
Setelah membereskan semua pakaian Wina, Naina memaksa menggendong putrinya. Wina menangis kencang, saat tubuh mungilnya berada di gendongan Naina. Gadis kecil itu memberontak. Baginya Naina adalah orang asing.
“Nai, jangan seperti ini. Kasihan Wina. Kamu mau ke mana? Di sini rumahmu,” ungkap Dennis berusaha menahan. Pria itu hampir putus asa, menahan nyeri di tangannya akibat ulah Naina.
“Tidak. Mulai sekarang, aku akan tinggal dengan Wina. Terima kasih untuk bantuanmu selama ini,” ucap Naina, menenteng tas berisi pakaian Wina dengan tangannya yang bebas. Gadis kecil di dalam gendongan bundanya itu tetap menangis, meronta dan menjerit. Bahkan Wina mengeraskan tubuhnya agar bisa melorot turun dari dekapan Naina.
“NAI!” teriak Dennis setelah melihat sendiri Wina yang hampir terjatuh. Gadis kecil itu memberontak dengan sekuat tenaga, menjerit dan menangis sekencang-kencangnya.
"DADDY ...." teriak Wina terdengar pilu, meminta bantuan Dennis. Tangan mungilnya terjulur mengarah pada Dennis, meminta pertolongan.
Naina menghentikan langkahnya setelah mendengar teriakan Dennis. Ia berbalik dan menatap pria itu dengan sinis.
“Jangan berteriak di depanku. Aku tidak menampar wajah tampanmu itu seharusnya kamu sudah bersyukur, Mas,” ungkap Naina di sela jeritan Wina. Ia sama sekali tidak berniat melepaskan Wina, bahkan gendongannya semakin erat.
“Ya, aku minta maaf. Kamu mau pergi ke mana, Nai? Sebentar lagi gelap. Kamu tidak bisa pergi membawa Wina tanpa tujuan,” bujuk Dennis berusaha melunakan Naina.
“Aku akan mencari kontrakan. Tidak perlu mengurusiku lagi, Mas.”
"Nai, jangan sekarang. Kamu bisa pergi besok. Sebentar lagi malam, kamu tidak bisa membawa Wina dalam kondisi seperti ini. Tolong jangan keras kepala, Nai. Aku tahu kamu marah, kesal, benci padaku. Tolong pertimbangkan Wina. Kasihan Wina," bujuk Dennis berjalan mendekat.
“Nai, jangan begini, Ibu minta maaf. Tetap tinggal di sini, kasihan Wina, Nai. Dia masih kecil, apalagi kamu baru kembali dari Austria. Kamu tidak mengenal daerah ini, Nai.” Mbok Sumi ikut membujuk. Tidak tega melihat Wina yang menjerit histeris.
Tanpa mendengar permintaan maaf Mbok Sumi dan Dennis, Naina yang mengabaikan jeritan pilu Wina terus menggendong keluar putrinya dan menunggu taksi di pinggir jalan. Sepuluh menit menunggu taksi, pengasuh Wina tampak berlari menyusul.
“Bu, aku ikut. Kasihan Wina, dia belum terbiasa.” Pengasuh itu berusaha mengambil alih Wina dari gendongan Naina. Tangisan gadis kecil itu masih sama kencangnya, bahkan semakin menjadi. Menarik perhatian para pengguna jalan.
“Hah!” Naina terkejut saat perempuan muda itu mengambil alih Wina dari gendongannya.
__ADS_1
Seketika jeritan Wina berhenti, memeluk erat leher pengasuhnya. Gadis mungil itu menelungkup di pundak gadis muda yang selama ini menemaninya.
Jujur saja, saat ini Naina terenyuh. Melihat Wina yang begitu dekat dengan pengasuhnya, membuat Naina tidak tega mengambil Wina kembali. Putrinya sudah bisa tenang dan berhenti menjerit.
“Biarkan Rima ikut denganmu. Aku tidak akan melarangmu pergi.” Tiba-tiba terdengar suara berat Dennis. Pria itu menyusul, sembari menyeret koper dan tas pakaian Wina yang tertinggal di dalam rumah.
“Apa perlu aku mengantarmu?” tawar Dennis lagi. Suaranya melembut, ia berusaha bersikap tenang. Tiga tahun berada di dekat Naina, ia mulai bisa membiasakan diri menghadapi sikap keras Naina.
“Mas tidak perlu ikut campur urusanku lagi. Hubungan kita putus sampai di sini. Tidak perlu meminta maaf, aku akan mengganggap apa yang Mas dan Ibu Sumi lakukan padaku selama tiga tahun ini untuk membayar semua dosa-dosa kalian di masa lalu Jangan pernah mengikutiku lagi. Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi, Mas.” Naina bersikeras.
***
Hari itu juga, dengan bantuan Rima akhirnya Naina mendapatkan kontrakan yang tidak terlalu jauh dari rumah yang ditempati Wina saat bersama Mbok Sumi dan pengasuhnya, Rima. Sebuah rumah petak yang lumayan jauh dari jalan raya. Bahkan untuk mencapai ke sana, mereka harus berjalan kaki kurang lebih seratus meter karena kendaraan beroda empat tidak bisa masuk ke dalam gang.
Rumah petak itu tanpa kamar hanya disekat untuk ruang tamu, ruang tidur dan dapur. Ada sebuah kamar mandi di dalamnya. Rumah itu juga tanpa perabotan. Meskipun begitu, kontrakan itu terlihat bersih dan masih baru. Naina lumayan beruntung, ibu pemilik kontrakan bersedia meminjamkannya kasur lipat setelah melihat Wina yang tertidur pulas di gendongan Rima.
“Terima kasih, Bu.” Naina menghela napas lega sambil menutup pintu rumah kontrakan barunya.
“Bu, sudah. Kasihan Wina.” Rima mendatangi Naina.
Setelah hampir dua jam menangis, pengasuh itu jadi tidak tega. Tadinya ia juga tidak tahu harus berbuat apa, tetapi Dennis memintanya ikut pergi bersama Naina. Pria itu tidak ingin terjadi hal buruk pada Naina dan Wina. Sebisa mungkin ia akan tetap menjaga dengan caranya sendiri.
Wina masih tidur?” tanya Naina, mendongak. Ia masih duduk di lantai, pandangannya berbayang karena basah oleh air mata.
“Masih Bu.”
“Maaf untuk sementara kita tinggal di sini dulu, sampai aku mendapatkan kontrakan yang lebih layak. Aku tidak mengenal daerah ini.”
__ADS_1
“Ya, Bu. Tidak apa-apa. Kebetulan aku memiliki teman yang tinggal di sini.” Rima menjawab.
“Setelah Wina bangun, kita akan pergi ke supermaket untuk membeli semua kebutuhan rumah dan kebutuhan Wina,” ucap Naina.
“Baik, Bu.”
Bunyi ketukan di pintu, menghentikan obrolan keduanya. Naina menatap ke arah Rima, ragu-ragu sekaligus heran. Mereka baru saja menghuni kontrakan itu tetapi sudah ada tamu yag mengetuk pintu rumah.
“Sebentar aku lihat dulu, Bu.” Rima mencoba mencari tahu.
Perempuan muda itu terbelalak saat menyibak tirai jendela dan melihat berbagai macam barang dan kebutuhan rumah menumpuk di depan kontrakan.
“Bu, ada yang mengirim perabotan rumah dan kebutuhan sehari-hari,” adu Rima pada Naina yang masih duduk di lantai keramik.
“Siapa?” tanya Naina pelan.
Rima menggeleng. “Sebagian barang masih diangkut, Bu. Karena mobilnya berhenti di ujung jalan sana,” lanjut Rima saat sudah membuka pintu.
Buru-buru Naina bangkit dan memastikan. Masih dengan wajah sembabnya, Naina terkejut mendapati perabotan rumah lengkap sudah bertumpuk di teras rumah. Bahkan ada kulkas, televisi dan peralatan memasak. Ada kasur dan tempat tidur beserta kursi plastik. Selain itu, ada dua kotak besar kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan Naina termasuk susu dan popok.
“Ini dari siapa?” tanya Naina berbicara dengan Rima.
Belum hilang terkejutnya, Naina mendapat sebuah pesan masuk di ponselnya.
“Mas Dennis?” ucap Naina sebelum membuka isi pesan.
Rumah itu tidak layak dihuni, tetapi aku tidak bisa menahanmu, Nai. Aku tidak bisa ikut campur, semua adalah keputusanmu. Aku hanya kasihan pada Wina. Terima semua barang-barang itu, kamu dan Wina membutuhkannya. Jaga diri baik-baik. Kalau membutuhkan bantuanku, jangan sungkan. Ibu sakit. Kalau kamu merasa sudah lebih baik, tolong temui Ibu. Dia sangat terpukul.
__ADS_1
***
TBC