
Sementara di kamar Axel merasa tubuhnya sudah mulai memanas karena banyak nya tuak yang dia minum. Namun karena dia berniat menemui Ara tentu saja masih dia tahan-tahan dan memilih mengenakan pakaiannya.
Mendengar ponselnya berdering singkat , Axel segera membuka pesan singkat dari Calvin.
" Siallan loe Calvin! Gue tau ini pasti akal-akalan loe doang. " gerutu Axel setelah membuka pesan singkat dari Calvin.
Pria itu membuang ponselnya ke atas kasur lalu membanting tubuhnya di sana memikirkan persoalannya dengan Ara. Menimbang segala kemungkinan yang ada , memikirkan bagaimana perasaan Ara saat ini. Menebak apakah gadis itu juga merasakan kegundahan yang sama seperti dirinya.
Axel sangat ragu, apakah dia harus datang seperti saran Calvin atau memilih pasrah akan nasib hubungannya dengan Ara yang belum di mulai. Mengeyahkan segala kebimbangan , Axel akhirnya bergegas bangkit lalu berlari menuju kamar Ara.
Dan ya kamar itu sengaja tidak tertutup sempurna . Axel pun menduga bahwa itu pasti ulah Calvin.
Berjalan perlahan menuju ranjang king size , Axel naik keatas ranjang dan ikut berbaring di depan Ara yang masih tertidur dengan lelapnya.
Mengamati setiap inci wajah cantik yang sedikit chubby kemudian mengusap perlahan wajah itu dengan tangan kanannya.
Ara merasakan tidurnya sedikit terganggu , gadis itu berbalik memunggungi Axel tanpa menyadari bahwa seseorang yang sedang berbaring satu ranjang dengannya kali ini bukan lah Keina. Melainkan Axel , pria yang sedang membuatnya gelisah .
Axel merasakan tubuhnya semakin terasa gerah karena banyak nya minuman yang dia tenggak saat berada di kamar Calvin tadi. Ia melepas kaos over size warna hijau miliknya. Axel merasa matanya sudah mulai berat , niat hati ingin berbicara dengan Ara namun nyatanya sang pujaan hati sudah tertidur dengan lelapnya. Meski jam baru saja menunjukkan pukul sembilan malam.
Axel memutuskan untuk tidur di kamar Ara tanpa mengenakan atasannya. Pria itu memeluk erat Ara dari belakang lalu turut hanyut dalam buaian mimpi yang indah bersama gadis yang ia sayangi.
...----------------...
Di Roof top hotel Calvin saat ini sedang berduaan mesra dengan Keina . Duduk di lazy lounger layaknya tepi pantai, Keina bersandar dengan nyamannya di dada bidang pria yang sangat ia cintai .
Sementara Calvin tentu saja memeluk gadis itu agar tidak kedinginan karena angin malam yang berhembus cukup kencang.
" Indah banget ya, kak. " ucap Keina melihat banyaknya lampu di bawah sana yang tampak seperti bintang bertebaran namun bukan di langit melainkan di tepi pantai yang menyuguhkan suasana romantis hingga menggetarkan hati siapa saja yang datang dengan sang kekasih .
" Lebih indah kamu. " jawab Calvin melayangkan pandangannya jauh ke depan.
Keina tersenyum. " Kakak sekarang pinter gombal." ujar Keina mengusap lembut tangan Calvin yang memeluk erat perutnya.
" Aku gak ngerasa gitu , kamu benar-benar sangat indah . Aku gak bisa membayangkan gimana kalo sehari aja gak ada kamu. " ucap Calvin kembali berhasil membuat Keina melayang bagai terbang tinggi ke awan.
__ADS_1
" Tapi kita gak bisa bersama terus setiap hari kak, aku kan mau kuliah, mengejar cita-cita aku." ujar Keina yang berhasil membuat Calvin menatapnya tajam dan langsung melepaskan pelukkan nya.
Beberapa waktu lalu Calvin memang sudah mengenalkan Keina pada papanya, sedangkan mama eva memang sudah pernah bertemu Keina sekali waktu itu. Calvin yang awal meminta restu dari orang tuanya untuk menikahi Keina. Tapi bukan tak merestui hanya saja sang papa memintanya menyelesaikan kuliahnya lebih dulu.
Begitupun dengan Keina, Papa dan mama Calvin menawarkan Keina agar bisa melanjutkan pendidikannya, tapi bukan Calvin namanya kalau dia tidak memaksakan kehendaknya.
Pria itu tak mengizinkan Keina untuk melanjutkan pendidikannya dengan alasan tak ingin gadis itu terlalu lama berada di luar rumah, ia takut gadisnya akan tergoda oleh pria lain. Terlebih ia takut Keina menjadi tak ada waktu untuknya karena harus sibuk dengan kuliahnya. Egois? ya memang seperti itu lah Calvin. Ia akan selalu ikut campur apabila menyangkut Keina. Dan gadis itu hanya bisa pasrah dengan sikap posesif Calvin.
Niat hati hanya ingin menggoda Calvin, tapi pria itu malah memberi tatapan tajamnya pada Keina dan itu sungguh mengerikan di mata gadis itu.
" Diam di rumah atau ku buat hamil saat ini juga! " ancam Calvin yang langsung membuat Keina mencebik sebal lantaran pria itu selalu punya cara untuk membuatnya tak berkutik.
" Kakak ish nyebelin!"
Calvin hanya terkekeh melihat wajah Keina yang merengut kesal karena ancamannya. Terkadang pria itu tak habis pikir bagaimana bisa dia segila ini mencintai Keina. Melepaskan gelar cassanova yang telah melekat di nadinya sejak duduk di bangku SMA . Dan kini Calvin benar-benar menemukan tambatan hatinya dan berhenti bermain dengan banyak wanita.
" Biarin nyebelin, tapi kan kamu cinta? ya kan? " goda Calvin yang membuat Keina semakin kesal karena apa yang pria itu katakan memang benar adanya, semenyebalkan apapaun Calvin tentu Keina tak pernah bisa membenci nya.
Kadang dia masih tidak percaya bisa menjalin hubungan dengan perasaan penuh kasih sayang dengan seseorang yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Pria yang menjadi idola para gadis kalangan kelas atas , kini nyatanya melabuhkan hati hanya kepada gadis biasa seperti dirinya. Bukan kah ini seperti sebuah keajaiban?
" Oke, ayo kita tidur! " sahut Calvin sambil tersenyum menyeringai.
" Kakak apaan sih! "
" Kenapa? orang mau tidur! "
Kini Calvin dan Keina tengah berbagi selimut di kamar Calvin, ia mengajak sang kekasih tidur di kamarnya. Entah apa alasannya Keina tidak tau dan itu berhasil membuat Keina sedikit curiga.
" Ngomong-ngomong, kakak pasti udah melakukan sesuatu yang tidak aku ketahui. iya kan? "tebak Keina ke arah Calvin yang saat ini tengah bermain game sambil memeluk dirinya.
" Melakukan apa? Enggak tuh. " kelit Calvin berdusta.
" Alah jujur deh, pasti kakak sengaja kan bawa aku kesini, supaya Ara sama Axel satu kamar kan? Ngaku! " hardik Keina kesal.
__ADS_1
Dalam hatinya ia sungguh tidak rela apabila sahabatnya itu mungkin bisa saja berakhir seperti dirinya . Yang mana dirinya telah kehilangan kesuciannya.
" Gak sayang, aku cuma kangen sama kamu , itu aja. Kalau seandainya Axel nyusul Ara ke kamarnya ya bukan salah aku dong, ya kan? " Calvin benar-benar sangat cerdik . Pria itu mampu membelit kebohongan yang nyata menjadi fakta yang kemudian memang benar terjadi.
Karena pada dasarnya Calvin tidak pernah memaksa Axel untuk masuk ke dalam kamar Ara.Yang dilakukannya hanyalah ingin bersama Keina, menghabiskan waktu bersama di ruangan yang sama dan yang pasti di atas ranjang yang sama.
" Aku khawatir, kalau nanti Ara diapa-apain kak Axel gimana? " ujar Keina yang cemas memikirkan Ara.
" Kamu tenang aja Axel bukan orang yang seperti itu. "
" Bukan seperti kamu maksudnya? " Keina sengaja berucap begitu untuk menggoda sang kekasih. Calvin tertawa lalu mencium pucuk kepala Keina dengan penuh rasa gemas.
" Emang aku seperti apa? " tanya Calvin meladeni Keina yang mencibirnya.
" Messum! " seru Keina sambil mendongakkan wajah ke arah wajah Calvin. Berharap Calvin benar-benar memperhatikan dirinya saat mengatakan kalimat ledekan itu.
Dan siapa sangka Calvin justru mencium bibir Keina.
cup!
"kakak"! pekik Keina kesal dan tidak terima atas apa yang baru saja dilakukan oleh Calvin.
cup !
Namun Calvin tidak akan pernah mempedulikannya . Justru dia akan melakukannya lagi dan lagi.
" Ih dasar messum! " ketus Keina sambil mencubit pipi Calvin hingga terlihat membekas merah kemudian berguling menjauhi pria itu.
" Sini! " titah Calvin menggerakkan tangan mengisyaratkan agar Keina segera kembali ke dalam pelukkannya.
" Gak mau! " tolak Keina sambil menjulurkan lidahnya.
" Oke, aku yang dateng. " Calvin mendekat ke arah Keina yang berada di tepian ranjang. Lalu memaksa dan membawa gadis itu kembali ke tengah bersama dirinya.
" Kak, Calviiiiin! " pekik Keina sambil tertawa meronta agar Calvin mau melepaskan dirinya.
__ADS_1
.
...****************...