
Wina bergelayut manja di gendongan Dennis. Gadis kecil itu berceloteh sepanjang gang menuju rumahnya, bercerita banyak hal dengan bahasa anak-anak yang tidak begitu jelas. Sesekali, terlihat Wina mengecup basah pipi Dennis sambil tertawa ceria.
Kata daddy terdengar berulang kali dari bibir mungil Wina. Wajahnya cerah merona menyambut kedatangan Dennis dan Mbok Sumi. Entah sudah berapa banyak rindunya menumpuk pada kedua orang ini, yang tidak bisa disampaikannya pada sang bunda.
"Rim, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Dennis pada pengasuh yang mengekor di belakang.
"Baik, Pak."
"Kalau kalian membutuhkan sesuatu atau ada masalah selama tinggal di sini, segera hubungi aku," pinta Dennis.
Langkah kaki Dennis terasa semakin berat saat tempat yang akan dituju hanya tertinggal beberapa langkah. Menduga-duga apa yang akan terjadi saat Naina melihat kedatangannya dan Mbok Sumi.
"Rim, tolong panggilkan Naina," pinta Dennis menghentikan langkahnya. Mbok Sumi yang berdiri di sebelahnya ikut melakukan hal yang sama.
Perempuan renta dengan menggenggam rantang berisi makanan di tangannya itu tertunduk. Menyembunyikan perasaannya yang campur aduk. Antara gugup, khawatir, panik, rindu dan tentunya rasa bersalah.
Tak butuh waktu lama, Rima yang masuk memanggil Naina sudah keluar kembali dengan Naina mengekor dari dalam rumah.
"Nai ...." sapa Dennis lebih dulu. Bahagia saat bisa menyapa lagi wanita yang mengisi pikiran dan memporak-porandakan perasaannya selama tiga minggu terakhir.
"Mau apa ke sini?" tanya Naina dengan sikap tidak bersahabat. Pandangannya beralih pada Mbok Sumi. Orang tua itu terlihat kurus dan lemah. Mbok Sumi terlihat sedang dalam kondisi tidak baik.
"Nai, maafkan Ibu." Mbok Sumi melangkah maju. Dengan tangan gemetar menyerahkan rantang berisi makanan kesukaan Wina itu pada Naina.
Tanpa bicara, Naina meraih rantang dari tangan Mbok Sumi. Tidak tega rasanya menolak niat baik, apalagi itu khusus dibuat Mbok Sumi untuk Wina.
"Ibu merindukan Wina." Mbok Sumi tersenyum. Wina, gadis kecil yang dianggap cucunya sendiri. Diusapnya perlahan rambut Wina dengan penuh perasaan.
Naina tertegun. Ingin rasanya mengusir dua orang tamu tidak diundang ini, tetapi hati kecilnya tidak tega. Bagaimana pun, keduanya datang dengan niat baik. Tidak mungkin Naina mengusir kasar Dennis dan Mbok Sumi di depan Wina. Seburuk apa pun hubungan mereka, Naina sudah belajar untuk tidak egois khususnya menyangkut Wina. Ia tidak ingin mengajarkan Wina menjadi pendendam, apalagi sampai menjadi anak yang tidak sopan sekaligus tidak tahu berterima kasih. Bagaimana pun, kedua orang di hadapannya adalah orang-orang terdekat Wina, selain dirinya. Sebagai seorang ibu, ia tidak mungkin memisahkan Wina dari orang-orang terdekat yang mengasihinya.
Cukup disimpannya sendiri alasan kenapa dan mengapa. Biarlah Wina tidak merasakan semuanya. Ia ingin Wina tumbuh dengan lingkungan penuh cinta dan kasih sayang. Menatap Wina, hati Naina tersentuh. Apalagi melihat kedekatan sang putri dengan Dennis dan Mbok Sumi.
"Aku permisi ke dalam dulu." Naina tidak menolak, sekaligus mengiyakan. Ia tidak bisa bersikap baik, jadi sebaiknya menyingkir.
"Nai, kita perlu bicara." Dennis mencegah langkah Naina. Buru-buru diturunkannya Wina dan diserahkannya pada Mbok Sumi.
"Bu, aku titip Wina."
Mbok Sumi mengangguk. Tentu saja ia bahagia bisa menghabiskan waktu bersama cucunya lagi. Gadis kecil yang dijaganya bahkan sejak masih di dalam kandungan bundanya.
"Win, sama Nenek dulu, ya. Daddy harus bicara dengan Bunda." Dennis memberi alasan.
"Nai kita perlu bicara Tolong beri aku kesempatan ... sekali saja. Kamu harus mendengarkan penjelasanku dulu."
Setelah lama berpikir, akhirnya Naina mengalah. "Aku tidak bisa lama-lama, Mas. Bicaralah." Naina bersikap acuh tak acuh.
"Ikut aku, Nai." Dennis meraih tangan Naina tanpa permisi, membawa wanita itu untuk ikut bersamanya.
__ADS_1
"Mau ke mana, Mas?" tanya Naina, menolak.
"Kita bicara di sana. Ini sedikit pribadi, aku tidak ingin didengar orang lain."
"Baiklah." Naina menurut. Mengikuti langkah Dennis yang membawanya masuk ke dalam mobil. Meskipun sempat ragu, tetapi akhirnya Naina melunak.
"Maafkan aku, Nai ...." Dennis berkata lirih. Nada suaranya begitu memelas, penuh penyesalan. Duduk di belakang kemudi, menatap Naina yang duduk di sebelahnya masih dengan celemek kotak-kotak.
"Aku mohon jangan temui Wina lagi setelah ini. Aku tidak bisa mengusirmu, Mas. Aku tahu seberapa sayangnya Wina padamu," ungkap Naina, menatap lurus ke depan. Memandang kendaraan lalu lalang dari dalam mobil.
"Aku daddy-nya, Nai. Kamu tidak bisa melakukan ini pada putriku. Setidaknya ini tidak adil untuk Wina," pinta Dennis sembari meremas kemudi. Ia tidak bisa membayangkan kalau tidak bisa menemui Wina lagi.
"Aku bundanya. Aku yang melahirkan. Tentu aku berhak memutuskan dengan siapa putriku bisa bertemu." Naina bersikeras.
"Ini tidak adil untuk Wina, Nai."
"Memangnya Mas sudah bersikap adil padaku selama ini. Aku dan Wina hancur karena ulahmu, Mas. Karena kelicikanmu. Apa salahku dan Wina padamu, Mas. Kenapa kamu tega pada kami?" ungkap Naina. Ia berusaha keras menahan laju air matanya supaya tidak terjatuh. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Dennis. Ia wanita yang kuat dan tidak bisa diremehkan walau hidup tanpa laki-laki.
"Apa kamu belum bisa memaafkanku, Nai?"
Naina menggeleng.
"Bermula dari dendamku pada mamaku. Ya, Mama Wira adalah mamaku juga. Dia meninggalkanku saat aku masih membutuhkannya. Pergi bersama laki-laki lain. Meninggalkanku dan papa karena uang " Dennis tertunduk. Matanya memanas saat menceritakan masa lalunya yang menyedihkan.
"Lalu karena itu,kamu anggap aku dan Wina yang harus bertanggung jawab. Aku yang harus menebus semua kesalahan dan masa lalu kalian. Tega kamu, Mas," cerocos Naina.
"Maafkan aku. Biarkan aku menebus dosaku dengan menjaga kalian, Nai," pinta Dennis"
"Tidak perlu, Mas. Aku masih sanggup menjaga keluargaku dengan tanganku sendiri, Mas."
"Aku mencintaimu ...." Dennis tiba-tiba mengucapkan satu kata yang mengejutkan Naina. Tidak disangka, tidak diduga, Dennis akan mengucapkan kata cinta begitu mudah.
Naina tersenyum kecut. "Apa setelah semua yang terjadi, kamu masih berani mengatakan kalimat menjijikan itu. Apa kamu tidak punya malu, Mas!" todong Naina.
"Aku serius mencintaimu, Nai. Aku sudah berusaha menahannya selama ini." Dennis berterus terang.
"Sayangnya aku mencintai Mas Wira. Hanya Mas Wira" tegas Naina tanpa menoleh ke lawan bicaranya.
"Izinkan aku membahagiakanmu, Nai. Aku ingin melihatmu bahagia, Nai." Dennis berkata lagi.
"Sayangnya aku sedang tidak ingin bahagia. Aku juga tidak ingin melihatmu, Mas." Naina menegaskan.
Dennis tersenyum kecut. Jawaban Naina begitu menyakitkan. Sepertu belati yang ditusuk tepat di jantungnya.
"Apa yang harus aku lakukan supaya kamu mau memaafkanku, Nai.?"
"Apa yang bisa kamu lakukan untuk mengembalikan rumah tanggaku yang hancur, Mas?" Naina balik bertanya.
__ADS_1
Deg--
"Kamu ingin kembali dengan Wira? Kalau kamu mau kembali padanya, aku akan membuatnya kembali di sisimu."
Naina menggeleng. "Tidak. Kamu pikir semudah itu. Menghancurkan kebahagiaan orang lain dan mengembalikannya semudah itu, Mas. Berapa banyak luka dan air mataku. Berapa banyak tangis dan kesedihanku. Dengan mengembalikan semuanya ke tempat semula, apa dosa-dosamu akan hilang? Kesalahanmu akan termaafkan, Mas. Apa bisa mengembalikan tiga tahunku yang berjalan menyedihkan ini?" cerocos Naina. Air matanya tumpah.
Dennis menghela napas kasar.
"Kalau tidak mau kembali pada Wira, menikahlah denganku, Nai. Aku akan menggunakan seluruh hidupku untuk menebus kesalahanku. Aku akan menggunakan seluruh hidupku untuk menjagamu dan Wina," tawar Dennis.
"Kenapa jadi tidak tahu malu seperti ini, Mas. Aku akan menganggap tidak pernah mendengar semua ucapanmu ini. Aku harus kembali." Naina sudah meraih gagang pintu mobil dan bersiap keluar saat tangan Dennis menahannya tiba-tiba.
"Aku tetap menunggumu, Nai."
"Itu urusanmu, Mas." Naina keluar dan membanting pintu mobil dengan kencang.
Naina berjalan kembali ke kontrakannya dengan langkah lebar menahan kesal. Sampai di depan rumah, amarahnya menguap saat melihat Mbok Sumi yang sedang memangku Wina dan menyuapi gadis kecil itu makan.
"Nai, ibu juga membawakan gudeg kesukaanmu." Mbok Sumi mencoba mengajak bicara. Raut wajah Naina begitu tidak bersahabat. Namun lagi-lagi demi Wina, ia harus menjawab Mbok Sumi dengan sopan.
"Ya, Bu. Nanti aku akan memakannya. Terima kasih," sahut Naina, melangkah masuk ke dalam rumah.
***
Malam harinya, ketika semua orang sudah terlelap. Naina yang tidak bisa tidur hanya menatap purnama dari balik tirai jendela rumah kontrakannya. Di saat seperti ini, ia benar-benar merindukan masa lalunya yang indah bersama Wira.
Lamunan Naina terusik saat ponsel di pangkuannya berdering. Mengerutkan dahi, Naina heran menatap deretan nomor asing yang tiba-tiba menghubungi ponselnya.
"Siapa malam-malam menghubungiku." Tadinya Naina ingin mengabaikannya, tetapi teringat dengan lowongan pekerjaan yang dikirimkan tetapi belum mendapat respon.
"Apa jangan-jangan aku dapat panggilan kerja,” ucapnya pelan.
"Ini sudah malam ... apa ada orang menghubungi dan membahas pekerjaan tengah malam seperti ini," lanjut Naina sembari menatap jam di dinding.
"Ya ...." sapa Naina. Akhirnya ia memilih menerima panggilan.
"Angel ... ini aku Pieter. Aku baru saja tiba di Indonesia. Apa kabarmu?" Suara Pieter terdengar bersemangat. Menyerobot bicara pada kesempatan pertama.
Deg--
"Angel kamu masih di sana?" Suara Pieter kembali terdengar saat Naina tidak menjawabnya.
"Ya, Pak."
"Angel, kamu di mana sekarang? Apa bisa menemuiku di RD Group besok? Tawaranku masih berlaku untukmu," cerocos Pieter tanpa jeda. Pria itu begitu bersemangat.
***
__ADS_1
TBC