
Wira duduk tertegun di sisi tempat tidur, memandang kamar tidur kenangannya bersama Naina. Kamar yang mereka tempati selama lima tahun berumah tangga. Ada suka, duka, tangis, tawa dan senyuman yang bercampur dengan air mata. Lima tahun berbagi rasa, tentu tidak mudah bagi Wira menghempaskannya begitu saja.
Pria bertelanjang dada dengan bulir-bulir keringat menghiasi tubuh kekarnya itu menatap nanar pada tubuh tergolek lemah, pulas tanpa sehelai benang di atas tempat tidur. Mereka baru saja menuntaskannya. Lebih tepat dirinya, karena Naina tidak sadar apa pun. Ia membuat wanita itu tertidur dalam.
Tersenyum, Wira menatap wanita si pemilik hati dan hidup seorang Pratama Wirayudha selama sewindu ini. Naina cinta pertamanya, dulu, sekarang dan nanti. Dari rahim Nainalah terlahir keturunannya. Ya, Wira hanya menginginkan Naina yang menjadi Ibu dari anak-anaknya, bukan wanita lain, bukan juga gadis lain. Hanya Naina Pelangie, wanita yang ditakdirkan untuknya. Andai Tuhan berkata bukan, ia siap menantang Sang Pencipta agar menuliskan kembali kisah cinta mereka.
Wira mendesah pelan, saat memandang wajah polos Naina yang masih enggan membuka mata. Ia tahu kalau yang dilakukannya adalah salah. Cinta tidak begini, cinta tidak menyakiti, cinta tidak akan merendahkan. Namun, ia tidak punya pilihan. Ia terpaksa membuat Naina tidak sadarkan diri dan menjalankan rencana liciknya. Rencana yang bahkan membuatnya jijik sendiri, membuatnya menyimpan sesal. Ia tahu ini bukan seorang Wira, tetapi ia tidak punya jalan lain.
Anggap saja ia sekarang sedang merengkuh dayung, dan dua tiga pulau terlampaui. Andai Naina hamil, ia tidak hanya mendapatkan keluarga kecilnya kembali, restu sang Mama pun akan turun dengan mulus. Anak-anaknya dengan Naina akan menjadi tiket untuk mendapatkan restu. Andai Naina hamil, wanita itu tidak punya jalan lain, kecuali datang padanya dan menerima pinangannya.
Sebenarnya berat untuk Wira melakukan semua ini. Ia mengenal Naina dengan baik. Sekeras-kerasnya mantan istrinya itu, ia yakin Naina akan kembali ke pelukannya demi Wina. Ia hanya butuh sedikit bersabar dan menunggu. Namun, Pieter membuat semua rencananya kacau-balau. Sang mantan casanova itu bersaing dengan cara tidak sehat. Mau tidak mau, ia terjebak dalam permainan Pieter.
"Maafkan aku, Nai. Andai kamu mengetahui seberapa pengecutnya diriku ...." Wira meremas anak rambutnya yang basah karena keringat.
"Aku tidak bisa membiarkan pria lain menyentuh dan melecehkanmu. Lebih baik aku yang melakukannya, bukan laki-laki lain. Tidak apa-apa ... aku jadi pengecut dan pecundang." Wira tersenyum kecut mengingat ancaman Pieter padanya, menatap sedih pada pakaiannya dan Naina yang berserakan di atas lantai.
Terdengar desahan napas berat Wira berulang kali.
“Ini tidak mudah untukku, Nai.” Diukirnya wajah Naina dengan ujung jemari, sebelum akhirnya melabuhkan ciuman di bibir Naina. Ia sudah membuat Naina terlelap, tidak mungkin wanita itu terbangun.
***
Wina menjerit dan menangis dalam tidurnya. Rima yang masih tertahan di kamar batita itu tersentak kaget. Suara Wina begitu kencang dengan tangis tak mau berhenti.
"Sstt ... tidur lagi, Sayang," bisik Rima, mengusap punggung Wina. Ia memilih berbaring di sebelah anak yang diasuhnya.
"Bunda ... Bunda ...." Terdengar suara Wina menyerukan bundanya. Kepala mungil itu bergerak ke kiri dan kanan. Wajahnya mengernyit,dengan mata terlelap. Tak lama, kembali tangis gadis kecil itu terdengar lagi.
"Sstt ... tidur, Sayang. Bunda juga sudah tidur di kamar," bujuk Rima sambil menatap jam bertema Frozen yang menggantung di dinding kamar. Waktu sudah menunjukan pukul 23.10 malam.
"Bunda ... Bunda." Kali ini tangis Wina semakin kencang. Ia terjaga dari tidurnya, bangkit duduk dengan wajah berlinang air.
"Mau ... Bunda ...." jeritnya kencang. Sontak membuat Rima meraih Wina dan memeluknya dalam gendongan.
__ADS_1
"Sttt ... jangan menangis. Kita ke tempat Bunda." Rima membujuk.
"Wina mimpi Bunda?" tanya Rima berusaha mengajak bicara gadis kecil yang merebahkan diri di pundaknya. Diusapnya punggung kecil Wina supaya tenang.
Melangkah keluar dengan gerakan pelan, Rima tidak mau suara berisik mengusik keheningan malam. Mengetuk pelan pintu kamar Naina, Rima memanggil dari luar kamar.
“Bu ... Bu ....” serunya pelan.
Setelah hampir semenit menunggu jawaban, Rima mencoba mendorong pelan pintu kayu bercat putih kamar majikannya hingga terbuka. Ia terkejut bukan main, hampir saja menjerit kaget. Wina yang berada di dalam gendongannya nyaris lepas.
"Ya Tuhan ... apa yang terjadi?" Sempat tertegun beberapa detik, Rima tersadar saat mendengar suara Wina memanggil bundanya.
"Bunda ...." pekik Wina dengan nada gembira.
Rima putar balik. Buru-buru menutup kembali pintu kamar majikannya. Bersamaan dengan teriakan Wina, Rima berjalan ke arah jendela rumah untuk memastikan.
"Mobil Pak Wira masih ada di halaman. Berarti Pak Wira belum pulang," cicit Rima bergegas kembali ke dalam kamar Wina. Ia tak mau suara jeritan anak kecil itu mengganggu semua penghuni rumah.
"Itu pasti Pak Wira. Aku melihat kemeja Pak Wira di lantai bergabung dengan pakaian Ibu," cicit Rima. Jantungnya berdegup kencang saat disuguhkan pemandangan yang tidak biasa. Naina bergelung di balik selimut dalam keadaan polos. Rima sangat yakin, ia melihat sendiri pakaian Naina yang berserakan bersama pakaian Wira.
Setelah menenangkan perasaannya Rima memilih menidurkan Wina seorang diri. Ia tidak mungkin kembali mengganggu Naina.
"Kita tidur sekarang," bisik Rima, mengusap dadanya dengan pikiran mengembara jauh.
"Mau ... Bunda,' ungkap Wina, bersiap menangis kembali.
"Besok saja baru bertemu Bunda, Win. Bundanya sedang tidur. Ayo kita tidur lagi," bujuk Rima pelan.
***
Terbangun dengan kepala berdenyut, Naina menarik tubuh lelahnya untuk duduk dan bersandar di ranjang. Pandangannya masih berbayang, ia belum bisa menggingat apa-apa.
Sembari mengumpul nyawanya yang beterbangan selama tertidur, Naina tersentak saat mengingat sesuatu. Menurunkan pandangan, mengamati tubuhnya yang masih berpakaian utuh.
__ADS_1
“Syukurlah cuma mimpi. Aku pikir kejadian di hotel terulang lagi." Naina bernapas lega. Mimpinya terasa nyata, bahkan tubuhnya pun ikut bereaksi.
"Bagaimana bisa begini?" ucap Naina mengerutkan dahi saat memaksa tubuhnya berdiri. Kembali cairan turun dari inti tubuhnya.
Aku sudah gila!" Naina menggelengkan kepala sembari bergegas ke kamar mandi. Ia harus segera bersiap ke kantor.
***
"Rim ... apa yang terjadi kemarin? Apa aku tertidur lagi?" tanya Naina menenteng tas tangannya keluar dari kamar tidur. Ia sudah berpakaian rapi. Kemeja putih dan rok biru tosca, siap berangkat ke kantor.
Rima terkejut, pengasuh itu menatap Naina heran. Semalam, ia disuguhkan pemandangan memalukan, dan pagi ini sang majikan bertanya apa yang terjadi.
"Ya, Bu. Semalam ... Ibu ketiduran lagi di mobil Bapak." Rima menjawab pelan. Wajahnya bersemu merah, mengingat aktivitas intim kedua majikannya di dalam kamar. Ia tidak mau menduga-duga, statusnya di rumah ini hanya sebagai pekerja. Dosa atau tidak, bukan kapasitasnya. Ia tidak mau ikut campur urusan pribadi kedua majikannya.
"Pak Wira pulang jam berapa?" tanya Naina lagi.
"Aku tidak tahu, Bu. Aku di kamar sepanjang malam," dusta Rima, tidak mau sampai Naina bertanya lebih jauh.
"Ya sudah." Terlihat Naina merogoh isi tas tangannya untuk mencari sesuatu. Ia mengernyit, menyadari kalau pil KB-nya menghilang kembali dari dalam tas.
"Aneh! Jelas-jelas kemarin aku menyimpannya di dalam tas. Bagaimana bisa hilang. Aku sudah sempat absen beberapa hari. Apa aku harus absen lagi. Bagaimana kalau aku benar-benar hamil karena kejadian di hotel itu. Aku bahkan tidak tahu siapa pelakunya." Naina membatin.
"Rim, Win belum bangun?"
"Belum, Bu. Semalaman anak itu rewel, tidurnya tidak lelap. Sebentar-sebentar bangun." Rima menjelaskan.
"Oh ya? Wina baik-baik saja, kan?" Naina buru-buru menuju ke kamar putrinya untuk memastikan.
Ia bisa tersenyum lega saat memastikan Wina tertidur pulas memeluk boneka kesayangannya. Suhu tubuh putri kesayangannya normal.
"Bunda berangkat ke kantor, Sayang," bisik Naina berpamitan. Dirapikannya anak rambut yang menutupi sebagian wajah menggemaskan Wina.
***
__ADS_1
Tbc