
Wira tengah mendorong Naina yang duduk di kursi roda untuk berpindah ke kamar barunya. Ia sendiri yang memilih kamar untuk digunakan istrinya beristirahat selama beberapa hari ke depan.
"Apa aku mendorongnya terlalu kencang?" tanya Wira, memastikan. Ia bahkan tidak mengizinkan perawat melakukannya
"Tidak, Mas. Aku baik-baik saja."
Seorang perawat wanita yang ikut menemani hanya bisa diam, mengulum senyuman melihat sikap berlebihan Wira.
Berpindah lantai, melewati koridor lengang karena sebagian penghuni rumah sakit mulai terlelap akhirnya Naina tiba di kamar perawatan barunya. Kamarnya kali ini bisa terbilang sangat nyaman.
"Kamu suka?" tanya Wira, mendorong masuk Naina, mengikuti langkah perawat yang sudah masuk lebih dulu.
"Suka, Mas." Naina hendak menurunkan kakinya dan berjalan menuju tempat tidur saat Wira menahannya.
"Apa perlu digendong?" tawar Wira.
Naina menggeleng dan tersenyum. Tawaran Wira terdengar aneh. Ranjang sudah di depan mata, untuk apa Wira menggendongnya. Lagi pula kondisinya baik-baik saja. Tidak sakit dan merasakan keluhan apa pun, hanya saja bayi di dalam perutnya yang sedikit protes.
"Hati-hati." Wira menuntut tangan Naina dan membantu istrinya naik ke atas tempat tidur.
"Pak, Bu, saya permisi. Kalau ada apa-apa bisa menekan tombol di sisi kiri tempat tidur. Atau kalau darurat bisa langsung menemui perawat. Keluar pintu, ke kanan, Pak, Bu. Ada beberapa perawat jaga di sana."
Wira mengangguk, tersenyum dan mempersilakan perawat wanita itu keluar. Saat tertinggal berdua, hening menyapa dan membuat sungkan itu terasa kian nyata. Naina memilih menarik selimut dan memejamkan mata.
"Istirahat saja, Nai." Wira memandang jam yang tergantung di dinding kamar. Waktu sudah menunjukan pukul 22.15 malam.
"Kalau membutuhkan sesuatu, panggil aku saja, Nai. Aku tidur di sofa." Wira melepaskan jaketnya sembari merebahkan diri. Berbaring telentang memandang langit-langit kamar, Wira tengah mengulang kembali hari-hari yang ia dan Naina lewati. Ikatan pernikahan tetapi tidak membawa mereka ke dalam sebuah rumah tangga yang bahagia.
Pria itu menghela napas berat. Entahlah, ia masih bingung dengan hubungannya dan Naina yang seperti benang kusut.
"Nai, apa yang membuatmu mencintai Dennis?" Tiba-tiba Wira bersuara. Ia tahu Naina belum tidur dari suara pergerakan di atas tempat tidur.
Deg-- Naina berbalik. Tatapannya tertuju pada Wira yang kini sedang berbaring, menutupi separuh wajahnya dengan lengan.
"Mas, aku minta maaf." Suara Naina terdengar pelan. Ia menyadari luka yang ditorehkannya tanpa sengaja pada Wira masih membekas dan dalam. Ia pernah di posisi itu. Mencintai terlalu dalam, hingga luka itu berdarah dan sulit untuk bisa sembuh lagi.
"Perasaan itu datang dengan sendirinya di saat aku sedang berjuang menyembuhkan lukaku karena perceraian kita dulu." Naina menatap lampu kamar yang berpendar, menyilaukan mata.
Wira menggigit bibir. Kejujuran Naina terdengar menyakitkan, tetapi ia harus bisa menerima kenyataannya.
__ADS_1
"Andai, tidak ada Wina dan bayi di kandunganmu ... aku memilih untuk melepasmu, Nai." Suara Wira terdengar bergetar. Ia ingin sekali bisa membuang semua beban berat yang selama ini dipikulnya seorang diri.
"Maaf, Mas. Tapi ... saat aku datang padamu hari itu, aku benar-benar sudah memantapkan hati untuk kembali padamu. Tidak ada sedikit pun ...."
"Aku tahu, Nai. Aku tahu semuanya. Aku juga tidak bisa menyalahkanmu. Masalah perasaan itu tidak ada yang tahu. Aku mungkin bisa mengikatmu, tetapi aku akui tidak bisa mengikat hatimu."
"Mas, aku tahu aku menyakitimu selama ini.
"Dan aku tahu, kamu berjuang untuk bersamaku selama ini. Demi anak-anak, bukan demi untukku. Aku juga sedang berjuang melakukan hal yang sama. Tapi, aku tidak setangguh dirimu dan bisa berpura-pura menutupi semuanya. Aku tidak bisa menunjukan kalau aku sedang baik-baik saja, Nai. Aku tidak bisa sepertimu." Kata-kata itu meluncur lancar dari bibir Wira bersamaan dua bulir air mata yang juga jatuh di pelipis tanpa bisa ditahannya.
"Mas ...." Naina menatap ke arah sofa. Ia bisa melihat tubuh kekar itu berguncang. Ibu hamil itu tahu kalau saat ini suaminya sedang menyembunyikan tangis di balik lengan yang menutup rapat wajah tampan Wira.
"Mas, kamu baik-baik saja?" tanya Naina. Hatinya teriris mengetahui Wira yang tampak lemah. Pria yang selalu terlihat kuat selama ini, diam-diam menangis tanpa suara.
Wira tidak menjawab, menyembunyikan isaknya. Hampir sepuluh menit berusaha menguasai diri, akhirnya Wira bersuara.
"Nai, mari kita sudahi semua ini. Aku tidak mau saling menyakiti dan menyiksa diri kita. Aku tahu, kamu tidak bahagia dengan semua ini. Itu juga yang aku rasakan. Aku paham sekali betapa beratnya hari-hari yang kita jalani selama beberapa bulan ini."
"Mas ...." Naina menangkap sesuatu yang tidak beres di dalam nada bicara Wira.
"Nai, mari kira berdamai. Kita sudahi semuanya. Setelah melahirkan, aku akan menceraikanmu. Aku akan melepaskanmu. Kamu bebas bersama pria mana pun yang kamu cintai." Wira menegaskan. Suaranya terdengar penuh keyakinan.
Deg--
"Mas." Naina buru-buru menaikan tempat tidurnya, duduk dan bersandar.
"Kenapa harus seperti ini?" lirih Naina. "Kita bisa memulainya lagi dari awal, kan?" tanya Naina menahan tangisnya. Ia tidak mau menangis dan terlihat lemah.
"Ayo kita mulai dari awal lagi," tawar Naina.
"Nai, kita dulu pernah memulai, mencobanya dan kita gagal. Kita menikah karena cinta, tetapi hanya bertahan lima tahun. Dan aku tidak yakin dengan hubungan kita sekarang. Di saat cinta itu pun sudah tidak bersisa. Untuk apalagi kita memaksanya. Demi anak-anak?" tanya Wira.
"Mas, aku mohon jangan seperti ini. Jangan katakan itu lagi. Aku mohon, jangan katakan berpisah. Selama beberapa bulan ini aku bertahan untukmu." Naina menggigit bibir, berusaha untuk tidak menangis di saat hatinya sudah tercabik-cabik karena sepatah kata cerai dari Wira.
Wira bangkit setelah perasaannya sedikit tenang. Berjalan mendekat ke arah Naina.
"Mari kita berdamai. Aku tahu, aku salah mengabaikanmu yang sedang hamil selama menjadi istriku." Berdiri di samping Naina, Wira membingkai wajah cantik yang kini terlihat sedih dengan kedua telapak tangannya.
"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku tahu, beberapa bulan ini menyakitimu. Mari kita berdamai untuk anak-anak. Hanya 3 bulan, setelah kamu melahirkan, aku akan melepaskanmu. Sebelum waktu itu tiba-tiba, berpura-puralah mencintaiku. Berpura-puralah kalau keluarga kita bahagia."
__ADS_1
Naina tersentak. Tidak sanggup berkata-kata lagi. Perceraian yang dijanjikan Wira menamparnya, membuatnya sadar akan kehilangan di depan mata.
"Mas, aku harus bagaimana supaya kamu tidak menceraikanku?" tanya Naina pelan.
Wira tergelak. "Kamu sedang memohon padaku untuk tidak menceraikanmu?" tanya Wira sedikit membungkuk untuk menyejajarkan wajahnya dan Naina. Dari posisi ini, ia bisa leluasa memandang wajah istrinya.
"Jangan dipikirkan. Fokus pada kehamilanmu sekarang. Aku boleh mencium istriku sekarang?" tanya Wira.
Naina diam, ucapan Wira masih mengguncangnya.
"Ah, bukankah kita sudah sepakat untuk baik-baik saja sampai kamu melahirkan. Berpura-puralah mencintaiku, dan ciuman bagian dari drama itu, Sayang." Wira tersenyum.
"Ya, boleh menciumku." Naina berkata pelan.
"Benarkah? Apa aku boleh sedikit kelewatan?" tanya Wira lagi.
"Hah?" Naina bingung. Kalau boleh jujur, ia masih terkejut dengan perceraian mereka yang akan terjadi sebentar lagi.
"Apa aku boleh meminta lebih? Aku ingin mendengar istriku berkata kalau dia sangat mencintaiku." Wira tersenyum.
Naina menganguk.
"Baiklah, aku ingin mendengarnya sehari tiga kali. Pagi, siang dan malam."
Naina diam.
"Hanya sampai kamu melahirkan, Nai. Setelah itu ... kamu bebas mengucapkannya pada pria mana pun. Hanya saat kamu masih terikat pernikahan denganku saja. Ok?"
Naina mengangguk.
"Kalau begitu, mari kita berpelukan untuk merayakan kesepakatan kita." Wira merentangakan kedua tangannya.
Naina segera memeluk erat pinggang Wira.
"Tapi aku tidak mau berpisah, Mas," bisik Naina, sembari merebahkan kepalanya di dada bidang Wira.
-
-
__ADS_1
-