Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 57


__ADS_3

Terbangun dengan kepala berdenyut, netra Naina menyipit saat mentari pagi menerobos masuk dan menyerang kantuknya. Terbangun masih dengan pakaian yang sama dengan kemarin, Naina benar-benar tidak mengingat kejadian semalam. Ingatan terakhirnya hanya sampai perjalanan mereka dari Bogor menuju Jakarta.


“Sudah jam berapa? Kenapa aku bisa ketiduran seperti ini?” Naina bermonolog. Terperanjat saat melihat jam di dinding sudah hampir pukul 07.00 pagi. Semburat cahaya dari luar jendela, mempertegas kalau hari sudah berganti, pagi telah datang.


Buru-buru bangun saat menyadari ia sudah terlambat berangkat ke kantor, Naina memaksa tubuhnya yang sempoyongan dengan pandangan berkunang-kunang itu menuju ke kamar mandi.


Deg—


Ada yang aneh pada dirinya atau hanya perasaannya saja. Ada cairan mengalir turun dari inti tubuhnya. Ini bukan kejadian yang biasa, tetapi ia sudah tidak punya waktu lebih untuk berpikir sejauh itu. Ia terbangun di kamarnya sendiri dalam keadaan berpakaian utuh.


“Hanya pikiranku saja. Semoga begitu.” Berbisik pada dirinya, Naina berusaha menyakinkan kalau semua baik-baik saja.


***


“Rim, apa kamu melihat obatku?” tanya Naina. Ia sudah berpakaian rapi dengan tas tangan cokelat menggantung di pundak. Wajahnya tampak kebingungan, keluar dari dalam kamar dengan terburu-buru.


“Obat apa, Bu?” tanya Rima mengerutkan dahi. Pengasuh itu sedang menyuapi Wina sarapan pagi dengan bubur ayam gerobak yang baru saja dibelinya di depan rumah. Majikannya kesiangan, ia memilih untuk mencari alternatif sarapan Wina sendiri.


“Pil K ....” Naina tersadar. Buru-buru meralat. Ia teringat, jawabannya bisa saja membuat orang lain berpikiran buruk tentangnya.


“Obat. Masih dalam stripnya. Ada sekitar 28 tablet, tapi aku sudah meminumnya beberapa butir. Sudah tidak utuh lagi.” Naina menjelaskan.


Rima menggeleng. “Aku tidak pernah melihatnya.”


“Rim, apa yang terjadi semalam?” tanya Naina. Ia buru-buru merapikan tatanan rambutnya yang berantakan dan bersiap berangkat ke kantor.


“Ibu ketiduran di mobil Pak Wira. Dan Bapak yang membawa Ibu masuk ke dalam kamar.”


“Oh ... Pak Wira pulang jam berapa semalam?” tanya Naina, berbasa basi.


“Aku tidak tahu, Bu. Aku menemani Wina di kamar dan ketiduran. Bangun-bangun sudah tengah malam. Sudah tidak ada Pak Wira.” Rima menjelaskan.


Naina mengangguk. Ia tidak terkejut lagi. Selama ini Wira juga jarang berpamitan padanya kalau ia sudah ketiduran di kamar. Wira memiliki anak kunci sendiri, jadi tidak membutuhkannya dan Rima untuk menutup dan mengunci pintu utama. Pria itu sudah meminta izin pada Naina untuk memiliki kunci cadangan demi kepentingan putri mereka.


“Oh ... ya sudah. Kalau begitu aku pamit ke kantor.” Naina berjalan mendekati Wina, mengecup pipi dan kening putrinya yang kemudian menutupnya dengan kecupan di pucuk kepala.


“Bunda berangkat kerja dulu, Sayang. Baik-baik di rumah, ya. Love you,” bisik Naina memeluk Wina sekilas.


Wina mengangguk. “Op pyu thuu, Bunda ....” sahut Wina dengan lucunya, melambaikan tangan pada sang Bunda. Gadis kecil itu mulai belajar bicara walaupun belum kalimat panjang.


Naina keluar dari rumahnya dengan memanjatkan doa di dalam hati. Perasaannya tidak tenang, saat menyadari kalau ia melewati malam tanpa minum pil kontrasepsi. “Mudah-mudahan, aku tidak hamil hanya karena lupa minum satu hari,” cicitnya pelan.

__ADS_1


***


Hari berganti, tanpa terasa akhir pekan pun di depan mata. Jumat adalah hari terindah untuk Naina karena dua hari berikutnya, ia bisa menghabiskan waktu bersama dengan Wina. Waktu terasa lebih cepat untuknya, berbeda saat melewati hari Senin dan hari lainnya


Melewatkan waktu makan siangnya di kantin kantor, Naina memilih duduk semeja dengan Stella yang juga kebetulan sedang menikmati makan siang.


“Ste, aku gabung di sini, ya.” Naina meminta izin sembari meletakan sepiring nasi goreng panas di atas meja.


“Hmmm ....” Stella mengangguk. “Ke mana saja kamu, Nai? Aku jarang melihatmu.” Stella bertanya sembari menyuapkan sesendok mi goreng spesial. Mereka bekerja di perusahaan yang sama, meskipun berbeda lantai. Namun, tidak tiap hari bisa bertemu, kecuali pekerjaan mengharuskan mereka bertemu atau di saat jam makan siang seperti ini.


“Aku ... sedang banyak pekerjaan akhir-akhir ini. Oh ya, Ste ... aku sudah lama ingin bertanya padamu. Apa kamu mengenal dengan karyawan RD Group yang bernama Belinda?” Naina menyesap es teh manis di gelas, sebelum memulai makan siangnya.


“Tidak, Nai. Aku tidak begitu mengenal karyawan RD Group. Aku lebih banyak bekerja dengan Pak Pram. Coba kamu ....” Stella tidak melanjutkan kalimatnya, tatapannya tertuju pada seorang gadis manis yang berjalan menuju ke salah satu meja dengan semangkuk bakso mengepul di tangannya.


“Ste ... ada apa?” tanya Naina, mengikuti arah pandangan Stella.


“Sttt ... kamu lihat gadis kecil itu. Aku tidak menyukainya. Dia magang di perusahaan, dibawa Pak Pram. Aku mencurigainya.” Stella berbisik pelan.


“Hah! Apa maksudmu?” tanya Naina bingung memandang gadis muda dengan seragam putih abu-abu.


“Aku curiga dia memiliki hubungan dengan Pak Pram. Tapi jangan katakan pada siapa-siapa. Aku takut salah bicara. Aku tidak punya bukti.” Stella mulai menggosipkan atasannya.


“Ya, sering keluar dengan Pak Pram di jam makan siang. Aku curiga, Baru-baru ini ... Pak Pram minta dicarikan apartemen atau rumah. Jangan-jangan untuk pela’cur kecil itu.” Stella menatap dengan geram, tangannya terkepal. Sorot mata penuh dendam dan amarah.


“Ah, kamu bercanda. Kalau Pak Pram memiliki hubungan dengannya, tidak mungkin berani terang-terangan di depanmu, Ste. Pasti sembunyi-sembunyi. Nyonya kenal dengan gadis itu?” Naina berusaha berpikiran lurus.


“Entahlah, aku tidak tahu. Harusnya kenal, Pak Pram tidak pernah main di belakang Nyonya. Sedang aku pantau ini, kalau macam-macam akan kulaporkan pada Nyonya,” ucap Stella dengan mata berkilat. Ia kesal dengan gadis kecil yang seenaknya masuk ke ruangan atasannya tanpa permisi.


“Jangan berpikiran buruk, Ste. Mungkin kelurganya Pak Pram.”


“Kamu tidak melihat raut wajahnya, saat melihat Pak Pram mencium dan memeluk Nyonya. Aku ingin berkata kasar, Nai. Tunggu waktunya, aku akan mengajaknya bertarung di depan kantor. Dia benar-benar menyebalkan, Nai,” ucap Stella mulai terpancing emosi kembali.


Naina menggeleng. “Sudahlah, hanya pikiran burukmu saja. Bukannya Pak Pram dengan istrinya baik-baik saja? Aku masih sempat melihat mereka berdua berciuman di lift kemarin.” Naina tergelak, mengingat tanpa sengaja menonton pertunjukan di dalam lift bersama beberapa karyawan lain.


“Hah!” Stella terbelalak, kemudian menggelengkan kepala. “Pak Pram sejak dulu memang begitu. Mataku dan Dave sudah ternodai dan tercederai sejak masih pacaran dengan Nyonya. Pria mesum itu selalu tidak tahu tempat.” Stella terkekeh. Wajah Stella meredup, matanya berkaca-kaca saat teringat dengan David. Pria itu hilang tanpa kabar sejak menikah dengan Mitha.


“Sudah, habiskan makan siangmu. Aku harus kembali ke ruangan Pak Pieter.” Naina menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


***


Langkah Naina terhenti, membeku di tempatnya berdiri. Pintu ruangan Wakil Direktur baru terbuka setengah saat pandangan Naina tertuju pada sesosok pria yang duduk dengan kedua kaki terangkat ke atas meja Pieter. Wira dengan kedua tangan terlipat, duduk bersandar di depan Pieter. Keduanya tampak akrab, berbincang sambil tertawa.

__ADS_1


“Mas ... kamu di sini?” tanya Naina, memeluk dokumen yang akan diserahkannya pada sang atasan.


“Nai, kamu sudah makan?” Wira bertanya sembari menurunkan kedua kakinya yang tidak sopan.


“Sudah, Mas.” Naina maju beberapa langkah dan menyerahkan dokumennya ke atas meja Pieter.


“Pulang kerja, aku akan menjemputmu, Nai. Aku mau mengajakmu berbelanja keperluan Wina.” Wira bersuara lagi. “


“Ya, Mas.”


“Kamu jangan menahannya? Kalau tidak mau mati di tanganku!” ancam Wira, melotot pada Pieter.


Sebuah pena hitam mendarat di dada Wira, Pieter melemparnya sambil berkata, “kamu boleh keluar, Angel. Aku akan mengurus mantan suamimu yang tidak tahu diri ini untukmu!” Pieter tergelak.


“Calon suami, Bro! Bukan mantan suami lagi,” ujar Wira tersenyum, menatap punggung Naina menghilang di balik pintu.


“Bagaimana?” tanya Pieter sesaat setelah tertinggal mereka berdua di dalam ruangan.


“Bagaimana apanya?” tanya Wira, pura-pura tidak mengerti.


“Kurang ajar! Aku sudah membantumu sejauh ini, kamu masih belum mengucapkan terima kasih.” Pieter memainkan kedua alisnya.


Wira tergelak. “Kamu tidak membantuku, tetapi mengancamku! Bantuan apa itu. Kalau aku ceritakan pada semua orang, aku yakin mereka akan mengatakan itu adalah bentuk ancaman yang tidak bermoral dan tidak manusiawi.”


“Kamu menikmati ancamanku, kan?” Pieter tersenyum.


Belum sempat Wira menjawab, Pram tiba-tiba muncul dari balik pintu. “Pieter!” Pria dewasa itu tidak melanjutkan kalimatnya saat melihat kehadiran Wira di dalam ruangan wakil direkturnya.


“Pak Wira ... sedang di sini?” tanya Pram.


“Hmm, dia tertarik dengan salah satu karyawan wanitamu. Ke depannya kamu akan sering melihat kehadirannya di RD Group.” Pieter menjawab. Pandangannya tertuju pada Pram yang memang tidak mengetahui situasi antara Naina dan Wira.


“Maksudnya?” tanya Pram bingung.


“Sudah, tidak perlu khawatir. Yang seragam putih abu-abu, tidak ada yang mengganggu.” Pieter tertawa, memandang Pram dengan kedua alis naik turun.


“Jangan bicara macam-macam. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Kalau sampai Kailla mendengar ucapanmu ... tamat riwayatku.” Pram menegaskan.


***


Tbc

__ADS_1


__ADS_2