
Win, jangan lari-lari, Sayang. Bunda capek." Naina terpaksa berhenti mengejar Wina yang berkeliling kamar, naik ke atas sofa dan meloncat di atas ranjang empuk Wira.
Sejak tadi berusaha membujuk Wina mengganti pakaiannya yang basah karena keringat dengan piyama tidur. Waktu sudah menunjukan pukul 20.00 malam, sudah waktunya batita itu tidur.
"Ayo, Sayang. Ganti bajunya, setelah itu kita gosok gigi dan bobok."
"Mau ... bo-bobok cama Ayah."
Gadis kecil itu begitu bahagia saat William menjemputnya dan Rima, membawa mereka ke tempat tinggal Wira. Ia sudah tidak sabar ingin berenang berdua dengan Wira, tidur bersama Wira dan ada banyak lagi hal-hal yang biasa dilakukannya berdua dengan ayahnya.
"Bunda ...." rengek Wina, setelah Naina tak kunjung menjawab
"Ya, nanti malam bobok sama Ayah. Ayo sekarang turun, Sayang. Tempat tidur Ayah berantakan." Naina berdiri di samping tempat tidur dengan napas naik turun. Piyama bermotif Frozen milik Wina sudah berantakan di atas tempat tidur.
"Sayang, ayo turun. Bunda sudah tidak sanggup bermain-main denganmu lagi. Bunda capek mengejarmu." Naina menghempaskan tubuhnya di sisi tempat tidur. Kehamilan membuatnya mudah lelah dan tidak sanggup berlama-lama berdiri.
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, Wira yang sejak tadi bermain air di dalam sana terlihat keluar dengan kaos rumah dan celana pendek. Rambut basah dan berantakan itu membuat wajah tampannya tampak jauh lebih segar dibandingkan saat pulang kerja.
"Ayah!" Tanpa disuruh, Wina melompat turun dan berlari menemui Wira. Dipeluknya kedua kaki pria itu dengan erat.
"Ayah ... mau bo-bobok," celoteh Wina.
Wira tergelak. Ia membungkuk untuk menyejajarkan tingginya dengan sang putri kesayangan. "Wina nakal?"
Wina menggeleng.
"Ada apa dengan Bunda?" Wira meraih tubuh mungil Wina dan menggendongnya. Ia sempat melirik ke arah Naina yang sedang mengatur napas, kelelahan.
"Aku lelah, Mas. Anakmu larinya kencang, aku sudah tidak sanggup mengejarnya," keluh Naina sembari meraih piyama Wina yang berantakan dan meletakannya di atas pangkuan.
"Oh ya? Putri Ayah sudah besar. Tidak boleh nakal, di perut Bunda ada adiknya Wina. Kasihan Bunda kalau Wina nakal." Dikecupnya pipi gembul Wina yang menggemaskan.
"Berikan padaku piyamanya, Nai. Biarkan aku saja yang menggurus Wina. Rima sudah tidur?"
"Wina tidak mau tidur dengan Rima, Wina mau tidur denganmu, Mas. Jadi aku mengizinkan Rima beristirahat lebih cepat." Naina menjelaskan.
__ADS_1
Wira tersenyum. Diturunkannya tubuh putrinya di atas sofa, menyingkir dari Naina. Ia ingin berbicara empat mata dengan Wina tanpa didengar bundanya.
"Win, malam ini tidur di sini bersama Ayah. Mau?" tawar Wira sembari melepas gaun katun yang melekat di tubuh Wina.
"Mauuu." Wina memekik kegirangan.
"Tidur sama Bunda juga di sini. Besok pagi pulang kerja Ayah belikan boneka yang baru." Wira berbisik pelan, seakan takut suaranya akan terdengar Naina
"Mauuu ...." Lagi-lagi Wina bersorak kegirangan. Bahkan, ia meloncat dan bertepuk tangan.
"Mas, Wina itu sudah berkeringat. Sebaiknya dibersihkan pakai handuk basah sebelum memakaikannya baju tidur." Naina memerintah dari kejauhan, ia sudah lelah walau hanya sekedar berdiri.
"Ya sudah, kita ke kamar mandi saja. Sekalian gosok gigi." Wira menurunkan Wina dan menuntun putrinya yang sudah telanjang ke kamar mandi.
Naina tersenyum, menatap punggung ayah dan anak yang saling menggenggam. Terdengar celotehan dan suara tawa Wina, gadis kecil itu tampak bahagia.
"Ya Tuhan, aku harap keputusanku tidak salah. Aku harap, aku tidak merasakan lagi sakit hati yang sama seperti tiga tahun silam." Naina membatin. Saat ini, tidak ada yang lebih penting selain kebahagiaan Wina.
***
Sejak tadi ia duduk melamun, memutar kembali kisah masa lalunya. Lima tahun berumah tangga dengan Wira, ia hampir melupakan semua masa-masa indahnya dengan pria itu. Namun, sakitnya pengkhianatan dan kebohongan Wira masih membekas dan meninggalkan luka yang dalam. Selama ini ia mencoba melupakannya, berdamai dengan semuanya. Ia masih bisa mengingat jelas rasanya saat mengetahui kebohongan Wira dan keluarganya. Ia layaknya orang bodoh, satu-satunya yang tidak mengetahui kalau Wira sudah menikahi Stevi.
Tersenyum menyambut putrinya yang sudah berganti pakaian, Naina meraih tubuh Wina dan menjatuhkannya di atas tempat tidur. Dihempasnya jauh-jauh bayangan buruk itu, ia tidak mau semua melemahkan keyakinannya pada Wira.
"Tidur sekarang, sudah malam. Bunda mau ke kamar dulu." Naina berpamitan. Diciumnya kedua pipi gembul Wina dan direbahkannya tubuh mungil itu di peraduan malam.
"Bunda ... bobok cini." Wina menepuk sisi kiri tubuhnya, memohon Naina menemaninya.
"Ayah ... cini ...." Wina menepuk sisi kanan tempat tidur, saat melihat Wira berjalan mendekatinya.
Deg-- Naina berbalik, pandangannya beradu dengan Wira.
"Temani saja, Nai. Tidak apa-apa. Kita akan menikah secepatnya." Wira ikut membujuk.
Naina mengalah, ikut merebahkan tubuhnya di sisi kosong. Mengapit Wina yang berbaring dengan bahagia di sisi tengah, di antara dirinya dan Wira. Memilih memejamkan mata, Naina bisa mendengarkan suara maskulin Wira yang sedang membacakan buku cerita. Lambat laun, suara itu semakin tenggelam dan akhirnya menghilang. Bukan hanya Wina, Naina pun ikut terlelap.
__ADS_1
Entah sudah tertidur berapa lama, Naina terusik saat merasakan pergerakan tangan yang memeluk erat tubuhnya dari belakang. Tak lama, ia bisa mendengar samar-samar suara memanggil namanya seiring dengan embusan napas di area tengkuknya.
"Nai ...."
"Nai ..."
"Nai, bangun ... Sayang," panggil Wira tepat di telinga Naina.
Ibu hamil itu mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya membuka mata. Sempat tersentak saat menyadari ia berada di dalam kamar asing, tetapi dekapan dan suara Wira membuat ingatannya mengumpul sempurna.
"Ada apa, Mas?" tanya Naina, heran. Berbaring menyamping, ia bisa melihat Wina terlelap di depan matanya. Napas gadis kecil itu teratur, dadanya naik turun. Sebuah guling diletakan di samping Wina agar gadis kecil itu tidak terjatuh.
"Aku merindukanmu," bisik Wira. Pria itu diam-diam berpindah dan memilih tidur di samping Naina.
"Hah!" Naina tersentak, otaknya sudah berpikiran buruk.
"Aku hanya ingin memelukmu. Tidak meminta lebih, Nai. Aku hanya ingin mengobrol denganmu," jelas Wira berbisik pelan di telinga Naina.
"Kalau aku tetap tidur di ujung sana, aku takut membangunkan Wina. Jadi aku putuskan tidur di sebelahmu, supaya lebih leluasa mengobrol denganmu." Wira memberi alasan sembari tersenyum licik di belakang Naina.
"Karena sempit, mau tidak mau ... aku harus memelukmu. Kamu tidak mau sampai Mas-mu ini terjatuh, kan?" lanjut Wira lagi.
"Mas mau bicara apa?" tanya Naina. Ia memilih mengalah dan tidak banyak protes. Toh, mereka juga akan segera meresmikan kembali hubungan mereka. Cepat atau lambat, mereka juga akan mengulang kembali keintiman di atas tempat tidur.
Hening sejenak, terdengar Wira menghela napas dalam.
"Nai, ceritakan padaku ... semuanya. Apa yang kamu lewati selama tiga tahun berpisah dariku. Kehidupan seperti apa yang kamu lewati. Ceritakan padaku, bagaimana keadaanmu saat hamil Wina." Pelukan Wira semakin erat, ia sedang menunggu Naina berbagi cerita padanya.
“Apakah harus, Mas?” Naina bertanya. Ada keraguan di dalam hatinya. Bukan tidak mau berbagi cerita, kehidupannya pasca bercerai dari Wira adalah saat-saat terburuknya. Kalau bisa membuangnya, ia ingin melenyapkan dan tidak ingin mengingatnya lagi. Pengkhianatan, kebohongan, perceraian, kehidupannya selama menjanda, perjuangannya sampai harus meninggalkan Wina, itu satu paket yang ingin dihempasnya dari ingatan. Ia ingin memulainya dari awal. Tidak ingin mengingat masa kelam itu lagi.
“Aku ingin mendengarnya. Aku tahu kehidupanmu jauh berbeda dengan kehidupanku. Pasca bercerai, aku menghabiskan waktuku dengan bekerja, sesekali bersenang-senang dengan teman di klab, minum dan ....” Wira terdiam. Tidak mungkin ia menceritakan pada Naina kalau menghabiskan malamnya dengan para gadis, pesta sampai pagi.
“Aku menghabiskan sebagian uangku dengan mobil sport, touring, ikut beberapa komunitas supercar. Semua aku lakukan untuk bisa melupakanmu. Aku memilih pekerjaan di luar kota, menghabiskan waktu berbulan-bulan di luar kota, bahkan luar negeri.” Wira memulai ceritanya.
"Aku mencarimu begitu mengetahui kalau kamu pergi dalam keadaan hamil anakku, Nai." Suara Wira bergetar, terselip rasa bersalah. Andai ia tidak terjebak di hotel malam itu bersama Stevi yang berujung harus menikahi Stevi, semua ini tidak akan terjadi.
__ADS_1
***