
" Kamu gak marah? " tanya Calvin mengurai sedikit pelukkannya agar bisa melihat wajah cantik Keina dengan jelas.
Keina tersenyum , " Untuk apa? " jawab Keina dengan tatapan sendu. Entah apa yang dipikirkan gadis itu saat ini. Bibirnya tersenyum tapi matanya menampakkan kesedihan.
" Aku lancang membuka ponsel mu dan mengangkat panggilan yang harusnya itu tidak boleh aku lakukan tanpa izin dari mu. " kata Calvin seraya mengusap lembut pipi Keina.
" Apakah hanya karena ponsel bisa membuat aku marah? Sejak kapan kakak meminta izin dari ku? Apa kakak lupa bahkan tubuh ini sudah kakak sentuh setiap inci nya tanpa izin dari ku bukan? dan aku bahkan tak bisa marah karena hal itu. " sindir Keina yang semakin mengeratkan pelukkannya.
Apa gadis itu menyindir nya? Kini dia bingung sendiri harus menyikapi seperti apa kalau sudah begini.
" Kamu yakin kalau kamu gak marah sama aku? " ulang Calvin lagi, Ia menangkup wajah Keina ingin mencari tau bagaimana sebenarnya kondisi hati gadis itu saat ini.
" Yakin, aku sangat yakin. " ucap Keina tanpa ragu semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Calvin untuk mencari sebuah kenyamanan dan kedamaian di saat hatinya bergemuruh karena badai yang belum juga usai.
Tidak ingin mengatakan sesuatu hal lagi yang mungkin akan memperburuk suasana hati Keina , Calvin memilih diam dan hanya memeluk tubuh gadis itu sama eratnya.
Kini kedua insan yang tinggal satu atap itu sudah benar-benar siap melakukan aktivitas nya seperi biasa, Keina berangkat ke cafe tempatnya bekerja sementara Calvin ke kampus.
" Kak, aku duluan ya. " pamit Keina setelah selesai menghabiskan sarapannya.
" Gak! Kamu berangkat sama aku." tegas Calvin yang kini bergegas menghabiskan sarapannya.
" Aku gak mau berangkat bareng sama kamu ! " Keina tetap pada pendiriannya untuk tak berangkat bersama Calvin, ia tak mau membuat semua orang semakin menggosipkan dirinya.
" No! bareng aku atau gak usah kerja sekalian. Kita di sini aja seharian. " tegas Calvin lagi yang tak ingin dibantah. Bahkan tatapan mata Calvin begitu tajam membuat Keina tak berdaya di hadapan sang cassanova itu.
" Nyebelin! " sentak Keina menunggu Calvin menyelesaikan sarapannya yang memang tinggal sedikit lagi.
__ADS_1
" Biarin! " ketus Calvin tak peduli semarah apa Keina terhadap dirinya. Namun yang pasti Calvin tak ingin Keina berangkat sendiri dan berpisah dengannya.
...----------------...
Keina dan Calvin akhirnya sampai di depan cafe tempat Keina bekerja. Awalnya seperti biasa Keina meminta Calvin menurunkan dirinya agak jauh dari cafe, tapi bukan Calvin namanya kalau menurut begitu saja, pria itu suka sekali bertindak semaunya, oleh sebab itu pria itu tetap menurunkan Keina di depan Cafe tak peduli gadis itu terus mengoceh padanya.
Jangan ditanya bagaimana perasaan Keina saat ini, ia lebih memilih pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti.
" Aku masuk ya . " ujar Keina sebelum turun dari mobil.
" Hem... kerja yang bener ! Jangan tebar pesona! nanti pulang aku jemput. " timpal Calvin sambil mengacak pelan rambut Keina yang sudah tertata rapi.
" Iya bawel. "
" Keina! kamu harus jelasin semuanya sama aku." cecar Ara dengan tatapan tajam penuh intimidasi saat melihat sahabatnya baru saja masuk ke dalam cafe. Ara mendengar kabar dari temannya bahwa ada keributan antara Gevan dan Calvin kemarin. Dan Ara yang menunggu kedatangan Keina yang ingin menginap di tempatnya pun harus kembali dibuat bingung lantaran sahabatnya itu tak jadi datang dan tak memberi kabar apapun padanya. Menghubungi Keina pun percuma karena gadis itu tak membalas pesannya juga tak mengangkat telpon darinya.
Keina hanya bisa tersenyum gemas dan mencubit pipi Ara. " Iya sayang, nanti aku ceritain. " Keina menggandeng tangan Ara untuk di ajak bicara berdua. Keina menceritakan bagaimana rumitnya keadaan kemarin saat Gevan bertemu Calvin. Tapi Keina tak menceritakan pada Ara bahwa kini ia tinggal di apartemen Calvin.
...----------------...
" Eh kak Gevan. Sini duduk kak!" ucap Ara ramah menyambut kedatangan Gevan. Meskipun situasi ini cukup canggung untuk mereka bertiga tapi Ara berusaha sesantai mungkin.
Namun lain halnya dengan Keina yang hanya terdiam dan kemudian menunduk saat melihat Gevan datang dan ingin berbicara dengan nada yang sangat serius.
Ya, Keina yakin ini pasti ada hubungan nya dengan kejadian kemarin. Gevan pasti ingin bertanya hubungan apa yang ia miliki dengan Calvin. Tapi bolehkah Keina jujur kalau dia belum siap sama sekali berhadapan dengan Gevan meskipun cepat atau lambat ia harus menghadapi nya tapi setidaknya tidak saat ini.
" Ka-kakak masih di sini? " setelah cukup lama diam akhirnya Keina memberanikan diri membuka suaranya. Ia juga penasaran karena Gevan belum kembali lagi ke kota tempatnya menuntut ilmu.
__ADS_1
" Mama sakit, makanya aku masih di sini. " jelas Gevan yang membuat Keina tak enak hati. Ibu dari kekasihnya sakit, tapi dirinya malah mengecewakan Gevan yang saat ini sedang banyak pikiran.
" Kamu ada hubungan apa sama Calvin? " tanya Gevan langsung pada intinya. Ia ingin segera tau soal kekasihnya dengan pria kemarin yang membawa kekasihnya pergi begitu saja.
Pacar mana yang tidak cemburu saat kekasihnya dekat dengan pria lain. Terlebih mereka berdua pergi bersama tepat di depan matanya.
" Jawab Keina, apa kalian pacaran ? Iya? "
Keina masih menunduk dan terdiam, ia berusaha menata hati dan lidah nya agar tidak salah kata dan mungkin bisa membuat Gevan semakin kecewa. Meski sebenarnya saat ini pun Gevan sudah sangat kecewa padanya.
" Aku ada hutang kak sama dia , kakak ingat kan dia orang yang nolong aku dari Livy. Oleh sebab itu untuk gantinya dia minta aku selalu menuruti apa yang dia mau. Termasuk menemaninya kapan pun dia ingin. "
Akhirnya Keina mengatakan masalah yang telah terjadi antara dirinya dan Calvin hingga mereka berdua terikat dengan ikatan yang rumit ini.
" Apa? hutang? hutang apa Kei? " tanya Gevan terkejut tapi juga merasa lega ternyata kekasihnya tak memiliki hubungan yang spesial dengan pria bernama Calvin itu. Kemudian Keina menceritakan segalanya tanpa ada yang ditutupi, kecuali aktivitas ranjangnya dengan Calvin , tentu dirinya tak akan mengungkapkannya karena itu sangat menyakiti harga dirinya.
Keina masih mencintai pria itu. Meski tau ia sedang berbohong namun ia jelas takut kalau Gevan akan kecewa padanya. Dirinya memang ingin mengakhiri hubungan dengan Gevan tapi ia tak ingin Gevan pergi dengan membawa luka yang ia torehkan. Ia ingin mengakhirnya dengan baik.
" Kenapa kamu gak bilang sama aku, Kei. " tanya Gevan lirih menatap sendu Keina yang tampak tertekan .
Andai Gevan tau bahwa karena hutang dua puluh juta itu membuat ia harus kehilangan kesuciannya pada Calvin, Akankah pria itu masih mau menerimanya dengan kondisi seperti sekarang ini?
Sepertinya tidak, Keina yakin Gevan akan marah dan memaki dirinya andai Gevan tau apa yang terjadi antara dirinya dan Calvin.
" Kak dua puluh juta itu banyak dan pada saat itu hanya kak Calvin yang mau menolongku . Aku belum ada kesempatan menceritakan semua ini sama kamu." jawab Keina yang merasa bersalah campur sesal. Andai dia bisa mengulang waktu, mungkin lebih baik ia tak menerima bantuan Calvin.
.
__ADS_1
...****************...
jangan lupa di like, komen, subscribe ya guys.. Hadiah dan votenya jangan lupa.. makasih 🙏😘