
" Turun! " titah Calvin sambil mengulurkan tangannya pada Keina. Lagi-lagi gadis itu tersentuh akan sikap manis Calvin padanya. Dirinya seolah tersihir dengan pria yang ada di hadapannya dan mengikuti apa yang Calvin perintahkan begitu saja tanpa banyak membantah seperti biasa.
" Selama loe masih belum mau pulang . Loe bisa tinggal di sini. "ucap Calvin sambil menekan passcode pintu apartemennya. Kemudian menarik pelan tangan Keina masuk ke dalam apartemennya.
" Kita tinggal bareng maksud kakak? " tanya Keina yang masih mencoba mencerna maksud perkataan Calvin.
" Iya, emang kenapa? masalah? " tanya Calvin tanpa dosa.
astaga! pekik Keina dalam hati. Sungguh dia ingin memukul kepala Calvin saat ini juga yang dengan santainya mengajak dirinya tinggal bersama tanpa status apapun.
" Kalau mama kamu dateng lagi aku harus bilang apa kak? Mama mu akan menganggap ku seperti wanita murahan yang tinggal bersama tanpa status. Harus di letakkan di mana wajahku di hadapan mama kamu, kak! " kesal Keina karena sepertinya Calvin terlalu santai tak memikirkan bagaimana perasaannya.
" Di depan lah.. emang wajah kamu mau di letakkan dimana? di belakang kepala? jalan nya mundur dong kaya undur-undur. hahahaha. " bukan memikirkan apa yang Keina katakan tapi pria itu malah mengajaknya bercanda sesantai ini seolah tak akan ada masalah apapun kedepannya. Calvin hanya berusaha menenangkan Keina agar sedikit rileks ia tau beban pikiran gadis itu sebanyak apa. Tapi tidak dengan Keina bukannya malah tenang dia malah semakin terbebani dengan semua ini.
Merasa tak ada tanggapan dari Keina, Calvin langsung meraih tubuh gadis itu lalu mendekapnya erat. " Loe tenang aja, mama lagi nemenin papa ke luar negeri selama sebulan, jadi loe aman di sini." ucap nya memberi penjelasan agar membuat gadis itu nyaman berada di satu atap yang sama dengannya tanpa rasa khawatir.
Keina hanya menunduk malu menyembunyikan wajahnya yang merah merona di dalam dada bidang Calvin karena diperlakukan seperti ini oleh sang cassanova, entah kenapa jantungnya berdegup kencang. Ada rasa nyaman dan aman saat ia bersama pria itu meski terkadang Keina dibuat kesal dengan emosinya yang suka meledak-ledak.
Sementara Calvin yang gemas pun langsung meraih dagu Keina agar mendongak menatapnya kemudian mengecup bibir itu sekilas. " Ganti baju sana. Bau asem. " ledek Calvin. Yang membuat Keina melepaskan pelukannya dan merengut kesal.
" Bibirnya bisa biasa aja gak. Gak usah mancing-mancing. "
" Cih, siapa yang mancing. Emang kamu ikan harus aku pancing. " timpal Keina sambil menjulurkan lidahnya dan langsung berlari ke kamar mandi karena takut Calvin akan menangkapnya. beruntungnya gadis itu membawa beberapa pakaian dan dalaman untuk persiapan menginap beberapa hari di tempat Ara.
__ADS_1
" Awas ya loe! "
Seusai mandi kini mereka sedang duduk untuk menikmati makan malamnya. Masih ada yang mengganjal di hati Keina saat ini " Aku takut ibu nyariin aku, apa besok aku pulang aja ya? "
" Memang ibu loe peduli? bukannya selama uang terus mengalir dia gak peduli loe mau pulang atau enggak, Yang penting buat dia cuma uang, Kei." ucap Calvin yang begitu menusuk hatinya.
" Gak usah di perjelas kan bisa kak, aku juga tau kok! " ucap Keina sendu. Melihat itu membuat Calvin langsung menggenggam tangan Keina. Pria itu benar-benar merusak selera makannya.
" Maaf. " Calvin menatap dalam mata Keina. Baru kali ini ia meminta maaf pada seorang Gadis padahal ucapannya tak salah sama sekali. Keina bisa melihat raut wajah Calvin yang menyesal. Oleh sebab itu ia menganggukan kepalanya pertanda telah memaafkan pria itu. Karena yang di bilang Calvin juga ada benarnya memang seperti itulah sang ibu. Uang lebih penting dari segalanya terlebih dia hanyalah anak istri kedua ayahnya.
...----------------...
" Kak kita tidur satu ranjang? " tanya Keina. Dia berharap pikirannya salah kali ini.
Ia yang rencana awalnya menginap di rumah Ara tentu membawa pakaian yang biasa ia kenakan di rumah, tapi ternyata ia malah di bawa Calvin ke apartemennya sehingga mau tak mau ia memakai pakaian seadanya yang ia bawa. Kalau tau seperti ini mungkin ia akan memilih membawa piyama setelan panjangnya. Dengan berpakaian seperti ini, sama saja dia seperti seorang penggoda di hadapan Calvin.
" Apaan sih!" sungut Keina yang melihat tatapan mata Calvin yang berbeda dan ia tau apa artinya itu.
Senyum Calvin semakin merekah mendapatkan tatapan tajam namun terlihat seksi dari kedua manik indah milik Keina.
" Kenapa? Loe malu? Atau loe lupa? " Calvin menarik tubuh Keina hingga gadis itu jatuh tepat di atasnya yang sedang duduk di sofa dalam kamar.
Jantung Keina sepersekian detik seolah berhenti . Pikirannya kosong dan tidak bisa mencerna apapun kondisi saat ini yang terjadi pada tubuhnya .
__ADS_1
Kemudian kembali berdetak dengan ritme yang sangat kencang seolah sedang berlari puluhan kilometer jauhnya.
Pandangan mata mereka berdua beradu hingga mampu menenggelamkan Keina dalam pesona indah sang cassanova yang telah merenggut kesuciannya secara paksa.
" Ini... ini juga . . . ini. Gue udah melihat dan merasakannya . Gak ada alasan lagi loe malu sama gue. " bisik Calvin sambil menunjuk dada, paha kemudian ke arah bagian tengah gadis itu.
Nafas Keina tertahan , kedua matanya membola mendengar ungkapan gila dari Calvin. Meskipun benar apa yang Calvin katakan namun bagaimana bisa dia bersikap biasa saja saat tubuhnya dipandang bebas oleh lawan jenis.
" Kenapa? " tanya Calvin tersenyum menyeringai penuh kepuasan dan hawa nafsu . Dia berhasil membawa Keina pulang ke apartemennya. Menunjukkan kepada Gevan siapa pria yang dipilih Keina membuat Calvin merasa puas.
" Malu, kak! " rengek Keina . Berada di dalam dekapan pria asing tapi terasa sangat nyaman baginya. Bahkan saat bersama Gevan , Keina tidak pernah merengek dan bersikap manja seperti saat ia bersama Calvin. Keina benar-benar merasa dirinya semakin aneh.
Keina merasa saat ini sangat gugup karena mendapatkan tatapan seperti itu dari Calvin. Aroma mint dari nafas Calvin menguar memanjakan indera penciumannya. Keina seakan terbuai indahnya momen bersama pria brengssek itu.
" Loe denger detak jantung kita?" tanya Calvin berbisik sensual tepat di telinga Keina membuat gadis itu kian membeku.
" Kak... " belum sempat Keina melanjutkan kalimatnya. Bibirnya sudah lebih dulu di sambar oleh Calvin yang sejak tadi sudah menahan hasrat yang ada.
Menyessap bibir mungil yang sangat manis itu dengan seluruh gairah yang ia pendam selama beberapa hari ini. Dalam hati Calvin mengakui adanya sebuah rindu dengan tubuh indah padat berisi yang ada didalam pelukkannya saat ini.
.
...****************...
__ADS_1