Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S1. Bab 37


__ADS_3

Mobil Wira masih mengekor di belakang pajero sport hitam yang ditumpangi Stevi. Sebenarnya malas menguntit, kalau sampai ketahuan, Stevi akan besar kepala dan dikira menjadi bagian penting dalam hidupnya. Namun Wira harus melakukannya demi Nola, gadis kecilnya yang tidak tahu apa-apa itu tidak boleh sampai jatuh ke tangan laki-laki yang tidak bertanggung jawab andai nanti mereka berpisah dan Stevi menikah lagi.


Wira berdecak kesal saat mobil itu berhenti tepat di depan rumah Stevi, di mana sang laki-laki tidak keluar sedikit pun. Hanya lambaian tangan perpisahan dari dalam mobil.


“Sial! Hanya membuang-buang waktuku saja.” Wira menggerutu kesal, sambil memukul setir. Sebelum melajukan kembali mobilnya, Wira masih bertahan di depan rumah Stevi beberapa menit, sampai sekretaris itu keluar menggendong Nola.


Wira tentu saja terkejut, saat Stevi berjalan menuju ke mobilnya yang terparkir di tepi jalan. Mengetuk pelan kaca mobil memamerkan senyum terindahnya.


“Mas, kenapa tidak masuk?” tanya Stevi dengan senyum cerah. Sejak turun dari dalam mobil Dennis dia sudah menangkap basah Wira. Bahagia tentu saja menyelimuti hatinya, apalagi saat melihat suaminya berkunjung di rumah setelah sekian lama.


“Papi ....” pekik kecil Nola sambil tersenyum ceria saat mendapati Wira yang berada di dalam mobil. Gadis kecil itu langsung menggulur kedua tangannya untuk menggapai sang ayah yang sudah hampir sebulan tidak dilihatnya.


Mendapati itu, Wira langsung membuka pintu mobil dan membawa Nola duduk di pangkuan, tepat di depan setir mobil.


“Aku pinjam Nola sebentar, nanti aku akan mengembalikannya lagi,” ucap Wira, setelah menutup kembali pintu mobilnya.


“Mas, mau ke mana?” tanya Stevi, sudah berniat ikut masuk ke dalam mobil.


“Hanya mengitari komplek sebentar. Setelah itu aku akan mengembalikannya padamu.” Wira berkata tanpa melihat ke arah wanita yang mematung di luar mobil.


“Aku ikut, ya. Ada yang harus kita bicarakan, Mas.” Stevi mencoba berbicara lembut.


Tanpa memberi jawaban, Wira segera menutup kembali kaca mobil dan melajukan kendaraan roda empat itu tanpa menoleh lagi. Dia tahu, Stevi sedang menahan kesalnya saat ini.


Puas mengelilingi komplek, Wira menghentikan laju mobilnya tepat di halaman rumah orang tuanya. Begitu turun dari mobil, Wira tekejut mendapati pengasuh Nola juga ikut mengekor masuk ke pekarangan rumah.


“Mbak, bagaimana bisa sampai ke sini?” tanya Wira mengerutkan dahi. Laki-laki itu baru saja turun dari dalam mobil sambil menggendong Nola.


“Nyonya Stevi memintaku menyusul ke sini,” sang pengasuh menjawab singkat. Baru saja hendak mengambil alih Nola tetapi Wira menahannya.


“Biarkan aku menggendongnya, sebentar lagi aku harus pulang.” Wira mengetuk pelan pintu rumah mamanya, sambil terteriak memanggil.


Tidak butuh waktu lama, muncul Mama Wira yang tersenyum bahagia mendapati putra dan cucunya berdiri di depan pintu.

__ADS_1


“Kamu dari mama, Wir? Ada cucu Oma juga.” Dengan mata berbinar bahagia, mengambil alih Nola.


“Aku kebetulan lewat, jadi sekalian menemui Nola.” Wira berdusta. Tidak ingin membuat mamanya panik dengan kisah laki-laki asing yaang dilihatnya bersama dengan Stevi.


“Ma, aku harus pamit sekarang, Naina menungguku di rumah. Aku sudah terlambat,” Wira berkata, sembari mengecup wajah Nola dengan gemasnya.


“Papi pulang dulu, Sayang,” pamit Wira, mengecup pucuk kepala putrinya. Terdengar rengekan kecil Nola saat melihat Wira berjalan menjauh.


“Wira kelewatan! Selalu tidak punya waktu untuk Nola. Semuanya habis untuk Naina!” gerutu Mama Wira menahan kesal, tetapi wanita paruh baya itu tidak bisa berbuat apa-apa.


***


Naina terkejut saat keluar dari kamar mandi mendapati Wira sudah berbaring telentang di atas ranjang. Wanita cantik yang masih berbalut bathrobe engan kepala digulung handuk itu berjalan mendekat.


“Mas, kok pulangnya cepat?” tanya Naina heran.


“Ya, Mas tidak jadi bertemu klien. Tadi mampir ke tempat mama sebentar,” jelas Wira, memejamkan matanya. Menikmati empuknya ranjang ditemani harumnya aroma sabun mandi Naina yang menyengat masuk ke indra penciumannya.


"Mas, mandi sekarang. Setelah itu kita makan malam,” pinta Naina. Baru saja akan berjalan menuju walk in closet, Wira sudah menahan tangannya dan menarik istrinya ikut berbaring menimpa tubuhnya.


“Temani Mas sebentar. Mas lelah, Nai.” Wira mendekap erat tubuh istri yang sedang berada di atasnya, mengunci erat tubuh dengan bathrobe yang sudah tersingkap berantakan.


“Ada masalah apa, Mas?” Naina mencoba bertanya. Tangannya sudah merogoh kantong celana Wira, mencari ponsel suami seperti biasa. Sudah beberapa minggu ini tidak menyisir isi ponsel suaminya.


Wira tergelak saat melihat Naina sudah mengambil posisi nyaman, berbaring di sampingnya dengan jemari lentik berselancar di gawai tipis miliknya.


“Pencuri kecil. Selalu begitu. Mas menyimpan istri muda Mas di dalam sana, Nai,” ucap Wira menggoda, mencubit hidung mancung istrinya.


Naina bergeming, masih sibuk mengecek daftar panggilan masuk dan keluar di ponsel sang suami. Senyum di bibirnya terkembang saat mendapati namanya yang menempati urutan teratas dengan jumlah panggilan masuk dan keluar terbanyak. Ada beberapa panggilan masuk dari klien perusahaan yang bisa Naina kenali karena sudah beberapa kali terlihat menghubungi Wira.


Berpindah ke whatsapp, Naina kembali mengobrak-abrik isi pesan teks itu sampai tak tersisa.


“Mencari apa, Nai?” tanya Wira, ikut melihat apa yang sedang dibaca istrinya.

__ADS_1


Ratusan chat yang belum sempat dibaca Wira di grup alumni SMA dan grup kampus ikut diobok-obok Naina. Tak ada yang terlewat sedikit pun.


“Mas, ada reunian SMA akhir bulan ini,” cerita Naina. Pandangannya tidak beralih sedikit pun dari layar.


“Mas belum membacanya, Nai. Di mana?” tanya Wira. Memilih memejamkan matanya sembari mendekap erat istrinya, menunggu informasi yang akan disampaikan Naina padanya.


“Tempatnya belum pasti, Mas. Ah ....!” pekik Naina terdengar saat Wira mengecup wajahnya bertubu-tubi.


“Mandi sekarang, Mas. Tubuhmu bau keringat!” omel Naina, mengusap sebagian wajahnya yang basah oleh air liur Wira. Mendorong tubuh suaminya supaya berguling keluar dari atas ranjang.


“Mas, sana mandi dulu!” perintah Naina lagi, sudah bangkit berdiri dan menarik tangan Wira. Tidak memberi kesempatan untuk laki-laki itu menolak.


“Ya, ya, ini Mas mandi sekarang.” Wira mengalah.


Senyum Naina terkembang saat mendapati suaminya berjalan ke kamar mandi dan tak lama terdengar gemericik air kran yang mengalir deras.


***


Hampir setengah jam, Naina mengacak-acak ponsel Wira. Mencari tahu semua hal tentang Stevi di sana. Dari pesan masuk sampai halaman media sosial Stevi yang tidak bisa diintip dari akun miliknya. Stevi mengunci semua akun medsosnya dan hanya membaginya pada orang-orang terdekat.


Semua pembahasan di group chat alumni di bacanya satu per satu, tak ada yang terlewati. Sampai tidak menyadari, saat langkah kaki mengendap-endap berjalan mendekatinya. Dua tangan kekar tiba-tiba mengunci erat pinggangnya.


“Apa yang ingin kamu ketahui?” tanya Wira tiba-tiba. Laki-laki itu sudah mendekap istrinya dari belakang. Dengan rambut basah masih menetes, sebagian jatuh mengenai layar ponsel yang sedang memajang foto Stevi.


“Mas, kamu mengagetkanku,” gerutu Naina terkejut.


“Kamu penasaran dengan kehidupan pribadi Stevi?” tanya Wira lagi, menjatuhkan dagunya di pundak Naina.


Naina mengangguk.


“Kenapa tidak bertanya saja. Mas akan menceritakannya padamu, Nai.” Wira tersenyum, mengeratkan pelukannya.


“Benarkah? Nai penasaran dengan suami Stevi. Apa Mas mengenalnya?” tanya Naina.

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2