena memang usaha yang baru dirintisnya berada di daerah Tsim Sha Tsui, area urban di bagian selatan Kowloon.


Dengan memilih tinggal di hotel, Wira juga dimudahkan dengan adanya fasilitas penyewaan mobil dan helikopter dari pihak hotel. Yang memudahkannya untuk bepergian ke mana-mana.


Menghempas kasar selimut yang menghangatkan tubuhnya, Wira baru terbangun saat matahari sudah bersembunyi di balik pekat malam. Jam di dinding menunjukan pukul tujuh malam waktu Hong Kong, saat ponsel berdering nyaring di atas nakas, mengganggu tidurnya.


Sejak bercerai, kehidupan Wira tidak teratur. Ia bisa berpesta dengan teman dan rekan bisnisnya dari malam sampai pagi dan terlelap di siang harinya. Bekerja tidak kenal waktu dan lelah, sampai tubuhnya meronta dan protes. Mungkin ini adalah pelarian dari permasalahan hidup yang dipikulnya seorang diri. Perceraian memang tidak membuatnya hancur berkeping-keping, ia menjadi pria sukses dan mapan di usia muda, tetapi hidupnya hampa, hatinya kosong.


“Siapa lagi yang mengganggu?” gerutunya. Dengan mata mengantuk, ia meraih ponsel. Membaca pesan masuk yang baru saja mengusik kenyamanannya.


Deg—


Pesan dari orang suruhannya yang diminta untuk mencari keberadaan Naina dan Wina, putrinya. Lelah dan kantuk hilang, saat melihat foto Naina yang sedang menggandeng putri mereka terpampang di layar ponsel.


Bos, ada kabar baik. Aku sudah mendapatkan semua informasi lengkap tentang Naina dan putrinya. Hari ini mereka mendatangi rumah orang tuamu, Bos. Aku juga sudah mendapatkan alamat tinggal mereka.


Senyum Wira terkembang. Dibacanya berulang-ulang isi pesan teks, diamatinya foto Naina dan Wina yang sedang berada di halaman rumah orang tuanya.


“Akhirnya, aku menemukanmu, Wina.” Wira berkata pelan, mengusap perlahan foto putrinya.


Tanpa menunda lagi, ia segera menghubungi Jack, orang suruhannya. Nada sambung membuat jantung Wira berdetak kencang. Rasanya sudah tidak sabar untuk mendengarkan informasi lain tentang Naina dan putrinya.


“Bagaimana?” tanya Wira begitu terdengar suara berat di ujung panggilan.


“Aku sudah mendapatkan alamatnya Bos. Baru saja aku akan mengirimnya.” Jack berkata.


“Bagaimana keadaan mereka?”


“Memprihatinkan, Bos. Sepertinya Naina dan Wina tinggal bertiga dengan pengasuhnya di sebuah kontrakan petak di dalam gang. Tidak ada Dennis ataupun ibu angkatnya,” lapor Jack lagi.


“Baiklah. Tetap awasi mereka. Laporkan segera. Aku baru bisa kembali ke Indonesia akhir bulan,” jelas Wira, menghitung hari. Ia masih harus berada di Hong Kong selama sebulan ke depan. Pekerjaan ini tidak bisa ditinggalkannya begitu saja.

__ADS_1


“Baik, kalau ada apa-apa, kamu bisa menghubungi asistenku, William.”


“Ya, Bos.”


“Tolong kabari aku semua tentang mereka. Aku ingin melihat foto putriku setiap hari. Laporkan semua tentang Wina, apa yang dilakukannya setiap hari.”


“Baik, Bos.”


Tanpa melepas ponselnya, Wira segera menghubungi William. Ada banyak hal yang ingin disampaikan pada asisten pribadinya itu.


“Will, tolong hubungi Jack. Dia sudah menemukan keberadaan mantan istriku dan Wina. Tolong lihat kondisi mereka. Kalau mereka membutuhkan sesuatu, kirimkan semua yang mereka butuhkan, terutama putriku. Aku tidak mau dia kekurangan apa pun!” titah Wira tanpa memberi kesempatan sang asisten menyapa.


“Baik, Bos. Ada lagi?” tanya William.


“Tidak. Sementara itu saja,” sahut Wira, memutuskan panggilannya. Netranya kembali terarah pada Wina, hatinya tersentuh melihat foto putri kecilnya yang sedang memeluk boneka lusuh dengan wajah mengantuk.


“Kamu satu-satunya alasanku berjuang sampai detik ini. Motto hidupku bukan lagi harta, takhta dan tanpa wanita. Sejak mengetahui keberadaanmu di dunia ini, aku hidup untuk harta, takhta dan Wina.” Wira berkata dengan yakin. Tatapannya menerawang jauh. Berdiri di sisi jendela, menatap gedung pencakar langit dengan kerlap-kerlip lampu jalan. Pemandangan Hong Kong di waktu malam. Begitu bergairah dan menggeliat.


***


Tiga minggu berlalu, kehidupan Naina mulai membaik meskipun masih menghuni kontrakan petak di gang sempit. Ucapan-ucapan pedas Mama Wira masih membekas di hati Naina, tetapi wanita itu memilih mengabaikannya. Menganggap sebagai pecut untuk dirinya sendiri. Ia yakin bisa membesarkan putrinya sendirian. Tekadnya adalah memberi kehidupan yang lebih baik untuknya dan Wina. Tidak mau membebani Wira seperti yang dituduhkan mantan mama mertuanya.


Selama tiga minggu ini juga ia selalu menerima pesan permintaan maaf dari Dennis. Bahkan, sejak menghuni kontrakan, ia selalu menerima barang-barang untuk kebutuhan sehari-hari dan keperluan Wina, tanpa ada kejelasan siapa pengirimnya. Dari barang kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak goreng sampai susu dan popok Wina. Ada juga mainan dan pakaian untuk putri kecilnya.


Tadinya ia ingin menolak, tetapi mengingat tabungannya semakin menipis, akhirnya Naina mengalah. Apalagi sampai saat ini, ia yang hanya tamatan SMA belum mendapatkan pekerjaan. Sekarang, ia baru menyadari seberapa pentingnya pendidikan. Bahkan untuk pekerjaan yang sederhana sekali pun, lebih diutamakan yang berpendidikan tinggi.


Sebelumnya, Naina berencana membuka butik, tetapi dana yang tadi dianggarkan untuk itu sudah terpakai sebagian. Mau tidak mau, ia memutar otak untuk mencari pekerjaan lain. Tidak mungkin menganggur terus-menerus. Ia harus memenuhi kebutuhan rumah tangga dan menggaji Rima. Lama kelamaan hasil jerih payahnya selama di Austria pun akan habis tak bersisa.


Siang itu, seperti biasa, Naina sibuk mencari lowongan pekerjaan di internet. Sudah hampir dua minggu mengirim surat lamaran, tetapi tidak ada satu pun yang mendapat tanggapan. Ia tidak menerima panggilan sama sekali.


“Apa aku terima saja tawaran pekerjaan dari Pak Pieter?” ucapnya pada diri sendiri. Menatap Wina yang tertidur pulas di sampingnya. Ia hampir putus asa dengan kondisinya sekarang. Berbeda saat masih bersama Dennis, semua kebutuhan hidupnya dan Wina ditanggung Dennis. Pria itu bahkan tidak mengizinkannya menggunakan uang dari hasil kerja kerasnya selama ini.


Naina terlihat mengeluarkan sepucuk surat yang dititipkan Pieter padanya sebelum pulang ke Indonesia. Dibaca ulang sambil menimbang tawaran Pieter.

__ADS_1


Dear my Angel,


Terima kasih untuk semua yang pernah kamu lakukan untukku. Ini sangat berarti untukku, si pria tua yang terkadang suka tidah tahu diri ini. Kurang lebih satu tahun kita bersama, kamu sudah menjadi bagian dari hidupku. Perpisahan ini terasa berat, tetapi aku tahu kamu sangat merindukan putrimu dan Indonesia.


Aku sudah membahasnya dengan Pram. Bulan depan aku akan kembali ke Indonesia dan bekerja di sana. Aku membutuhkanmu untuk membantuku. Kamu tidak perlu merawatku seperti dulu, cukup membantuku di kantor. Kakiku masih belum sembuh sempurna, aku masih membutuhkanmu, Angel. Kamu bisa belajar bersamaku. Kamu berbakat, aku tahu itu.


Aku pasti menghubungimu begitu tiba di Indonesia. Aku akan merindukanmu sebulan ini, Angel.


Love you, Pieter Adrian.


Dilipatnya kembali surat dari mantan majikannya itu. Ada banyak pertimbangan saat ini. Namun dari semua kejadian yang sudah dilaluinya, ia belajar satu hal. Ia tidak bisa menjadi ibu yang egois, ia tidak boleh keras kepala lagi. Saat ini ada Wina bersamanya yang harus menjadi prioritas.


Diusapnya pelan kening putri kecilnya yang berkeringat. Rumah kontrakannya tidak memiliki pendingin ruangan seperti tempat tinggal mereka sebelumnya. Sejak pindah ke kontrakan, Wina harus membiasakan diri dengan kipas angin yang diletakan di sudut kamar.


“Bunda akan melakukan apapun untukmu, Nak. Apapun itu, meskipun berat untuk Bunda.” Naina menitikan air mata. Dikecupnya perlahan kening gadis kecil itu dengan penuh cinta.


***


Wina berlarian di gang sempit rumahnya dengan ditemani pengasuhnya. Naina yang sedang sibuk memasak untuk makan malam di dapur, membiarkan putrinya bermain di luar bersama Rima. Tiga minggu bersama, perlahan Wina sudah mulai dekat kembali dengan bundanya. Meskipun awalnya menolak, perlahan Wina mulai membuka hatinya untuk Naina.


Tawa Wina begitu ceria, tanpa beban. Sesekali gadis kecil dengan gaun merah itu berhenti berlari saat ada anak kecil lain yang memanggilnya. Tinggal di kontrakan, Wina jadi memiliki banyak teman seumurannya. Jadi sering bersosialisasi dengan tetangga-tetangga yang rumahnya saling berdempetan.


Konsentrasi Wina teralihkan saat melihat dua orang yang dikenalnya muncul di ujung gang. Pria muda sedang menuntun seorang ibu tua yang berjalan tertatih-tatih. Setengah berlari Wina berteriak menyambut keduanya.


“DADDY!” teriak Wina tanpa ragu menghambur memeluk sang pria dan mengangkat kedua tangannya meminta gendong.


“Wina, Nenek datang menjengukmu. Apa kabarmu?” tanya sang wanita tua menitikan air mata saat melihat Wina yang sudah dianggap cucunya sendiri. Diusapnya perlahan pucuk kepala Wina. Rindunya selama tiga minggu ini terbayar sudah. Sejak kepergiaan Wina, ia harus dirawat di rumah sakit. Kalau tidak, tentu saja sudah sejak lama ia mengunjungi cucunya.


“Nenek membuatkan makanan kesukaanmu. Nenek merindukanmu,” ucapnya menangis, mengusap punggung Wina yang sedang memeluk erat daddy-nya.


***


To be continue.

__ADS_1


__ADS_2